Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Monday, January 21, 2013

Do Your Job

Ternganga saya melihat jalur Jl. MH. Thamrin tergenang banjir setinggi betis orang dewasa.

Saya baru mengetahui tentang banjir yang melanda hampir di seluruh kota Jakarta, bahkan sampai ke Bekasi dan Depok, setelah pulang kerja pada hari Kamis (17/1). di kantor tidak ada tv dan saya agak sibuk hari itu sehingga tidak sempat browsing berita di yahoo.

“Jalan Thamrin jadi sungai” kata nyokap waktu saya pulang.

Tidak terlalu saya tanggapi karena nyak babe suka rada lebay. Mata saya baru melotot tak percaya waktu saya melihat tayangan di tv ketika saya pergi makan bareng Andre malamnya.

“That’s awful” Andre menggumam. Parah.

My former office in MH. Thamrin St.
“Awful? It’s the worst flood that ever happened in Jakarta” Parah? Ini banjir paling buruk yang pernah terjadi di Jakarta. Masih sulit bagi saya untuk percaya jalur pusat bisnis di ibu kota bisa lumpuh karena banjir “I used to work and stayed in that area. And Hard Rock Café is located there, it's my favourite hangout place” saya pernah kerja dan tinggal di daerah sekitar situ. Dan HRC lokasinya juga di situ. Padahal itu tempat nongrong favorit

“Now even the presidential palace is no longer untouched by the flood” kata Andre ketika melihat berita menayangkan gambar istana tergenang air. 

Tapi tayangan yang membuat hati prihatin, geli dan tak percaya adalah saat gubernur Jakarta, bapak Jokowi, meninjau langsung ke saluran drainase dan menemukan kenyataan yang tidak pernah terbayang oleh beliau dan mungkin juga oleh kita semua. Saluran air itu kering. Tidak ada air. Padahal saluran itu di buat untuk mengalirkan air.

Saluran drainase itu kering karena tersumbat oleh sampah. Akibatnya air pun mengalir ke luar, menggenangi jalanan, menciptakan banjir.

“Now you look just as puzzled as he is” Andre tertawa. Kamu kelihatan sama bingungnya sama dia.

“Who would not be puzzled?” siapa yang ga bakal bingung? saya menggeleng-gelengkan kepala karena bingung “would you believe it…?” percaya ga kamu..?

“No, the people in this country don’t understand that they have their contribution for making this flood” orang-orang di negeri ini tidak mengerti kalau mereka punya andil dalam menciptakan banjir ini. Andre menatap saya dan kami berdua sama-sama mengerti maksud ucapannya tadi “look at those trash” lihat aja sampah-sampah itu.

“They blame the rain. They blame Bogor that they claimed to be responsible to send all the water to Jakarta. But they failed to see that they themselves should be held responsible for making the flood” kata saya gregetan. Mereka menyalahkan hujan. Mereka menyalahkan Bogor yang katanya jadi penyebab banjir karena mengirimkan limpahan air tapi mereka tidak sadar kalau mereka sendiri sebetulnya juga punya andil sampai banjir ini terjadi.

Saya sudah pernah menulis bagaimana saya menyaksikan orang membuang sampah sembarangan ke jalan dan bahkan ke sungai.

“I don’t know what does it take to really put some senses into people’s mind about littering” gerutu saya. Ga tau deh gimana caranya supaya bisa bikin pengertian jangan buang sampah masuk ke otak orang-orang itu.

Maksud saya, tidak seorang pun dari kita yang tidak pernah diajari tentang membuang sampah di tempat sampah dan jangan membuangnya sembarangan. Pelajaran ini kita dapatkan bahkan dari TK.

Jadi kenapa kok pengajaran yang baik itu sebagian besar bisa terlupakan atau diabaikan?

Yang saya perhatikan adalah sebagian besar berpikir toh sampah yang mereka buang ke jalan akan dibersihkan oleh tukang sapu jalanan yang dipekerjakan oleh dinas kebersihan pemerintah kota. 

Jadi kita umumnya berpikir orang lain dong yang harus melakukan tugasnya.

Lalu kita sendiri bagaimana? Goyang kaki? Cuci tangan? Lepas tanggung jawab? Masa bodoh?

Di tempat kerja saya saja contohnya. Dulu saya sempat kesal karena sering mendapati gelas plastik bekas air mineral atau bungkus kertas bekas gorengan, bungkusan bekas permen, tisu kotor sampai remah-remah makanan bergeletakan atau berceceran di meja dan lantai ruangan saya.

Enak betul ya, pikir saya gemas, nyampah di ruangan orang. Ga keliatan apa tempat sampahnya? Terlalu susahkah buat jalan sedikit ke tempat sampah itu? Atau dipikirnya biar ajalah. Toh kan ada si Keke atau bagian kebersihan kantor yang nantinya bakal ngebuangin atau ngeberesin.

Karena jengkel akhirnya saya buat tulisan ‘Jagalah Kebersihan. Buanglah sampah pada tempatnya. Terima Kasih’. Dan kertas dengan tulisan itu saya copy lalu saya tempel tidak saja di ruangan saya tapi juga di tempat-tempat lainnya.

Sejak itu saya jarang menemukan sampah tidak bertuan di ruangan saya.

Tapi yang agak mengejutkan saya adalah ketika ada seorang yang mencopot kertas itu karena menurutnya di ruangan tertentu tidak pantas ditempeli kertas dengan peringatan seperti itu. Jadi kalau ada yang meninggalkan sampah di sana maka orang itu tidak bisa dipersalahkan atau dimintai kesadarannya untuk melakukan sesuatu yang benar karena toh ada petugas kebersihan (dan juga ada si Keke) di tempat kerja saya ini.

Ketika pemikiran demikian ada di benak setiap manusia maka tidak heranlah banyak pengajaran baik yang kita terima dari sekolah, teman, orang tua atau siapa saja, yang tidak memberikan hasil maksimal atau malah sama sekali tidak memberi bekas apa pun di dalam diri kita.

Mulailah segalanya dari diri sendiri. Lakukanlah sendiri. Jangan berpikir bahwa sesuatu ini bukan bagianmu untuk mengerjakannya. Jangan berpandangan bahwa toh ada orang lain yang akan mengerjakannya.
_________________________________

I hardly believe my own eyes when I saw the news showed footage of the flood in MH. Thamrin street, Jakarta. It was knee high.

I just knew about the flood in Jakarta, Bekasi and Depok cities on Thursday (January 1st) after I arrived home and watched it on tv. There is no tv in my room at work and I was kind a busy that day that I did not browse yahoo news.

“Thamrin street has turned into a river” said my mom when I got back from work.

I didn’t take it seriously because my parents like to exaggerate things. I believed it after I saw it myself on tv when Andre and I were having dinner.

“That’s awful” Andre sighed.

“Awful? It’s the worst flood that ever happened in Jakarta” I couldn’t believe the centre business in Jakarta could be paralysed by the flood “I used to work and stayed in that area. And Hard Rock Café is located there”.

“Now even the presidential palace is no longer untouched by the flood” said Andre when the footage showed the flood reached the palace.

But the most ridiculous thing I have ever seen is when it showed Mr. Jokowi, Jakarta's Governor got inside the underground water tunnel only to find it dry. The tunnel was filled with trash that water couldn’t get in there and so it went up and flooded the road.

“Now you look just as puzzled as he is” Andre laughed.

“Who would not be puzzled?” I shook my head “would you believe it…?”

“No, the people in this country don’t understand that they have their contribution for making this flood” Andre stared at me and we both knew what he meant “look at those trash”.

“They blame the rain. They blame Bogor that they claimed to be responsible to send all the water to Jakarta. But they failed to see that they themselves should be held responsible for making the flood” I didn’t hide my upsetness.

River of Trash
I have written in some of my post how I saw people thrown trash to the street and even into the river.

“I don’t know what does it take to really put some senses into people’s mind about littering”.

I mean, we all have been taught about not to litter since we were in kindergarten. So what makes we forget some or even all the good things that were or are taught to us?

What I think people have in mind is the trash they throw to the street or the river would cleaned by the city’s public workers.

So we want other people to do the work.

And what we do? Just wash our hands off?

At my work, for example, it used to upset me when I found used mineral water glasseses, food or candy wrapper, dirty tissues, food crumbs on my desk or scattered on the floor.

How nice, I thought. Irritated. They just littered in my room. Couldn’t they see the trash can? Or was it too hard for them to walk a short distance to the trash can? Or just left it there because there would be the cleaner or Keke who would throw it away.

It annoyed me so much that I made a sign ‘Don’t litter. Please put the trash in the trash can. Thank you’. I made copies and stick it to the wall not only in my room but also in other rooms.

After that I rarely found trash in my room.

Somehow, it surprised me when somebody took it off the wall, not the one in my room, because that person’s opinion is such signage is improper to be placed in certain room. So when anybody left trash in those rooms, they can’t be held responsible or be reminded to do decent thing, a good manner thing. After all, the place employs a cleaner and Keke who can clean the trash.

When we have such way of understanding or thinking, it is no wonder if there are many good things taught by our parents, teachers, friends or anyone would bring any maximum outcome or even easily gone from our minds or consciousness.

So start it from yourself. Do your job. Don’t think that it is not your part, not your responsibility. Don’t think there are other people to do the job.

No comments:

Post a Comment