Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Thursday, May 30, 2013

Knocking Down The Wall

Kunjungan saya ke rumah ibu Yayah meninggalkan segudang cerita. Soalnya saya tipe orang yang senang merenungkan hal-hal yang saya lihat dan saya alami.   

My visit to Mrs. Yayah has given so many things to tell because I like to think about the things I see and experience.

Satu dari sekian hal yang menyisakan kesan mendalam di hati saya adalah saat melihat reaksi ibu Yayah beserta keluarganya ketika saya mau datang, menginap, makan apa pun yang mereka makan dan duduk di lantai dapur bersama mereka sambil makan seperti mereka, tanpa sendok garpu.

One of the things that stays in my heart is Mrs. Yayah and her family’s reaction when I came to visit, stayed a night at their house, ate whatever meal they had, sat in their kitchen floor along with her, eating without fork nor spoon.

Satu hal yang sangat saya syukuri adalah pengalaman-pengalaman saya melatih saya untuk menjadi orang yang tidak merasa berdiri lebih tinggi dari yang lain. Saya tidak merasa turun derajat ketika saya makan atau minum di piring atau gelas yang sama dengan orang yang strata sosialnya lebih rendah dari saya. Saya tidak merasa terhina ketika orang memanggil saya dengan nama saja. Saya tidak terganggu ketika orang yang berusia atau berpendidikan jauh di bawah saya memperlakukan saya seakan saya sama dengan dirinya.

One thing I am grateful is experiences have trained me not to feel ten feet taller than other people. I don’t feel being degrading when I eat or drink from the same plate or glass with people whose social status are lower than me. I don’t feel insulted when people call me only by my name. It also does not bother me when people who are younger than me or have lower education level treat me as if I were one of them.

Semua itu tanpa saya sadari telah memberikan banyak keuntungan. Saya disukai oleh banyak orang. Saya bisa bergaul dengan siapa saja. Saya bisa melebur dengan bermacam orang dari beragam latar belakang.

All of those things have given me lots of benefit. I am likeable. I can mingle with anybody. I get along well with people who have various background.

Ya, tidak mudah tapi bukan berarti tidak bisa.

It is not easy but it is something that everyone can learn.

Kadang ada sikap atau perkataan tertentu yang membuat saya terganggu tapi saya diam, mencoba memahami bahwa semua itu bukan untuk menyakiti hati saya tapi karena pengaruh dari latar belakang orang yang berbeda dengan saya.

Sometimes they do things or say things that I find annoying tapi I remain silent, trying to understand that they don’t do it to upset or hurt me on purpose but because of their background that is not similar to mine.

Dari dulu sampai kapan pun perbedaan itu akan selalu ada. Perbedaan bagaikan tembok yang memisahkan manusia satu dengan lainnya.

Differences have always exist from time to time. Differences are like wall that divide people from one another.

Kadang kita membangun tembok di sekitar kita sehingga yang terjadi adalah ‘aku dengan kelompokku dan kamu dengan kelompokmu. Bisa saja kita hidup di kota yang sama, bekerja di tempat yang sama, bahkan beribadah di tempat yang sama pula tapi aku dengan kelompokku dan kamu dengan kelompokmu’.

Sometimes we built walls around us, creating what I call ‘I am with my group and you with yours. We may live in the same town, work in the same place, we may even go to the same worship place but I stay with my group and you with yours’

Kalau tembok itu ada di sekitar diri anda, robohkanlah tembok itu. Bebaskanlah diri anda. Hidup akan menjadi lebih berarti dan menarik tanpa kehadiran tembok-tembok itu.

If you have those walls around you, knock them down. Free yourself. Life will become more meaningful and interesting without them.  

No comments:

Post a Comment