Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Thursday, May 22, 2014

If Tomorrow Never Comes



Adalah suatu ironi bagaimana kita mengisi hari-hari dalam hidup kita di dunia ini dengan mengkhawatirkan, tidak menyukai dan bahkan membenci begitu banyak hal dan manusia.

It is such an irony we spend our living days on earth by worrying, disliking and even hating so many things and people.

Lalu bagaimana kalau kita tidak akan melihat hari esok?

How if we couldn’t see tomorrow?

Bagaimana kalau seandainya hari ini adalah hari terakhir dari masa hidup kita?

How if today is our last living day?

Hanya sehari setelah ulang tahun saya.. pagi itu di kantor telpon berdering..


Just a day after my birthday.. that morning, the phone rang in the office..

Seorang ibu kenalan saya yang menelpon. Suaranya gemetar ketika dia bicara. Dia pergi berbelanja dan ketika kembali dia mendapati suaminya sudah meninggal.

A lady, who is my acquaintance, was the caller. Her voice trembled when she spoke. She left to the market and when she got back home, she found her husband was already passed away.

Sehari sebelumnya saya bertemu dengan dia dan saya sempat bertanya bagaimana keadaan suaminya.

The day before I met her and I asked her how was her husband doing.

Kira-kira 2 minggu sebelumnya saya bertemu dengan suaminya. Kami bersalaman dan sempat bicara sebentar. Dia terlihat baik-baik saja.

About 2 weeks ago I met her husband. We shook hands and talked for a while. He looked fine.

Lalu pada pagi itu.. jantung suaminya berhenti berdetak dan berakhirlah kisah kehidupannya di dunia ini.

On that fateful morning.. her husband's heart stopped beating and there the end of his story of life in this world.

“Setiap tahun umur kita sebenarnya berkurang” kata rekan kerja saya.

“Every year our age is actually being deducted” said a colleague.

Saya duduk di anak tangga sambil mendengarkan dia bercerita dia dan suaminya telah sepakat memilih untuk dikremasi. Dia bicara tentang rumah duka, peti mati, memandikan dan mendandani jenasah, sampai pemakaman.


I sat on the stair listening her talking how she and her husband chose to be cremated. She talked about funeral home, coffin and stuff like that.

Dia memberitahukan tentang biaya sewa tahunan yang harus dibayar pada pihak pemakaman. Tentang cicilan yang bisa dibayarkan pada rumah duka ketika seseorang masih hidup tapi tidak ingin membebankan keluarganya dengan biaya untuk dirinya setelah dia meninggal.

She informed me about the yearly fee for renting grave yard. About installment one can pay for his/her funeral.

Buat saya semua itu kedengaran aneh. Merencanakan pemakaman dan lain-lain di saat kita sedang dalam keadaan amat sangat hidup rasanya seperti berharap diri cepat mati.

All sounds unusuall for me. To plan your own funeral and other stuff right at time when you are so very much alive for me is like expecting to die soon.

Tapi kalau di pikir dengan logika sebetulnya masuk akal juga. Segala sesuatu di dunia ini kan serba tidak bisa di duga. Yang hari ini masih ada belum tentu besoknya akan tetap ada.

Thinking logically the whole thing is actually make sense. Everything in this world is unpredictable. What is here now may not be here tomorrow.

Tapi yang selalu ada dalam benak saya adalah berupaya mewujudkan impian, cita-cita, harapan dan rencana sambil berharap semakin cepat berlalunya waktu, semakin dekat pula saya dengan saat penggenapan semua itu.

But what I keep in my mind is my effort to make dreams, wishes, hopes and plans come true while hoping the faster time passes by the closer I get to the fulfillment time of those things.

Setiap orang punya batas umur. Saya tahu tentang hal itu. Setiap hari yang kita lalui sebetulnya mendekatkan kita pada titik akhir itu.

Each of us has validity age. I know that. Every passing day brings us closer to that end.

Jadi ada baiknya juga kita menganggap satu hari yang kita jalani seakan hari itu adalah hari terakhir kehidupan kita. Karena kita akan lebih menghargai kehidupan pada sepanjang hari itu, kita lebih bersyukur dan kita tidak mengisi hari itu dengan begitu banyak kecemasan, ketakutan, kemarahan, kesedihan atau kebencian.

So it is good to think everyday as our last living day on earth. Because it makes us appreciate life on that day, we are more thankful and we don’t fill the day with so many worries, fears, anger, grief or hatred.

Bukan berarti kita tidak lagi merasa kesal, marah, takut, sedih atau senewen. Hanya saja kita menolak untuk dikuasai sepenuhnya oleh emosi-emosi itu sampai kita tidak bisa lagi menikmati kehidupan, tidak lagi bisa melihat hal-hal positif dalam kehidupan atau dalam diri sendiri dan dalam diri manusia disekitar kita.

It doesn’t mean we can’t get upset, angry, scared, sad or nervous. It is just that we refuse to be controlled by those emotion and making us unable to enjoy life, unable to see positive things in life, in ourselves and in the people around us.

Setelah saya mengalami sikon yang menyebabkan kesehatan saya menurun selama hampir setahun, mata saya seperti dipaksa untuk melihat bahwa saya harus lebih bisa santai, tidak terlalu rumit dalam berpikir dan lebih menghargai hidup serta segala sesuatu yang saya miliki.

After I had this health issue for a year, my eyes seemed to be opened by force to make me see that I must lighten up, not thinking so complicated and appreciate life with all the things I have.

Yah, tidak mudah tapi selama setahun terakhir ini ada banyak perubahan dalam diri saya.

It is not easy but I have changed a lot in the past year.

No comments:

Post a Comment