Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Wednesday, April 23, 2014

Girlie Girl

“Gitu dong, Ke.. kamu itu perempuan. Kamu harus jadi perempuan”

“That’s more like it, Keke.. you’re a girl. You have to be one”

Nah lo.. pikir saya sambil cengar-cengir antara geli, malu dan kikuk.. emang selama ini saya apa dong? Wadam?.. hehe..

Oh oh.. I thought as I grinned, feeling tickled, shy and ackward.. what am I all this time? a transvestite?.. hehe..

Paskah tahun ini diadakan di Kebun Raya Bogor.

This year’s Easter was held in Bogor Botanical Garden.

Dari seminggu sebelumnya saya pusing memikirkan baju yang mana yang akan saya pakai.

A week earlier.. it gave me a headache thinking what I would wear for the occasion.

Maunya sih bergaya cuek dengan kaos dan jeans. Tapi rasanya kok kurang enak juga kalau tampil terlalu santai.

Just wanted to appear with jeans and t-shirt. But would it be too casual?

Pilih sana, pilih sini. Coba yang ini, coba yang itu..

One clothes after another..

Akhirnya saya nemuin juga baju yang rasa-rasanya cocok buat dipakai pada acara itu.


Finally I found an outfit that I thought fit for the occasion.

2 hari sebelum Paskah, saya bela-belain pergi mencari sepatu yang cocok karena sepatu kets yang biasa saya pakai sehari-hari rasanya kurang pas untuk dipadukan dengan baju itu.

2 days before Easter, I went to find a matching shoes as I thought my sneakers mismatch my outfit.

Topi? Mata saya tidak tahan sinar matahari jadi saya selalu berbekal payung. Tapi masa harus bawa-bawa payung sih? Topi lebih praktis.

Hat? My eyes are sensitive to sun light so I always bring umbrella. But I didn’t feel like bringing it to the occasion. Hat is much practical.

Tas.. hmm.. kayaknya ga cocok banget bawa ransel. Ma, pinjam tas mama yang kecil ya.. hehe..

Bag.. hmm.. backpack seemed unfit. Mom, can I borrow your small handbag.. hehe..

Secara keseluruhan saya nilai penampilan saya cukup santai tapi tidak terlalu santai, cukup manis tanpa meninggalkan ciri khas gaya tomboy saya.


Speaking generally, I thought my appearance would be casual but not too casual, sweet but without leaving my tomboy trade mark.

Yang tidak saya duga adalah saya jadi kelihatan luar biasa beda karenanya… hehe..

What I didn’t expect is those outfit made me appeared so different… hehe..

Saya ini tomboy dan saya juga tidak terlalu peduli dengan urusan penampilan.

I am a tomboy and I don’t really care about appearance.

Tapi orang sering salah berpikir bahwa karena sikap, kelakuan, rambut pendek dan gaya berpakaian saya kelaki-lakian serta saya tidak pernah membawa pacar maka saya bukan perempuan atau mungkin saya perempuan abnormal.

But people mistakenly thought that since my attitude, my short hair and the way I dress are very much of a tomboy and I never bring my boyfriend so I am not a girl or that make me an abnormal girl.

Saya tidak tahu apa ke-tomboy-an saya ini ada hubungannya dengan keinginan ayah saya untuk memiliki anak lelaki sebagai anak pertamanya.


I don’t know if my father’s wish to have his first child to be a son has thing to do in making me a tomboy.

Tapi saya tidak pernah dibesarkan untuk menjadi anak lelaki. Orang tua saya memperlakukan dan membesarkan saya sebagai perempuan. Semasa kecil saya punya banyak boneka dan rok.

But I was not raised to be a boy. My parents treated and raised me as girl. I had plenty of dolls and skirts as a child.

Malah ada periode waktu yang cukup panjang ketika saya senang tampil sebagai perempuan sebelum kemudian merasa lebih nyaman dengan gaya tomboy dan jadilah kembali ke bawaan alami yang memang sudah demikian adanya.

There was even a quite long period of time when I enjoyed appear as a girl before I  finally concluded being a tomboy fits my true character.

Dan bukan berarti saya tidak punya rasa tertarik pada laki-laki. Umur 15 tahun saya sudah pacaran. Jadi ya, mantan pacar saya lumayan juga banyaknya kalau mau dibikin daftar.. hehe..


And don’t assume that I have no feeling of attraction toward male. I had my first boyfriend when I was 15. So yes, I had quite many ex-boyfriends if a list is drawn.. hehe..

Hanya saja satu hal belum berubah dari dulu sampai sekarang dan itu adalah saya tidak mudah jatuh cinta.

One thing remains the same, ever, and that is.. I am not easily fall in love.

Lelaki-lelaki yang pernah atau sedang menjadi pacar saya adalah mereka yang lebih dulu tertarik pada saya dan kemudian menyadari bahwa memerlukan waktu untuk bisa membuat saya tertarik pada mereka.

The men who become my boyfriend in past or present time are the ones who feel attracted to me and then realized that it took time to make me attracted to them.

Karena saya baru akan merasa tertarik pada seorang laki-laki kalau saya melihat sifat-sifat kami bisa berjalan dengan harmonis. Kalau tidak, saya akan menerimanya hanya sebagai teman atau saudara, tidak peduli orangnya amat sangat menarik dari segi fisik atau memiliki segudang kelebihan.

It is because I feel attracted to a man after I see our characters can walk harmoniously. If not, I would only accept him as a friend or a brother, no matter how attractive he might be physically or having so many things is in his possession.

Lalu apakah karena kelakuan saya kelaki-lakian maka saya tidak memiliki hasrat kewanitaan?

Would my boyish attitude make me not having female’s passion?

Saya tetaplah perempuan normal. Ketika seorang laki-laki menyentuh saya.. apalagi kalau dia seorang yang saya sukai, sentuhan selintas saja bisa bikin jantung saya berdetak tidak karuan, kaki saya gemetar, darah saya mengalir lebih kencang sampai membuat saya merasa ingin melompat-lompat dan pikiran saya mendadak jadi kosong atau malah jadi kacau.


I am still very much a normal girl. When a man touches me.. especially if he is somebody whom I like, a slight touch can make my heart beats like crazy, my feet shaken, my blood runs faster it makes me feel like jumping and my mind turns blank or I just can’t think straight.

Itu sebabnya saya takut berada di dekat laki-laki yang saya sukai. Saya memilih untuk menghindarinya. Takut saya tidak bisa mengendalikan perasaan.

It is why I am afraid to be around the man I like. I choose to avoid him. Afraid I'd loose control on my emotion.

Dengan bertambahnya usia, pengendalian diri saya semakin baik sehingga sekali pun saya merasakan semua gejala-gejala itu tapi saya mampu menahannya, bisa menampilkan muka dan sikap biasa-biasa saja. Atau saya akan menyamarkannya dengan humor. Kalau saya merasa saya tidak sanggup menahan atau mengendalikannya, barulah saya pergi menghindar.

As I grow older, my self control improves that though I feel those symptoms, I can control them, I can set my face and attitude as if I don’t feel a thing. Or I can cover them with humor. Only when I feel it too powerful than what I can handle, I retrieve.

Masih belum percaya juga kalau saya ini perempuan normal? Kalau begitu anda harus tanya Andre, waktu dia mencium saya, dia merasa dia sedang berciuman dengan seorang perempuan atau dengan seorang laki-laki… hahaha..


Still have doubt whether I am a normal girl or not? If so, well, you have to ask Andre, when he kisses me, does he feel he kisses a girl or a man… hahaha..

Saya tidak perlu untuk membuktikan apa pun. Setiap manusia tercipta unik. Saya unik. Anda unik.

I have no obligation to prove anything. Every human being is unique. I am unique. You are unique.

Gaya saya mungkin membuat orang bertanya-tanya apa saya perempuan atau bukan, apa saya normal atau tidak.. tapi buat saya, bagaimana saya menjadi seorang individu adalah lebih penting karena apalah gunanya saya menjadi seorang perempuan feminin tapi sifat dan kepribadian saya lebih banyak mendatangkan dukacita dari pada sukacita pada orang-orang disekitar saya..

My style may make people question if I am a girl or not, if I am normal or not.. but for me, what makes me a person is more important because what good would it make if I were a feminine person but my characters and personality bring sorrow than happiness to the people around me…

Ssst... tapi sekali-sekali asyik juga tuh tampil jadi perempuan.. hehe.. kasih kejutan ke orang-orang.

Ssst... it is fun anyway to dress up like a girl once in a while.. hehe.. to surprise people.

No comments:

Post a Comment