Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Thursday, July 18, 2013

The Demon Within

Mana yang lebih anda takuti, yang ada dalam hati dan pikiran orang lain atau yang ada di  dalam diri sendiri?

Which one do you fear most, the things people have in their hearts and minds or the ones you have in you?

Mana yang harus lebih diwaspadai?

Which one do we need to be cautious of?

Seringkali yang terjadi adalah kita berfokus kepada yang ada di luar dan kurang (atau malah tidak) mengindahkan yang ada di dalam diri sendiri.

What happens is we oftenly focus on the external and less (or even not) to the ones within ourselves.

*************

Andre tidak bisa tidak merasa kesal, marah dan cemburu ketika dia membaca blog saya dan menyadari bahwa ternyata setelah kami berbaikan, rasa ketertarikan antara saya dengan seorang lelaki lain belum padam.

Andre could not feel more upset, mad and jealous when he read my blog and realizes that after we reconciled, the attraction between me and another man has not completely gone.

Tapi dia juga menyadari bahwa saya sedang berjuang mengatasi dan mengalahkan rasa ketertarikan itu.

But he is also made to aware that I struggled to get through and overcame those feelings.

Jadi dia menahan diri. Tidak mengkonfrontasikan apa pun. Hanya mengatakan bahwa dia telah membaca apa yang saya tulis di blog dan bertanya apa yang seharusnya kami lakukan.

So he held back. Not confronting anything. He just let me know that he has read the things I wrote in my blog and asked what we should do about it.

Ketenangannya membuat saya tidak merasa di desak atau dipojokkan. Ini melegakan saya. Kami berdua agaknya telah bertambah dewasa kalau menilai reaksi kami terhadap perkara yang sedang kami hadapi saat ini.

His calmness makes me feel not being pressed or cornered. This reliefs me. We both obviously have grown more mature judging on how we react toward the present problem.

“Berikan saya waktu” hanya itu yang saya minta.

“Give me time” that is all I am asking.

Kami tidak menjauh. Sama sekali tidak. Andre masih akan berada di Bogor sampai awal Agustus. Dan selama dia di sini, kami tinggal atau bepergian bersama-sama. Hubungan kami tetap baik. Kami tidak bertengkar. Tidak bermusuhan. Kami tetap mesra dan akrab.

We are not drifting apart. Not at all. Andre still stays in Bogor until early August. And as long as he is here, we stay or travel together. We remain in good terms. We don’t fight. We are not becoming enemies at each other. We are still loving and close with each other.

Yang belum saya ceritakan pada Andre adalah saya mengkonsultasikan hal ini pada seorang sahabat baik saya. Kami berdua bersahabat sejak dari masa kuliah. Kami sudah menjadi lebih mirip saudara dari pada sahabat.


What I haven’t told Andre is I consulted my problem with my bestfriend. We have been friends since college. This making us more like sisters than bestfriends.

Komentar sahabat saya kira-kira sama dengan komentar Andre. Melihat gelagatnya, tidak mungkin ini adalah cinta.

My bestfriend’s comment is pretty much the same with Andre’s. Seeing the things between me and that guy made my bestfriend and also Andre concluded it couldn’t be love.

“Mungkin lelaki itu lagi mengalami kejenuhan dengan pasangannya dan bukannya cari solusi, perhatiannya malah jatuh ke elu” kata sahabat saya “kan bukan elu yang ngejar-ngejar dia atau ngegoda dia. Elu malah kelewatan naif. Mungkin juga naifnya elu itu yang bikin dia tertarik ke elu. Dilihatnya elu itu perempuan menarik, punya sifat dan prilaku nyenengin, mungkin ada kesamaan minat yang bikin obrolan atau pemikiran dia bisa nyambung sama elu, selain itu elu itu perempuan baik-baik dan naif. Dia berasa aman jadinya”

“Perhaps that guy’s relationship with his partner is in a cooling down phase and instead of trying to find a way to fix it, he is got his eyes on you” said my bestfriend “after all, it is not you who seduce or ran after him. On the contrary, you are so naive. Maybe that is what makes him like you. He saw that you are an attractive woman, has pleasant and nice characters and attitude, perhaps there is a meeting of minds or interests between the two of you, besides that, you are a woman with dignity and naivety. The things that make him feels safe”

Saya rasa memang demikian adanya.

Yep, she made good points.

“Nah, sekarang elu ngarepin hasil apa?” sambung sahabat saya “elu pikir masing-masing akan ninggalin pasangannya? Untungnya apa buat elu? Ruginya apa?. Kalau menurut gue sih, ga sepadan. Gimana pun juga, orang cenderung nyalahin pihak perempuan. Jadi mending, jangan deh. Elu punya reputasi baik. Lelaki kayak gitu sih mending elu jauhin aja. Mestinya dia tahu diri, beresin dulu masalah dalam negerinya, jangan nyeret-nyeret elu dalam masalahnya atau bikin elu jadi orang buat menghibur hati dia”

“What do you except then?” my bestfriend spoke quite frankly “do you think each of you would leave each other’s partners? What would it benefit you? What would be your loss? I think it is not worth it. People usually put the blame on the woman. So better not do it. You have good reputation. You should stay away from a guy like that. He should come to his senses, takes care of his own domestic problem, not dragging you into his mess or making you as a comfort woman”

Sekali pun tidak enak di dengar tapi saya mengakui kebenaran kata-kata sahabat saya.

Though I don’t like hearing it but I admitted she is right.

Kemudian saya merenungkannya, saya semakin menyadari kebenaran kata-katanya. Begini, 6 tahun lalu saya sedang jalan dengan mantan pacar saya ketika dalam satu kesempatan kami pesiar bersama-sama, Andre menemui saya dan mengatakan dengan gamblang bahwa dia jatuh cinta pada saya.

The more I thought about it, the more I agreed that my bestfriend was and is right. So, 6 years ago I was in a relationship with my exboyfriend when during our trip, Andre went to see me and told me that he fell in love with me.

Hubungan saya dengan mantan pacar saya memang tidak terlalu baik tapi pada waktu itu saya mengatakan kepada Andre bahwa saya masih berstatus pacar orang dan saya tidak berminat untuk memutuskan hubungan demi dia. Saya juga tidak berpikiran untuk diam-diam menjalin hubungan dengan Andre.

Though my relationship with my ex was not smooth but at that time I told Andre that I was pretty much in a relationship and I had no intention to breakup because of him. I also didn’t think of having an affair with him.

Kalau pun beberapa bulan kemudian saya putus dengan mantan saya itu, semua bukan karena Andre. Sesuatu terjadi yang membuat saya berpikir hubungan itu tidak bisa diteruskan. Dan setelah putus pun, saya tidak mencari Andre.

Eventhough few months later I broke up with my ex, it was not because of Andre. Something happened that made me think the relationship should be ended. And even after I broke up with my ex, I didn’t go and seek Andre.

Penolakan saya terhadap dirinya beberapa bulan sebelumnya rupanya tidak membuat Andre merubah perasaannya. Dia hanya mundur. Tidak mendesak. Bahkan tidak menjalin komunikasi apa pun dengan saya.

My rejection to him did not make Andre changed his feelings for me. He just stepped back. Did not push me. He did not even have any communication with me.

Tapi rupanya diam-diam dia selalu mencari tahu tentang bagaimana keadaan saya melalui teman-temannya dan ini baru saya ketahui lama setelah kami jadian.

But it turned out that he always watching over me from a far through his friends and I knew about this long after we became couples.

Mendengar bahwa saya tidak lagi berhubungan dengan siapa pun membuat Andre merasa dia kembali mendapat kesempatan dan karena dia orang yang tidak mudah menyerah maka dia mendatangi saya. Mengulangi pernyataan cintanya dan kembali menerima penolakan. Hehe.

Once he heard that I was not in a relationship anymore, Andre thought he had his second chance and since he is not an easily give up person, he came to see me. He told me again that he fell in love to me and had the same rejection. Lol.

Tapi dasar badak, merasa bahwa saat itu tidak ada lagi penghalang atau saingan, Andre bersikukuh menyatakan cintanya. Tidak mendesak tapi juga tidak mau menyerah. Hehe.

Just like a rhino, feeling that there was no barrier or rival made Andre wouldn’t give up on his love. He did not push but he did not give up either. Lol.

Tapi saya juga tidak langsung menyerah. Saya baru saja mengalami patah hati jadi pada waktu itu saya sedang tidak berminat untuk cepat-cepat punya pacar lagi. 

But I did not give in easily. I was heart broken and I was not keen to have a boyfriend.

Tambahan lagi saya sedang alergi dengan lelaki berkebangsaan asing. Dalam kurun waktu 10 tahun, saya telah menjalin hubungan dengan orang Jepang, Taiwan, Inggris, Italia, Spanyol dan Amerika. Semua bubar.

More over I was kind a allergic to foreign man. In 10 years I had been with Japanese, Taiwanese, English, Italian, Spanish and American. All broken at the end.

Yah, yang namanya orang brengsek sih tidak pandang bangsa tapi ketika itu saya berpikir lelaki berkebangsaan asing yang pernah berhubungan dengan saya hampir sama saja brengseknya dengan lelaki dari bangsa sendiri. Harap di ingat, saya juga telah pacaran dengan lelaki lokal dari berbagai suku dan agama.

Well, jerks come in all nationality but at that time I thought the foreign men I had a relationship with were no better than the local men. Please noted that I had been with local men from many ethnics and religions.

Tapi toh saya mengagumi kegigihan Andre dan juga karena dia tidak menggoda saya setelah saya menolaknya. Dia tidak berupaya untuk memecahkan hubungan saya dengan mantan pacar saya. Dia tidak merayu saya. Dia tidak melakukan hal-hal untuk mengambil hati saya.

However, I admire his spirit and for not sold me lines after I rejected him. He did not try to break my relationship with my ex. He did not seduce me. He did nothing to win my heart. 

Setelah dua kali saya menolaknya, dia meminta saya untuk memberi kesempatan bagi kami saling mengenali satu dengan lainnya. Saya setuju karena berpikir kami hanya akan menjadi teman.

After I rejected him twice, he asked me to give us time to get to know each other. I agreed because I thought we would be just friends.

Dan awalnya memang demikian. Kami pergi jalan bareng, nonton, makan, dugem, melihat pameran seni, ke museum, toko buku dan kami banyak bicara, diskusi, tertawa dan juga adu argumen. Ini juga tidak bisa sering-sering dilakukan karena dia tidak bekerja di negeri ini.

At first it went like that. We went out together, to the movie or out for dinner or lunch, clubbing, went to art galleries, museums, book stores and we had plenty of talking, discussion, laugh and argumentation. Despite the fact that this could not be done often because he did not work in this country.

Selama masa itu pula, Andre tidak menyentuh saya. Saya menganggapnya lucu karena lelaki berpenampilan seperti hippies ini ternyata sangat sopan. Dia tidak pernah mencuri kesempatan untuk menyentuh, memegang atau menggenggam tangan saya atau bagian tubuh lainnya.

During that period of time, Andre never touched me. I thought it was funny for a guy who appeared like a hippie could have such a courtesy. He never stole a chance to touch, hold or grab my hand or other body part.

Setiap kali kami jalan, dia tidak pernah berada jauh dari saya. Kami tidak bergandengan tangan tapi dia berjaga-jaga sekiranya saya hilang keseimbangan atau terjepit di antara kerumunan orang. Dan bila dia melihat hal itu terjadi,  dia segera mengulurkan tangannya supaya saya dapat berpegang padanya.

Everytime we went out together he never got far from me. We did not hold hands but he kept on guard should I loose balance or pressed by crowds of people. And when he saw it happened, he quickly reached out his hand to me so I could hold on to it.

Ketika pertama kali kami bergandengan tangan, dia bertanya dulu apakah dia boleh melakukannya. Ketika itu kami berada di pantai Kuta, Bali, merayakan tahun baru bersama disana. Setelah setidaknya tiga kali kami terpisah karena terdorong oleh kerumunan orang, dia bertanya apa saya keberatan kalau kami bergandengan tangan saja dari pada nanti terpencar-pencar.

When we held hands for the first time, it happened after he asked me if he could do that. It was when we were in Kuta beach, Bali, celebrating new year. After having at least three times being pushed apart by the mob of people, he asked me if I would be mind for us to hold hands to prevent us being scattered.

Sikapnya ini di tambah dengan beberapa kecocokan yang saya rasakan yang membuat saya tertarik padanya. Dan ini setelah melalui proses yang tidak singkat.

His attitude plus some meeting of minds and interests between us that made me attracted to him. The process, however, took quite some time.

Jadi kata-kata sahabat saya benar adanya. Yang dilakukan oleh laki-laki itu bukanlah didasari oleh cinta. Ada banyak motif. Ada beberapa penyebab. Cinta bukanlah satu diantaranya. Perbedaannya tampak jelas bila dibandingkan dengan yang dilakukan oleh Andre ketika dia sedang berusaha untuk memenangkan hati saya.

My bestfriend is right. What the other guy did was not out of love. There are many motives. Some reasons. But love is not one of them. The difference is too clear if I compare his attitude with Andre’s when he was trying to win my heart.

Saya memutuskan untuk menghindar laki-laki ini. Tidak memusuhinya. Hubungan kami tetap baik. Tapi terpaksa saya harus menjaga jarak dan karena itu menghindarinya.

I decided to avoid that guy. Not becoming enemies. I remain in good relationship with him. But I have to keep a distance and thus I avoid him.

Dia memiliki motif, alasan dan tujuan. Tapi yang harus lebih saya waspadai adalah setan di dalam diri saya sendiri. Itulah kenapa di bagian atas tadi saya menulis mana yang lebih kita takuti dan mana yang harus lebih kita waspadai. Faktor luar berperan tapi yang di dalam pun tidak bisa diabaikan.

He has his own motives, reasons and aims. But what I must be more on guard is toward the demon within me. It is what I meant when I wrote which we fear most and which should we be more cautious? The external stuff play their roles but the internal should not be avoided.

Buat saya menghindari laki-laki itu jauh lebih mudah dari pada harus menghadapi sikapnya terhadap saya. Sikapnya kepada saya sangat manis. Tidak merayu. Tapi sungguh sangat menyenangkan hati saya dan saya menyukainya.

For me avoiding that guy is so much easier to do than to face the way he treats me. He just does it right. Not seducing me but his attitude is pleasing and I like it.

Setan di dalam diri saya melemahkan saya dan saya tahu saya bisa jatuh lagi dalam pesona laki-laki ini.

The demon in me weakens me and I knew I could fall again to this guy’s charm.

Saya membulatkan seluruh tekad saya. Setan dalam diri saya harus tunduk kepada saya. Bukan kebalikannya.

I made up my mind. The demon within should bow to me and not the other way around.  

No comments:

Post a Comment