Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Sunday, May 12, 2013

Stronger


Hari Kamis (9/5) saya pergi ke Sentul dan ini adalah perjalanan pertama setelah saya sakit. Rasanya luar biasa karena fisik saya sudah kembali kuat.

I went to Sentul on Thursday, 9th May and it was my first trip after my recovery. It feels so great because my body has become well thoroughly.

Sebelumnya, selama sakit, saya pasti mendoping diri dengan setidaknya dua macam vitamin setiap kali saya akan bepergian jauh atau melakukan aktivitas melebihi batas normal.

Before that I had to boost my body’s energy with at least two vitamins everytime I had to take a trip or did extra activities.

Hari Kamis itu sebetulnya saya sekalian menguji fisik karena ingin tahu apakah saya sepenuhnya sudah kembali kuat.

That Thursday I tested my body to make myself sure that it has completely back to its normal condition.

Paginya saya sama sekali tidak makan vitamin dan sarapan pun tidak banyak. Dalam perjalanan, saya hanya menyumpal perut dengan dua macam kue yang ukurannya kecil-kecil. Makan siang baru dua jam kemudian. Sungguh luar biasa bahwa sepanjang hari itu tidak ada sama sekali rasa pusing, mabok atau gemetaran seperti yang sebelumnya saya rasakan ketika saya masih sakit, padahal kegiatan pada hari itu berlangsung sampai sore dan selama dua hari sebelumnya saya agak batuk.

In the morning I didn’t take any vitamin and had light breakfast. I had only two small piece of cake on the way to Sentul and it was not until about two hours later that lunch was served. It was amazing that I felt no dizzy, had no headache nor fatigue like I used to feel when I was ill, and that Thursday was a long day indeed.

Saya pulang dalam keadaan capek tapi dibawa tidur semalam, badan ini kembali segar keesokan harinya sekalipun ada sedikit bersin-bersin dan batuk tapi itu hanya berlangsung sehari itu saja.

I went back home at the end of the day feeling so exhausted but after a good night sleep I got up feeling fresh the next day though I was sneezing and cough but it went just for a day.

Lega dan senang mengetahui badan ini sudah kembali kuat.

So relief and happy to know that my body is strong again.

Tapi saya mendapat kejutan karena selain fisik, rupanya mental saya juga harus mengalami ujian pada hari yang sama itu karena beberapa jam sebelum berangkat, ada hal-hal yang terjadi yang (kembali) menguji ketegaran saya.

But that day I got another surprise to learn that my physic was not the only one that got tested. I was mentally tested too because something happened only few hours before we left to Sentul.

Saya tidak bisa menceritakan apa yang terjadi di tempat kerja pada pagi itu. Yang dapat saya tuliskan adalah bahwa hati saya terluka. Tidak seharusnya saya mempercayai seseorang demikian cepat dan total. Saya dikecewakan. Bingung. Sedih. Tersinggung. Merasa terhina.

I can’t write what happened at work that morning. The thing I can write here is how it hurt my heart. I shouldn’t trust someone too soon and that total. I was being let down. Confused. Sad. Offended. Insulted. I felt like a fool for letting myself believed that this person really cared. It was a sad ending.

Dan saya harus menekannya, menyembunyikan rapat-rapat dalam hati.

And I had to press them down, hid it in my heart.

Seperti biasa, dari luar saya terlihat tetap ceria, lincah dan gembira. Padahal alangkah kacaunya situasi hati saya. Di Sentul, dalam ruangan itu saya duduk diam, menunduk, seakan menyimak setiap kata yang diucapkan oleh pembicara. Padahal semuanya tidak terdengar sama sekali oleh saya.

As usuall, I appeared cheerful, full of fun and happy. But deep inside my heart was in a complete mess. In Sentul, I sat quietly in the room, bowed my head down as if I was listening to every word spoken by the speaker but I heard none.

Whenever I see you, I swallow my pride and bite my tongue
Pretend I’m ok with it all, act like there’s nothing wrong
Is it over yet? Can I open my eyes?
Is this hard as it gets?
Is this what it feels like to really cry?
(Cry – Kelly Clarkson)

Seperti itulah gambaran yang terjadi dalam hati saya.

That is how to describe my feelings at that time.

Ketika acara memasuki sesi terakhir, saya memilih untuk menunggu saja di luar ruangan. Saya tidak sanggup lagi berada di dalam dan melihat orang itu. Jadi saya duduk di lobby sambil membaca koran dan mendengarkan musik dari HP, mengobrol dengan rekan kerja dan berfoto-foto. Setidak-tidaknya saya tidak melihat orang itu dan perasaan saya menjadi jauh lebih tenang.


When it came to the last session I chose to wait outside. I couldn’t be in the room and saw that person. So I sat at the lobby, read the newspaper and listened to the music on my cellphone, chatted with a co-worker and took photos. Not seeing that person helped me to regain my composure.

Suara ramai dalam ruangan ketika mereka sedang mengadakan permainan tidak mampu menggugah perasaan saya untuk masuk. Keinginan untuk mengintip pun tidak ada. Saya sudah kehilangan selera untuk berada seruangan dengan orang yang menyakiti hati saya.

All the noise from the room when they were playing games didn’t move me. I didn’t even have the desire to peek let alone to get inside of the room. I just didn’t want to see that person.

Ketika tiba waktu untuk pulang, saya bersyukur rombongan saya termasuk yang pertama meninggalkan tempat itu. Dengan demikian saya tidak berkesempatan untuk bertemu dengan orang itu.

When it was time to go back, I was so glad that I was in the first car who left that place. This made me didn’t have to meet that person.

Ada selang waktu beberapa hari sebelum kami akan bertemu lagi dan saya tahu pada waktu itu saya sudah menjadi lebih kuat sehingga dengan demikian saya akan lebih mampu mengendalikan emosi saya.

Time is on my side. I won’t be seeing him again in another few days so I am sure I will be stronger when we meet again. On that day I know I can control my emotion much better.

Yah, pengalaman saya akhir-akhir ini memaksa saya untuk menjadi lebih kuat. Dan saya tahu saya telah menjadi lebih kuat. Tidak ada satu hal apa pun dan tidak seorang pun yang akan dapat menghancurkan saya.

My recent experience forced me to be strong and I know I have become stronger. Nothing and nobody can destroy me.

No comments:

Post a Comment