Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Monday, June 17, 2013

You Change

Belum lama berselang…

Not so long ago…

“Ka, bawa bekal?” tanya ‘adik’ saya pada Jumat (31/5) siang itu.

“Do you bring your lunch?” asked my ‘brother’ that Friday (May 31st) afternoon.

May 2012
“Bawa dong” saya berhenti mengetik. Memandangnya. Memperhatikan wajahnya. Mengamati air mukanya “Kenapa? Mau makan bareng?”

“Yep” I stopped typing on the computer. I stared at him. Studied his face “Why? Want to have lunch with me?”

“Kakak jangan pulang dulu ya. Saya mau beli makanan”

“Don’t leave. I am gonna go out to get something for lunch”

“Ya, gih, sana. Jangan lama-lama”

“Ok. Don't take long”

Kami pun makan siang bareng. Sesuatu yang dulu kerap kami lakukan tapi menjadi hal yang jarang sekali kami lakukan selama 6 bulan terakhir ini.

And so we had lunch together. Something that we had regularly but rarely do in the past 6 months.

Saya banyak bertanya selama kami makan siang bersama itu. Kapan kamu menikah? Dimana? Tinggal dimana nanti setelah menikah? Dan beberapa pertanyaan lain.

I asked him lots of question during our lunch that afternoon. When will you get married? Where is it gonna take place? Where will you live after you get married? And many other questions.

Oh, omong-omong, yang saya sebut ‘adik’ ini bukan adik kandung. Dia rekan dan teman di tempat kerja. Tapi sejak awal dia memanggil saya ‘kakak’ karena dia lebih muda 13 tahun. Lama-lama saya jadi memanggilnya ‘de’. Bukan niat memanggil ‘adik’ sebetulnya tapi menyebut huruf depan nama panggilannya. Akhirnya jadi kebiasaan.

Oh, by the way, the person I called my ‘brother’ is not my real brother. He is a colleague and a friend. He has been calling me ‘sis’ since the day we met because he is 13 years younger than me. I then called him ‘brother’, not really wanted to call him that but it has become my own  way of calling him.

Selama kami mengobrol itu saya tidak bisa tidak berpikir saya sudah tidak mengikuti hal-hal yang terjadi dalam hidupnya. Ya, saya tahu dia akan menikah. Saya mendengar selintas dari pembicaraannya dengan orang-orang lain tentang pernikahannya.

During our conversation I just couldn’t stop thinking of how much I have left behind on following the things in his life. Yes, I know he is getting married. I have heard him talked about it when people asked about it.

Tapi saya tidak menyimak. Saya hanya mendengar. Tanpa minat.

But I wasn’t listening. I just heard it. With no interest.

Siang itu saya menyadari bahwa sementara kami tetap berteman, bekerja sama dan saling memanggil ‘kak’ dan ‘dik’ tapi masing-masing sedang mengalami perubahan dalam kehidupannya.

That afternoon I realized that while we remain friends, work side by side and call each other with our affectionate call of ‘sis’ and ‘brother’ but each of us has gone through changes in life.

Dalam waktu tidak sampai setahun ada demikian banyak perubahan.

There are so many changes in less than a year.

Saya tahu itu bagian dari kehidupan.

I know changes are part of life.

Beberapa minggu lalu ‘adik’ saya ini melontarkan protesnya “Kakak kok sekarang nyebelin sih?”

Few weeks ago my ‘brother’ protested “Sis, why is it you are lately becoming a pain in the ass?”

Saya kaget juga mendengarnya. Tapi saya balik protes “Lha, memangnya kamu pikir kamu juga ga nyebelin?”

I stunned. But I snapped back “And you think you have not become an ass yourself?”

Semua berakhir dengan tawa kami setelah saya menambahkan “Sudahlah, kita saling menjengkelkan satu dengan lainnya”.

All end with the two of us laughed after I said “Heck, so we are bitching at each other”

Tapi kata-katanya itu susah saya lupakan. Bukan karena hal itu membuat saya kesal, marah atau tersinggung. Tidak. Pertanyaan itu mengganggu perasaan saya karena saya menyadari kami berubah, kami tidak lagi seperti dulu, kami tidak lagi sering mengobrol, curhat atau bercanda, kami sibuk dengan urusan masing-masing sekali pun dari luar kami tetap kelihatan dekat dan bisa mempertahankan hubungan baik.

But the truth is his words haunted me. It does not upset or offend me. Not at all. It bothers me because I realize we have changed, we are no longer like the way we were, we don’t talk, share our feelings or jokes, we are busy with our own business though we appear to remain close and in good relationship.

Tapi setelah berpikir-pikir lagi, perubahan ini membawa dampak yang baik juga bagi saya karena saya kembali mandiri secara emosi.

But after gave it some thoughts, this change is actually good for me because it makes me getting back my emotional independency.

Saya tidak mau emosi saya dikendalikan oleh orang-orang disekitar saya walau tentu saja sulit untuk tidak merasa hati terisi dengan kegembiraan yang murni ketika bertemu atau bersama dengan orang-orang tertentu.

I don’t want my emotion be controlled by the people around me although it is hard not to feel genuinely happy when I meet or be with certain people.

Tapi apa jadinya kalau orang-orang ini berubah atau tidak lagi bisa berada di sisi saya? Akankah hal itu mengurangi kebahagiaan saya?

But what happens when those people change or can no longer be by my side? Will it make me less happy?

Saya belajar untuk tidak membiarkan orang mengendalikan kebahagiaan saya.

I learn not to let people control my happiness.

Ketika ‘adik’ saya tidak lagi bisa datang ke tempat kerja saya sesering dulu, apakah itu akan mengurangi kebahagiaan saya?

When my ‘brother’ can come to my work place as often as before, would it make me less happy?

Tentu saja tidak.

Absolutely not.

Saya yang menentukan apakah saya akan merasa bahagia atau tidak.

I am the one who determines my own happiness.

Jadi jangan biarkan orang lain memegang kendali atas kebahagiaan kita.

So don’t let other people have control on our happiness.

Perubahan seringkali membawa dampak baik.

Changes often bring good impact.

No comments:

Post a Comment