Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Wednesday, April 16, 2014

Say I’m Sorry

Hari Minggu kemarin saya baru menyadari gara-gara salah ketik di sms akibatnya saya menempatkan dua orang bertugas di posisi yang sama.


Last Sunday I just realized typing errors in my text have resulted in making two people doing the same duty.

Lalu saya juga baru menyadari ada nama hari yang tidak saya edit.

I also realized I should edit this one name of the day.

Arrrrgggghh…

Rasanya biar pun kita sudah super duper teliti dan berhati-hati, yang namanya error tetap saja bisa terjadi.

No matter how thorough we are, we can still make errors.

Minta maaf aja, Ke, demikian nasihat seseorang pada saya, kalau itu orang marah, yah, terima.. yang penting minta maaf.

Say you sorry, Keke.. somebody gave me advice, if that person is upset, cooly accept it.. what matters is say you sorry.

Saya nyengir. Saya tidak ada masalah dengan perkara minta maaf kalau memang itu kesalahan saya. Lain ceritanya kalau saya merasa saya ditempatkan dalam posisi terdakwa atas sesuatu yang bukan kesalahan saya.


I grinned. I have no problem to say I’m sorry if I have made a mistake. It is a different story if I feel I am held to stand for something that I don’t do wrong.

Sehari sebelumnya saya kaget melihat sederet kolom kosong. Kemana perginya materi yang sudah saya berikan untuk dicetak? Jadi saya menelpon kantor pusat.

A day earlier I was surprised to see blank columns. Where did the material I have given to be printed go? So I called the central office.

Dari sekian banyak kata yang dikatakan oleh kontak saya disana.. saya mendapat kesan bahwa dia menekankan bahwa hal itu terjadi bukan karena kesalahannya. Semua materi sudah diberikannya pada perusahaan percetakan.

Of all the words said by my contact there.. it gave me the impression how this person underlined that the printing company was responsible for the error because all material has been sent to them.

Ah dodol, pikir saya antara lega, geli dan kesal, siapa juga yang nyalahin elu? Gue nelpon karena pengen tahu kenapa kok kolom-kolom ini bisa jadi kosong.

Oh, please, give me a break, I thought in my relief, tickled and troubled, who the hell point a finger at you? I called because I wanted to know why these columns are blank.

Tapi dalam hati saya kasihan juga pada kontak saya ini. Mungkin di tempat kerjanya dia terlalu sering disalahin orang sampai dia jadi parno begitu menghadapi kesalahan. Saya sudah atur supaya suara saya tidak bernada menuduh tapi dia sudah pasang kuda-kuda gitu.. hehe.. Ditembak juga belon, dia sudah pasang tameng duluan.

But it made me feel sorry for my contact who probably have been accussed too often by the people there that one error could freak her out. I set my voice to make it not sound like accusation but she was already on guard. I mean, no bullet was yet fired at her and she already put a shield around her.

Tentu saja tidak semua kesalahan dilakukan dengan sengaja. Tapi setiap kesalahan bisa membangkitkan kekesalan atau bahkan kemurkaan.

Surely not all mistake is done on purpose. But every mistake may create upsetness or even wrath.

Contohnya hari Rabu lalu (9/4). Karena hari itu dilaksanakan pemilu maka saya berangkat ke kantor tidak sepagi biasanya. Namun karena saya tetap bangun jam 5 pagi sementara tempat pemilu dilangsungkan baru mulai jam 7 maka saya punya banyak waktu sehingga saya pikir lebih baik saya memakainya untuk menyapu dan mengepel lantai.

What happened last Wednesday is an example (April 9th). It was general election day so I didn’t have to go to work early. But since I got up at the usual time, 5 am, while the election held at 7 am, it gave me plenty of time and I thought I better sweep and mop the floor.

Pekerjaan itu biasanya saya lakukan hari Selasa tapi karena saya tidak merasa fit dan siangnya saya pergi maka hari itu saya tidak menyapu dan mengepel lantai.

I usually do those house chores in Tuesday but I wasn’t feeling well and I went out in the afternoon that I couldn’t do the sweeping and mopping.

Ayah saya rutin menyapu lantai setiap pagi dan kadang-kadang mengepel tapi faktor umur membuat hasil pekerjaannya menurut penilaian saya tidak tuntas dan bersih. Jadi 1-2 kali dalam seminggu saya mengerjakan sendiri dua jenis pekerjaan itu.

My father sweeps the floor every morning and sometimes mop it. But his age makes him unable to do it thoroughly and clean, well they do not meet my standard so 1-2 times a week I do those house chores all by myself.

Jadi Rabu pagi itu sementara ayah saya menyiapkan sarapan untuk saya, cepat-cepat saya menyapu dan mengepel lantai. Setengah jam kelar. Lumayanlah lantai jadi bersih walaupun hasilnya tentu tidak seperti kalau saya kerjakan pada hari Selasa. Ya kan hari Selasa saya libur, jadi bisa mengerjakan pekerjaan rumah tidak terburu-buru.


So that Wednesday morning, as my father prepared breakfast for me, I hurriedly sweep and mop the floor. It was done in half hour. The floor was clean though not as clean as when I do that on Tuesday. Since Tuesday is my day off, I can do house chores not in a hurry.

Lewat jam 6 sore saya sampai di rumah dan mendapati lantai dapur licin. Lantai yang paginya bersih karena sudah saya sapu dan pel kenapa kok bisa jadi begini?

It was passed 6 pm when I got home and found the kitchen floor was slippery. What have happened to the clean floor I swept and mopped in the morning?

Rupanya ayah saya menumpahkan minyak goreng ke lantai.


It turned out that my father have spilled cooking oil on the floor.

Ga sengaja, Keke.

It was an accident, Keke.

Saya berulang-ulang mengatakannya pada diri saya sendiri. Tapi tak urung darah mengalir naik ke kepala saya.

I said it to myself over and over again. But still I sensed blood pumped up to my head.

Ayah saya mengatakan sudah mengepelnya tapi saya tidak tahu mengepel seperti apa.

My father said he has mopped the floor but I didn’t know how he did that.

Tetesan minyak goreng kan hanya di satu spot saja. Membersihkannya dengan menaruh koran atau lap diatasnya supaya diserap dan tidak menyebar kemana-mana. Lalu spot itu di pel dengan air panas dicampur sabun, dibilas dengan air panas bercampur cairan pembersih lantai. Saya pernah melakukan ini pada lantai yang terkena tumpahan minyak goreng.

To clean the floor that has been spilled by cooking oil is easy. Put newspaper or cloth on the spot. Mopped it with hot soapy water and wash it with hot water added with floor cleaner. I have done this before.

Jadi saya tidak mengerti kenapa seluruh lantai dapur bisa jadi licin. Sebagian dari lantai rumah pun sudah ikut jadi licin.

So it didn’t get to me how the whole kitchen floor was still slippery. Half of the floor inside has also become slippery.

Apesnya sore itu saya sampai di rumah dalam keadaan capek dan kedinginan. Bogor baru saja hujan dan anginnya betul-betul dingin.

Unfortunately I got home feeling tired and freezing. It was just raining in Bogor and the wind was chilling.

Setiap Rabu saya mampir ke rumah teman saya untuk memberi les bahasa Inggris pada putrinya. Saya mengajar les bahasa Inggris untuk menambah-nambah penghasilan. Gaji saya cukup kalau hanya untuk menghidupi diri sendiri tapi saya bekerja menanggung orang tua juga.

I stop by at my friend’s place to give her daughter English tutoring every Wednesday. I tutor English to get more money to make ends meet. My salary would be enough only to support myself but I have my parents to support as well.

Jadi mau tidak mau saya harus mencari penghasilan tambahan.

I have no choice than to find way to make more money.

Syukur-syukur kemampuan berbahasa Inggris saya bisa dijual.

I am grateful I can sell my English skill.

Tapi biar pun saya senang berbahasa Inggris dan mengajar adalah hal yang saya sukai tapi sebetulnya amat sangat melelahkan untuk melakukan pekerjaan dobel.

No matter how much I like English and love teaching but it is so exhausting to do double jobs.

Tidak heran saya sampai di rumah dengan membawa kondisi fisik dan emosi yang sudah payah.

No wonder if I got home with exhausted body and bad mood.

Jadi bayangkanlah bagaimana rasanya sewaktu saya pulang dalam keadaan demikian dan mendapati lantai dapur yang paginya bersih setelah saya sapu dan pel menjadi licin karena tumpahan minyak goreng.

So imagine how it was like when I got home in that kind of composure and I found the kitchen floor has been spilled by cooking oil.

Kalau mengikuti emosi… hadoh… rasanya mau saya menjerit-jerit.


If I lost my temper… gosh… I wanted to scream it out loud.

Tapi apalah gunanya?

But what is that for?

Saya hanya akan bikin suasana rumah jadi tidak enak. Saya bisa memicu pertengkaran dengan ayah saya.

I would only kick the peace in the house. I could have a fight with my father.

Apa untungnya buat saya?

Would it do any good for me?

Yang terjadi toh sudah terjadi. Dan apa perlunya mengomeli ayah saya untuk sesuatu yang dilakukannya tidak dengan sengaja untuk menyusahkan saya.

What have happened couldn’t be erased. And what good would it be to yell at my father for doing something he didn’t mean to trouble me.

Yang saya lakukan adalah cepat-cepat pergi tidur dan tidak mau masuk ke dapur supaya saya tidak perlu merasa semakin kesal.

What I did is went to bed early and didn’t want to go to the kitchen for not wanting to upset myself even more.

Soalnya malam itu saya sudah sangat capek. Kalau tidak pastilah saya akan bersihkan lantai dapur dengan cara saya.

I was so tired that evening. If not I would clean the kitchen floor.

Tapi tak urung malam itu ketika saya sudah berbaring ditempat tidur, sempat menetes juga air mata saya ketika teringat pada lantai dapur yang paginya saya tinggalkan dalam keadaan bersih dan sorenya..

But as I lied on my bed that night, tears flew down when I remembered how I left the kitchen floor clean in the morning and in the evening..

Siapa pun pernah berbuat salah..

Everybody make mistake..

Katakan kamu menyesal.

Say you sorry.

Dan perbaikilah kesalahan itu, kalau masih bisa diperbaiki..

And make it right, if it is possible to make it right..

Satu kesalahan yang tidak bisa saya sesali..

One mistake that I can never regret..

Saya jatuh cinta pada laki-laki lain, Andre. Saya sudah berusaha untuk mematikan seluruh rasa ini tapi saya tidak pernah berhasil melakukannya.

I fell in love with other man, Andre. I have tried to get rid this feeling but I can’t make it go away.

Saya tahu saya salah tapi saya tidak akan meminta maaf untuk itu.

I know I have done a mistake but I will not say I am sorry for that.

No comments:

Post a Comment