Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Wednesday, November 13, 2013

At Your Service

Siap melayani anda.. kira-kira begitulah terjemahan bebasnya.

Andre pernah beberapa kali membawa saya makan di restoran fine dining.

AMUZ French Fine Dining Restaurant, Jakarta

Andre took me to dine in fine dining restaurant several times.

Wah, restoran macam apa itu.., Buat yang belum tahu..

What kind of restaurant is that.., for those who don’t know..

Saya punya deskripksi sendiri tentang tempat itu..

I have my own description about it..

Tempat makan yang mengharuskan kita berpakaian rapi dan resmi;

A place to dine that requires us to dress neat and formal;

Harus mengerti tentang table manner;

Gotta know table manner;

Diatas meja makan ada setidaknya tiga macam sendok, tiga macam garpu, tiga macam pisau, tiga macam gelas yang semuanya beda bentuk dan beda ukuran karena fungsinya berbeda;

On the dining table, there are at least three kinds of spoon, three kinds of fork, three kinds of knife, three kinds of glass which all came in different shape and different size as they are used for different meals and different drinks.

Selain itu, harga makanannya mahal, porsinya imut, di perut rasanya melayang.. hehe..


And, the price is expensive, the portion is tiny, feels them floating in my stomach.. lol..

Saya sejuta kali lebih suka makan di warteg atau di tukang jualan pinggir jalan dari pada di restoran-restoran seperti itu.

I’d a million of times better dined in food vendor on the street than in those restaurants.

Tapi di restoran fine dining ada seorang pelayan yang akan menghampiri begitu kita masuk, menyapa dengan ramah dan sopan, menarikkan kursi untuk kita, menyodorkan menu, menuangkan air atau wine ke gelas kita..


But in fine dining restaurant there is a waiter that will approach us once we get inside, greets us nicely and politely, pulls the chairs for us, hands out the menu, pours the water or wine in our glass..

Pokoknya pelayanannya pasti memuaskan.

Giving the satisfactory service.

Tapi apakah menjadi pelayan itu enak?

But is it fun being a servant?

Pembantu rumah tangga adalah orang yang pertama bangun di pagi hari dan orang yang terakhir pergi tidur di malam hari.

A house maid is the first one who gets up in the morning and the last one who goes to bed at night.

Apakah menjadi pelayan adalah merupakan pilihan hati seseorang?

Is being a servant a heart’s choice?

Apakah seorang pelayan menerima penghargaan dan upah tinggi?

Is a servant get high appreciation and high wage?

Pekerjaan sebagai pelayan adalah pekerjaan fisik yang paling melelahkan, yang meminta banyak pengorbanan fisik serta perasaan, tapi menerima upah yang tidak sebanding dengan semua yang telah diberikannya.


Being a servant means doing exhausting physical work, makes lots of physical and mental sacrifice, accepting wage that can’t compensate them all.

Sebagian besar mereka yang bekerja sebagai pelayan menerima pekerjaan itu karena tidak memiliki pilihan. Lebih baik bekerja sebagai pelayan dari pada sama sekali tidak bekerja. Apalagi di jaman ekonomi semakin sulit seperti sekarang ini.

Most people who work as servants accept the job because they have no other choice. Better work as servant than not having work at all. Especially in the present economical condition.

Dan mereka pun menjalani pekerjaan itu. Tanpa banyak keluh karena memang mengeluh pun tidak akan ada gunanya. Tidak menggerutu karena sudah mensyukuri bisa bekerja.

And they just do their work. Less complain knowing that it is useless. Not grumbling thinking it is better to have a job than none at all.

Kalau anda selalu memiliki banyak pilihan dalam hidup, maka anda tidak akan bisa mengerti bagaimana rasanya harus menjalani hidup tanpa memiliki banyak pilihan atau bahkan tanpa memiliki pilihan sama sekali kecuali menjalani apa yang ada.

If you have many options in your life, then you can’t understand how it feels to live a life with less options or even have none except to live whatever is laid before you.

Kalau anda selalu memiliki banyak pilihan dalam hidup, maka anda akan berteriak memprotes, mengeluh dan menggerutu ketika anda menghadapi situasi yang memberikan sedikit ketidaknyamanan.

If you have many options in your life, you would yell, protesting, complain and grumble when you face small discomfort situation.

Seorang yang saya kenal pernah melakukannya.

Somebody I know did that once.

Setelah dia keluar dari ruangan saya, saya dan teman saya saling berpandangan.

After that person left my room, me and my friend glanced at each other.

“Lantas bagaimana dengan kita berdua ya, Ke?” teman saya bertanya “Setiap hari Minggu kita berdua sampai paling pagi disini. Kadang malah sebelum jam 6.30 pagi”

“Then how about the two of us, right, Keke?” my friend asked me “Every Sunday we get here before everyone else. Sometimes we even get here before 6.30 am”

Saya hanya tersenyum. Pikiran kami sama.

I just smiled. We had same thought.

“Kamu bangun jam berapa setiap hari Minggu?” teman saya bertanya lagi “Kalau aku sih tempat kostnya dekat sini. Tapi rumah kamu lebih jauh dan kadang kamu sampai sini lebih cepat dari aku”

“What time do you get up on Sunday?” my friend asked me again “My rented place is nearby. But your house is farther and sometimes you get here earlier than me”

“Jam 4 pagi” jawab saya singkat.

“4 am” was my short reply.

“Dari rumah berangkat jam berapa?”

“What time do you leave your house?”

“Kadang jam 6, kadang sebelum jam 6”

“Sometimes at 6 am, sometimes before 6 am”

Kami berpandangan dan kemudian tertawa geli.

We looked at each other and laughed in chorus.

“Lantas begitu sampai disini, kita atur-atur semua ya kan, Ke?” dia bertanya lagi.

“Once we get here, we arrange things, don’t we, Keke?” she asked me again.

Saya hanya tertawa. Oleh karena rasa geli dan ironi.

I just laughed. Tickled and out of irony.

“Kita ga pernah ngeluh ya, Ke?”

“We never complained right, Keke?”

Iba juga saya mendengar pertanyaannya. Teman saya yang hanya setahun lebih tua dari saya ini sering kali membuat saya merasa seakan saya jauh lebih tua dari dia karena dia lebih lugu dari saya. 

I felt my heart moved by her question. My friend who is just a year older than me but most of the times make me feel older than her because she is more naive than me.

Saya lebih kasihan pada dia.

I feel pity for her.

Karena kalau saya, itu resiko jabatan. Saya bekerja disini. Saya dibayar untuk melakukan apa pun yang harus saya lakukan demi kelancaran pekerjaan saya.

Because I know the things I do is the consequence of my job. I work here. I am paid to do anything I must do for the sake of my work.

Jadi kalau saya harus bangun jam 4 pagi, berangkat dari rumah jam 6 pagi supaya bisa sampai ditempat kerja jam 6.30 atau sebelum jam segitu dan sudah jungkir balik mengatur apa yang harus di atur, merapikan apa yang harus dirapikan dan menyempurnakan apa yang harus disempurnakan ketika orang-orang lain mungkin baru bangun, baru sarapan, baru mandi atau baru siap-siap berangkat dari rumah pada jam-jam segitu; maka semuanya itu saya lakukan karena saya memang dibayar untuk melakukan pekerjaan saya.

So if I have to get up at 4 am, leave to work at 6 am so I can get here at 6.30 am or before that and juggling with things that need my finishing touch while others may just get up, have breakfast, take a bath or get ready to leave their house at those hours; I do it all because I am paid to do my work.

Tapi teman saya ini tidak menerima bayaran seperak pun. Dia tidak bekerja disini. Dia bukan pegawai ditempat ini.

But my friend gets no payment. She doesn’t work here. She is not an employee in this place.

Dan dengan segala kerelaan hatinya dia datang awal, melakukan apa pun yang bisa dilakukannya, membantu apa pun yang bisa dibantunya, tetap berupaya untuk datang sekalipun badannya tidak sehat atau baru sembuh sakit, tetap bersabar sekalipun digerutui karena dia tidak bisa datang karena belum sehat atau karena ibunya sakit.

With such a big heart, she came early, do anything she can do, help anything she feels she incapable to help, making herself to come despite of her poor health or having just recovered from an illness, keeping the patience though she received complain or grumbling over her absence out of her health or her mother’s ailing health.

Dia adalah pelayan sejati. Pelayanan yang dilakukannya adalah pelayanan murni.

She is the real servant. Her service is the genuine one.

Saya malu untuk mengeluh didepannya.

I feel ashamed to grumble when she is with me.

Kehidupan memberikan saya banyak pelajaran. Satu diantaranya adalah bahwa orang-orang yang paling tidak memiliki pilihan dalam hidup adalah mereka yang paling tahan uji, paling sabar dan justru yang paling bisa bersyukur.
 
Life has given me so many lesson. One of them are the fact that people who have less option in life are those who have lots of endurance, patience and have grateful heart.

Sementara mereka yang memiliki banyak kemudahan, memiliki banyak kelebihan dan memiliki banyak pilihan dalam hidup justru adalah orang-orang yang paling lemah, paling cengeng, paling tidak bisa bersyukur dan anehnya juga paling susah untuk berbahagia.

While those who have plenty of benefit, blessing and option in life are weak, meek, hard to feel grateful and strangely also hard to feel happy.

No comments:

Post a Comment