Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Monday, June 17, 2013

Dancing In The Rain

“Gimana keadaan nyokap sekarang?”

“How’s your mom doing now?”

Pertanyaan biasa.

It was just a question.

Pertanyaan sederhana.

Simple question.

Karena datangnya dari seorang teman maka saya yakin itu bukan pertanyaan basa-basi.

Since it was a question from a friend, I could be sure it was not a courtesy kind of question.

Tapi setiap kali mendengar pertanyaan seperti ini, setiap kali itu pula tubuh saya memberikan reaksi yang sama; jantung saya seakan berhenti berdetak, perut saya mulas seperti ada tangan tidak terlihat yang memerasnya, rasa dingin menjalar sekujur tubuh, kaku, otak buntu.

But still, my body gives the same reactions toward that kind of question; my heart felt as if it stopped beating, my stomach felt as if it were squeezed by an invisible hand, chill ran down to my whole body, it became stiff, my mind freezes.

Karena pertanyaan demikian mengingatkan saya kepada apa yang saya lihat dan dengar setiap kali saya berada di rumah.

Because that question reminds me to what I see and hear everytime I am at home.

Dan sekalipun mulut saya berucap ‘ibu saya baik-baik saja’ tapi kenyataan yang ada tidaklah demikian.

And though my mouth says ‘my mother is fine’ but the fact is not really like that.

Sejak pulang dari rumah sakit pada bulan April, kondisinya belum kembali normal.

Eversince she was released from the hospital in April, she has not got back to normal.

Kadang detak jantungnya bisa berdetak cepat, lain waktu detak jantungnya bisa hilang-hilang.

Sometimes her heart beats so fast, in other times it is not beating normally.

Lalu selama sebulan terakhir ini pencernaannya tidak benar. Tiba-tiba bisa diare. Lalu mendadak buang air besar jadi sulit.

And it has gone for a month that she has digestive problem. She could have diarrhea out of blue. Only to follow by constipation.

Perutnya mules karena diare, jantungnya kacau.

Stomachache caused by diarrhea, it affected her heart beat.

Tidak bisa buang air besar atau berhasil buang air besar, jantungnya kacau.

Constipation too affected her heart beat.

Belum lagi keluhannya. Paniknya. Cengengnya.

Not to mention her tons of moan. Panicky. Tearful.

Ya, sakit memang tidak ada yang enak. Sakit memang menguras tenaga dan emosi. Saya tahu. Saya merasakannya. 8 bulan lamanya saya mengalami keabnormalan hormon yang menyebabkan menstruasi saya keluar tanpa memakai jadwal, keluar tanpa tahu berhenti dan dalam jumlah banyak.

Yes, nobody says it is fun to get sick. Illness sucks your energy and emotion. I knew it too well. I have been there. For 8 months I had the abnormality of hormones that caused me to have nearly unstoppable menstrual and its volume was over the normal volume I used to have.

Dalam keadaan demikian saya harus tetap bekerja karena saya satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga.

In that kind of physical condition, I had to keep working because I am the sole breadwinner.

Lalu masih pula harus melihat, mengurusi dan bergumul dengan kondisi kesehatan nyokap.

I also had to see, took care and dealt with my mother’s health problem.

Emosi saya habis-habisan terkuras.

I was emotionally drained.

Saya merasa tidak berdaya. Tidak bisa menolongnya. Tidak bisa menghilangkan penderitaannya.

I feel helpless. Unable to help her. Unable to free her from her misery.

Saya juga marah. Banyak orang yang masih harus merasakan penderitaan di masa tuanya.

I am angry too. People still have to suffer when they get old.

Bahkan bayi-bayi pun harus ikut merasakan penderitaan itu.

Even babies have to suffer.

Kematian tidak menjemput tapi tubuh habis disiksa oleh berbagai penyakit.

Death does not yet arrive, bodies in the meantime torture by various illness.

Ah, jangan ocehi saya tentang perkara karma, jangan kuliahi saya dengan faham agama mana pun, jangan khotbahi saya tentang surga dan neraka.

And don’t talk to me about karma, don’t lecture me any religion’s teaching, don’t preach me about heaven and hell.

Karena saya tidak lagi peduli dengan semua itu.

Because I no longer give a damn about those things.

Kadang kita harus menjadi sedikit gila untuk bisa menghadapi kehidupan yang gila di dunia yang gila ini.

Sometimes we have to be a little mad to be able to live this crazy life in this insane world. 


Karena orang waras mana yang mau menari dibawah guyuran hujan deras, ditengah badai, dengan petir yang menyambar-nyambar dan tiupan angin kencang.

Because which sane person would dance under  the pouring rain, in the middle of a hurricane, with the lightnings roaring in the sky and the storming wind.

No comments:

Post a Comment