Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Monday, March 7, 2011

Belajar & Pelajaran / Study & Lesson


Pagi ini (Jumat, 4/3) saya sampai di sekolah membawa rasa sedikit gamang karena berpikir ini hari pertama saya mengajar total tanpa asisten. Pertanyaannya bukan bisa atau tidak saya mengajar sendiri di kelas. Bukan juga mampu atau tidak saya menangani semua sendiri. Tapi yang membuat gamang adalah karena merasa kehilangan seorang teman senasib & seperjuangan di dalam kelas.

Semua memang berjalan lancar. Tuhan ingin supaya saya betul-betul meresapi bahwa di atas segalanya ada Dia yang menyertai saya.

Bukan berarti kita harus menjadi manusia-manusia super yang tidak membutuhkan manusia lain tapi kita harus belajar bahwa kita harus lebih mempercayai & mengandalkan Tuhan & bukannya manusia karena manusia memiliki kelemahan & kekurangannya yang membuat mereka tidak bisa melakukan / menjadi segalanya yang sempurna bagi kita.

Saya mempunyai pengalaman panjang tentang berjalan dengan mengandalkan Tuhan & hari ini saya kembali melakukannya. & bisa saya katakan jauh lebih sulit menghadapi manusia dari pada menghadapi Tuhan. Padahal segala sesuatu ada di tangan Tuhan mulai dari hidup, masa depan sampai nyawa. Sedangkan manusia tidak menentukan masa depan atau hidup matinya kita.

2 hari lalu kami menerima semacam buku ‘Saat Teduh’. Buku itu berisi tulisan tentang renungan rohani / pengalaman orang-orang Kristen yang berhubungan dengan iman kekristenan kami tentunya.

“Sering ga baca buku begini?” Evelyn nanya saya sambil mengamati buku itu.

“Ga. Gue kasih nyokap” jawaban saya membuat dia tertawa geli.

“Dasar”.

“Lha iya, ‘Saat Teduh’ gue yang sejati & yang asli adalah setiap detiknya saat gue beraktivitas setiap hari”.

Ini memang benar karena ‘Saat Teduh’ bagi saya adalah saat-saat di mana saya harus menghadapi orang-orang di sekitar saya & juga saat menghadapi diri saya sendiri.

Karena Tuhan mengajarkan banyak sekali hal tentang iman, kesabaran, kasih, ketabahan, bersyukur, kerendahan hati, kemampuan untuk bisa menerima serta memaafkan & banyak pelajaran baik lainnya melalui mereka & juga diri saya.

Saya tipe orang yang memilih untuk belajar langsung melalui pengalaman yang saya dapati dari kehidupan sehari-hari dari pada melalui pembacaan atau mendengar orang lain menasihati, memberi saran bahkan omelan.

Ya, saya tetap memperhatikan & mempertimbangkan semua input yang saya dapatkan tersebut tapi yang betul-betul meresap adalah apa yang saya rasakan sendiri melalui pengalaman langsung.

Nah, hari ini tanpa ragu saya mengambil keputusan untuk membawa anak-anak berjalan keliling sebagai kegiatan olah raga kami setelah sebelumnya mendapat jawaban mengambang dari kepsek sewaktu saya menanyakan apakah kami akan bersenam ria di sekolah.

“Jangan tanya saya” begitulah jawaban yang saya terima.

Ok. Kalau begitu kita jalan, saya mengambil keputusan tegas.

Wali kelas TK B masih terlihat ragu. Saya bisa mengerti arti tatapan matanya kepada saya; “Keputusan kamu itu akan membuat kita dipersalahkan tidak nantinya?” . Dia sudah bekerja di sekolah ini lebih lama dari saya & kami berdua sama-sama sudah terlalu mengenal kepsek yang mudah sekali mengeritik, memprotes, mengomeli, menyesali & mengomentari hal-hal yang kami pilih, lakukan & putuskan.

Saya tahu sama seperti saya, wali kelas TK B sudah jenuh dengan senam, senam, senam & senam setiap kali kami berolahraga di hari Jumat. Tapi kami tidak pernah memiliki kebebasan sepenuhnya untuk menentukan apa yang harus kami lakukan di sekolah, kadang bahkan di dalam kelas kami sendiri. Semua harus bisa kami terima untuk disesuaikan menurut keinginan, keputusan & pilihan kepsek.

Dari semua pelajaran yang diberikan kehidupan kepada saya, menghadapi manusia seperti kepsek adalah salah satu pelajaran tersulit yang harus saya pelajari. Sudah hampir 6 tahun Tuhan mengijinkan (atau lebih tepatnya : memaksa) saya untuk mempelajari ilmu kehidupan yang satu ini. Mudah-mudahan saya bisa lulus & tidak lulus dengan nilai pas-pasan ya. Hehe.

Nah, betul juga. Tidak lama setelah saya mengambil keputusan tersebut, saya mendengar kepsek bicara “Bagaimana mau mengajak anak jalan kalau jumlahnya sedikit begini”.

Hmmm. Saya sudah siap mental untuk beradu argumen. Karena saya tidak akan mau menyerah begitu saja. Tadi sudah menyerahkan keputusan kepada saya. Jadi jangan menghalangi saya untuk melakukan keputusan itu. Tapi syukurlah kepsek tidak menindaklanjuti ocehannya tadi.

Di tengah-tengah baris berbaris tiba-tiba kepsek menghentikan barisan anak TK A. Beliau memang yang memimpin pasukan kelas saya (tentu saja tanpa sebelumnya memberikan kata pengantar apa pun kepada saya yang notabene adalah wali kelas TK A).

“Bagaimana sih? Kalian bisa berbaris atau tidak?”

Wah, saya sempat meradang mendengar ucapan kepsek itu. Padahal ucapannya tidak ditujukan kepada saya. Dalam hati dengan sengit saya berpikir bagaimana anak bisa tahu caranya berbaris dengan benar kalau setiap Jumat olah raga yang kami lakukan selalu senam?!

Usul saya & wali kelas TK B untuk mengadakan kegiatan olah raga berselang seling antara senam, berbaris & olah raga di lapangan voli dekat sekolah bagaikan angin lalu di telinga kepsek.

Nah, sekarang kok bisa-bisanya mengeluarkan ucapan seperti itu?!

Kalau saya mengajak anak-anak keluar kelas di hari-hari biasa untuk berjalan-jalan atau berbaris berkeliling beberapa blok di kompleks, pasti saya akan di tanya akan kemana atau melakukan apa. Model orang mau keluar penjara saja kadang rasanya. Harus seijin & sepengetahuan sipirnya. Keluar lebih dari 15 menit sudah ditelponin. Kemana aja? Ngapain aja? Balik.

Syukurlah anak-anak cepat menguasai cara berbaris dengan benar sehingga tidak mengundang komentar lainnya dari kepsek. Cuma saya yang jadi bawaannya kurang rileks. Anak mungkin tidak terlalu memperdulikan kepsek. Tapi saya yang jadi bawaannya agak tegang setiap kali jalan bareng kepsek karena ya begitu itu tadi. Cepat sekali menemukan titik ketidaksempurnaan & menyikapinya tidak dengan cara yang mendamaikan hati.

& syukur juga beliau tidak ikut campur di dalam kelas walaupun beberapa kali mondar mandir masuk ke kelas saya, yang tentunya tanpa kata pengantar macam “Sori Ke, masuk bentar mau ambil ini / itu”. & setiap kali masuk pula menyoroti ketidaksempurnaan di dalam kelas seperti March yang tidak mau duduk, Niko yang mejanya terlalu ke depan, Justin mewarnainya tidak benar.

Heleh. Saya juga tahu bagaimana keadaan anak-anak itu tapi selama semua masih terkontrol maka saya tidak akan terlalu merepotkan diri dengan hal-hal yang tidak mampu dilakukan oleh anak-anak secara sempurna.

March, misalnya, yang saat sedang mengerjakan tugas malah sibuk bengong, mengobrol, bercanda, memperhatikan pekerjaan teman, bekerjanya lama yang intinya membuat tugas yang harus dikerjakannya menjadi terbengkalai.

Selama ini saya & Evelyn rajin mengingatkan & menegurnya tentang hal ini tapi kelihatannya tidak berpengaruh. Nah, hari ini saya tidak lagi memiliki Evelyn di dalam kelas jadi saya mengambil kebijaksanaan baru. Saya akan berhenti mengingatkan & menegur March.

Sebaliknya saya akan mengingatkan seisi kelas tentang waktu. Saya sudah memulainya hari ini dengan memberitahu mereka bahwa jarum panjang di jam dinding sudah berada di angka 9 (9.45). lalu 5 menit kemudian saya kembali memberitahu mereka jarum panjang sudah berada di angka 10 (9.50). Setiap kali pula saya memberitahu mereka bahwa kalau jarum itu sudah berada di angka 12 maka itu artinya sudah jam 10 & itu artinya waktu makan.

Berbeda dengan kepsek yang berprinsip ‘selesai tidak selesai, semua pekerjaan di kumpul’ maka saya bersikukuh anak harus konsisten menyelesaikan tugas yang saya berikan kepadanya. Kalau anak itu berlama-lama maka konsekuensinya dia akan ketinggalan & dia harus merasakan sendiri konsekuensi dari perbuatan & pilihannya.

Ini sekaligus merupakan percobaan untuk menyelesaikan kasus March. Saya harus tahu dari pengalaman. Karena saya memang orang yang belajar dari pengalaman.

Nah, siapa tahu mungkin March & saya adalah orang tipe yang sama. Kalau memang benar maka March pasti akan belajar bahwa kalau dia memilih untuk berlama-lama saat harus mengerjakan tugas dengan cara mengobrol, bengong, bekerja lambat, bercanda dll maka dia sendiri akan merasakan akibatnya yaitu harus menjadi satu-satunya anak yang masih berkutat mengerjakan tugas sementara teman-teman lainnya sedang makan & harus tinggal sendirian di dalam kelas di saat yang lainnya bermain di halaman sekolah.

Justin lain lagi. Kebiasaannya memukul teman entah serius atau karena jahil, sudah memusingkan sekaligus memprihatinkan saya & Evelyn setidaknya selama 2 bulan ini. Nah, karena saya sudah tidak memiliki Evelyn lagi padahal ada 16 anak di dalam kelas yang harus saya tangani sendirian mulai dari sekarang membuat saya memutuskan untuk mengefisienkan tenaga, waktu & perhatian saya.

Dalam artian saya tidak mau ‘berkicau’ kepada Justin pada waktu saya melihat atau mendengar laporan temannya tentang pemukulan yang dilakukannya. Saya cukup memberinya tatapan penuh arti bahwa tindakan itu tidak benar & saya tidak menyukainya. Tanpa sepatah kata terucap oleh saya. Tanpa omelan. Tanpa teguran. & Justin mendekati teman yang dipukulnya itu untuk minta maaf. Wah! Jujur saja, saya sendiri juga heran. Luar biasa. Hari ini saya belajar banyak sekali. Hehe.

Tentu saja saya wajib bersyukur pada Tuhan yang tetap mendampingi saya & yang memberi saya ide-ide serta membimbing saya. Dia membuat saya bagaikan bulir padi. Sarat dengan pengalaman. & pengalaman itu memberikan buah-buah yang manis, indah & baik untuk saya.

Mudah-mudahan pengalaman dalam hidup masing-masing kalian juga memberikan pengajaran yang baik & berguna untuk diri kalian sendiri & untuk orang-orang lain di sekitar kalian.
___________________________________________________________________

I’ve got in school today (Friday, March 4th) feeling a little anxious. It would be my first day of teaching without Evelyn in class. I miss the present of a friend. A comrade in arm. Because we were in the same boat. We’ve been through a lot while taught our class together.

God wants me to learn to depend wholely & mostly on Him & not on the fellow human being.

Not that we have to turned ourselves as super people who don’t need other people. But it’s about trusting & relying on God above all else. Man have lots of imperfectness. Man doesn’t hold his own fate & life. Funny how we tend to bother ourselves on our fellow human being than on God.

2 days ago we were given this small book. Sort of Christian ‘Daily Bread’ Book where we can read about the words taken from the bible or people’s experience relating to Christianity faith.

“Do you read it?” asked Evelyn.

“Nope” was my short & direct answer that made her laugh “I give it to my mom”.

Why don’t I read books like that anymore? It’s because for me, my ‘daily bread’ is actually what I experience everyday. I learn by doing. I prefer to learn about God, people, faith, patience, endurance, forgiveness, joy, gratefulness & many other Christianity teaching, principles, the Words of God from my daily experience.

I’m not the kind of person who would listen & do accordingly after given instruction, advice, critic or even wrath. I’d take them into my consideration but don’t be too sure that I’d really take them by the heart.

What really takes to my heart is what I experience, what I feel, what I see. & that will absorb deep into my mind & my soul.

Everyday is a lesson for me. Life is my classroom. People & events are my text book & as well as become the test for me.

What happened today for example taught me another lesson on how to deal with our school’s not-easy-to-deal-with headmaster.

She didn’t give me clear answer when I asked what would we do for P.E. today.

“Don’t ask me” she said that & it was enough for me to make a decision to take the kids out for a walk around the housing complex where our school is located.

“Would your decision put us into trouble then?” the teacher in the senior class gave me that kind of look. We both have the same feeling about our school’s Friday P.E. activitity. We don’t want to do the exercise for P.E. We actually have talked about it to headmaster. We don’t want it to become our same activity for P.E. But she never really takes it seriously because as always it’s her will & decision that matter in this school. We’ve known our headmaster too well.  

So not long after I made a decision about today’s P.E. activity did I hear headmaster said “How would we go for a walk with only a little number of kids?”. Darn! I was ready to make my argument but glad I didn’t have to because she said nothing more & off we went marching.

But once again she upset me when in the middle of our marching she stopped my kids & said “Is this how you all march? Don’t you know how to march?”. Man, how could we learn how to march if all we do for P.E. is exercise?! When I took them out in any other days she would ask me where I take them & for what purpose. Going out more than 15 minutes would make her call me asking where I was & why haven’t we returned yet. Making me feel as if I need a pass to get out of the jail.

Boy, I’m telling you God really allow (or more likely to force) me to deal with such a type of person!

I was worried she would get into my class & intervene (a.k.a. taking the control of teaching) but she didn’t though she did come & go several times into my class (which as usual never by saying sorry first to have to get something from my classroom).

Not having Evelyn around make me think about efficiency. I need not waste too many of my time, energy & attention.

I make 2 experiment. One I applied on March who again spent his time to day dream, chat, joke & worked slow during the activity time in class. Before that Evelyn & I tried endlessly & to no avail to make him do his work. Today I didn’t say much about how he spent too much time not doing his work.

Instead at 9.45 am I announced to my class that the needle of the clock pointed at the number of 9.

5 minutes later I made another announcement that it was pointing at the number of 10.

Everytime I did this I also reminded them that when it pointed at 12 it means it’s 10 am & it’s snack time that will follow by recess time.

I let March became the few kids & later the only one who still did his work while the others were having snack & then left the room to play in the school’s yard. I wanted him to learn about consequences. If he prefer to do his work slow, it makes him left behind by his classmates. I want him to experience it himself. After all, perhaps he is too like to learn from what he feels, sees & experience. Just like myself.

Justin have made Evelyn & I concerned & troubled by his habit to punch his friends whether he did that unintentionally or to amuse himself. Now today I didn’t want to yell at him, to remind him for I don’t know how many times that it’s unacceptable. I don’t want to sound like a broken record to him so when I caught him or heard his classmate told me about the punching I just gave him the look that said it all & to my surprise it made him apologized for his wrong doing.

So I learn a lot today. What a day indeed. Lol.

But I’m thankful to God who guides me & be by my side. Allowing me to learn so many good things that eventually will bear me good fruits. It benefits me & others.

I hope that’s the same case with each one of you.

No comments:

Post a Comment