Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Wednesday, October 31, 2012

Stone & Paper


Batu sudah pasti akan mengalahkan kertas. Setebal apa pun kertasnya, mana bisa menandingi batu?. Akan tetap robek bila di lempar atau ditimpakan batu.

Saya berkepribadian seperti batu. Kokoh. Keras. Tegar. Sulit untuk mengalah. Susah untuk memaafkan. Penaik darah. Pemberang. Bukan orang penyabar. Mudah tersinggung. Saya memang sudah belajar untuk menguasai diri tapi semua itu adalah sifat-sifat dasar yang tetap ada dalam diri saya.

Tapi apakah anda pikir saya akan menghancurkan siapa saja yang berdiri di depan saya atau yang merintangi jalan saya?

Beberapa hari lalu saya menyadari bahwa seseorang berkepribadian seperti kertaslah yang mengalahkan saya.

Dia adalah seorang yang beberapa kali membuat saya gregetan karena melihatnya tidak bisa tegas dalam sikon dimana dia harus bersikap tegas. Tapi kami berdua bersahabat, berteman akrab, rekan kerja dan menjadi seperti saudara selama setahun tiga bulan ini.

Kami berbagi tanggung jawab dalam pekerjaan, berbagi rahasia, berbagi cerita, berbagi beban dalam hati dan berbagi kekonyolan dalam kesamaan rasa humor. Kadang (sangat jarang terjadi), kami saling mengesalkan hati seorang dengan lainnya. Tapi seringkali kami menjadi sekutu oleh karena rasa senasib bekerja di tempat yang sama, dipersatukan oleh karena harus menghadapi sikon dan orang-orang yang sama selama 6 hari dalam seminggu.

Beberapa hari lalu dia mengesalkan hati saya oleh karena soal pekerjaan. Saya tidak mengandalkan dia sepenuhnya tapi karena menganggap kami adalah satu tim dalam beberapa pekerjaan maka saya membutuhkan perannya tidak hanya untuk memberi input tapi juga untuk melakukan cek dan ricek.

Ketika saya bekerja di sebuah perusahaan yang salah satu bisnisnya adalah menerbitkan buku telpon berbahasa Jepang, lima orang anggota divisi yang menjalankan bisnis ini bekerja sama mengecek draft dari buku telpon itu.

Jadi proses cek dan ricek draft di mulai dari si Jepang, kemudian draft itu diteruskan ke managernya untuk di cek ulang, lalu diserahkan ke saya untuk kembali di cek, setelahnya kepada tenaga marketing kami dan yang terakhir adalah seorang staff kami.

Pengecekan berlapis-lapis seperti itu sengaja dilakukan sebelum draft naik cetak karena mata seseorang belum tentu bisa mengindentifikasi kesalahan pada pencantuman data (nama perusahaan, alamat, telpon dll) atau kesalahan pengetikan. Bahkan si Jepang yang terkenal super duper teliti itu pun tidak mau ambil resiko dengan hanya mengandalkan dirinya yang melakukan pengecekan tersebut. Dia melibatkan kami semua yang ada di divisinya.

Nah, barulah setelah melalui proses cek dan ricek yang berlapis-lapis tersebut, draft itu naik cetak.

Ada bagian dalam pekerjaan saya yang melakukan hal seperti ini tapi walaupun judulnya juga ada pengecekan, sesungguhnya bisa dikatakan hampir seluruhnya yang mengerjakannya adalah saya. Dan dari sekian banyak orang yang minta dikirimi draft untuk (katanya) di cek, hanya seorang yang betul-betul melakukan pengecekan.

Yang seorang lagi, yang saya harapkan untuk melakukan pengecekan berlapis adalah teman saya ini. Dan saya memaksanya untuk mengecek tidak hanya sekali. Tapi dua kali. So, ketika cetakan itu sudah jadi maka semua isinya saya kategorikan sudah atas sepengetahuan termasuk sudah melalui pengecekan dia.

Toh, masih tidak sempurna. Dan semua protes serta kritikan atas kesalahan itu jatuh kepada saya. Bahkan saya rasa banyak yang mengira karya cetakan itu sepenuhnya adalah tanggung jawab saya. Bukan tanggung jawab dan kolaborasi satu tim. 

Saya berbesar hati untuk menerima semua kritikan dan protes seakan cetakan itu adalah hasil pemikiran, hasil kerja serta hasil karya saya dan dengan demikian menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya (FYI, pujian minim sekali saya terima -nyaris tidak ada- bila cetakan itu baik dan tidak ada kesalahan)

Entah kenapa, mungkin lama-lama muak juga saya jadinya.

Saya menekan dan menyembunyikan perasaan ini.

Tapi pagi itu ketika teman saya mengatakan saya salah mengetik tanggal tertentu dalam kolom info, saya meradang. Karakter batu saya naik ke permukaan. Saya jengkel, kesal, sebal, tersinggung, hati saya panas, bergolak sejadi-jadinya tanpa bisa saya kendalikan lagi.

Pikir saya, apa dia tidak melihat kesalahan itu pada waktu dia mengecek cetakan itu? Lalu sekarang kenapa baru protes? Kalau kayak begini, buat apa saya minta dia mengecek?. Dan kekesalan saya bertambah-tambah ketika datang orang lain yang ikut ‘berbaik hati’ menunjukkan kesalahan yang sama.

Saya telah mempelajari fakta bahwa orang tanpa malu dan ragu menunjukkan kekesalan dan kemarahan mereka kepada saya dibandingkan kepada orang-orang lain yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari saya. Bahkan beberapa berpikir bisa menjadikan saya sasaran stress atau ke-bete-an mereka tanpa di rem lagi. Dan saya seperti tidak mempunyai hak untuk membela diri dan menyatakan bahwa saya tidak bersalah. Walau kemudian ada yang meminta maaf tapi hal seperti itu terjadi lagi.

Dan teman saya serta orang-orang di tempat ini agaknya tidak menyadari tentang hal-hal tersebut.

Setelah dia pergi, saya menghentakkan kaki dan meninju tembok di dalam kemarahan dan rasa frustrasi saya. Asal tahu saja, ini kebiasaan saya kalau sudah merasa terlalu marah.


Aduh, saya tahu karakter batu itu meloncat keluar. Tapi saya tidak punya kendali. Saya berjalan hilir mudik dalam ruangan saya, merepet sendirian, mengomel, merutuk dan berupaya dengan segala susah payah untuk mendinginkan hati serta pikiran.

Ketika dia kembali siang harinya, saya belum sepenuhnya pulih dari kekesalan itu.

Tapi setelah mendengar ‘kicauan’ saya tentang apa yang saya rasakan, yang dilakukannya  kemudian adalah dengan tulus dan spontan meminta maaf, memberikan saya sebuah permen dan dengan gaya konyolnya yang sudah sangat saya kenal itu mengajuk hati saya.

Saya menundukkan kepala dalam-dalam. Tidak berani mengangkat kepala karena tanpa dapat saya cegah, air mata sudah memenuhi mata saya dan saya tidak mau dia melihat saya menangis. Aduh mak, malu ah.

Kemarahan dan kekesalan saya hilang lenyap karena kelemahlembutannya. Caranya yang demikian sederhana dan konyol itu anehnya mampu melunakkan hati saya. 

Saya hampir tak percaya bahwa batu itu tidak merobekkan kertas. Justru dalam kerapuhannya, kertas itu membungkus batu dan mengalahkan, menundukkan serta  melembutkannya.

Tidak sampai lima menit kemudian kami sudah kembali bercanda, saling meledek,  tertawa-tawa dan mengobrol seperti yang selalu kami lakukan. Tidak tersisa kekesalan atau kemarahan dalam hati saya.

Yah, siapa kira kalau batu dan kertas bisa saling membutuhkan.
_________________________________________

Stone will definitely tear off the paper. It does not matter how thick the paper is, a stone can easily rip it off.

I am a stone. Strong. Hard. Tough. Stubborn. Not easy to forgive. Short tempered. Impatient. Touchy. So over the years I have learned how to control them but they are still exist in me.

But do you think I would destroy anyone who stands infront of me or get into my way?

Few days ago I realized somebody who has paper type of personality, has tamed me.

He is somebody who has made me itchy to see him unable to stand firm when he should be firmed. But we both are friends, good buddies, co-worker and have even turn like siblings.

We share responsibilities at work, we share secrets, stories, burdens and jokes as we also share the same sense of humor. Sometimes (which is rare) we also make each other upset. But most of the time we have become allies, bound by the feelings of ‘in the same boat’ for having to deal with same situation and people for 6 days a week at this work place.

Now, few days ago he upset me over work. I know don’t rely on him fully but I thought since we are team then I am not expecting to get just input from him but I also need him to check this printing matter.

The Japanese company where I worked in 1998 published Japanese phone directory as one of its business. Before the draft was sent to printing company, five people who worked at its publishing division took turn on making layers of checking on the draft.

The checking process went from our Japanese boss, down to the manager, to me, to our marketing staff and the last went to an administrator.

That kind of checking was made because one person wouldn’t able to spot all the misprinting. Even our Japanese boss who was known for being very thorough didn’t want to do all the checking by himself. He just didn’t want to take the risk he might miss the misprinting so he recruited his staff to help him with the checking.

The draft went to the printing company after it got through those layers of checking.

Part of my present work involves me in publishing a printing matter. But when it comes to do the checking, you can say I do it all by myself because of the people who asked me to email them the draft so they can do the checking, well.., only one of them who really does it.

The one person whom I asks to do regular checking and rechecking is this friend. I am not only asking. I am forcing him to do not only once. So when it is finally printed I consider the content is all under his knowledge and has also passed his checking.

Still, it is imperfect. And all protest or critics be fallen upon my shoulder. Infact I think many thought the printing is my project and not the work and collaboration of a team.

I accept all input and critic given with big heart as if I single handedly came with the idea to do it as it were my project, my idea, my work and therefore my responsibility (FYI, little, zero praise when it came with no misprinting).

Well, I guess, I feel sick of it eventually..

I surpressed and hid the feelings though.

But that morning when he came to me and said I have mistyped his leave dates on the info column in that printing matter, I blew up. The stone came to the surface. I felt terribly upset, offended and just went mad. They just flooded out.

I thought didn’t he spot the mistype when he did the checking? If so, what good would it make to ask him to do it?. I became more upset when another person came and ‘kindly’ mentioned about the mistype.

I have learned the fact that people addressing their upsetness, critics or objection with no hesitation to me. They don’t do so to those who have higher position than me. Some people even think they can treat me like a sandsack that they can punch upon when they feel stress. And I was made as if I had no right to defend myself and stand on my innocence. Yes, so I occassionaly received an apology but the same thing is bound to happen again.

Somehow my friend and the people in this place seem don’t realize this.

So after he left, I stomped my feet on the floor as I walked around my room and punched the wall hard. It is what I would do to let out my anger and frustration.

I helplessly saw my stone characters came to the surface. I had no control of it so I walked around in my room, grumbling, swearing, cursing and tried in vain to cool myself down.

I haven’t completely overcome the upsetness when he returned at noon.

But after heard me talked about how I felt and of my point of view, he sincerely and spontaneously apologized, gave me a candy as he said he was sorry with his comical style that I have known so well.

I bowed my head down as tears just filled my eyes. Afraid that he would see them. I tried to get rid those tears without wiped them off or he would know I was crying. How embarrassing it would be, right?.

All the anger and upsetnes were gone. His gentleness has melted my heart. Though his way was silly but he just got a way to knock the stone into pieces. I cried because I was touched by his gentleness and patience.

I hardly believe to see the stone does not destroy the paper. On the contrary, it is the paper with all of its vulnerability wraps the stone and softened it.

Less than five minutes later we have joked around, teased each other, laughed merrily and had a conversation as we like to do on daily basis. No signs of anger left in my heart and mind.

I am still amazed to see how paper has knocked out the stone.

And how neat it is to see how the stone and the paper need each other.

No comments:

Post a Comment