Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Monday, March 21, 2011

Linglung / Be Dazed


Yang namanya linglung betul-betul bisa merepotkan sekaligus menggelikan. Pernah mengalaminya?

“Ke, kamu lihat uangnya Charlos tidak? Tadi mamanya bayar uang seratus ribu” kepsek menatap saya dengan air muka bingung bercampur geli & sedikit putus asa waktu saya kebetulan melewati kelas Playgroup untuk mengambil tisu gulung dari kantor siang ini (Selasa, 15/3) setelah anak-anak pulang semua.

“Oh, nggak, bu. Hilang?” saya menahan tawa. Si nenek. Pasti dia lupa lagi di mana dia menaruh barang-barangnya.

“Saya sudah cari kemana-mana” kepsek tertawa.

“Di kantong?”

“Tidak ada”

“Di ingat-ingat, bu, runtutan jejak ibu setelah terima uang itu. Siapa tahu ibu taruh di suatu tempat tapi tidak berasa menaruhnya di situ”.

“Itu dia, saya tidak bisa ingat. Tolong lihat-lihat ya”

“Ok. Tapi kalau ketemu, saya diam-diam saja ya” saya terkekeh sendiri menggodanya.

“Semprul!” Kepsek ikut tertawa.

“Buat beli es krim, Ke” celetuk wali kelas TK B dari dalam kelasnya. Hehe.

Eh, kira-kira 15 menit kemudian kepsek masuk ke kelas TK A & menghampiri saya sambil tertawa-tawa. Ditunjukkannya catatan keuangannya. Di situ jelas terlihat hari Senin tanggal 14 Maret tertulis Charlos Rp.100.000,-

“Yee, ibu. Jelas aja mau di cari sampai botak sariawan juga ga bakal ketemu. Lha, uangnya sudah masuk ke kas sekolah dari kemarin” saya ngakak jadinya.

“Tidak jadi beli es krim deh, Ke” wali kelas TK B cekikikan dari kelas sebelah.

“Huu, iya nih. Ibu sih bikin heboh duluan” saya nyengir ditimpali tawa kepsek & wali kelas TK B.

Tapi memang beberapa kali masing-masing kami pernah mengalami peristiwa menggelikan yang diakibatkan oleh kelinglungan sendiri.

“Sudah ketemu belum buku noteblock kamu?” wali kelas TK B tiba-tiba teringat sesuatu terinspirasi oleh kehebohan uang Charlos tadi.

“Sampai sekarang saya tidak tahu itu buku nyelip di mana, bu” saya nyengir ingat seminggu lalu saya yang heboh mencari buku noteblock saya yang entah bagaimana bisa raib dari meja guru tempat di mana saya meletakkannya dari pagi. Mungkin terbawa saat saya mengangkat sejumlah buku dan kertas tapi tidak bisa saya temukan sekalipun sudah saya kubak-kubek di mana-mana. Ini linglung yang ajaib. Saya bisa menghilangkan buku tanpa sulap, tanpa sihir. Hehe.

Nah, rupanya virus linglung di sekolah bergantian menghinggapi kami berempat. Beberapa waktu kemudian teteh pun ribut mencari sapunya.

“Bu, lihat sapu saya tidak?” tiba-tiba dia masuk ke kelas saya dengan muka bingung sekaligus kegelian sendiri.

“Lho, kan tadi teteh bawa-bawa” jawab saya tidak kalah bingung.

“Iya, tapi saya lupa saya taruh di mana” dia tertawa. Buset dah. Kepsek bingung mencari uang, saya kehilangan buku noteblock & teteh sekarang mencari-cari kemana gerangankah sapunya ngumpet. Hehe.

“Ke, aku mau ijin nih pulang duluan hari Senin depan” wali kelas TK B tiba-tiba memunculkan dirinya di kelas saya.

“Pulangnya? Terus les anak TK B rombongan ibu gimana?” tanya saya.

“O iya ya…” dia tersentak kaget “Senin ada les anak TK B siangnya”. Nah lu, doi lupa.

Hehe. Kelihatannya kita berempat betul-betul kena Penyakit Linglung nih.

Eh, jangan salah, biar pun guru & pekerja di sekolah ini bisa sekali-sekali terkena penyakit linglung tapi anak-anak lulusan TK ini tidak pernah masuk dalam jajaran ‘Juru Kunci’ di sekolah-sekolah mereka.

Setahu saya setidaknya mereka masuk dalam urutan 20 besar di kelas masing-masing. Jarang bahkan bisa di hitung dengan jari jumlah mereka yang nilai rata-ratanya ‘di bawah garis kemiskinan’ alias rendah sekali.

Yang tidak naik kelas pun setahu saya hanya 6 anak dalam kurun waktu hampir 6 tahun terakhir ini. Itu pun bukan karena punya IQ jongkok tapi karena kurang rajin belajar. Hanya 2 anak yang tidak bersekolah karena seharusnya mereka belajar di sekolah untuk anak berkebutuhan khusus. Lalu hanya 2 anak lagi yang setahu saya dipertimbangkan untuk pindah dari sekolah biasa ke sekolah di rumah (homeschooling) karena faktor-faktor tertentu yang membuat mereka kurang cocok untuk bersekolah di sekolah umum.

Kalau setiap tahunnya ada sekitar 20 anak yang lulus untuk meneruskan ke SD maka hitungan anak yang oleh karena satu dan lain hal mengalami masalah dalam perjalanan studinya di sekolah SD / SMP tentunya jauh di bawah dengan mereka yang bisa menjalani masa belajarnya dengan baik & berprestasi.

Yah, bandingkan sajalah kalau dalam 1 angkatan yang terdiri dari 20 anak mencatat hanya 6-7 anak yang mengalami masalah dengan studinya setelah lulus dari sekolah ini maka masih ada 13-14 anak yang tidak mengalami masalah. Bahkan mungkin ke 13-14 anak ini berprestasi baik / di atas rata-rata di SD / SMP.

Kami tentu saja berbangga hati melihat setiap anak didik kami. Bahkan yang terlihat tertinggal / bermasalah dalam studinya tidak berarti mereka mengalami kegagalan. Manusia berkembang. Kita tidak bisa menentukan gagal / berhasilnya seorang manusia hanya dari satu fase pada masa perjalanan hidupnya.

Kami berusaha mendidik dan mengembangkan mereka sebaik mungkin. Tapi doa kami tetap mengiringi perjalanan hidup mereka karena di atas segalanya ada Tuhan yang mampu melakukan lebih banyak & lebih baik dari pada yang dapat kami lakukan.

Keberhasilan & kebahagiaan mereka tentunya menjadi kelegaan, ucapan syukur & kebahagiaan kami juga karena melihat jerih payah kami mengajar & mendoakan mereka membuahkan hasil yang manis.
___________________________________________________________________

Have you ever had the thing when you just got things mixed up? Dazed? It is annoying but it’s funny at the same time.

“Have you seen Charlos’s money?” headmaster asked me this morning (Tuesday, March 15th) after school when I passed Playgroup classroom to get a roll of tissue from the office “his mother paid Rp.100.000” (equall with US$10).

“Nope. Why? Is it missing?” I held back my laugh. Granny. She must have forgotten where she placed her stuff again.

“I have looked everywhere” she stared at me with that daze look mixed with tickle on her face.

“The pockets?”.

“Not there”.

“Where did you go after you’ve got that money? What did you do? Perhaps you put it somewhere unconsciously”.

“That’s the problem; I can’t remember” she laughed in despair “Could you please look around?”.

“Ok. But I’ll keep quiet if I find it” I teased her.

“You’re old bratt!” she laughed.

“Oh yeah, & buy ice cream with it” the other teacher said from her classroom. Lol.

About 15 minutes later headmaster entered my classroom smiled broadly as she showed me her ledger book. There it showed clearly in her own handwriting that Charlos paid the money yesterday.

“No wonder we would never able to find it if it has safely stored in school’s deposit box” I laughed.

“There goes the ice cream” teased the other teacher from her classroom.

But each of us has our own experience with this daze virus that somehow spreading among us.

“Have you found your noteblock book?” asked the other teacher, inspired by Charlos’s missing money when she recalled how I was so dazed looking everywhere to find my noteblock book which somehow went missing from my table. Perhaps it was being taken along with the other books & papers when I carried them but I couldn’t find it though I’ve searched everywhere.

“No, I’ve given up” I grinned. So doesn’t need a magician to make things disappear. I can do that too but for real. No magic.

Now apparently there was an epidemic caused by that virus because later on our janitor came into my classroom with puzzled look on her face.

“Do you see my broom?” she asked me. Huh??

“Aren’t you just carrying it with you a moment ago?” I asked her back. Almost as puzzled as herself.

“Yea, but I put it somewhere & I forget where it is. Can’t find it anywhere” she laughed. So headmaster was confused to find Charlos’s money, me with my missing noteblock book & now she can’t find her broom. Lol.

So the daze virus took turn to get into each of us because shortly after that the other teacher came to my classroom.

“I want to leave school early next Monday” she told me.

“After school?” I asked her “how about the kids in your tutoring group?”.

“Oh dear!” she just realized that we have tutoring for the kids in her class as the preparation for them to enter elementary school in June 2011. We have this tutoring every Monday & Thursday from 11 am to noon since August 2010! The kids are divided into 3 groups. Each of us get 5 kids this semester.

She obviously forgot about it.

But with all of our weaknesses & limitations we are happy to see how most of this kindergarten’s graduates do well in their study. Some of them even are in their class’s top 10 list.

As far as I know there are only 6 kids in the past 6 years who don’t do well in their study. These kids had to redo their school year not because of their low IQs but because they didn’t study hard. I know 3 of them & I know they’re smart kids. Lack of discipline & parents’s guidance contributed to the reason why they had to redo a school year.

Beside those 6 kids there are 2 other kids who can’t go to regular school because they’re kids with special needs & they should go to school for the special needs children. But schools like that are expensive so they can’t extend their education.

There are also 2 kids who are being considered to be enroll in homeschooling because they don’t fit in regular schools as it would be more effective for them academically to study at home than in regular class that has 20-30 kids.

We are proud for each of our students. We don’t consider those who don’t do well in school as failurers because people develop. We can’t say a person fail / success just seeing from a phase of his / her lifetime.

We do our best to teach our students & we pray for them because there is God who can do more than what we can do.

In the meantime our students’s happiness & success are our gladness & happiness as well seeing how our hardwork, prayer & faith have bore us sweet fruits.

No comments:

Post a Comment