Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Friday, May 19, 2017

Whose Fault Is That?

Ini salah siapa?

Ini salah kamu!

This is your fault!

Ini salah dia!

This is his/her fault!

Ini salah mereka!

This is their fault!

Begitu, begitu dan begitulah seterusnya ketika suatu kesalahan terjadi.

So it goes on and on when mistake occurs.

Seringkali begitu mudah kita menuding.

We easily point our fingers way too often.

*  *  *  *  * 

Ini salah siapa?

Whose Fault Is That?

Pagi itu seseorang masuk ke ruangan saya dan langsung bertanya;

Somebody entered my room and shot a question;

“Siapa yang kirim surat ke pembicara?”

“Who sent the letter to the speaker?” 

“Kantor pusat” jawab saya.

“The head office” I answered him.

“Coba lihat suratnya” kata orang itu.

“Let me see the letter” said that person.

Sambil berjalan menuju lemari tempat saya menyimpan berkas-berkas dokumen, saya bertukar pandang dengan ayah saya yang duduk di pojok ruangan.

I exchanged glanced with my dad who sat at the corner of the room as I walked to the cabinet where I keep the documents.

Pasti ada sesuatu.. orang ini mencari siapa yang salah atau siapa yang bisa disalahkan.. itu arti pandangan saya.

There must be something.. this guy is looking who made a mistake or who can be blamed.. that was the meaning of my glance.

Dengan tenang saya mencari surat itu sambil dalam hati bersiap-siap.. menunggu kapan jari itu akan menuding..


I calmedly looked for the letter as I quietly made myself ready.. waiting for the moment when that finger would point..

Setelah mempelajari surat itu dari atas ke bawah..

After went through that letter from top to bottom..

“Oh, berarti pembicaranya yang salah. Baca ayatnya ga lengkap”

“Oh, so it was the speaker’s mistake. He didn’t read the whole verse”

Saya diam saja. Saya rapikan dan simpan kembali surat itu ke tempat semula. Tapi dalam hati saya mencibir “Kalau gitu, sana gih, tegor dong itu pembicara. Bilang ke dia, ‘eh, lu kok baca ayat kagak lengkap’. Jangan cuma berani negor kesalahan saya aja”

I didn’t say a word. I put that letter back to its place. But I mocked him quietly “So go ahead, give reprimand to that speaker. Tell him, ‘hey, howcome you read incomplete verse’. Don’t just give reprimand to me”

Saya tidak tahu apa orang itu menegur si pembicara atau tidak tapi ada dua hal yang yang tidak bisa berhenti saya pikirkan;

I didn't know if that person did give reprimand to the speaker or not but there are two things that can't leave my mind;

Kamu begitu cepat menemukan kesalahan seseorang, pertanyaannya adalah; apakah secepat itu juga kamu dapat menemukan hal-hal positif dalam diri orang tersebut?

It doesn't take long for you to find one's mistake, the question is; can you also find one's positive things that fast?

Itu pertanyaan pertama.

That's the first question.

Pertanyaan kedua adalah;

Second question is;

Kamu mudah menegur seseorang yang posisinya jauh lebih rendah dari kamu atau yang usianya jauh lebih muda.. seseorang yang dalam banyak hal lebih lemah dari kamu tapi bisakah kamu melakukan hal yang sama terhadap seseorang yang lebih superior dari kamu?

It  is easy for you to give reprimand to somebody whose rank is lower than yours or who is younger than you.. somebody who in many ways is inferior than you but can you do the same to someone who is more superior than you?

*  *  *  *  * 

Ini salah siapa?

Whose Fault Is That?

Siang Ke, kenapa .. belum masuk ke ...? Apa ada kendala?

Afternoon, Keke, why is it the ... has not on the ...? Is there any problem?

Meneketehe.. pikir saya.. tapi ya saya ga ngomong gitu lah ke dia.. wah.. bisa murka ybs nanti kalau saya jawab begitu.. haha

How in the hell do I know.. I thought.. of course I didn't say that to that person.. damn.. she could get mad if I answered her like that.. haha..

Saya jawab dengan sopan, saya lampirkan foto bukti email saya yang jelas terlihat permintaan untuk memasukkan poin sesuai dengan permintaannya beberapa hari sebelumnya serta foto dari lembar cetakan yang saya miliki.. yang jelas juga terlihat sudah menampilkan poin tersebut.

I answered her politely, I attached photo of my email requesting to put that point on the printed matter, as she requested me to do few days earlier, along with the printed matter given to me which clearly shown that the point has been printed on it.

Karena sedang sibuk, saya belum sempat meneliti foto cetakan yang dia kirimkan.

I was busy at that moment that I haven't got time to look closely at the photo of the printed matter sent by her.

Beberapa menit kemudian barulah saya ada waktu untuk meneliti foto yang dia kirimkan itu. Kok bisa beda ya cetakan yang ada di dia dengan cetakan yang ada di saya? 

Few minutes later I had the time to look through the photo she sent me. Why is it her printed matter is different with mine?

Beberapa detik kemudian... saya ngakak gegulingan ketika melihat tanggal yang tercetak di foto cetakan yang dia kirimkan ke saya.. yaelaaaahh, non.. itu cetakan bulan April! Sudah basi itu mah.. Pantesan aja beda. Lha, yang ada di saya kan edisi terbaru di bulan Mei. 

Few seconds later.. I laughed it out loud when I saw the date on the printed matter photo that she sent me.. my goodness, missy.. it is April edition! It's outdated for crying out loud.. No wonder it's different. Mine is the newest May edition.

Entah dia lagi terburu-buru atau sudah emosi jiwa duluan atau tidak teliti.. yang pasti dia main jebret kirim aja foto barang cetakan itu ke saya dengan pesan berbau: 'salah siapa ni ye kok yang diminta buat dimasukin di cetakan ini bisa ga ada?'.

Whether she was in a hurry or enraged or careless.. one thing for sure is she sent me the photo of that printed matter to me along with the message that has hidden point of: 'whose fault is it that the point requested to be put in that printed matter is not in there?'.

Rupanya dia juga meneliti lagi dan melihat tanggalnya.

Obviously she looked it through closely and saw the date.

"Itu .... salah kirim (ke saya). Itu di atas masih April. Sorry, ada kesalahan" 

".... sent the wrong one (to me). The one I sent above is April edition. Sorry, there's been a mistake"

Pret! Kirain cuma gue yang bisa kagak teliti ye.. ternyata..

Blah! I thought I was the only one who being careless.. so it shows that..

*  *  *  *  * 

Ini salah siapa?

Whose Fault Is That?

"Lihat ini, Ke" rekan saya menunjukkan tumpukan amplop "Ini, ini dan ini belum di catat"

"Look at this, Keke" my colleague showed me a pile of envelope "This, this and this one have not noted yet"

Saya memperhatikan amplop yang ditunjukkannya dan catatan laporannya. 

I looked at the envelopes and the report sheet.

"Kok ga ada di laporan?" tanya saya "Ini ada orang kasih duit dengan menuliskan namanya, yang ini dan ini nulis inisialnya"

"Howcome these are not in the report?" I asked "Here are people giving money dan wrote his name, these ones wrote their initials"

"Kacau" rekan saya menghela napas panjang.

"What a mess" my colleague took a deep breath.

"Lha, terus yang tercantum di laporan ini dapat dari mana?" saya penasaran.

"So, where are these materials written in this report came from?" it made me curious.

"Gue nyatet dari komputernya si ..." jawab rekan saya "Kan bukan gue yang bikin"

"I took note from ... report on his computer" answered my colleague "I didn't make this"

Sekarang saya yang menghela napas dalam "Bu, orang luar kagak tahu siapa yang bikin dan siapa yang cuma nyatet. Mereka cuma tahu bendaharanya ibu. Kalau ada apa-apa, ibu yang nantinya disalahin"

It was me now who took a deep breath "Look, people don't know who originally made this report and who only took note. They just know you are the treasury. It will be you to take the blame should there is any error"

"Iya, makanya mau gue hitung ulang lagi semuanya" katanya.

"I'm gonna recount the whole of it now" she said.

Saya menggeleng-gelengkan kepala. Doh, saya salah ketik satu huruf aja sudah diprotes sejuta umat.. halah, ini duit, bray. Ceroboh amat itu orang-orang yang ngurusin duit. Rekan saya ini juga sebetulnya sudah tahu manusia-manusia seperti apa mereka itu jadi dia harusnya tidak boleh seratus persen mempercayakan soal pencatatan penerimaan uang kepada mereka.

I shook my head. Man, I made one letter mistype and the millions of congragetion protested.. now, this is about money, man. They are so reckless. My colleague has actually known them all too well so she shouldn't one hundred percent trust them for making revenue report.

Saya punya pengalaman yang hampir sama.

I have similar experience.

*  *  *  *  *

Ini salah siapa?

Whose Fault Is That?

Mata saya melotot menatap layar LCD. Tidak percaya. Tapi slide yang ditampilkan di sana menjawab pertanyaan, kebingungan dan kecurigaan yang telah lama ada di pikiran saya.

My eyes almost popped out as I stared at LCD screen. Couldn't believe it. But the slide shown there answered my long questions, confusion and suspicion.

Begitu acara selesai saya langsung menghampiri petugasnya. 

After the service was over I went straight to the man incharge.

Percakapan kami benar-benar bikin saya kesal tapi juga menjadi semacam alarm peringatan.

Our conversation pissed me off but it has also become sort of a warning.

"Jadi yang dia tampilkan di layar bukan slide dari USB yang kamu kasih ke dia?" tanya Andre sewaktu saya menceritakan peristiwa itu.

"So the slide he put on LCD screen was not the one from your USB?" asked Andre when I told him about it.

"Bukan" jawab saya "Slide yang di USB adalah slide yang sudah saya teliti ulang dan yakin tidak ada yang salah. Jadi itu yang harusnya ditampilkan"

"No, not that one" I answered him "The slide in the USB is the one that I have checked and certain there was no error. So it was the one which should be shown on the LCD screen"

"Bagaimana kamu tahu bedanya?"

"How can you tell the difference?"

"Karena di beberapa bagian slide yang masih berbentuk draft itu ada yang saya tandai jadi waktu slide tersebut muncul di layar LCD, saya langsung tahu itu slide draft dan bukan slide yang saya simpan di USB" jawab saya geram.

"Because I put mark on few parts of the draft slide and so when it appeared on LCD screen I could tell it was not the slide taken from the USB" I answered upsetly.

Sekarang saya jadi tahu kenapa kok saya tetap kena teguran untuk bagian-bagian yang salah yang saya yakin jauh-jauh hari sudah saya betulkan.

Now I knew why I got reprimand for the error parts which I certained I have fixed it days before it was being shown on the screen.

"Dari mana dia bisa dapat draft slide itu?"

"Where did he get the draft slide?"

"Email. Saya mengemailkan draft slide pada dia dan beberapa orang lainnya setiap hari Senin supaya mereka dapat melihat dan memeriksanya"

"Email. I email the draft slide to him and few others every Monday so they could have looked and checked on it"

Andre menghela napas.

Andre took a deep breath.

"Dia ngaku nggak itu salahnya?"

"Did he admit it was his fault?"

"Tidak"

"Nope"

"Kamu bisa laporin dia. Kalau ini terjadi cuma sekali, kita bisa berasumsi itu ketidaksengajaan tapi ini sudah terjadi beberapa kali kan.. saya malah curiga ada kemungkinan dia mau mendeskreditkan kamu"

"You can report him. If this happened just once, we can assume it was unintentional mistake but it has happened several times, right?.. I suspect there is possibility he wanted to discredit you"

Ya, harusnya saya laporkan dia tapi dia adalah bagian dari mereka yang tidak bisa dipersalahkan, tidak mau dipersalahkan dan tidak boleh dipersalahkan.

Yes, I should report him but he is part of them who can't be blamed, refuse to be blamed and ought not to be blamed.

"Kalau gitu kamu harus ambil tindakan jaga-jaga" Andre memeluk saya. Dielusnya punggung saya untuk menenangkan saya "Kalau kamu mau email slide ke mereka dan ke dia, pastikan slide yang kamu kirim itu adalah yang sudah siap tayang, sudah rapi dan sudah benar. Jadi jangan kirimkan lagi hari Senin karena bisa ada berita tambahan yang masuk di hari-hari berikutnya"

"So you have to take prevention" Andre hugged me. He caressed my back to calm me down "When you email the slide to them and to him, make sure the one you email has been checked and corrected. Don't email it on Monday because there shall be addition come on the days after Monday"

Papa, beberapa teman dan rekan kerja juga menyarankan hal yang sama jadi itulah yang saya lakukan.

My dad and I few minutes after I spoke to that guy who pissed me.
Dad, few friends and colleagues gave same suggestion so that is what I do.

Kesalahan saya dalam kasus ini adalah begitu saya sudah menyerahkan USB kepada petugas yang berwewenang, saya tidak lagi memantau slide yang ditampilkan di layar LCD. Saya kenal dengan petugas-petugas itu dan saya percaya pada mereka. Saya punya hubungan baik dengan sebagian besar dari mereka sehingga tidak pernah terpikir oleh saya ada kemungkinan kasus seperti ini bisa terjadi.

My fault in this case is once I have given the USB to the man incharge, I didn't monitor the slide shown on LCD screen. I know the men incharge and I trust them. I have good relationship with most of them so it never crossed my mind this case could happen.

Tapi manusia tetaplah manusia. Tetap ada kelemahan dan kekurangannya. Bisa jadi juga ada yang tidak suka pada saya dan ketidaksukaan itu bisa menjadi motivasi untuk melakukan perbuatan yang merugikan saya. Yah, pengalaman adalah guru yang paling baik kan..

But still human is human. They have weaknesses and flaws. There is also possibility somebody might dislike me and that motivate the person to do things to harm me. Well, experience is the best teacher, right?..

*  *  *  *  *

Gimana Meminimalkan Terjadinya Kesalahan?

How to Minimize Mistake From Occuring?

Ok, saya bukan tipe orang yang tepat untuk jadi pilot dan dokter. Pertama karena otak saya tidak akan mampu dan kedua karena saya bukan manusia yang punya ketelitian sampai ke titik-titik terkecil.

Ok, so I'm not the type of person who can become a pilot nor doctor. First is because I don't have the brain and second is because I don't have the eyes for smallest details.

Di masa lalu dan masa sekarang saya pasti sudah bikin jutaan orang frustrasi karena ketidaktelitian saya. Ok, ini pernyataan hiperbole.. haha.. 

In the past and present it must have frustrated millions of people. Ok, that is hyperbole statement.. haha..

Jadi saya bersyukur ketika di beberapa kantor dimana saya pernah bekerja memiliki tim kerja yang solid dan kompak karena orang-orangnya berpikir 'satu untuk semua dan semua untuk satu'

So I am grateful when such solid teamwork existed in few workplaces where I have worked because they had this mindset of 'one for all and all for one'.

Contohnya di perusahaan tempat saya kerja tahun 1998. Kami menerbitkan buku telpon untuk orang asing. 

Take the example of the company where I worked in 1998. We published phone directory for the foreigners.

Ketika draft cetakan sudah sampai, ada lima orang yang memeriksa. Dari saya, rekan-rekan satu divisi sampai ke big boss sendiri yang orang Jepang itu ikut memeriksa.

When the draft print out was delivered, five people checked it. From me to my colleagues in our division up to the big boss, the Japanese, did the checking.

Tidak pernah satu kali pun saya dengar ada yang ngomong atau ngomel bilang 'saya tidak bisa ngecek' atau 'saya ga mau ikut ngecekin' atau 'ini kan bukan tugas saya'.

I have never once heard anyone said or grumbled 'I can't do the checking' or 'I don't want to do the checking' or 'this is not my job'.

Karena semua berprinsip 'satu untuk semua dan semua untuk satu'.

Because everyone had this principle 'one for all and all for one'.

Sayangnya menemukan dan memiliki tim seperti itu bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Dalam pengalaman kerja saya dari tahun 1994-sekarang, bisa saya hitung dengan jari berapa kali saya menemukan tim yang seperti itu.

work hard, play hard

Our 2011 reunion
Unfortunately finding and having that kind of team is like finding needle in haystack. In my work experience from 1994 to present, I can count my fingers how many times I have found team like that one.

*  *  *  *  * 

Saya baru saja merayakan ulang tahun. 

I just had my birthday.

Di masa lalu saya pernah berpikir kelahiran saya ke dunia adalah suatu kesalahan besar.


In the past I had this thought that it was a mistake for me to be born into this world.

Tapi dalam Tuhan tidak ada satu hal terjadi karena kesalahanNya mengatur dan menentukan segalanya yang ada di dunia ini walaupun di mata kita Dia telah melakukan kesalahan.

But in God nothing happens because He has arranged and destined it wrongly though it is in our perspective.

Beberapa orang tercipta sebagai Saddam Hussein, yang lain sebagai Ibu Teresa, Putri Diana, Barrack Obama, Ahok.. kemudian ada juga saya dan kalian..

Some people created as Saddam Hussein, others as Mother Teresa, Princess Diana, Barrack Obama, Ahok.. there are also me and you..

Ada orang-orang di masa lalu dan juga di masa sekarang yang lewat perbuatan atau bahkan kata-kata menyampaikan pesan bahwa saya tidak layak sebagai manusia karena saya bukan siapa-siapa, tidak punya apa-apa kecuali segudang kelemahan, kekurangan dan nasib jelek.

There are people in the past and also in the present who through their attitude or even by their words gave the message that I don't deserve as a living human being because I am nobody, have nothing except lots of weaknesses, flaws and bad luck.

Ada masanya ketika saya mempercayai mereka.

There were times when I believed them.

Tapi Tuhan mengatakan..

image: http://kev14vin.blogspot.co.id

But God says..


Di mata manusia kita mungkin adalah suatu kesalahan tapi tidak di mata Tuhan.

In people's eye we might be a mistake but not in God's eye.

Kelemahan dan kekurangan kita harus kita sadari dan kita perbaiki tapi janganlah membuat kita merasa diri kita lebih buruk dari orang lain. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Mereka yang suka menekan, membesarkan diri dan mengecilkan orang lain karena kelemahan dan kekurangannya adalah mereka yang menghina Tuhan.

We must be aware of our weaknesses and flaws and we must fix them but don't make us feel bad than others. Nobody is perfect in this world. People who like to bully, showing off and degrading others because of their weaknesses and flaws are the people who insult God.