Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Saturday, March 26, 2011

Memperjuangkan hak / Fight for one’s right


“Ke, ntar tolong tanya emak soal uang les ya” wali kelas TK B sudah mendengungkan hal ini kepada saya dari sekitar tanggal 14 & hari ini (Rabu, 23/3) saya teringat lagi akan pesan itu sehingga saya menanyakan hal itu ketika bertemu dengan kepsek pagi ini.

Biasanya uang les anak TK B dibayarkan kepada kami sekitar tanggal 15 setiap bulannya.

Anak TK B sejak awal semester di tahun ajaran diwajibkan oleh sekolah untuk mengikuti les ca-lis-tung (membaca, menulis & berhitung) sebagai bagian dari persiapan untuk mereka masuk SD. Setiap anak membayar Rp.40.000. Di potong Rp.5.000 oleh sekolah sehingga guru yang mengajar les tsb menerima Rp.35.000 per anak.

Nah, bulan ini kepsek tenang-tenang saja. Tidak menampakkan tanda-tanda akan membayarkan uang les walaupun pelan-pelan tanggal 15 mulai bergeser. Hari ini sudah tanggal 23.

Saya sendiri tidak terlalu merisaukannya karena selalu ada cadangan uang di rumah. Tapi wali kelas TK B tidak demikian. Saya tahu tabungannya di bank tidak banyak. Di tambah suami yang sedang tidak punya pekerjaan tetap.

Jadi kalau saya mengingatkan kepsek untuk membayar uang les / uang gaji kami maka hal itu tidak saya lakukan untuk diri saya (karena keterlambatan pembayaran tidak terjadi hanya sekali dua kali).

Kami tidak suka sampai harus menagih pembayaran uang les / gaji kepada kepsek tapi kalau tidak demikian beliau bisa lupa berkepanjangan.

Sudah di tagih pun keterlambatan pembayaran kadang masih tetap terjadi oleh karena beberapa alasan yang diberikan oleh kepsek, misalnya, karena uang cash di sekolah tidak mencukupi tapi beliau tidak ada waktu / terlalu capek / faktor cuaca mendung yang menghalanginya untuk pergi mengambil uang ke bank.

Jadi demikianlah saya maju ke menghadap kepsek demi 2 orang (wali kelas TK B & Teteh, bagian kebersihan sekolah kami). Karena jangan harap wali kelas TK B mau maju sendiri. Sementara teteh tentu saja menganggap dirinya tidak layak untuk bicara. Jadi siapa lagi kalau bukan saya. Apalagi saya sudah ‘dinobatkan’ sebagai orang kepercayaan kepsek. Nah lu. Posisi panas tuh. Hehe.

Pagi ini saat saya mengingatkan kepsek tentang uang les (dengan cara & ucapan baik-baik, lho karena biarpun doi nyebelin / ‘seakrab’ apa pun hubungan kita tetap doi kepseknya), lalu apakah ‘jawaban manis’ beliau?

“Kamu ngabsen uang?”
 
Sumpah, saya tidak tahu apakah doi bermaksud untuk bercanda / menyindir / asal bunyi saja. Mungkin karena saya tidak menduga akan mendapat jawaban seperti itu yang membuat saya tidak tahu apakah saya harus tertawa, tersinggung, sedih atau marah. Saya hanya bengong sesaat sebelum mengingatkannya tentang komitmennya bulan lalu bahwa beliau bermaksud untuk membayarkan uang les pada bulan berjalan.

“Belum ada uangnya” itu jawaban yang saya dapatkan.

“Bagaimana bisa belum ada uangnya?!” begitu tukas wali kelas TK B siang ini saat kami berjalan pulang dari sekolah “Kan dari awal bulan anak-anak itu sudah membayarkan uang les mereka bersamaan saat mereka membayarkan uang SPP”.

Ya. Itu benar. Lagi pula pengeluaran untuk pembayaran uang les adalah pengeluaran yang sifatnya rutin setiap bulan. Bukan pengeluaran yang sifatnya mendadak. Jadi seharusnya dana untuk pengeluaran-pengeluaran rutin sudah disiapkan. Tinggal dikeluarkan saja pada tanggal di saat pembayaran tsb harus dilakukan (misalnya pembayaran gaji setiap tanggal 30 atau 31. Pembayaran uang les setiap tanggal 15).

Sekolah tetap harus menyimpan dana cadangan dalam bentuk uang cash sehingga tidak perlu merepotkan diri untuk mondar mandir ke bank dulu untuk menarik uang cash saat akan melakukan pembayaran.

Jalan pemikiran setiap orang memang berbeda. Tapi ada saat-saat tertentu di mana menurut pendapat pribadi saya, jalan pikiran kepsek sungguh tidak masuk akal.
____________________________________________________________

“Could you please ask her about the tutoring fee payment?” B class teacher has been asking me to do this since March 15th.

Our tutoring payment is usually paid around the 15th of every month & today is Wednesday, March 23rd already & there hasn’t been any sign when headmaster is going to pay us that fee.

The kids in B class are enrolled in intensive tutoring to prepare them for entering elementary school as first grader.

Each kid pays Rp.40.000 (US$4). School gets Rp.5.000 so we get Rp.35.000 (US$3,50).

I never spoke to her for my own behalf. I’ve always keep money at home but not so for the B class teacher & the school’s janitor (the truth is we never like it. But if we didn’t remind the headmaster, she would continue to forget to pay our salary / tutoring fee. Sometimes she delayed to pay it even after we remind her because she forgot / didn’t have time / energy / the weather showed it would rain that enabled her to go & withdraw some money from the bank)

The B class teacher’s husband doesn’t have a steady job for few months now so they depend mainly on her salary from school / her other income from tutoring.

The school’s janitor, like myself has become the family’s provider for her mother & her son.

They both have their own reason why don’t want to go to headmaster to remind her about the over due payment on our salaries / tutoring fees. So when I spoke to headmaster to remind her about it I mostly did it for the B class teacher & the school’s janitor.

So this morning I came to headmaster to talk about it (nicely, of course, because no matter how upsetting / annoying she has been to each of us & no matter how ‘close’ we are but she’s still the headmaster) &  do you know what was her ‘sweet answer’?

“Are you the money payroller?”

I didn’t know whether she meant it as a joke or being sarcasm or just spoke with no intention but one thing for sure it left me puzzle for a second before I reminded her about her own intention to pay B class tutoring fees on monthly basis & not to pay in the next month.

“I don’t have the money” came her reply.

“How would that possible?!” snapped B class teacher when I told her about it on our way home this afternoon “The kids have paid their tutoring fees early this month when they paid school’s monthly fee”.

Yes. That’s true. Beside, salary & tutoring fees are school’s routine expenditure every month. It’s not like it’s an accidental expenditure. So it should be put into monthly budget so when the payment due date comes there’s no need to go back & forth to the bank to withdraw the money.

Everybody has their way of thinking but there are times when I personally don’t understand our headmaster’s mind.

No comments:

Post a Comment