Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Wednesday, October 29, 2014

Que Sera, Sera

Momen kebersamaan apa yang paling anda ingat ketika bersama dengan ibu anda?

What is the most memorable of togetherness moment between you and your mother that you can recall?

Yang paling saya ingat adalah saat-saat saya dan ibu saya berbaring di tempat tidurnya dan kami berdua mengobrol panjang lebar, tertawa serta bercanda. Kadang bisa sampai berjam-jam.

My most memorable togetherness moment with my mother is the times when she and I lied down on her bed and we had long talk, laughed and joked. This could go for hours.

Saya lupa kapan terakhir kalinya kami melakukan hal ini. Kami bisa dikatakan tidak pernah lagi melakukannya sejak kesehatannya menurun.

I forgot when was the last time we did this. We, infact, have never done it since she has been having health problem.

Que sera, sera.. whatever will be, will be.. the future is not ours to see..

Apa pun yang akan terjadi, terjadilah.. masa depan tidak bisa kita lihat..

Ibu saya pastilah tidak pernah membayangkan bahwa pada suatu saat di masa depan, dirinya akan menjadi seperti sekarang.

My mother has definitely never imagined that sometime in the future she would become like she is now.

Dia seorang yang terlahir dengan kelebihan fisik, kuat, sehat, pintar, cantik.


She was born with strong physic, health, smart, pretty.

Sekarang dia di dera dengan berbagai masalah kesehatan. Thyroid, jantung, tekanan darah tinggi, sulit tidur, senewenan, diare, rematik.

These days she is tortured with many health problems. Thyroid, heart, high blood pressure, sleeping problem, anxieties, diarrhea, rheumatic.

Semua itu berlangsung hampir tanpa henti. Silih berganti.

It goes nearly nonstop. One after another.

Selama tiga tahun terakhir ini kami bertiga mengalami kelelahan emosi yang luar biasa.

The three of us are drained emotionally in the past three years.

Saya sudah mengalami yang namanya ketakutan luar biasa akan kehilangan ibu saya dan saya sudah mengalami rasa putus asa demikian besar melihat kondisinya sampai saya sudah merelakan kalau memang lebih baik dia di ambil Tuhan dari pada berkepanjangan tersiksa.


I have had what I called the unbearable fear of losing my mother and I have had unbearable desperation seeing her condition up to the point I let her go, if it would be better God take her and thus releases her from the torture.

Que sera, sera.. whatever will be, will be.. the future is not ours to see..

Apa pun yang akan terjadi, terjadilah.. masa depan tidak bisa kita lihat..

Bukankah suatu ironi bahwa kita ingin memiliki anak lalu pada suatu saat di masa depan.. kita memberikan banyak kesedihan dan penderitaan pada anak itu melalui kondisi fisik kita..

Isn’t it an irony that we want to have a child and then in the future we give that child many pain and sorrow through our physical condition..

Atau kita tidak pernah membayangkan diri kita akan menjadi tua, lemah, disiksa oleh berbagai penyakit.. karena ketika kita menginginkan anak, kita masih muda, kuat dan sehat..

Or we never imagine ourselves being old, weak, torture by many illness.. because when we want a child, the wishes come when we are young, strong and healthy..

Begitu naifkah kita berpikir bahwa selamanya kita akan tetap kuat dan sehat?

Are we that naive to think we can remain strong and healthy?

Atau kita tipe manusia yang berpikir ‘halah, ribet banget sih? serius banget.. ngapain dipikirin’.

Or we are the type of person who thinks ‘heck, why bother? Don’t be so serious.. why bother’.

Que sera, sera.. whatever will be, will be.. the future is not ours to see..

Apa pun yang akan terjadi, terjadilah.. masa depan tidak bisa kita lihat..

Kombinasi antara fisik yang kuat dan sehat serta umur muda menghasilkan kenaifan dan ketidak-pedulian terhadap apa yang bisa atau akan terjadi di masa depan.

Combination of strong and healthy physic with young age resulted in naivety and ignorance of what can or may happen in the future.

Atau kita memperhitungkan kemungkinan kita akan menjadi tua dan penyakitan sehingga memiliki anak merupakan investasi masa depan karena mereka yang akan mengurusi, merawat dan mengongkosi biaya hidup serta biaya pengobatan kita?

Or we have calculated the possibility of becoming old and ill so having a child is some sort of future investment for the child will take care us and support us financially and pay for our medical expenses?

Inilah pengalaman saya dalam posisi sebagai anak itu; saya bekerja menghidupi orang tua saya sejak tahun 1996. Bahkan mulai awal tahun ini saya menambah jumlah murid les saya walau pun sebetulnya fisik saya agak kepayahan karenanya. Tapi pilihan apa yang saya miliki? Saya anak tunggal sehingga beban itu jatuh sepenuhnya pada saya. Dan tahun ini ibu saya membutuhkan lebih banyak dana untuk berobat.

This is me being that child; I have supported my parents since 1996. From early this year I accept more kids to tutor though it drains me out physically. But what choice do I have? I am an only child so the burden falls fully on me. And this year my mother needs more medical funds.

Seperti apa itu rasanya berada dalam posisi saya?

What is like to be in my shoes?

Capek.

Drained.

Saya amat sangat menyayangi orang tua saya tapi kondisi mereka tidak pelak lagi memberikan kelelahan fisik dan mental yang luar biasa sampai lebih dari setahun lalu saya sampai sakit, sakit berat secara fisik dan sakit mental yang membuat saya benar-benar berpikir ingin mati saja.

I love my parents so much but their condition has undeniably given tremendous physical and mentally drainage that more than a year ago I fell ill, a bad physical and mental illness that made me thought I just wanted to die.

Dibalik keceriaan saya, tersembunyi dibelakang tawa riang saya, ditutupi oleh kelucuan-kelucuan saya.. ada seorang anak yang menderita karena harus menanggung beban tanggung jawab untuk orang tuanya..

Behind my cheerfulness, hidden behind my joyful laughter, covers by my humor.. is a child suffer for have to carry the responsibility to care for her parents..

Hal yang mungkin tidak terpikirkan oleh mereka yang menginginkan anak..

Something that may never cross the mind of those who want to have a child or children..

Masih bisakah berpikir demikian naif? Bahwa..

Still able to think naively? That..

Que sera, sera.. whatever will be, will be.. the future is not ours to see..

Apa pun yang akan terjadi, terjadilah.. masa depan tidak bisa kita lihat..

Beberapa hari lalu saya menginap di paviliun kantor dan pagi itu saya terbangun dengan rasa kaku serta nyeri yang luar biasa pada pinggang saya.


Few days ago I stayed over at the office’s pavilion and that morning I woke up with an excruciate stiffness and pain in my waist.

Saya tidak tahu apa penyebabnya. Apa rematik? Kasur yang terlalu keras? Udara dingin?

I don’t know what the cause of the pain. Is it rheumatic? Hard matress? Cold temperature?

Saya masih ingat dengan apa yang muncul dalam pikiran saya saat menahan rasa nyeri itu, ‘umur saya baru empat puluh tiga. Gimana lima, sepuluh, lima belas atau dua puluh tahun mendatang?’.

I can remember clearly what came to my mind when I held that pain ‘I am only forty three. What is gonna be in the next five, ten, fifteen or twenty years?’.

Sejak melihat kondisi kesehatan ibu saya yang mulai bermasalah dalam waktu tiga tahun terakhir ini, sulit bagi saya untuk tidak bertanya-tanya seperti apa kondisi fisik saya dalam waktu lima, sepuluh, lima belas atau dua puluh mendatang..

Eversince I see my mother’s health that has been having problems in the past three years, I can’t help myself not to wonder what will it be like with my own physical condition in the next five, ten, fifteen or twenty years..

Que sera, sera.. whatever will be, will be.. the future is not ours to see..

Apa pun yang akan terjadi, terjadilah.. masa depan tidak bisa kita lihat..

“Kapan lu mau punya anak?” belum lama ini pertanyaan itu dilontarkan oleh seorang teman saya “Nunggu apa lagi?”.

“When will you have your own child?” just recently a friend of mine shot this question to me “What are you waiting for?”.

Ya apalagi yang saya tunggu?

Yes what am I waiting for?

Saya tahu orang bingung kenapa saya tidak juga menikah padahal pacar punya, pekerjaan punya, tampang tidak jelek-jelek banget (hehe), punya sifat periang dan lucu.. kenyataannya memang banyak laki-laki yang suka sama saya sehingga entah menikah atau tidak, dengan Andre atau bukan, saya tidak akan kesulitan mencari donor sperma..

I know people wonder why I still have not tied the knot when I have a boyfriend, have a job, not bad looking myself (hehe), have bubbly and funny personality.. the truth is there are many men like me so married or unmarried, with Andre or other man, I won’t have any difficulties to find sperm donor..

Yang orang tidak ketahui adalah saya tidak mau mengatakan hal ini kepada anak saya;

What people don’t know is I don’t want to tell my child this;

Que sera, sera.. whatever will be, will be.. the future is not ours to see..

Apa pun yang akan terjadi, terjadilah.. masa depan tidak bisa kita lihat..

Ketika saya menjadi lemah dan tua.., ketika saya tidak lagi bisa memeluknya karena terlalu sakit.., ketika saya tidak bisa mengingat namanya.., ketika saya tidak bisa melihatnya tumbuh menjadi remaja dan dewasa karena kematian keburu menjemput saya..

When I become weak and old.., when I can’t hold him/her for being too ill.., when I can’t remember his/her name.., when I can’t see him/her grow into a teenager and adult because death has taken me away from them..

Sanggupkah saya menciptakan penderitaan bagi anak itu? Tegakah saya menjadikan diri sebagai sumber kesusahan dan kesedihan baginya?

Can I create misery to that child? Do I have the heart to make myself as the source of his/her trouble and sorrow?

Saya menginginkan anak. Dari dulu saya selalu menginginkan anak. Tapi semakin bertambah usia saya dan semakin banyak yang saya alami memaksa saya merubah keinginan saya.


I wanted to have children. I have always wanted to have children. But the older I get and the more I have been through forced me to change my wishes.


Monday, October 27, 2014

If A Photo Could Talk..

“Fotonya makanan mulu” begitu komentar seorang teman.

“You have been taking photos of food lately” was a friend’s comment.

Sebetulnya bukan pertama kalinya saya memajang foto makanan, foto saya sedang makan atau foto ketika saya bersama teman-teman melakukan kegiatan masak-memasak. Jadi saya senyum-senyum sendiri saja membaca komentar seperti itu.


It is not the first time I put photos of meals, photos of me having meals or photos of me and friends cooked a dish or some dishes.

“Buat bikin orang ngiler” jawaban saya untuk komentar teman itu.

“To make people drool” was my answer for that friend’s comment.

Sebetulnya bukan itu tujuan saya. Terpikir saja tidak.


It is actually not my intention. Not even crossed my mind.

Kalau saya memajang foto makanan di facebook saya, pasti ada keterangan itu makanan apa atau keterangan makanan itu jadi menu sarapan, makan siang atau makan malam atau sekedar cemilan.


When I put photo of a dish on my facebook wall, I wrote what dish is that or if it was my breakfast, lunch or dinner menu or just me snacking.


Kalau saya memajang foto saya menghadapi makanan atau foto saya bersama teman atau hanya teman saja yang sedang makan siang maka fokusnya bukan pada makanan atau makan lagi, makan lagi. Tapi itu mengenai suatu momen, suatu kegiatan, suatu kebersamaan. Foto-foto itu pasti selalu saya sertai dengan catatan tentang dimana, kapan atau dalam rangka apa.


When I put my photo facing a dish or some dishes or my photo with friends or just my friends having lunch, the focus is not on the food or is about dining, dining again. It is about a moment, an activity, a togetherness. I have always written about where the photos were taken, when they were taken or on what occasion.


Sama halnya dengan foto masak-masak.


It goes the same with cooking photos.

Itu adalah suatu momen, kegiatan dan kebersamaan dengan teman-teman. Kegiatannya mungkin tidak terlalu istimewa dan tidak juga menghasilkan masakan yang luar biasa istimewa. Tapi karena dilakukan dengan teman-teman maka kegiatan itu, momen itu dan kebersamaan itu menjadi sangat berharga dan sangat istimewa.


It was a moment, an activity and a togetherness with friends. It might not be a super special activity and not resulted in making super special dish. But because it was done with friends made the activity, the moment and the togetherness become priceless and super special.


Alasan lain saya memajang foto-foto seperti ini adalah untuk menunjukkan makanan khas Indonesia pada teman-teman saya yang bukan orang Indonesia.Lengkap dengan pedagangnya yang sudah pasti tidak ada di negeri mereka.


Another reason why I put those kind of photos is to show Indonesian dishes to my foreign friends. Along with the vendor which definitely can't be found anywhere in their countries.


Seandainya foto-foto itu bisa bicara.., maka itulah yang akan diceritakannya..

If those photos can talk.., that is what they would tell you..

Sayangnya mata manusia seringkali hanya melihat apa yang ada dipermukaan.

Unfortunately most of the time human eyes can only see what’s in the surface.

Jadi ketika melihat foto tentang makanan atau kegiatan yang melibatkan makanan.. yang terlintas dalam pikiran adalah seperti komentar dari teman itu ‘fotonya kok makanan mulu’ atau seperti komentar seorang dosen teman saya ‘fotonya makan-makan melulu’.

So when seeing photos of dishes or activity involving food what crosses to mind is like that friend’s comment ‘the photos are about food’ or just like my friend’s teacher’s comment ‘the photos are all about dining’.

Yah, sayang sekali kalau hanya itu yang bisa diterima oleh pengertian mereka..

Well, such a pity if that was what they could grasp through their understanding..

Padahal sebuah foto dapat menceritakan tentang banyak hal..

Where infact, a single photo can tell about lots of things..

Sunday, October 26, 2014

Simple Kind of Happiness

“Kenzie tadi lihat kamera elu dan dia happy banget. Dia bilang, elu pasti bakal balik lagi buat ngambil kamera” begitu kata Santi sebulan lalu.

“Kenzie saw your camera and he was so happy. He said, you will return to get the camera” said Santi last month.

Ya ampunn.. saya ngakak jadinya karena sore itu saya baru saja sampai di rumah setelah menginap di rumahnya selama tiga hari, dua malam. Dan Kenzie sudah mengharapkan kedatangan saya lagi. Dia tahu saya pasti akan datang lagi untuk mengambil kamera saya yang dibawa ayahnya ke toko langganannya untuk diperbaiki.

Oh man.. I broke out my laugh because I just got back home that afternoon after spent three days and two nights at her place. And Kenzie has already expected my next coming. He knew I would return to get the camera which was taken by his father to his usual camera service shop.

Kebahagiaan yang sederhana..

Simple kind of happiness..

Hari Minggu, 19 Oktober saya berangkat dari Bogor. Menempuh perjalanan selama tiga jam untuk sampai di rumah Santi. Empat kali berganti kendaraan umum. Menghadapi cuaca panas.

Sunday, October 19th, I left Bogor. Took three hours to get to Santi’s place. Took four public transportation. Facing the hot weather.

Ketika saya melihat Santi datang menjemput saya di depan kompleks perumahan tempat tinggalnya.. melihat cengiran khasnya saja sudah membuat semua kelelahan hilang.


When I saw Santi came to pick me up from her housing complex entrance.. to see her typical grin was enough to get rid all my exhaustment.

Kebahagiaan yang sederhana..

Simple kind of happiness..

Ada banyak orang disekitar saya yang setiap harinya memberikan kebahagiaan kepada saya lewat berbagai cara.

There are many people around me who every day give me happiness through many ways.

Lewat senyuman mereka. Percakapan-percakapan mereka dengan saya. Canda tawa kami. Dukungan dan pengertian. Kesabaran serta kepercayaan. Ketulusan.

Through their smiles. Their talk with me. Our jokes and laughter. Support and understanding. Patience along with trust. Sincerity.

Ada orang-orang tertentu yang hanya saya jumpai satu atau dua kali dalam seminggu. Hanya dengan melihat mereka atau mendengar suara mereka saja sudah mendatangkan kebahagiaan.

There are some people whom I met only once or twice a week. Only by seeing them or hearing their voices can bring me happiness.

Kebahagiaan yang sederhana..

Simple kind of happiness..

Hari Minggu ketika saya pergi ke rumah Santi, saya berangkat dari Bogor bersama Andre. Kami sepakat naik kereta ke Jakarta. Sesuatu yang jarang kami lakukan karena dia lebih suka naik mobil.

That Sunday when I went to Santi’s place, I left Bogor with Andre. We agreed to take the train to Jakarta. Something we rarely do because he prefers to ride with his car.

Satu momen yang membuat saya bahagia.

One happy moment for me.

Kebahagiaan yang sederhana..

Simple kind of happiness..

Hari Seninnya saya terbangun dan mendapati diri saya berada bersama Santi dan anak-anaknya. Saya berada dalam kehidupan mereka. Berada dalam rutinitas mereka. Berbeda dengan yang ada di rumah saya. Dan ini membawa kebahagiaan untuk saya, juga untuk mereka karena saya berada bersama mereka pada pagi itu dan pada sepanjang hari itu.


I woke up on Monday and found myself being with Santi and her children. I was in their life. I was present in their routinity. And this made me happy, as well it made them happy for having me with them that morning and for the rest of the day.



Kebahagiaan yang sederhana..

Simple kind of happiness..

Hari Kamisnya, dua murid kecil saya dengan penuh semangat masuk ke rumah saya.

On Thursday, my two young students excitedly came to my house.

“Bu Keke mana?” Debora bertanya ketika dia tidak melihat saya di dalam rumah.

“Where’s miss Keke?” asked Debora when she didn’t see me in the house.

Senyumnya melebar dan matanya berbinar lebih terang dari bintang di langit ketika melihat saya muncul.

Her smile broadened and her eyes shone brighter than any stars in the sky when she saw me came.

Dua hari sebelumnya saya meliburkan les mereka karena saya masih berada di rumah Santi.

Two days earlier I gave their tutoring a day off as I was still in Santi’s place.

Rupanya dua gadis kecil ini, terutama Debora, kangen dengan saya sampai saya nyaris kewalahan menghadapi kegembiraannya ketika bertemu dengan saya karena hal ini membuat dia jadi sulit berkonsentrasi pada pelajaran membaca yang saya berikan sampai-sampai saya beberapa kali menegurnya.

This has made these two little girls, especially Debora, missed me so much that I was overwhelmed to deal with her excitement when she got to meet me because it made her unable to focus on her reading that I had to raise my tone.

Menjelang akhir pelajaran, tiba-tiba dia mencium tangan saya. Spontan. Tulus.

Debora at the right side
At the end of tutoring, she took my hand and kissed it. Spontaneous. Sincere.

Segala kelelahan yang saya bawa dari kantor, keruwetan pikiran setelah seharian kerja dan kekesalan saya menghadapi sulitnya anak-anak ini berkonsentrasi pada pelajaran seketika itu meleleh seperti es yang mencair.

All the burden I brought from the office, all the troubled mind after a day in the office and for nearly lost my temper dealing with these kids trouble in concentrating on their lesson just melted away.

Saya peluk dia dan saya cium dahinya.

I hug her and I kissed her forehead.

Kebahagiaan yang sederhana..

Simple kind of happiness..

“Lu punya whatsapp ga?” demikian pesan di facebook yang saya terima beberapa hari lalu “gue bikin grup di whatsapp”

“Do you have whatsapp?” that was the message I received few days ago “I set up a group in whatsapp”

Danny, Henny, Jimmy, Petrus, Zaenal dan saya pernah bekerja di perusahaan yang sama di akhir tahun 90an dan awal tahun 2000an. Satu persatu kami berhenti dari perusahaan itu tapi persahabatan kami tidak pernah berhenti sekali pun waktu dan jarak memisahkan kami.


Danny, Henny, Jimmy, Petrus, Zaenal and I worked in the same company in the end of the 90s and early 2000s. One by one we resigned from that company but our friendship keeps going on though we are separated by time and distance.

Tahun 2011 kami sempat reuni. Tapi kemudian kembali terpisah. Kontak hanya lewat facebook. Beberapa kali ingin reuni tapi terbentur kendala pada waktu dan jarak karena Danny tinggal di Connecticut, Henny di San Fransisco dan saya di Bogor.

minus Henny
We had a reunion in 2011. But then we went on our separate ways. Made contact only through facebook. Wanted to make another reunion but get bump into time and space obstacle as Danny lives in Connecticut, Henny in San Fransisco and I in Bogor.

Saya tidak menduga Danny bakal punya ide untuk membuat grup di whatsapp untuk memudahkan kami saling kontak satu dengan lainnya.

It never crossed my mind that Danny would come up with the idea to set up a group in whatsapp to make it easier for us to contact one another.

Jadilah hari Sabtu, 25 Oktober, pagi-pagi hp saya berbunyi. Ada whatsapp. Oh, mau rasanya saya melompat gembira. Danny dan Henny sedang mengobrol. Menanyakan kenapa kok saya belum muncul.

So on Saturday morning, October 25th, my cellphone beeped. Whatsapp message. Oh, I felt like jumped out of excitement. Danny and Henny were chatting. They were asking why I haven’t appeared yet.

Saya menggabungkan diri.

I joined them.

Sudah lama sekali kami tidak mengobrol. Kangennya minta ampun. Duh, senang banget bisa ngobrol.

It’s been a long time since we chatted. We missed each other so much. It felt so good to be able to chat with them.

Kebahagiaan yang sederhana..

Simple kind of happiness..

Dalam kehidupan yang penuh dengan perjuangan, sarat dengan kesulitan, dipenuhi dengan berbagai jenis manusia yang lebih sering menyebalkan dari pada menyenangkan, sulit untuk menemukan kebahagiaan yang benar-benar membahagiakan.

In this life full with struggle, never had a single day without trouble, fill with many kinds of people that oftenly become pain in the ass than joy, it is hard to find happiness that really pure happiness.

Tapi kebahagiaan itu tetap ada. Tentu saja tidak selalu sempurna. Kadang tersembunyi sampai kita nyaris tidak melihatnya sebagai kebahagiaan dan karenanya gagal untuk mensyukuri dan menghargainya.

But happiness does exist. Not always in perfection of course. Sometimes it comes in disguise that we almost accept it not as happiness and thus failed to feel grateful for it and appreciate it.

Kebahagiaan yang sederhana ada di dekat kita..

Simple kind of happiness is just around the corner..

Friday, October 24, 2014

Smart Washing Machine

Benda kedua yang saya anggap mengagumkan setelah smartphone adalah mesin cuci milik teman saya.

The second awesome thing for me, after smartphone, is my bestfriend’s washing machine.

Ketika pertama kali melihatnya saya pikir mesin cuci ini sama saja seperti mesin cuci lainnya.


When I first saw it I thought it was just like any other washing machine.

Teman saya mengobrol dengan saya sambil mencuci baju.

My friend chatted with me as she washed her laundry.

Sambil lalu saya perhatikan dia membuka keran air untuk mengisi mesin cuci itu. Memasukkan baju-baju kotor ke dalam mesin cuci itu. Menuangkan deterjen cair. Sejauh itu tidak ada yang aneh..

I slightly saw her open the tap to fill the washing machine with water. Put the dirty clothes in it. Poured liquid detergent. So far nothing was out of ordinary..

Dia menekan tombol dan mesin cuci mulai berputar. Dituangnya cairan pewangi dan pelembut pakaian. Nah, ini mulai sedikit aneh..

She pressed the button and the washing machine started to work. She poured clothes softener. Well, it was started to look a bit odd..

“Kok dituang sekarang?

“Why do you put it on the washing machine now?”

“Iya, nanti kalau sudah dibilas, dia langsung ngerendam dalam pewangi” jawab teman saya dengan santai.

“Yes, after the clothes are rinsed, it will soak them in the softener” said my friend calmly.

Saya belum sepenuhnya mengerti bahwa semua itu dikerjakan sendiri oleh si mesin cuci. Saya kira teman saya yang akan mengerjakannya.


I didn’t completely grasp the idea that the whole thing would be done all by the washing machine. I thought that what my friend would do.

“Nah, beres” teman saya nyengir “Yuk kita cari makanan”

“I’m done” my friend grinned “Let’s get something to eat”

Lha, kan belon kelar nyuci..

Excuse me, you haven’t done with your laundry..

Teman saya ngakak menertawakan kebingungan saya “mesinnya bisa kerja sendiri”

This gave my friend a big laugh at my confusion “the machine can work by itself”

Maksud lo?

What do you mean?

Mesin cuci itu demikian canggihnya sehingga dia bisa mengatur sendiri berapa banyak air yang diperlukan sesuai dengan banyaknya cucian dan deterjen, lalu setelah sekian menit memutar pakaian, mesin akan berhenti bekerja dan membuang air, mengalirkan air bersih untuk membilas, memutar pakaian, membuang air bilasan, mengalirkan air bersih kembali dan mencampurkan cairan pewangi, sekian menit kemudian air rendaman itu dibuang dan pakaian pun dikeringkan.

The washing machine is so sophisticate, it can do its own measurement on the water needed to wash the clothes, few minutes after wash the clothes, it stops and let out the dirty water, put clean water into the washing tub to clean the clothes off the detergent, spin them all, let out the dirty water and put clean water again to be mixed with the clothes softener, few minutes later it let out the water and dry the clothes.

Gelooo.. hebat amat nih mesin cuci..

No kidding.. it’s really one hell of a washing machine you have there..

Ketika kami kembali ke rumah setelah membeli makanan, pakaian sudah kering. Hebat!

The clothes were dry when we returned home after went out to get something to eat. Awesome!

Wah, seandainya saya punya mesin cuci kayak gitu.

Man, I wish I have one like that.

Angkat jempol untuk mereka yang menciptakan benda-benda hebat seperti itu.


Thumbs up to those who invented awesome stuff like that.

Saturday, October 18, 2014

Smart Gadget: Smartphone

“Kalau ada orang diruangan sini, jangan sampai ketahuan elu lagi main game” saya memperingatkan Vincent “Hape di silent saja suaranya”

“Don’t make yourself get caught playing games by anyone present in this room” I reminded Vincent “Better silent your cellphone”

Beberapa hari sebelumnya senior saya mengungkapkan keprihatinannya melihat anak-anak jaman sekarang yang kecanduan games.

Few days earlier my senior spoke about his concern to see young people are become addicted to games.

“Orang tua Vincent prihatin melihat dia senang main game dihapenya”

“Vincent’s parents are concerned to see him playing games on his cellphone”

“Ya, itu bukan seluruhnya salah Vincent dong” sela saya “Kan mereka yang kasih hape canggih ke dia”

“Well, don’t put all the blame on Vincent” I interrupted “it was them who gave him a sophisticate cellphone”

“Iya, tahu” senior saya tertawa “Kita usahain supaya kebiasaannya itu berkurang setidaknya selama dia ada disini. Coba deh kamu ngomong sama dia. Kan dia dengerin kamu”

“Yes, I know” my senior laughed “We just try to reduce his habit, at least when he is in this compound. Please talk to him. He listens to you”

Dan itulah yang saya lakukan ketika bertemu dengan Vincent beberapa hari kemudian.

And that was what I did when I met Vincent few days after that.

“Gue sih ga ada masalah elu main games karena buat gue yang penting elu bisa atur waktu supaya jangan pelajaran sekolah dan nilai-nilai elu jadi berantakan” kata saya “Elu bukan anak kecil lagi dan elu cukup pintar buat bisa ngerti sendiri”

“I have no problem about you playing games because for me the important thing is you can manage your time between so that you are doing well in school and not flunk your grades” I spoke to him “You’re not a kid anymore and you’re smart enough to understand it”

Mungkin bukan kata-kata seperti itu yang diharapkan senior saya untuk saya katakan pada Vincent. Tapi persahabatan saya dan Vincent didasarkan pada kejujuran dan fairness.

Maybe those were not the words my senior expected me to say to Vincent. But my friendship with Vincent is built on honesty and fairness.

“Menurut gue, ngasih hape smartphone ke seseorang dan berharap orang itu tidak akan main game atau mengakses internet itu sama saja kayak menaruh kue tart di depannya dan berharap dia tidak akan pernah memakannya” lanjut saya “Tidak masuk akal kan?”

“For me, giving a smart cellphone to someone and then expect the person to never play games on it or access the internet through it is like put a big cake infront of him/her and expect that person to never eat it” I went on “Doesn’t make sense, right?”

“Yoi” dia tertawa “Godaan ada tapi kita sendiri yang harus mikir mana yang baik atau tidak”

“Yep” he laughed “Temptation exists but it is up to us to think which one is best for our own sake”

“Bukan elu aja” saya menunjuk ke hape saya “Nih, gue juga pake smartphone dan godaannya bisa bikin gue lupa sama kerjaan di kantor. Gawat kan. Bisa kacau kerjaan dan gue bisa ditabokin sejuta umat disini”

“You’re not the only one” I pointed to my cellphone “I am using a smart cellphone and it is so tempting I could mess up my work at the office. It’s a no-no thing. I would have my ass kicked by millions of people in this place”

Tapi saya jadi ingin menuliskan tentang benda-benda elektronik yang pintar ini.

But it makes me want to write about these smart electronic gadgets.

Awal bulan Agustus saya mengganti hp setelah sebelumnya selama dua tahun saya memakai hp Samsung Duos Ch@t 322. 


Early in August I changed my cellphone after using Samsung Duos Ch@t 322 for two years.

Saya sih sebetulnya sudah merasa cukup puas dengan Samsung itu karena hp buat saya hanya untuk sms dan telpon.

I am actually quite satisfied with the Samsung because I need cellphone just to text and make or receiving phone calls.

Pada pertengahan bulan Juli, rekan saya yang dulu menjual Samsung Duos itu mengatakan dia ingin menjual smartphonenya. Dan sekali pun dia sudah berbusa-busa menerangkan segala kelebihan smartphone itu, saya tetap tidak merasa terlalu antusias.

On mid of July, my colleague who sold me that Samsung Duos said he wanted to sell his smartphone. And though he spoke a lot about the many stuff that smartphone has instore but I wasn’t felt so enthusiastic.

Kalau pun akhirnya saya membeli juga, alasan utamanya adalah karena dia banting harga dan saya lihat kondisinya masih bagus karena dia beli baru dan belum setahun dia pakai.

When I finally agreed to buy it, my main reason is he sold under market price and I saw it still in good condition as he bought it brand new and hasn’t used it for a year.

Awalnya banyak terjadi kelucuan setelah smartphone itu saya pakai karena biar pun sudah di briefing tentang bagaimana mengoperasikannya tapi tidak semuanya sekaligus dapat saya mengerti atau saya ingat.

At first there were many funny incidents happened after I used that smartphone because though my colleague has briefed me how to operate it but I couldn’t grasp or remembered it all at once.

Kelucuan pertama terjadi ketika telpon itu berdering. Saya bingung setengah mati karena tidak tahu bagaimana cara untuk menjawabnya. Kalau di hp manual kan ada tombol untuk menerima dan mengakhiri panggilan telpon. Nah, mana ada tombol seperti itu di gadget yang operasionalnya memakai sistem layar sentuh. 

the smartphone on my left hand
The first came when the phone rang. It drove me crazy to find the way how to accept it because unlike the manual cellphone that has push button to receive or end phone call, there isn’t any button in the gadget that operates with touch screen.

Untung pada saat kritis itu saya teringat pada cerita seorang rekan lainnya tentang pengalaman pertamanya memakai smartphone. Dia bilang layarnya di sentuh dan di geser ke kanan. Untung-untunganlah, pikir saya, mudah-mudahan cara demikian berlaku di semua smartphone.

Luckily in that critical moment I remembered a friend’s story about her first experience using smartphone. She said she touched the screen and slided it to the right. Well, I have got nothing to lose, I thought, I hope this is way is applied to all smartphones.

Dan berhasil!.. hehe..

And it worked!.. lol..

Saya jenis orang yang senang dan cepat bisa menguasai cara kerja program di komputer, hp, notebook, ipad dan yang sejenis itu.. tapi begitu saya berhadapan dengan smartphone.. senewen deh saya. Nah, yang jadi pertanyaan, ini gadgetnya yang kelewat canggih atau saya yang kelewat dogol?.. hehe..

I am the kind of person who likes and able to know how to operate programs on computer, cellphone, notebook, ipad and stuff like them.. but the moment I came face to face with a smartphone.. I lost my magic touch. So, the question is, was it too sophisticate or was I too dumb?.. lol..

Oh tapi bukan Keke namanya kalau tidak berhasil menaklukkan sejuta tantangan.. hehe.. yah, biar pun pakai acara sembilan ratus ribu kebingungan dan seratus ribu senewen..

Oh but don’t call me Keke if I can’t knock out a million of challenge.. lol.. yeah, with nine hundred thousand of confusion and a hundred thousand of nervousness..

Rekan saya mendownload blackberry, whatsapp, facebook dan google di smartphone ini.

My colleague downloaded blackberry, whatsapp, facebook dan google in this smartphone.

Yang paling sering saya pakai tentunya adalah facebook.

I definitely use facebook frequently.

Saya tidak terlalu tertarik pada blackberry dan whatsapp yang menurut saya bentuknya hampir mirip. Sedikit lebih canggih dari sms biasa dan bentuk sederhana dari facebook.

I don’t have keen interest on blackberry and whatsapp since I consider them alike. More sophisticate than regular text and simple form of facebook.

Whatsapp lebih banyak berfungsi karena ada grup persekutuan pemuda dan karena saya adalah ketuanya, tentu saja saya harus memantau dan memakainya untuk berkomunikasi dengan para anggota pemuda.

Whatsapp is function because there is youth fellowship group on it and since I am the head of it, I have to use it to communicate with the members in the fellowship.

Blackberry baru belakangan ini saja jadi menarik setelah gara-gara pin error membuat saya jadi kenalan dengan seseorang dari satu negara di Amerika Selatan. Ini karena entah bagaimana pin teman yang saya ingin add ternyata malah masuk ke blackberry milik orang lain dan lucunya, orang ini sedang menunggu konfirmasi dari temannya untuk meng-add pin dia.

Blackberry has just recently became interesting after pin error brought me to know a guy in South America. It happened when I added a friend’s pin but my invitation somehow arrived in other person’s Blackberry and funny thing is, this guy was waiting to get his friend’s confirmation on his pin invitation.

Jadilah kami berkenalan dan sering mengobrol di Blackberry. Lewat beberapa minggu kemudian barulah saya mengetahui dia adalah mahasiswa tahun pertama di sekolah kedokteran. Duh.. berondong.. ganteng pula. Segerrrr.. hehehe..

So we introduced one to another and have frequently chat on Blackberry. Few weeks later I learned that he is a first year meds school student. Gosh.. a young blood.. a good looking one too. Nice.. lol..

Tapi smartphone ini juga memberikan dampak kurang baik. Saat jam kerja silih berganti dia berbunyi, entah itu sms biasa, whatsapp, blackberry atau facebook, kadang-kadang malah semuanya berbunyi pada saat bersamaan. Godaan banget.. konsentrasi kerja suka jadi buyar karenanya. Yaiii…

But this smartphone gives bad effect too. In office hour it beeps one after another whether it is regular text, whatsapp, blackberry or facebook, or sometimes all of them beeped all at once. Speak about temptation.. I can’t focus on my work.. yayyy..

Berhubung baru.. yah, wajar kalau rasanya seperti sedang ‘berbulan madu’.. hehe.. apalagi seminggu terakhir ini saya menemukan momentcam app yang memasangkan muka seseorang dengan berbagai gambar karikatur. Saya telah membuat tiga gambar.


Since it’s a new thing.. yeah, it makes sense if it feels like ‘honey mooning’.. lol.. especially that in the past week I found momentcam app that can put a person’s face on its caricature drawing. I made three drawings so far.




Tapi gara-gara smartphone ini saya dan Andre sempat agak bersitegang. Apalagi kalau bukan karena bawaan posesifnya bikin dia merasa tidak nyaman karena takut saya bisa lebih bebas berkomunikasi atau berkenalan dengan siapa saja (baca: cowok). Itu sebabnya dari dulu dia tidak mau membelikan saya hp kelewat canggih.

But this smartphone has made me and Andre have had some bumps. What else than his possessiveness that makes him feel uneasy for fearing I can have easy access to communicate or get to know anyone (male). It is why he never bought me any sophisticate cellphone.

Bagian dari kecanggihan itu adalah layarnya yang bisa dikunci dengan menggunakan pola tertentu. Saya sudah menyetel smartphone saya dengan cara ini dan Andre tentu saja tidak bisa lagi sebebas-bebasnya melihat segala sesuatu yang tersimpan didalamnya.

Part of its sophistication is the screen pattern lock. I have set up a pattern to lock my smartphone and so Andre can no longer have the freedom to see all the stuff I keep on it.

Dia jelas jadi tidak senang..

He surely doesn’t like this..

Friday, October 17, 2014

Animal Planet

Saya menemukan postingan cerita di facebook (diposkan oleh Cuttin Up Radio) mengenai seekor kuda bernama Miss Hottie yang diserang seseorang sampai kuda itu terluka parah dan walaupun nyawanya berhasil diselamatkan, satu matanya harus menjadi buta.

image: cuttin up radio
I found a facebook post (posted by Cuttin Up Radio) about a horse named Miss Hottie, attacked by somebody that it made the horse got severe wounds and though its life could be saved but one of its eyes gone blind.

images; www.gofundme.com
 ‘Jahanam mana yang tega melakukan hal ini?’ demikian inti dari begitu banyak komentar orang terhadap postingan itu.


The comments were basically spoke the same ‘What kind of an asshole had the heart of doing such thing?’

Saya yakin anda juga akan mengeluarkan komentar yang kurang lebih bunyinya pasti sama.

I am sure you too will say more and less the same comment.

Walaupun saya juga berpendapat sama tapi saya pikir kenapa kita bersikap seakan-akan hal itu demikian luar biasa?

Though I share the same opinion but I thought why do we act as if it was a very incredible thing?

Kenapa kita harus menjadi demikian ngeri seakan-akan kita belum pernah melihat kejahatan manusia?

Why do we have to be so scared as if we have never seen man do evil things?

Cobalah lihat ke sekitar kita. Berapa banyak kejahatan yang terjadi setiap harinya?

Take a look around us. How many evil things happen everyday?

Kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang lain. Kejahatan yang kita lakukan.

Evil things done by people. Evil things done by us.

Apakah kejahatan baru bisa disebut sebagai kejahatan ketika korbannya berdarah-darah?

Is evil thing can only be called evil when the victim is bled?

Ketika kita memaki-maki orang.. hal itu bukan kejahatan karena korbannya toh tidak berdarah-darah?

When we yelled at somebody.. it can’t be considered evil thing since the victim is not bled?

Sewaktu kita mengkhianati pasangan kita.. hal itu juga bukan kejahatan karena korbannya toh tidak berdarah-darah?

When we commit infidelity toward our partner.. it too can’t be considered evil thing since the victim is not bled?

Di saat kita membiarkan ego mengambil alih kendali sampai memecahkan keutuhan keluarga atau persahabatan atau perusahaan.. itu juga bukan kejahatan karena.. hei.., korbannya toh tidak berdarah-darah?

At time when we let ego takes control that it breaks family or friendship or company.. that can’t be considered evil thing since, hey.., the victim is not bled?

Ketika kita mengintimidasi orang supaya dia tunduk kepada kita, supaya dia tidak merugikan kita, supaya kita merasa lebih superior, supaya dia tidak melawan kita.. hal itu masih bukan kejahatan dong karena korbannya toh tidak berdarah-darah?

When we intimidate somebody to place that person under our feet, to make him/her won’t bring any loss to us, to make us feel inferior, to make him/her can’t stand against us.. it still can’t be considered evil thing because after all, the victim is not bled?

Kita manusia yang tercipta lebih tinggi, lebih beradab, lebih terhormat dan lebih di atas segalanya dibandingkan dengan hewan, ternyata kadang perbuatan dan pikiran kita tidak ada banyak bedanya dengan hewan.

We as human being is created higher, more civilized, honorable and much more than animal, in reality our attitude and minds are not so far different with animal.

Perlukah saya memberikan contoh?

Should I give you example?

Sekitar seminggu lalu seseorang dari kantor pusat mampir di kantor saya. Ditengah-tengah obrolan kami, tiba-tiba dia nyeletuk “Eh, kita pacaran yuk, kan lagi kosong nih”

About a week ago somebody from the central office came to my office. Suddenly in the middle of our conversation, he spoke this to me “Hey, let’s made out, there’s no one here”

Coba, apa bedanya pemikirannya itu dengan hewan? Kucing, anjing bahkan capung bercinta dimana saja, kapan saja, tanpa peduli jadi tontonan orang atau tidak.


Now, is there any different in his thinking with animal? Cat, dog even dragonfly made out anywhere, anytime, not bother if it would be under public view or not.

Kalau saya memaki dia ‘anjing lu!’.. saya tentu tidak salah karena pemikirannya tidak beda dengan hewan. Tapi kalau saya memakinya demikian, bisa jadi dia akan tersinggung atau sakit hati atau marah atau malah mungkin jadi mendendam pada saya.

If I curse him ‘you’re nothing but a dog!’.. I definitely not make any mistake for his thinking is not different with animal. But if curse him like that, he probably would be offended or had hard feelings or got upset or might even have grudge on me.

Melalui berbagai pengalaman hidup saya mengetahui bahwa yang menjadi ukuran tentang baik atau buruknya seseorang atau diri sendiri bukanlah dari jabatannya, harta, kepintaran, gelar sarjana, status dan bahkan tidak dari kesuksesannya.

I learn through many experiences in life to know that to measure someone or myself is not from position, wealth, IQ, academic degree, status nor even successes.

Karena biarpun semuanya ‘wow’ tapi pemikiran, sikap dan perbuatannya tidak ada bedanya dengan hewan.. lalu apa gunanya semua itu? Masih bisakah dibanggakan?

Because even if those are ‘wow’ things but if the minds, behavior and attitude are no different with animal.. then what good are they? Is there any pride in any of them?