Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Sunday, September 15, 2013

Leadership Camp (9)

Kindness Overcomes Evil?

Kebaikan Mengalahkan Kejahatan?

Ketika saya mengikuti Leadership Camp, saya bertemu dengan orang yang sudah terkenal dengan reputasinya sebagai manusia tidak ramah.

When I participated in this Leadership Camp, I met someone whose reputation as a unfriendly person has been well known.

Saya bisa saja mengerti kalau sikap cueknya kepada saya disebabkan karena dia sibuk, tegang atau capek.

I could understand if her ignorance to me was caused by her being busy, in tense or exhausted.

Tapi kemudian saya perhatikan sikapnya terhadap saya berbeda dengan sikapnya terhadap orang lain.

But later I noticed that her attitude to me was different with the one she showed to other people.

Ketika kami makan siang, dia duduk di sebelah saya tapi dari awal dia duduk, tidak ada yang namanya menegur saya. Dia bahkan mengobrol dengan kenalan di sebelah kirinya. Dan dia baru bicara setelah saya yang menegur dan mengajukan pertanyaan.


She sat next to me during lunch. But she didn’t say a word to me. She talked to her friend or acquaintance who sat at her left. And she talked to me only after I greeted her and asked few questions.

Hal ini malah bikin saya jadi mengamatinya sikapnya.

This made me watched her closely.

Yang paling mencolok adalah ketika dia bicara demikian ramah pada sekelompok remaja. Senyumnya demikian manis. Ketika bicara, dia menghadapkan mukanya kepada orang yang di ajak bicara dan menatap wajah orang itu.

The one that stood out particularly was when she talked so friendly to some teenagers. Her smile was so nice. She turned her face toward the person she talked to and looked at that person face to face.

Luar biasa! .. saya mengamati sambil berdecak karena masih jelas sekali dalam ingatan saya bagaimana dia bersikap kepada saya saat makan siang tadi.

Amazing! .. I watched and clicked my tongue because it was clear on my mind how she behaved toward me during lunch.

Apa saya seorang yang demikian menyebalkan sampai membuat dia bersikap begitu kepada saya? Apa kami pernah bertengkar? Apa saya pernah melakukan sesuatu yang merugikannya?

Would it because I were such a bitch to her? Would we ever had a fight? Would I have done harm to her?

Sama sekali tidak pernah!

Never!

Sejak di hari pertama saya bekerja di tempat ini, saya selalu ramah pada dia. Saya tidak mau terpengaruh dengan berita miring yang saya dengar tentang kejutekan dan kejudesannya yang sudah terkenal itu.

Since the first day I worked here, I have always been nice to her. I never let myself affected by the negative stuff I heard about her well known bad-ass reputation.

Setiap kali saya mendapat perlakuan atau harus mendengar perkataan atau nada suaranya yang jutek, saya tidak pernah membalas. Tetap sabar, tetap ramah, tetap mengalah dan tetap baik.

Everytime I was treated unfriendly or heard her unfriendly words or tune, I never did or talk to her the same way. I kept my patience, my friendliness, my give-in and well attitude.

Bukan berarti saya tidak pernah bersikap jutek kepada orang-orang di sekitar saya.

It doesn’t mean that I have never acted like a bitch toward the people around me.

Pada dasarnya saya adalah orang yang pemarah dan tidak sabaran. Cuma karena saya telah bertambah umur dan banyak pengalaman yang membuat saya lebih bisa mengalah dan menahan diri.

Basically I am  a short tempered and impatient person. It is only because I have grown older and have many experience that make me able to give-in and have better self control.

Tapi kadang ada saat dimana saya sedang dalam keadaan capek, merasa tidak sehat atau stress yang membuat penguasaan diri saya menurun.


But there were times when I was feeling tired, unwell or stressed that loosened my self control.

Dari semua, ‘adik’ saya yang paling sering kena semprot saya. Apalagi waktu dia masih tinggal di kamar tamu kantor yang membuatnya sering berada di kantor bersama saya.

Of all the people, my ‘brother’ is the one whom I blew up oftenly. Especially when he occupied the office’s guest room that made him spent more time in the office with me.

Kadang dia kesal juga menghadapi saya tapi lebih seringnya adalah dia diam dan mengalah.

It upset him sometimes but he mostly went quiet and just give-in.

Dan kalau sudah begitu, amarah saya langsung hilang dan saya amat sangat menyesal karena telah bersikap jutek atau malah marah-marah padanya.

This made my anger gone and I felt so sorry I had been bitching or mad at him.

Saya memang pemarah dan tidak sabaran tapi semua itu cepat hilang kalau orang yang membuat saya kesal bersikap mengalah dan baik seakan tidak terpengaruh dengan kejutekan saya.

I am short tempered and impatient but they soon gone when the person who upset me treat me nicely as if he/she was not affected by my rage.

Senior saya, misalnya, saya pun pernah dibuatnya kesal sampai saya diam selama mungkin sekitar 3 hari.

My senior, for example, I was once made so upset by him that I went quiet for probably about 3 days.

Tapi sikap baik dan kesabarannya menghadapi saya membuat amarah saya akhirnya lumer, saya tidak tahan untuk terus-menerus marah dan saya juga berpikir saya sendiri toh juga manusia yang jauh dari sempurna jadi bagaimana saya bisa demikian marah menghadapi ketidaksempurnaan orang lain?

But his kindness and patience toward me made my anger melted away, I couldn’t stay anger any longer and I thought I myself am imperfect so why did I have to be so anger toward other people’s imperfectness?

Lalu apakah itu artinya saya tidak pernah kesal atau marah lagi?

Is that mean after that I never get upset or angry?

Ketika kami pulang dari Leadership Camp pun saya sempat kesal karena USB kantor yang mau di pinjam orang padahal dalam USB itu saya sudah menyimpan file-file yang dibutuhkan untuk acara keesokan harinya.

Even when we got back from Leadership Camp, I was upset because someone would borrow the office’s USB. I have stored files needed for the next day’s event.

Mungkin karena badan capek dan kurang tidur yang membuat saya jadi gampang naik darah. Saya menyadari hal ini. Karena itu saya diam, menunduk dan menggigit bibir atas saya dalam upaya saya menahan gelombang emosi. Saya tidak mau bersikap konyol karena USB secuil itu.

Perhaps I was tired and didn’t get enough sleep that made my temper rose up easily. I felt it. That is why I went silent, bowed my head down and bit my upper lip in my effort to control that wave of emotion. I didn’t want to act silly over a tiny USB.

Yang tidak saya duga adalah bahwa senior saya yang berdiri di depan saya rupanya memperhatikan dan langsung mengetahui perasaan dalam hati saya, yang sebetulnya sedang saya usahakan untuk sembunyikan.

What I didn’t expect is my senior who stood infront of me was watching me and could tell what I felt though I was trying to hide it from him.

“Nanti saya belikan USB lagi supaya kantor punya cadangan selain yang ada ini” katanya.

“I will buy another USB so the office have a spare beside the one it has now” he said.

Saya langsung mengangkat kepala. Kaget. Tidak menduga akan mendapat reaksi seperti itu.

I pulled my head up. Surprised. Never expect to get such reaction from him.

Kami bertatapan. Dan saya tidak melihat ada kekesalan di mata senior saya. Pengertian dan kesabarannya berhasil mengajuk hati saya.

We stared. And I didn’t see upsetness in his eyes. His understanding and patience soothed me.

Amarah dan kekesalan saya langsung hilang saat itu juga.

My anger and upsetness were just gone at that moment.

Setelah senior saya pulang, saya menjatuhkan diri di atas kursi. Duduk diam. Merenungkan peristiwa yang baru saja terjadi. Tersenyum sendiri. Menepuk-nepuk pipi saya. Menggeleng-gelengkan kepala.

After he left, I took a sit on my seat. Just sat there quietly. Thought over about the thing that happened moment ago. Smiled to myself. Patted my own cheek. Shook my head.

Saya malu memikirkan hampir saja saya uring-uringan cuma gara-gara USB secuil itu.

I was ashamed to think that I nearly lost my temper over a tiny USB.

Saya malu memikirkan senior saya kok bisa membaca perasaan saya.

I was ashamed to think that my senior knew what I was feeling inside.

Saya malu tapi juga bersyukur karena dengan bijak beliau telah memadamkan api dalam diri saya.

I was ashamed but also grateful that my senior’s wisdom has put down the fire in me.

Lebih malu lagi saya ketika esok paginya senior saya masuk ke ruangan saya dan sambil tersenyum lebar menyerahkan USB.

And I was more ashamed when the next morning he came to my room and smiled broadly, he handed me the USB.

Ibu saya mengatakan amarah saya seperti badai yang datang dan pergi sangat cepat.


My mother said my temper was like a hurricane that comes and go fast.

Jadi ketika saya berhadapan dengan orang yang saya ceritakan di atas itu dan melihat bagaimana sikapnya acuh kepada saya, orang yang selama 2 tahun ini bersikap positif kepadanya, saya heran.

So when I met that person I was telling about in the above and seeing how she ignored me, somebody who has been acted positively toward her for 2 years, I was just amazed.

Heran karena kok ada ya orang yang bisa bertahan tetap jutek kepada orang yang selama 2 tahun bersikap baik padanya.

Amazed to see there is someone who can act unfriendly toward someone who has been nice to her for 2 years.

Kok bisa ya?

How is that possible?

Jutek kok bisa awet ya?

How does she persistently keep such attitude?

Yang lebih saya herankan adalah bisa teganya bersikap demikian. Rasanya sih tidak mungkin kelakuan demikian terjadi tanpa di sengaja.

What amazed me most is someone could have a heart to act like that. It is unlikely to think that she didn’t behave like that on purpose.  

Saya hanya bersikap dingin, acuh, menjauhkan diri dan bahkan tidak mau kenal lagi pada orang-orang tertentu yang sudah amat sangat terlalu menyakiti hati saya sehingga saya tidak mau repot-repot lagi memaafkan. Saya menutup hati saya sepenuhnya pada orang-orang semacam itu.

The only reason I could act coldly, ignore, distance myself and even no longer want to know certain people is because they have very much hurt me that I didn’t and don’t want to bother myself to forgive them. I just close my heart for them.

Tapi ini jarang terjadi.

But it is a rare thing to happen.

Amarah saya tetap gampang muncul tapi juga gampang hilang.

My anger is still easily come but it is also easily gone.

Pada mereka yang saya sayangi tentunya saya tidak akan bisa tahan berlama-lama marah. Karena rasa sayang saya kepada mereka mengalahkan amarah itu.

I can’t keep my anger to those I love. Because my love to them overcomes the anger.

Tapi melihat perempuan itu dan sikapnya, saya tersenyum antara getir and mencibir.

But seeing that lady and her attitude, I smiled in bitter and mockery.

Entah dia sedang menipu dirinya sendiri atau ingin menipu orang lain dengan pertunjukan itu, yang pasti saya tawar hati padanya.

Whether she was trying to fool herself or fooling others with such show but one thing for sure is it sour my heart.

Sejak hari itu, kemanisan dan kebaikan saya padanya semata hanya demi alasan kesopan-santunan.

Eversince that day, my nice attitude to her is nothing but for the sake of good manner.

Kalau ada yang mengatakan kebaikan mengalahkan kejahatan.. yah, itu tidak berlaku untuk semua orang.

If anyone says kindness overcomes evil.. well, it can’t be applied to all people.

No comments:

Post a Comment