Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Saturday, August 10, 2013

The Boys and A Teenager

Selasa sore (6/8) Dio dan Dite datang untuk les bahasa Inggris. Rumah saya langsung jadi ramai. Bergantian suara mereka dan suara saya terdengar. Diselingi dengan canda tawa atau teguran.


Tuesday (August 6th) afternoon Dio and Dite came for their English tutoring. My house soon became merry with their voices and mine filled it. Cheerful laugh interspersed with reprimand.

Tapi kehadiran mereka kali ini menghibur hati saya yang masih agak kurang baik karena baru saja di tinggal pulang oleh Andre.

But their presence cheered my gloomy heart after just having left by Andre.

“Mbak kok tidak datang?” tanya saya menanyakan Joan, kakak mereka.

“Your sister doesn’t come?” I referred to their sister, Joan.

Saya sebetulnya lebih dulu kenal Joan dari pada dengan kedua adiknya, Dio dan Dite. Sekitar 3 tahun lalu dia dan beberapa temannya datang ke taman kanak-kanak tempat saya mengajar ketika mobil jemputannya mampir untuk menjemput murid-murid taman kanak-kanak.

I knew Joan before I even met her two brothers, Dio and Dite. About 3 years ago she and her friends came to the kindergarten where I taught as a teacher when her bus school stopped by to pick up the kindergarten students.

Lama tidak bertemu, kira-kira 2 tahun kemudian mereka bertiga ikut les di tempat saya dan saat itulah saya bertemu dengan Dio dan Dite untuk pertama kalinya.

It was quite a while, about 2 years that I didn’t meet her and it was a meeting because she and her two brothers were enrolled in my English tutoring. I met Dio and Dite for the first time.

Dio yang lincah dan Dite yang tenang tapi ternyata lucu cepat akrab dengan saya.

The energetic Dio and the calm but funny Dite quickly built a close bond with me.

Joan? Ah, Joan adalah misteri bagi saya. Ketika pertama kalinya saya bertemu dengannya, dia begitu ceria, lincah, lucu dan agak montok. Kami mengobrol, bercanda, saling meledek dan sampai sepakat berfoto bersama.


Joan? Ah, Joan is a mystery for me. The first time I met her, she was so cheerful, energetic, funny and a little chubby. We chatted, joked, teased and agreed to take a picture.

Ketika kira-kira 2 tahun kemudian saya bertemu lagi dengannya saat dia datang bersama adik-adiknya ke rumah saya untuk les, saya kaget karena melihat perubahan fisik dan sifatnya.

So when about 2 years later I met her again when she and her brothers came to my house for their English tutoring, I was surprised to see the change in her appearance and personality.

Dia lebih kurus dan pendiamnya yang luar biasa itu yang bikin saya bertanya-tanya apa yang terjadi dalam waktu 2 tahun itu. Saya bahkan sempat berpikir apakah ini Joan yang sama yang pernah beberapa kali datang ke taman kanak-kanak tempat saya mengajar itu.

She has lost lots of weight and her quietness made me wonder what have happened to her in those 2 years. I was even thought was this the same Joan who several times came to the kindergarten where I taught.

Beberapa bulan kemudian barulah Joan bisa menjadi sedikit terbuka. Mau bicara, mengobrol dan bercanda. Tapi tetap terkesan diam. Saya tidak sepenuhnya bisa menyatu dengan dia, tidak seperti dengan adik-adiknya.

It took few months to make Joan feel loosened. She talks, chat and joke. But she is still quiet. I can’t really blend in with her as I do to her brothers.

Di waktu saya sedang memikirkan Joan, saya teringat belum lama ini saya melewatkan waktu selama hampir 4 jam berada di ruangan bersama seorang remaja putri yang hanya setahun lebih tua dari Joan.

When I was thinking about Joan, I remember that not long ago I spent nearly 4 hours being in a room with a teenage girl who is probably just a year older than Joan.

Bersama dengannya, saya mengobrol, bercanda dan bernyanyi bahkan ikut menggoyangkan tubuh mengikuti alunan musik dari youtube. Kami seperti dua orang teman yang tidak berbeda umur.

With her, I talked, joked and sang, even did a little dancing when the music from youtube was playing. We were just like friends who don’t have huge different in age.

Saya berpikir-pikir, seandainya saya menikah pada usia 27-29 tahun, maka pada usia 42 ini tentulah anak sulung saya sebaya dengan Joan.

I wondered, if I got married when I was 27-29 years old, at 42 my oldest child would be just the same age with Joan.

Kira-kira anak itu akan menjadi seperti siapa ya?

What would the child be like?

Kalau menuruni gen saya, dia akan menjadi pribadi yang pendiam dan perasa. Sedangkan kalau mengikuti gen ayahnya, pastilah akan kebalikannya karena saya selalu tertarik pada orang-orang yang berkepribadian lincah, periang dan bawel.

If the child got my gene, he/she would be quiet and sensitive. But if the child got his/her father’s gene, he/she would have a different personality because I always attracted to people who are energetic, cheerful and talkactive.

Kehidupan saya memang menjadi kurang rumit tanpa kehadiran anak tapi benarkah itu membuat saya menjadi lebih bahagia? Namun apakah memiliki anak juga akan membuat saya semakin bahagia?

My life is less complicated without the presence of a child but would it make me happier? And could a child make me happier?

Entahlah..

I don’t know..

No comments:

Post a Comment