Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Saturday, February 7, 2015

I Give Thee My Service

Pernah melihat seorang pelayan? Entah dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga, di restoran, petugas cleaning service di hotel atau di toko, seorang pelayan memiliki ciri yang sama yaitu;


Ever saw a servant? Whether he or she works as maid, waiter, cleaning service in a hotel or shopkeeper, a servant has some similarities; 

Pelayan datang awal dan pulang paling akhir.

Servant comes early and the last one to leave.

Pelayan adalah orang pertama yang bangun di pagi hari dan yang pergi tidur setelah majikan serta seisi rumahnya tidur.


Servant was the first to wake up in the morning and the last one who goes to bed after his or her master, along with the rest of the household, go to bed.

Pelayan mengerjakan apa pun yang diminta atau dituntut oleh majikannya.

Servant does whatever his or her master ask or demand him or her to do.

Perasaan, keinginan, pikiran dan bahkan kondisi serta keberadaan pelayan menjadi tidak ada artinya karena semua adalah tentang majikannya.

Servant’s feelings, wishes, mind and even his or her condition along with existence are nothing because everything is about his or her master.

Pelayan harus menyesuaikan diri dengan kondisi dan keinginan majikannya.


Servant has to suit himself or herself with his or her master’s condition and wishes.

Pelayan menempati strata terbawah.

Servant occupy in the lowest rank.

Dengan semua jabaran di atas, kita akan mengatakan ‘Idih.. ga enak banget ya jadi pelayan’..

The above description would make us say ‘Gosh.. it is not fun to be a servant’..

Menjadi pelayan bukanlah pekerjaan impian.

Becoming a servant is definitely not a dream job.

Menjadi pelayan adalah satu keterpaksaan. Lebih baik punya pekerjaan walau hanya sebagai pelayan karena itu jauh lebih baik dari pada menganggur.

It is not a career option. Those who landed on the job think it is better to have a job though only as servant than to be jobless.

Tapi di gereja, banyak yang malah ingin jadi pelayan. Tentu saja bukan sembarang pelayan. Ini pelayan Tuhan.. cieee.. keren ya..

But in church, many want to be servant. Of course this is not just some servant. It is God’s servant.. yep.. so cooool, isn’t it..

Pengertian umumnya begini, adalah suatu kehormatan untuk melayani Tuhan.


The general understanding is this, it is an honor to serve God.

Betul. Dan karena yang dilayani adalah Tuhan, harusnya pelayanan yang terbaik yang diberikan, betul kan?

That is right. And since it is serving God, it should be the best service given, right?

Hampir empat tahun saya bekerja di gereja dan inilah kenyataan yang saya temui dari para ‘pelayan’ Tuhan itu.

I have worked in church for nearly four years and this is the reality of what I discovered about those ‘servants’ of God.

Melayani Tuhan bisa dilakukan lewat berbagai cara.

Serving God can be done through various ways.

Dengan bernyanyi dan bermain musik.. tapi latihan datangnya terlambat, terus dung-pret-dung-pret alias banyak absennya, giliran hari H yang bolong-bolong latihannya atau malah yang tidak pernah latihan kok pengen ikut nyanyi.. halooo, hebat amat tuh bisa nyanyi tanpa latihan. Kenapa jarang latihan? Alasannya berjuta.. dari yang sibuk sampai karena pergi jalan-jalan..

By singing and playing music.. but comes late to rehearsals, many absence, on D-day those who don’t rehearse regularly or even never wish to sing.. hellooo, just sing without having ever attend rehearsal. What is the reason? Millions of excuse.. from busy to go traveling.

Melayani sebagai petugas penyambutan dan petugas pengambil persembahan.. tapi tiga hari sebelum hari Minggu, mereka harus dihubungi untuk diingatkan bahwa hari Minggu mereka tugas melayani… ehem.. pelayan harus selalu dihubungi supaya jangan lupa untuk melayani..


Serving as greeters and offertory collector.. but three days prior to Sunday, they should be reminded to their schedule… yo man.. the servant has to be reminded so they won’t forget to give their service..

Sebagai catatan, sebagian besar baru mengatakan tidak bisa bertugas ketika saya menghubungi mereka, jarang ada yang punya kesadaran sendiri untuk menghubungi saya dan memberitahu mereka tidak bisa hadir.

Please note, mostly would pass the information about them unable to come on Sunday only after being contacted by me, it is rare to have initiative to contact me and inform about their absence.

Datang terlambat? Itu sih biasa.. tamu dan jemaat bisa datang lebih dulu dari petugas penyambutan. Sampai saya yang orang tata usaha harus nongkrong tuh di depan meja penyambutan karena petugasnya belum datang.


Arrive late? Nothing out of the ordinary.. the guest and congregation arrive earlier than the reception. I have to act as reception since the reception has not arrived.

Kalau saya punya pelayan yang sering datang terlambat dan sering absen.. bakal saya pecat dia.


If I had a servant who oftenly comes late and makes many absence.. I definitely would kick him or her out.

Ada juga pelayan yang minta dilayani.

There are servants who want to be served.

Saya sering bingung dan jengkel dengan para ‘pelayan’ Tuhan ini. Entah mereka ini tidak serius, tidak punya kesadaran, kurang inisiatif, anggap remeh, disiplin diri tidak ada atau tidak mengerti arti pelayan itu sebetulnya seperti apa.

These ‘servants’ of God puzzled and upset me. Either they don’t take it seriously, have no understanding, have less initiative, taking it for granted, has no discipline or don’t quite grasp the meaning of being a servant.

Menyedihkan, memprihatinkan dan bahkan juga memalukan kalau kita menyebut diri pelayan Tuhan atau membanggakan diri sebagai pelayan Tuhan tapi kualitas pelayanan kita jauh lebih buruk dari pada mereka yang menjadi pelayan manusia.

It is sad, troubling and even such a shame when we called ourselves servant of God or prided ourselves as God’s servant but the quality of our service is worse than those who serve man.

Yah, ini bukan tentang agamanya atau Tuhannya. Ini tentang karakter manusia-manusianya yang harus diperbaiki.

Well, this is not about the religion or God. This is about people’s characters that need to be corrected.

No comments:

Post a Comment