Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Friday, November 29, 2013

What is your personality?

“Aduh, saya lupa bawa test kepribadian itu. Tadinya saya mau minta kamu fotocopy”

“Shoot, I forgot to bring that personality test. I wanted to ask you to make copies of it”

Hmm? Test kepribadian apa?

Hmm? What personality test?

“Iya, nanti setelah di isi, dari nilainya kita bisa tahu kepribadian kita seperti apa” senior saya menerangkan “Oprah Winfrey juga memakai test ini”

“Yes, after we filled it, the score will tell us about our personality” my senior explained “Oprah Winfrey took this test too”

Terus?

So?

“Dan… sejauh ini kita belum tahu seperti apa kepribadian kita masing-masing?” saya nyengir, tidak tahan untuk tidak mengajukan pertanyaan itu.

“And… so far we just haven’t known what is our personalities?” I grinned, couldn’t hold myself not to ask that question.

Senior saya yang kocak itu menatap saya dengan gemas dan saya tertawa karena mukanya seakan mengatakan dia ingin menjitak kepala saya.. hehehe..

My funny senior looked at me and I laughed because his face telling me that he wanted to slap me in the head… lol..

Saya kadang heran bagaimana si babe bisa tetap tampil ceria dan lucu. Setelah menghadapi berbagai hal dan bermacam manusia dikantornya, dirumahnya dan di jalan atau ketika sedang merasa tidak enak badan pun, belum pernah saya melihatnya bermuka masam atau jadi jutek.


I am amazed to see him always appear cheerful and funny. After having so many things and dealing with many people in his office, at home and on the road or even when he feels unwell, I have never seen him put sour face or acted nastily.

Saya kebalikannya. Kalau otak saya lagi mumet, saya lagi banyak pikiran atau badan saya lagi tidak enak, saya hilang selera untuk bicara atau bercanda.

I am so much opposite. Whenever I am stressed up, I have many thoughts on mind or feeling unwell, I lost the mood to talk or joke.

Orang tua saya sudah terlalu kenal dengan diri saya. Jadi kalau mereka melihat saya sampai di rumah dalam keadaan bisu, mereka tidak bertanya karena mereka tahu 1-2 jam kemudian setelah saya mandi dan istirahat, saya akan bercerita tentang apa yang ada dalam pikiran saya atau apa yang saya rasakan.

My parents knew me too well. So when they see me turn silent once I got home, they wouldn’t ask as 1-2 hours later, after I took a bath and rest, I would tell them what I’ve got in my mind or what I feel inside.

Andre lain lagi. Kalau dia melihat saya diam di mobil, diam di sepanjang perjalanan, tetap diam setelah kami sampai dirumahnya dan masih juga tidak banyak bicara lama setelahnya, dia tidak akan mendiamkan saya.

Andre would do differently. If he saw me quiet in the car, quiet all the way to his place, remained quiet after we got there and still said little afterward, he wouldn’t take it.

“Kamu diam saja dari tadi, ada apa? Kamu marah ke saya? Kesal dengan kerjaan? Ada yang nyebelin di kantor? Atau ga enak badan? Ngomong dong ke saya”

“You are quiet, what is it? Mad at me? Pissed off with work? Something in the office upset you? Or you don’t feel well? Talk to me”

Kadang pertanyaannya melumerkan kebisuan saya. Tapi kadang tidak mempan. Tergantung dari berat ringannya hal yang sedang saya pikirkan atau rasakan.

Sometimes his question melted my silence. But sometimes it didn’t work. Depends on the things I was thinking or feeling. Were they light stuff or not.

Penjelasannya sederhana saja. Saya berdiam diri untuk mengendalikan dan meredakan emosi.

Simple explanation. I went quiet to control and cooling my emotion.

Kadang saya suka sirik sama senior saya yang lucu itu. Enak betul ya seandainya saya bisa tetap ceria, lucu dan sabar biar pun telah atau harus menghadapi berbagai hal dan berbagai manusia. Hidup akan terasa lebih menyenangkan dan saya akan lebih berbahagia karenanya.

Sometimes I envy my funny senior. Wouldn’t it be nice if I could keep cheerful, funny and patient no matter I have dealt or am dealing with so many things and people. Life would be so much fun and I would be much happier.

Tapi saya tidak bisa. Jadi sungguh beruntung dan bersyukurlah saya untuk adanya orang-orang yang punya kepribadian seperti itu karena ketika saya sedang tenggelam dalam keruwetan pikiran, mereka menarik saya keluar dari semua itu; ketika hati saya sedang panas, mereka mendinginkannya.

But I can’t. I feel so lucky and am grateful to have people with that kind of personality because when I am drowned in my troubled mind, they pulled me out; when my heart burnt with emotion, they cooled it down.

Jadi, masih dibutuhkankah selembar atau beberapa lembar kertas untuk mengetahui seperti apa kepribadian seseorang?


So is it still needed a sheet of paper or more to know about one’s personality?

No comments:

Post a Comment