Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Saturday, January 31, 2015

Humor Captured

Dalam pengalaman saya memotret dan dipotret, ada foto-foto tertentu yang menjadi favorit saya.

Nooo... don't take my picture!!

In my experience of taking photos and being photographed, there are photos that I classified as my favourites.

he took my hankie!!

tired..
Karena dalam foto-foto itu humor tertangkap oleh kamera.

I just gave birth to a baby.. doll

huh? seriously?
Because humor is captured in these photos.

Hungry


girl at the right; "I love you so much, my kerupuk"

Hey girls.. umm.. who's that behind you?
Ada juga foto seperti milik ayah dari murid saya di taman kanak-kanak dulu, bapak Yanry, yang kelucuannya terjadi antara disengaja, tidak sengaja dan ditambahi dengan komen yang tepat.

the lady holding mattress said to her husband; "hurry pack the tent. we're being kicked out. you didn't pay the rent?"
the guy at right front; "those who don't pay their rent will be kick out by me"

the man watching over the guys; "let me pee the water to make it less cold"

There are photos like the ones above, which belong to the father of my former kindergarten student- Mr. Yanry, that shows humor intentionally, unintentionally and the addition of the right comment.

Kemudian saya menemukan dua foto ini di facebook. Saya tidak tahu ini foto milik siapa tapi biar pun keduanya beda tapi bisa nyambung lucunya.

it's been a long day


have been working hard since early morning

little superman was a camera shy

Later I found these two photos on facebook. I don't know whose photos but both seem to click.

Ya, itulah satu dari sekian banyak alasan kenapa saya senang motret.

So, this is one of the many reason why I like taking picture.

Friday, January 30, 2015

In Between Work

Kalau kita mau perhatikan sebetulnya di tempat kerja pasti ada saja hal menarik yang terjadi.

There is always interesting stuff happens at work if we just look closely.

* Pinjam mejanya ya, oh, sekalian pinjam ruangannya juga deh *

* May I borrow your desk, oh, make that your room too *

Meja yang terlihat di foto ini resminya bukan meja kerja saya tapi karena pekerjaan saya sebagian besar berhubungan dengan komputer maka saya bisa menghabiskan waktu hampir seharian bekerja disitu.


The desk in this photo is not my official desk but since most of my work makes me have to use the computer then I can spend the whole day working on that desk.

Tapi kalau semua benda milik saya sudah berkumpul di atas meja itu, bahkan sampai saya makan disitu juga, itu artinya saya tergusur dari meja kerja saya karena meja itu sedang ditempati oleh teman saya atau si mahasiswi magang.

However, when all my stuff is on that desk, including me having lunch there, it means I am being kicked off of my own desk by a colleague or the intern.

Soalnya di tempat kerja saya ini, ruangan kantornya ya cuma ada diruangan saya. Jadi yang punya ruangan pun sering harus mengalah kalau ada yang mau pakai komputer atau mau numpang kerja disitu. Bahkan pernah terjadi mereka mengadakan rapat sampai saya tidak bisa kerja dan harus pindah ke ruangan lain.

The thing is my room is the only office room in my work place so the one who occupies it oftenly has to move away when somebody needs to use the computer or wants to do his/her work there. There were times when they held a meeting that I couldn’t work so thus had to move my stuff to other room.

Kalau otak saya lagi waras, hal ini tidak akan saya permasalahkan sekali pun bikin saya terganggu dan sebal.

When my mind is working well, I won’t make a fuss about this though it does annoy and upsetting me.

Tapi kalau otak saya lagi sinting, apalagi kalau saya melihat ruangan saya ditingggalkan dalam keadaan berantakan atau ada tisu kotor, gelas air mineral kosong, bekas makanan berceceran di atas meja saya.. hmm.. gggrrrrr...

But if my mind is in crazy mode, especially when I see my room is left in a mess or there are dirty tissue, empty mineral water, food remnants scattered on my desk.. hmm.. arrrgghhh...

Betul-betul keterlaluan kalau ada tempat sampah yang jaraknya tidak sampai harus jalan kaki satu kilometer dan masih juga orang ogah buang sampah ditempat sampah itu.

It is really outrageous when there is dustbin nearby, well, don’t have to walk one kilometer to get to it and prefer not to put the litter on it.

Jadi kalau anda memakai meja atau tempat orang lain, setidaknya rasa terima kasih anda bisa ditunjukkan dengan cara menjaga kebersihan dan kerapihan tempat tersebut setelah anda pakai.

So when you use somebody’s desk or place, the least you can do to show your gratification is by keeping the desk or place tidy after you use it.

* Tamu.. tamu.. tamu.. *

* Visitor.. visitor.. visitor.. *

Orang kadang mengira karena saya sendirian di kantor maka saya senang setiap kali ada tamu.

People sometimes think since I spend most of my time all alone in the office then it makes me happy when a visitor pay a visit.

Tidak selalu begitu. Ada beberapa tamu yang mengganggu kerja saya karena datang saat saya sedang sibuk.

Well, not quite. There are guests whom annoy me especially when I have lots of work.

Yah, karena tidak sopan kalau itu tamu saya cemberutin, maka muka ramah tetap dipasang sekalipun dalam hati.. “Duh, cepetan pergi dehhh”.. hehehe..

Well, since it is impolite to be sour to the visitor, I put my nice face on though deep in my mind it says.. “Geez, just go away”.. lol..

Tapi ada beberapa orang yang saya sukai dan kehadiran mereka membuat saya gembira.

But there are few people whom I like and their presence make me happy.

Dimas, misalnya, yang kehadirannya di kantor selalu disambut dengan meriah. Biar pun saya termasuk orang yang paling ogah meninggalkan pekerjaan kalau sedang sibuk, tapi kalau Dimas dibawa ibunya main ke kantor saya, sesibuk apa pun saya, kesibukan itu akan saya hentikan supaya bisa menikmati kehadirannya.


Dimas, for example, whose presence in the office has always celebrated merrily. Despite the fact that I am the kind of person who dislike to be distracted from work but whenever he is brought by his mother to my office, I left whatever work that occupied me to enjoy his presence.


Ada beberapa tamu istimewa lainnya yang mampir ke kantor.


There were other visitors that dropped by at the office.


* Yuk makan! *

* Let’s eat! *

Saya biasanya membawa bekal makan siang ke kantor. Tapi ada acara-acara tertentu yang membuat saya di traktir makan siang.

I usually bring my own lunch to work. But there are events when I was treated lunch.

Ulang tahun.. kalau beruntung bukan hanya kebagian kue, tapi ada makan siangnya juga.


Birthdays.. sometimes I am lucky enough to be given not just the cake but also the lunch meal.

Sebelum melanjutkan kerja di malam hari (kalau saya menginap di kantor) saya dan si mahasiswi magang suka makan diruangan saya.


Before we work in the evening (when I spent a night at the office) the intern and I would have light dinner in my room.

Atau kami nyemil. Cemilan yang paling asyik adalah es krim.. hehe.. seorang senior saya yang paling dekat dengan saya dan karenanya paling kenal dengan kegemaran saya pada es krim, serta tidak keberatan untuk membelikan saya es krim.


Or we had snack. The coolest snack so far is ice cream.. lol.. a senior who is the closest to me and therefore knows my fondness to ice cream has never reluctant to give me a treat .


Yah, terima kasih banget buat mereka yang sudah berbagi, membelikan atau membawa makanan, kue-kue atau cemilan untuk saya.

Thank you to those who have shared, bought or brought any meals, cookies or snacks for me.

* Tenaga kerja serabutan *

* Multi tasking job *

Jaman sekarang rugi sendiri kalau lingkup pekerjaannya cuma menangani satu bidang saja. Pertama bisa membosankan. Kedua ilmunya jadi terbatas.

Nowadays it is unbenefitable to have the type of work that handles just one field. First, it is so boring. Second is you get limited knowledge.

Saya sudah menjalani peran tenaga kerja serabutan sejak tahun 1997. Selama hal itu tidak mengganggu pekerjaan utama dan imbalannya seimbang, saya sih ok-ok saja. Bahkan sebetulnya menguntungkan karena kerja jadi tidak terasa membosankan dan jadi banyak dapat ilmu di luar pekerjaan rutin.

I have played the role as multi-tasking worker since 1997. It is fine with me as long as it does not interefere with my main job and gives reasonable reward. Infact, it is benefitical because it makes work less boring and it gives me additional knowledge outside the job.

Contohnya terjadi tahun lalu menjelang peringatan hari proklamasi. Karena penanggungjawab untuk urusan dekor ruangan tidak ada maka tugas mendekor jatuh pada saya (tenaga administrasi), rekan kerja saya (koster atau petugas kebersihan) dan mahasiswi magang di kantor saya.


One example that took place last year as the independence day commemoration was getting near. Since the person in charge for the decoration job was not present it the task fell on me (the administrator), my colleague (the cleaner) and the intern.


Begitulah sedikit cerita yang saya bagikan dari sela-sela kesibukan kerja.

So that's few stories I share you in between the hectic work.

Wednesday, January 28, 2015

Office Sweet Office

Dari semua kantor yang pernah menjadi tempat kerja saya, kantor yang sekarang ini adalah yang paling enak.

Of all the office I have worked in, the present one is the nicest.

Bagaimana saya bisa tahu? Yah, karena saya telah bekerja sejak tahun 1994 dan sejak itu saya sudah berpindah tempat kerja sebanyak lebih dari sepuluh kali.

How can I tell? Well, because I have joined work force since 1994 and eversince then I have changed jobs for more than ten times.

Dulu pemikiran saya tentang tempat kerja adalah kantor yang bertempat di gedung bertingkat. Dan beberapa kali saya bekerja di kantor seperti itu.

PT. Indosat, Jakarta, 22nd floor

In the past my idea of a work place is an office taken place in multi-storey buildings. And I did work in such offices.

Keadaan berubah ketika saya menjadi guru taman kanak-kanak.

Things changed when I worked as kindergarten teacher.

Ruang kantor saya ya.. ruang kelas tempat saya mengajar.


My office was.. well, the classroom where I taught.

Kondisinya tentu saja jauh berbeda dengan ruang kerja kantor. Tapi ini kantor yang paling saya sukai karena didalamnya ada murid-murid yang saya sayangi dan berada di antara mereka adalah hal yang paling membuat saya bahagia.


It is surely different with office room. But it was my most loveable office because there were my students whom I loved and I was happiest when I was being with them.

Setelah enam tahun bekerja sebagai guru di taman kanak-kanak itu, saya berpindah kerja ke tempat kerja saya sekarang ini.

After six years working as teacher in that kindergarten, I found a job that brought me to my present office.

Nah, beda lagi bentuk kantor saya. Karena dulunya adalah rumah maka setelah menjadi kantor pun bentuk asli rumahnya masih dipertahankan.

Well, another place, another office.. It used to be a house that later turned into an office so basically it is still in the form of a house.

Semakin lama saya bekerja disini, semakin terasa seperti bekerja di rumah sendiri sampai saya menjulukinya sebagai rumah kedua.

The longer I work in this place, the more I feel at home that I even called it my second home.

Saya menyimpan baju dan berbagai perlengkapan lainnya setelah terjadi beberapa kali saya harus menginap karena urusan kerja atau ketika saya harus mengikuti acara sampai malam atau ketika hujan turun demikian deras.. yah, dari pada saya ngotot pulang menerjang hujan deras (dan Bogor tidak main-main hujannya), sampai di rumah malam atau dalam keadaan basah lalu jadi sakit, kan lebih baik saya menginap di kantor.

I have keep some clothes and other stuff incase I have to spend a night at office because of work or when I have to attend an event or whenever there is pouring rain (and I am telling you, you can’t underestimate the rain in Bogor).. so yes, I would rather stay over in the office than to persistently go home under the pouring rain or at late hours, get home late at night or soaking wet and then get sick.

Ada untungnya menginap di kantor. Malam setelah mandi dan istirahat (saya bahkan bisa tidur sebentar di kamar tamu) saya kembali ke ruangan saya untuk bekerja. Awalnya sulit untuk kerja malam tapi lama-lama bisa juga. Malah enak kerja malam. Suasananya sepi. Penghalangnya cuma rasa kantuk dan nyamuk.. hehe..

There are some advantages about stay over at the office. In the evening after taking a bath and rested (I could even sleep in the guest room) I return to my room to work. At first it was hard to work at night but then I get used. Infact it is nicer to work at night. It is quiet. Sleepiness and mosquitos are the only challenges.. lol.

Saya makin suka bekerja malam setelah ada mahasiswi yang magang di kantor karena dia suka menemani saya. Berhubung kami berdua punya rasa humor yang sama gilanya, rasa kantuk, bosan, pegal dan bahkan nyamuk jadi tidak terasa mengganggu karena kami bercanda, mengobrol, bernyanyi atau bisa berjingkrakan tidak karuan mengikuti musik.

I like it better after an intern work in my office because she likes to accompany me. since we have same sense of humor, sleepiness, boredom, muscle stiffness and even mosquitos are no longer become nuisances because we joke around, talk, sing or play the music and dance like nuts.

Kadang kami membeli makanan atau cemilan untuk dimakan sebelum atau sambil kerja.


Sometimes we bought some meals or snacks to be eaten before or while working.



Hal lain tentang tempat kerja saya ini adalah karena bentuknya rumah, pasti ada dapurnya.. bukan sekedar pantry kecil seperti di kantor-kantor dimana saya dulu pernah bekerja. Jadi kalau menginap, pagi-pagi bisa bikin nasi goreng di dapur itu dan bahkan bersama teman-teman sekantor kami beberapa kali mengadakan acara masak-masak.


Another thing about my workplace is since it is located in a house, there is a kitchen.. not just a small pantry as the one in the my former offices. So when I stay over I can make fried rice in that kitchen and along with some friends at work cooked sidedish for our lunch.


Keunikan lain dari kantor saya yang sekarang ini adalah karena bentuknya rumah maka ada ruangan yang cukup luas kalau kami perlu mengatur barang-barang.


Another thing about my present office is since it is in a house whenever we need wide space to arrange stuff, there is quite large room for us to do that. 

Tapi tentu saja tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kantor saya ini juga memiliki kekurangan-kekurangan. Misalnya saja bocor. Satu perkara yang tidak pernah bikin pusing saya sewaktu saya masih kerja di gedung bertingkat.

Well of course nothing is perfect in this world. My office has its own imperfectness. The leakage for example. One thing that never brought me headache when I worked in multi-storey buildings.

Yah, biar pun gedung bertingkat tempat saya bekerja tidak pernah ada masalah bocor tapi kalau terjadi gempa.. waduhh.. gedung itu bergoyang dan terbayang tidak harus lari turun lewat tangga darurat dari lantai belasan atau puluhan ke lantai dasar. Saya pernah mengalami hal ini. Gempor deh tu kaki turun dari lantai dua belas.., mana lengkap pula dengan panik.. widih..


The multi-storey buildings I have worked in may never had any leakage problem but when there was earthquake.. ohh.. the building swayed and imagine you have to run down the stairs from the tenth or twentieth floor to the ground floor. I have had that experience. My poor feet trembled when I ran down the stair from twelveth floor.., not to mention the panic.. noo..

Jadi, saya pernah bekerja di kantor yang sesuai dengan gambaran saya tentang sebuah kantor, lalu saya bekerja di kantor-kantor lain yang tidak sesuai dengan gambaran ideal itu tapi ternyata malah lebih membuat saya sehat jasmani-rohani.

So, I have worked in offices that fitted my ideal picture of what an office should be, then I have worked in other offices that didn’t and doesn’t fit the ideal picture but those places have made me physical-mentally healthier.

Sunday, January 25, 2015

Your Smile Brightens The Day

“Kamu selalu kelihatan bahagia” demikian tulis seorang teman mengomentari foto yang saya pasang di wall faceboook saya.


“You have always looked happy” wrote a friend when she commented a photo on my facebook wall.

“Di foto senyum melulu” kata seseorang setelah melihat foto-foto saya. Nada suaranya dan ekspresi mukanya membuat saya berpikir seakan-akan itu adalah hal terlarang untuk dilakukan ketika di foto.

“Full of smile on the photos” somebody said that after seeing my photos. Her tone and expression made me thought as if it were a forbidden thing to do when being photographed.

Seorang teman saya memiliki pose yang sangat tidak menarik kalau di foto. Dengan muka setengah menunduk, dia melirik.. ya, lebih tepat dikatakan melirik, ke arah kamera, tanpa senyum.. mukanya jadi kelihatan seperti cemberut dan ini bikin dia tidak hanya terlihat sangat tidak menarik, dia bahkan terlihat seperti seorang yang tidak ramah. Padahal aslinya dia lumayan ramah dan bahkan bisa sangat kocak.

A friend of mine has a very uninteresting pose when he is being photographed. With his face half bowed, he sharply glanced.. yep, it is more like a glance, to the camera, no smile.. his face looked sullen and this makes him look so uninteresting, he is even look like an unfriendly person. He is actually a quite friendly person and can be very funy at times.

Dari sekian banyak fotonya, yang kelihatan dia lagi tersenyum itu bisa dihitung dengan jari. Dua diantaranya karena dia lagi ingin menjahili saya.

Of all his photos, the ones show him smiling are rare. Two of those were captured when he wanted to do a prank on me.

Cuma senyum.. apa susahnya sih?..

It is just a smile.. what is so hard to smile?..

Banyak orang merasa kagok untuk tersenyum di depan kamera. Apalagi kalau itu di foto sendirian. Dulu saya juga begitu kok. Rasanya jadi tegang. Yah, mana bisa pasang senyum kalau sudah merasa seperti itu.

Many people find it uncomfortable to smile infront of the camera. Especially in individual photo. I used to feel that way too. I just got tense. So yeah, how could I smile when I felt tense.

Perempuan umumnya lebih luwes dalam urusan tersenyum waktu di foto dibandingkan dengan laki-laki.

Women are more at ease to put a smile on their faces when being photographed compared to men.

Tentu saja tidak semua perempuan. Dulu saya kagok kalau di foto. Perlu waktu bertahun-tahun sebelum saya mulai bisa merasa santai saat di foto.

Not all women of course. I used to be a camera shy. It took years before I feel relax when I have my photographed taken.

Tapi laki-laki tetap saja bawaannya kaku waktu di foto. Irit senyum. Apalagi tertawa. Saya perhatikan foto-foto teman-teman lelaki saya dan foto-foto Andre.


But it is another story when it comes to men. They can’t really feel at ease when being photographed. Less smile. Let alone a laugh. I noticed this from my male friends photos and Andre’s.

Dalam kehidupan sehari-hari banyak dari mereka yang punya rasa humor tinggi.

Fact is many of them have great sense of humour.

“Kenapa ya?” tanya saya pada Andre.

“I wonder why?” I asked Andre this.

“Padahal coba lihat foto-foto ini” saya menunjukkan beberapa fotonya “Saat kamu tersenyum kamu kelihatan lebih muda, lebih tampan, lebih menarik, lebih ramah dan bahagia”

“Take a look at these photos” I showed few of his photos “When you smile you look younger, cuter, appealing, friendlier and happier”

“Mungkin karena kami baru tersenyum kalau ada sesuatu yang membuat kami tersenyum” dia nyengir “Saya tersenyum karena saya berfoto dengan kamu atau karena dibalik kamera itu saya melihat seseorang yang saya cintai”

“Maybe because we smile when there is something to make us smile” he chuckled “I smiled because I had my photo taken with you or because I knew I saw the woman I love behind that camera”

Ya, bisa jadi begitu.

Yep, maybe.

“Tapi tidak selalu begitu” saya mengingat-ingat pengalaman saya “Tergantung mood juga”

“It is not always work that way” I remembered my experience “It depends on the mood too”

Mood yang saya maksud bukan sesuatu yang membuat perasaan jadi kesal, marah atau sedih. Mood bisa terganggu waktu jalan dengan teman, dia ingin dipotret tapi ogah-ogahan ketika diminta memotret kita.

Mood is not just something that makes us upset, angry or sad. We can feel annoyed when we have friend who likes being photographed but not eagerly to take our photo when being asked.

Beberapa foto-foto saya membuktikan hal itu.


Some of my photos show it.

Ini bukan karena alasan kagok saat mengoperasikan kamera karena teman-teman saya itu biasa memotret dengan memakai kamera atau dengan hp. Mau dipotret tapi ogah motretin orang itu yang bikin saya kesal dan kekesalan saya bisa kelihatan dimuka saya sekalipun saya tetap berhasil memasang senyum dimuka saat difoto.

This is not about feeling uncomfortable when handling the camera because my friends are used to take photos with camera or with their cellphones. It is that thing of want to have their photos taken but reluctant when being asked to take my photo that upset me and the upsetness is shown clearly in my face though I could still able to put on a smile.

Hal lain yang bikin mood saya agak terganggu adalah ketika saya meragukan kemampuan si pemotret. Apalagi kalau dia main jepret tanpa aba-aba.

Other thing that distracted my mood is when I doubted the photographer’s ability. Especially when the person just pressed the button without any prior notice.

Mood saya bisa tidak terganggu kalau saya betul-betul sedang berada dalam suasana penuh humor.

My mood can’t be distracted whenever I am completely in humorous state.

Fotografi adalah seni bagi si pemotret dan yang dipotret.


Photography is an art both for the photographer and for the person who is being photographed.

Tidak bisa dikatakan susah, tapi tidak juga berarti mudah.


Can’t say it’s hard, but yet it is not easy.

Namanya juga seni. Tidak ada rumus. Semua pakai rasa.

It is art. No formula. It works on feelings.

Saya belajar memotret dan saya belajar untuk dipotret.


I learn to take photos and I learn to have my photo taken.

Dua-duanya menarik untuk dipelajari.

It is interesting to learn them.

Tapi yang paling menyenangkan adalah hasilnya. Pujian orang terhadap hasil foto saya atau foto saya adalah hal yang membantu saya untuk mengukur hasil belajar saya dalam dua hal tadi.


But the most pleasant thing is seeing the result. People’s compliment for the photos I took or of my photos taken by other people are helping me to know how far I have learned those two things.


Karena jaman sekarang tidak perlu harus punya kamera baru bisa motret atau dipotret, maka mulailah belajar kedua-duanya.
  
Since these days you don’t have to own a camera to take photos or have your photo taken, start to learn both.

Dan jangan lupa untuk tersenyum karena senyum membuat orang yang kita foto merasa lebih santai dan tersenyum sewaktu kita di foto membuat muka kita jadi kelihatan jauh lebih enak dilihat.. hehe..

And don’t forget to smile because it can make the person whom we take photo feels relaxed and a smile our face makes us look nicer when being photographed.. haha..

Saturday, January 24, 2015

The Right Man For The Job

Menempatkan orang yang tepat untuk suatu pekerjaan atau untuk menempati suatu jabatan bukanlah hal yang mudah.

It is not an easy thing to put the right man for the job or for a position.

Karena kepintaran, gelar sarjana dan bahkan koneksi tidak bisa menjamin seseorang bisa menjadi orang yang tepat itu.

Because brain, university degree and even connection can’t guarantee somebody can be that right man.

Pengalaman seseorang bisa menjadikan dirinya sebagai orang yang tepat ketika dia bekerja di tempat yang berbeda tapi jenis pekerjaannya mirip dengan pekerjaannya sebelumnya.

One's previous experience can make him/her as that right man when he/she works in different place but the type of work is similar with his/her previous job.

Tapi itu juga tidak mutlak. Kadang seperti jodoh-jodohan sih. Pengalaman saya bisa dijadikan contoh. Tahun 1998 saya pindah kerja dan satu tugas saya adalah jadi tukang tagih. Satu jenis pekerjaan yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Tapi karena sudah ditetapkan dalam bagian pekerjaan saya, yah, saya kerjakan juga.. pikir saya, selama ini saya kan otodidak.. jadi anggaplah saya sedang belajar sambil jalan.

However, it is not absolute. Sometimes it is like mating. Take my experience as an example. My new job in 1998 required me to collect the invoice payment. A thing that I had never done before. But since it was already put as my job then, yeah, I had to do it.. I thought, I have always been a self-learner.. so let’s learn it by doing.

Jadi saya kerjakan saja tanpa beban. Dan tidak sampai tiga bulan kemudian saya langsung dijadikan karyawan tetap walaupun masa percobaan saya belum selesai. Itu karena saya berhasil menagih pembayaran klien perusahaan yang jumlahnya sangat banyak dan yang sebelumnya sudah hampir dimasukkan dalam kategori tagihan macet.

So I worked without put any burden on my shoulder. And less than three months later the company appointed me as their fulltime employee though I had not completed my probation period. It was all because I had succeededly collected lots of clients payment, the ones that nearly categorized as uncollected invoices.

Melihat keberhasilan saya dalam mendekati para klien hingga akhirnya membayar tagihan yang sudah berbulan-bulan ditunggak, perusahaan lalu ingin memasukkan saya ke bidang marketing tapi saya menolak. Biar pun saya juga tidak punya pengalaman di bidang itu tapi saya tahu seperti apa karakter saya dan itu sama sekali tidak cocok untuk bidang marketing.

Seeing my success in making connection with the clients until they paid their months overdue invoice payment, company wanted to put me in marketing but I said no. Though I didn’t have previous experience in that field either but I knew my character and it does not fitted for marketing.

Lalu tahun 2005 saya melamar pekerjaan sebagai guru di sebuah sekolah taman kanak-kanak. Padahal saya tidak punya gelar sarjana dalam bidang pendidikan. Pengalaman mengajar juga baru tiga bulan dan itu pun sebagai guru sekolah minggu di gereja, bukan di sekolah.

In 2005 I applied a job as teacher in a kindergarten. I have no degree in teaching. At that time teaching experience I had was just for three months and it was in the church Sunday school, not in real school.

Tapi dalam waktu singkat saya berhasil menjadi guru kesayangan di taman kanak-kanak itu dan ketika enam tahun kemudian saya mengundurkan diri dari situ, banyak orang tua yang menyesalkan keputusan saya. Bahkan sampai ada calon murid yang batal masuk ke sekolah itu karena orang tua mereka merasa ragu untuk menyekolahkan anak mereka karena saya tidak lagi mengajar disitu. 

But in short time I made myself as the children’s favourite teacher in that kindergarten and when six years later I resigned, many people regretted my decision. There were even prospective students who cancelled their entrance registration because their parents hesitated to enroll their children there once they knew I no longer worked there.

Jadi tidak seorang pun bisa tahu apakah seseorang bisa menjadi orang yang tepat untuk suatu pekerjaan atau untuk suatu jabatan. Hasil kerjanyalah yang membuktikan apakah dia memang orang tepat untuk pekerjaan atau jabatan itu atau tidak.

So nobody can tell if a person can be the right man for the job or for a position. His/her performance shows if he/she is the right one for the job or the position or not at all.

Presiden yang baru terpilih tahun lalu adalah seseorang yang berhasil memimpin di daerahnya. Dia lalu berhasil menjadi gubernur ibu kota Indonesia dan akhirnya menjadi presiden.


Last year’s elected president is somebody who has succeededly led his hometown. He then made it to be elected as Indonesia capital city’s governor and eventually also won the presidency.

Dia mungkin adalah orang yang tepat untuk jabatan walikota di daerah asalnya. Dia mungkin juga adalah orang yang tepat untuk jabatan gubernur ibu kota Indonesia. Tapi apakah dia adalah juga orang yang tepat untuk memimpin negeri ini sebagai presiden?

He was probably the right man for the job as mayor in his hometown. He was also probably the right man for as Indonesia capital city’ governor. But would all this make him the right man to lead this country as its president?

Banyak yang meragukannya. Tidak sedikit pula yang menentang pemilihannya sebagai presiden.

Many doubt him. Others against his appointment as president.

Saya hanya mengatakan biarlah dia menjalankan tugas-tugasnya sebagai president. Apakah dia adalah orang yang tepat untuk pekerjaan dan posisinya akan terlihat dari hasilnya nanti.


I am just saying let him do his presidential job. Is he the right man for the job and position will be shown from the outcome of the things he do when he serving his presidential term.

Pengalaman dan pengetahuan yang di dapat seseorang lewat pengalamannya bisa menjadi elemen pelengkap ketika dirinya melakukan suatu pekerjaan.

Experience and knowledge gained from that experience are completing elements to enable somebody to perform his/her job.

Lalu apa jadinya ketika pengalaman dan pengetahuanmu tidak membuat dirimu di anggap kompeten untuk melakukan suatu pekerjaan atau untuk menempati suatu jabatan?

So what would it be when your experience and knowledge are not making you qualified to do a job or to be given a position?

Akan selalu ada standar penilaian yang diterapkan orang pada diri kita.

There is always scoring standard applied to us.

Beberapa tempat menganggap seseorang baru layak untuk menempati suatu posisi atau melakukan suatu pekerjaan kalau orang itu bisa memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Apakah nantinya dia akan menjadi orang yang tepat, sayangnya hal itu kadang tidak menjadi pertimbangan yang utama.

Some place regard somebody deserves to hold a position or do a job only when that person can meet with the requirement. Would he/she then become the right person for the job, is unfortunately not the first concern.

Saya melihat hal ini terjadi di tempat kerja saya.

I see it happening in my workplace.

the buckets show the leakage spots
on the roof & gutter
Foto-foto ini menunjukkan bahwa ada tugas yang harus dikerjakan oleh mereka yang ditempatkan pada posisi dan wewenang untuk melakukannya. Cuma sayangnya waktu berlalu dan kondisi ini tidak mengalami perubahan.

These photos show that there are work must be done by those who are placed in position and given authority to do that. Such a pity how time passed by and nothing has been done yet.

yep, another bucket..
another leakage spot
Ini membuktikan bahwa sekali pun pengalaman, pengetahuan dan segala persyaratan lainnya telah mengkategorikan mereka sebagai orang yang bisa ditempatkan dalam posisi mereka namun tidak secara otomatis menjadikan mereka sebagai orang yang tepat untuk posisi tersebut.

This proves that despite the experience, knowledge and everything else which have categorized them as the right men to hold their position but it doesn’t automatically make them the right ones for the job.

Bagaimana dengan orang-orang lain yang sebetulnya bisa menjadi orang yang tepat? Karena mereka tidak bisa memenuhi persyaratan, mereka terlempar keluar. Saya tahu beberapa dari mereka memang sengaja tidak mau melibatkan diri karena mengetahui tentang hal tersebut. Patut disayangkan.

What about other people who can make as the right people for the job? It is because they don’t meet with the requirement makes them out of the league. I knew some of them deliberately don’t want to have any involvement because they knew about it. Such a shame.

Untuk beberapa bidang, saya juga terlempar keluar. Tidak masuk dalam hitungan, tidak di anggap memiliki potensi dalam bidang-bidang tersebut.

For some fields, I am also being kicked out of the league. Not even made it into the list, not considered to have potential in those fields.

Saya kecewa.

I was let down.

Tapi kata-kata Andre meyakinkan saya bahwa ketika saya di tolak di satu tempat, itu artinya tempat itu bukanlah tempat yang tepat untuk saya.

But what Andre told me convinced me that when I am rejected in one place, it means that place is not the right one for me.

Cepat atau lambat saya akan menemukan tempat yang tepat. Tempat dimana saya memang akan menjadi orang yang tepat untuk bidang-bidang itu.

Sooner or later I will find that right place. The place where I will become the right man for those fields.

Friday, January 23, 2015

I Want It That Way

Kalau bukan karena internetnya Telkom ngadat selama dua hari terakhir, saya tidak akan terpikir mau ke warnet. Tapi karena ada beberapa file yang harus dikirimkan lewat email sekalian mau posting catatan untuk blog, saya memutuskan untuk mampir ke warnet pulang dari kantor hari Senin (19/1).

I wouldn’t think to go to internet cafe if it is not because Telkom internet line gone error for two days. But since there were files to be sent by email and I also needed to make a blog post, I decided to stop by at an internet cafe after work on Monday (Jan 19th).

“Ikut dong, kak” seru teman saya begitu mengetahui tentang rencana saya “Mau kirim email juga”

“I’ll go with you, sis” said my friend when she knew about my plan “I must send an email too”

Jadi sekitar jam 4 sore kami meninggalkan kantor menuju warnet.

So at about 4 pm we left the office to the internet cafe.

“Ada internet diseberang situ” katanya.

“There is an internet cafe across the street” she said.

Saya pikir yang dimaksudkannya adalah satu tempat yang tidak saya tahu dan saya juga berasumsi tempatnya lebih baik dari tempat pilihan saya tapi..

I thought she meant a place that I didn’t know and I assumed it must be nicer than my chosen place but actually it was..

Dia sudah mau berbelok masuk ke warnet itu.. saya kaget dan spontan berseru..

She was about to get into the internet cafe.. the surprised me spontaneously exclaimed..

“Ah, jangan ke situ!”

“No, not there!”

Bertahun-tahun yang lalu saya sering mengunjungi warnet itu. Tapi pelan-pelan kondisinya menjadi memprihatinkan. Ruangannya gelap, meja dan komputernya seperti tidak pernah di lap, melihat debu tebal itu sudah bikin hidung saya terasa ingin bersin, jok kursinya sudah berubah warna, kualitas komputernya juga jauh dari memuaskan.. untuk memasang flashdisk saja susah sampai saya harus minta tolong pada bapak penjaga sekaligus pemilik warnet itu dan dia harus merangkak masuk ke kolong meja.

Years ago I was a frequent visitor to that internet cafe. But slowly its condition becomes bad. The room is dark, the desks and computers look as if they have never been cleaned, seeing the thick dust on them made me wanted to sneeze, the cushion on the chairs have changed colors, the computers are outdated.. I had to ask the man incharge, who happens to be the owner of the place, to help me plug in the usb and he had to crawl under the desk to do that.

“Kenapa?” tanya teman saya heran.

“Why not?” asked my friend.

“Tempatnya tidak bagus, buluk” jawab saya tegas tanpa menjabarkan tentang apa yang saya ketahui mengenai kondisi warnet itu “Ada tempat lain yang lebih bagus”

“It is not a good place, it’s rotten” I said firmly without describing what I knew about its condition “There is other place which is nicer”

“Ga mau, ah. Jauh. Malas. Gimana nanti kalau hujan?” protesnya bertubi-tubi.

“No. It is far. Don’t wanna walk that far. How if it would rain?” she peppered out her protest.

Alamakkkk!!.. Saya yang biasanya bisa menahan diri, agak lepas kendali.

Good heavens!!.. I usually able to control my emotion but I kind a lost it. 

“Cuma jalan dikit lagi, bawel amat sih? Ngeluh dan ngerengek aja” gertak saya.

“It is just a little more walk, why are you being so fussy? Whining and complaining?” I snapped.

“Ga mau ah” katanya.

“No, I don’t want to go there” she said.

Wah, saya hilang sabar betulan “Ya sudah, kalau gitu kamu ke warnet itu dan saya ke warnet disana”

Man, I really lost my temper “Fine, you go to that internet cafe and I go to another one”

Entah karena nada suara saya yang mulai tinggi, entah karena menghindari perdebatan.. dia mengalah.

I don’t know either it was my high pitch voice, either to avoid further argument.. she gave in.

Akhirnya kami sampai di warnet pilihan saya. Ya, letaknya memang sedikit lebih jauh tapi tempatnya tidak mengecewakan. Biar pun ada beberapa kekurangan tapi secara keseluruhan tempat itu jauh lebih bagus dan lebih baik dari warnet pertama.


We finally got at my chosen internet cafe. Yes, it is a bit farther but the place is not bad. There are few less satisfaction things but in general the place is nicer and better than the first one.

Mungkin sekali-sekali teman saya itu perlu melihat seperti apa keadaan bagian dalam warnet yang pertama. Supaya bisa membandingkannya dengan warnet kedua.

Maybe my friend needs to see what is it like in the first internet cafe. So she can compare the two places.

Sepanjang jalan pulang dan bahkan setelah saya berada di rumah, saya tidak bisa berhenti memikirkan peristiwa itu. Akhirnya saya memutuskan untuk menuliskannya dan inilah apa yang saya pikirkan.

But all the way home and even after I got home, I just can’t stop thinking about it. I finally decided to write it down and this is what I have been having in my mind.

Seorang teman mengirimkan gambar dibawah ini dan saya tertawa karena tepat sekali menggambarkan kehidupan saya.


A friend sent me the graphic below and I laughed when I saw how it precisely described my life.

Saya tidak pernah merencanakan kehidupan melewati rute se-kriting itu tapi demikianlah penggambaran perbedaan antara keinginan dan harapan dengan kenyataan.

I never planned my life to go through such a kinky route but it gives a picture how big the difference is between wishes and hopes with reality.

Saya merencanakan tetap bekerja di Indosat, mereka tidak memperpanjang kontrak saya sehingga keluarlah saya dari situ.


I planned to keep my job at Indosat, they didn’t extend my contract so I packed my stuff and left.

Saya merencanakan untuk mengambil kuliah malam ketika saya bekerja sebagai sekretaris di perusahaan asing. Gaji saya besar. Perusahaan memiliki prospek masa depan yang cerah. Saya punya pacar yang sudah mapan dan kami bicara tentang pernikahan. Lalu krismon menimpa negeri ini. Perusahaan tempat saya kerja ditutup. Hubungan saya dengan pacar tiba-tiba berakhir.

I planned to take night school when I worked as a secretary in multinational company. I was well paid. The company had bright prospect. I had a boyfriend who was financially well off and we had talked about marriage. And then monetary crisis hit the country. They closed my office. Followed by the break up with my boyfriend.

Saya berpindah kerja ke perusahaan asing lainnya. Disitu gaji saya lebih besar. Saya segera juga mendapat pacar baru, kalau pun kemudian hubungan kami berakhir, saya cepat mendapatkan pengganti. Hidup saya seperti berjalan sesuai rencana. Lalu saya sakit dan perusahaan menendang saya keluar.

I moved to another multinational company. I was paid higher there. I soon got myself a new boyfriend, though I then broke up with him, I had no problem finding another one. My life went on the way as I planned it. Then I fell ill and company and the company dumped me.

Apa saya pernah merencanakan untuk jadi guru?.. terbayang juga tidak.

Did I ever plan to become a teacher?.. it never crossed my mind.

Apa saya pernah merencanakan untuk tidak menikah sampai di usia lebih dari 40?.. membayangkannya saja tidak pernah.

Did I ever plan to stay unmarried after 40?.. not in my wildest dream.

Yang terjadi dalam kehidupan saya adalah seperti ini; yang saya rencanakan, tidak terjadi.

My life goes like this; the things I planned are the things that gone into thin air.

Dan apa yang tidak saya pernah pikirkan, justru itulah yang terjadi. Yang tidak pernah masuk dalam daftar keinginan saya, itulah yang kemudian yang harus saya terima dan jalani.

And the things I never thought are the things that fell on my lap. The stuff I never wrote in my wish list are the stuff that I have to accept and live with.

Jalur kehidupanmu berjalan sesuai dengan rencana? Yah, bersyukurlah kalau memang demikian. Entah memang sudah ditakdirkan untuk menjadi seperti yang kamu rencanakan atau sekedar beruntung.

Your life path goes according to the plan? Yeah, be thankful for that. either you are destined to become what you have planned or it is pure luck.

Tapi dalam kasus saya, sewaktu masih lebih muda, saya protes, berkeluh kesah dan merengek setiap kali kehidupan berjalan tidak sesuai dengan yang saya inginkan.

But in my case, when I was younger, I protested, complained and whined whenever life didn’t go according to my wishes.

Namun karena demikian banyak dan seringnya terjadi perubahan dalam hidup saya, akhirnya saya belajar sendiri bahwa percuma saya jadi uring-uringan, mau menangis sampai keluar air mata darah, mau protes dan merengek sampai suara habis pun.. semua itu tidak akan berpengaruh apa-apa pada kehidupan.

But since there were so many changes in my life and they happened often, eventually I learned that it is useless to drive myself crazy, it is just a waste of tears, useless to protest and whined until the voice is gone.. because none of them would change anything in life.

Bahkan kemudian saya berpikir mungkin saya tidak tahu apa yang saya rencanakan. Saya berpikir semua itu baik untuk diri saya. Tapi benarkah hal-hal yang saya rencanakan atau inginkan adalah baik dan tepat untuk saya?

Later I thought maybe I didn’t know what I planned. I thought the stuff I planned would be good for me. But are they really good and the right ones for me?

Ilustrasinya bisa di ambil dari cerita saya di atas, yaitu ketika teman saya ingin online di warnet pertama.

The ilustration can be taken from the above story when my friend wanted to go online in the first internet cafe.

Sementara itu, saya, yang karena sudah pernah kesitu, mengetahui dengan tepat bagaimana kondisi ruangan dan fasilitasnya sehingga saya segera menyatakan ketidaksetujuan saya atas pilihannya dan bersikeras membawanya ke warnet lain yang jauh lebih baik.


While I, as I have been there before, knew how the condition and facilities in that internet cafe, so I strongly objected her choice and insisted to take her to a better internet cafe.

Pada akhirnya kami berdua sama-sama merasa gembira selama online di warnet kedua yang lebih bagus itu.


At the end both of us had wonderful time when we went online on that second and nicer internet cafe. 

Jadi kalau sesuatu terjadi di luar rencana kita, cobalah tenangkan diri dan berpikir mungkin apa yang kita rencanakan itu tidak baik dan lewat hal-hal yang terjadi diluar rencana, kita sebetulnya sedang dihindarkan dari yang tidak baik itu.

So when things don’t go according to our plan, try to calm down and think maybe the things we had in our plan are not good for us and when it doesn’t go as we want, who knows we are actually being saved from bad things.

Atau kita sedang masuk dalam proses pembentukan dan pengkoreksian karakter. Dan itu adalah sesuatu yang baik kan?

Or we are in the process of characters forming and correction. And that is a good thing, right?

Saya tetap mempercayai kehidupan ini di atur oleh Yang Maha Kuasa dan Dia tahu mana yang terbaik untuk masing-masing kita.

I still believe life is controlled by the presence of the Almighty who knew what is best for each of us.

Rencana saya mungkin saja banyak yang keluar jalur dan lika-liku kehidupan saya terplintar-plintir seperti grafik di atas tapi saya tahu, ada Kuasa yang tahu apa yang baik untuk saya.

My plan may turn upside down and my life path may look like a twirl as in the above graphic but I know there is this Power of the Almighty that knew what is best for me.

Karena itu saya belajar untuk tidak menuntut semua harus terjadi mengikuti mau saya.

So I learn not to demand things to go my way.