Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Thursday, November 5, 2015

Hello, Granddaughter

Semua berawal dari obrolan antara saya dengan istri dari keponakan saya di whatsapp pada hari Rabu, 28 Oktober.

It all started with a conversation between me and my nephew’s wife in whatsapp on Wednesday, 28th October.

Obrolan yang berakhir dengan janji saya untuk datang ke rumah mereka hari Minggu, 1 November.

The conversation that ended up with me promised her to come to their place on Sunday, 1st November.

*  *  *  *  *

Minggu, 1 November.

Sunday, 1st November.

Paginya saya mengirimkan pesan whatsapp ke Yani, istri keponakan saya, untuk memberitahunya bahwa saya akan berangkat dari kantor sekitar jam 12 siang.

Natal 2012. Kiri ke kanan: ibu saya, keponakan saya (Jebby), almarhum sepupu saya (ibunya Jebby),
Yani (istri Jebby) & saya
Christmas 2012. Left to right: my mother, my nephew (Jebby), my late cousin (Jebby's mother), Yani (Jebby's wife) & me
In the morning I sent whatsapp message to Yani, my nephew’s wife, to tell her that I would leave the office at around noon.

..Mendekati tengah hari..

..Approaching noon..

Alamak… ini orang-orang rapat kok ya lama banget.

Geez.. what has made this meeting go so long.

Untung akhirnya pada pulang juga. Seperti biasa, saya orang terakhir yang meninggalkan kantor dan siang ini saya langsung kabur ke stasiun kereta.

Finally they all left. As usual I am the last person to leave the office. This afternoon I went directly to train station.

*  *  *  *  *

Jangan pernah menyerah?

Never give up?

Sudah jam satu ketika saya sampai di stasiun dan.. aduh, keretanya cuma ada dua..


It was already one in the afternoon when I got at the train station and.. oh no, there were only two trains..

Yang mana duluan yang berangkat? Berhubung saya turun di Depok Baru, saya bisa naik kereta yang mana saja. Yang penting, yang berangkat duluan yang mana nih?

Which one would leave first? Since I’d get off at Depok Baru station, I could take any train. The most important thing is, which train would leave first?

Petugas yang saya tanya menunjuk ke arah satu kereta.

The officer whom I asked pointed at one train.

Waduh.. keretanya sudah mulai penuh. Masih bisa ga ya saya dapat tempat duduk?

Oh no.. the train was starting to get crowded. Could I get an empty seat?

Soalnya biar pun stasiun tujuan saya terhitung dekat tapi saya tidak mau berdiri dan terhimpit manusia. Berdiri sih tidak masalah kalau kondisi saya sedang fit.

Because though my stop is not far but I wasn’t in the mood to stand and be squeezed by people. Standing is not a problem as long as I am in good physical condition.

Siang itu saya belum makan. Jam 5 pagi saya sarapan hanya dua sendok nasi dengan telor rebus. Sekitar jam 9 pagi saya makan bubur dan jam 1 siang itu perut saya masih terasa kenyang.

I haven’t had lunch in that afternoon. I had only two spoon of rice and boiled egg. I had porridge at around 9 am and at 1 pm I haven’t felt hungry.

Nah, masalahnya perut dan tekanan darah saya selalu berbeda pendapat.

Now, the thing is my stomach and my blood pressure have always disagree with one another.

Perut bilang ‘aku belum lapar’ tapi tekanan darah bilang ‘peduli amat elu sudah lapar atau belum, aku perlu kalori buat bikin enerji’.

The stomach says ‘I’m not hungry’ but the blood pressure says ‘who the hell cares whether you are hungry or not, I need calory to make energy’.

Saya tentu saja lebih memperhatikan suara si perut, apalagi kalau sedang sibuk atau lagi stress, selera makan saya hilang total.

I certainly put more attention to my stomach’s voice, especially when I am busy or under stress, I totally lost my appetite.

Kalau tekanan darah saya sudah protes dengan membuat badan saya terasa dingin dan melayang, sakit kepala, pandangan terasa berkunang-kunang atau malah jadi gelap selama beberapa detik, jalan jadi oleng.. nah, baru deh saya mau mendengarkan suaranya.

Only after my blood pressure protest by making my body feels cold and giving shots of fatigue, headache, dizzy or having blackout for few seconds, can’t walk straight.. it is when I listen to its voice.

Tekanan darah saya memang rendah dan gampang sekali anjlok.

My blood pressure is low and easily drops.

Kalau dia turun saat saya di rumah atau di kantor sih tidak jadi masalah. Tapi bahaya kalau saya sedang dalam perjalanan dan sendirian pula.

It is not really a big deal if it drops low when I am at home or at work. It is a different thing if it happens when I am not in either home or work and all by myself.

Biasanya saya berbekal makanan yang manis seperti roti atau coklat. Tapi siang itu saking terburu-buru karena tidak mau terlalu sore sampai di rumah keponakan saya supaya tidak terlalu kemalaman ketika kembali ke Bogor, saya lupa bawa bekal makanan. Saya baru ingat waktu sudah naik ke kereta.. masa saya mau turun lagi cuma buat beli roti? Keretanya keburu jalan deh.


I usually bring some sweet snack such as bread or chocolate. But that afternoon I was in a hurry for not wanting to get at my nephew’s place late in the afternoon and I also didn’t want to go back to Bogor late at night, so I forgot to bring any snack. I remembered about it when I was already boarded the train.. I couldn’t get off just to buy some bread. The train would then leave without me.

Jadi ya maju terus pantang mundurlah. Tapi saya harus menemukan tempat duduk.

So no backing off. But I must find myself a seat.

Dan saya melihat seorang ibu tersenyum pada saya dan memberi kode. Dia menyisihkan sedikit ruang supaya saya bisa duduk disampingnya. Horeee!!.. terima kasih banyak!

And I saw a lady smiled to me and made a gesture. She made a little room so I could sit next to her. yippee!!.. thank you so very much!

*  *  *  *  *

Perjalanan panjang.

A long ride.

Siang itu saya betul-betul merasa jarak Bogor-Depok itu lebih jauh dari Bogor-Ambon.

That afternoon I really felt Bogor-Depok was much farer than Bogor-Ambon.

Menunggu sekitar lima belas menit atau mungkin lebih, eh, terdengar pengumuman yang membuat saya dan ibu yang duduk disebelah saya, si ibu yang berbaik hati menyisihkan tempat supaya saya bisa duduk, saling berpandangan.

Waiting for about fifteen minutes or probably longer, there was an announcement that made me and the lady next to me, the kind lady who made room for me to sit, looked at each other.

Hah? Kereta yang disana itu yang akan berangkat duluan?

Huh? The train that would leave first was the one over there?

Tanpa dikomando, kami berdua meloncat dan terbirit-birit pindah ke kereta itu.

No commands needed to be given, the two of us got off and ran like hell to that train.

Untung kami dapat duduk lagi dan tidak berjauhan.

We were lucky to get a seat and not far from each other.

Lima belas menit kemudian.. heleh, kapan berangkatnya ini kereta?

Fifteen minutes later.. damn, when is this train going to leave?

Pengumuman terdengar lagi. Kereta yang akan berangkat duluan adalah kereta yang pertama saya naiki tadi.

Another announcement. The train that would leave first was the first train I was taking.

Sinting! Sinting! Sinting!.. 

Crap! Crap! Crap!..

Ibu yang tadi menyisihkan tempat duduknya untuk saya di kereta pertama, sampai tertawa geli. ‘Kamu mau pindah lagi?’ tanyanya ke saya.

The lady who made some room for me to sit in the first train, couldn’t help herself not to laugh. ‘Would you change train again?’ she asked me.

Waduh, ga deh, terima kasih banget. Badan saya tidak kuat diajak lari keluar dan naik ke kereta lain. Lagi pula, kereta pertama itu sudah penuh.

Oh no, no, thank you. I couldn’t force my body to get off the train and get into another train. Beside, the first train was already crowded with people.

Saya menghela napas panjang dan memejamkan mata.

I took a deep breath and closed my eyes.

Duh, Zizi, perlu perjuangan panjang buat ketemu kamu.. 

Gosh, Zizi, it takes quite an effort to meet you..

Ketika akhirnya kereta berangkat juga sekian menit kemudian, saya belum mengetahui bahwa memang benar-benar memerlukan perjuangan dan perjalanan panjang untuk bertemu dengan cucu saya itu.

When the train finally left some minutes later, I haven’t got a clue that it really took one hell of a fight and long ride to meet my granddaughter.

*  *  *  *  *

Ok, ada dimanakah gerangan saya?

Ok, where in the hell am I?

Semua lancar dari mulai turun di stasiun Depok Baru sampai ke terminal bis. Tantangan berikutnya adalah menemukan angkot 09.

Everything went smooth by the time I got off at Depok Baru station to the bus station. Next challenge was to find 09 angkot.

“Oh, ada di ujung sana, neng” kata bapak yang saya tanya.

“Oh, you can find it over there” said the man whom I asked.

Saya berjalan mengikuti arah yang ditunjukkannya.

I walked in the direction he gave me.

Tapi omong-omong, mana angkotnya, bray? Sampai sudah di ujung terminal kok belum kelihatan juga? Yah, sudahlah, jalan aja terus ngikutin jalanan ini. Kalau belum ketemu juga kan bisa nanya orang.


But by the way, dude, where is the angkot? I have got to the end of the station and there is no sign of it. Oh well, just keep going. I could ask people if I haven’t found it.

Di ujung jalan keluar terminal.. yee, itu dia angkotnya.

At the street outside the station.. so there is the angkot.

“Pak, saya turun di Alhidayah” kata saya pada supirnya. Untung saya penumpang pertama jadi bisa duduk di depan.

“I am getting off at Alhidayah” I told the driver. I was lucky to be the first passenger so I could sit next to the driver.

“Alhidayah?” di luar dugaan saya, supir itu mengerutkan kening. Berpikir.

“Alhidayah?” surprisingly, the driver looked like he was thinking hard.

Sebagai catatan, jangan percaya kalau dikatakan semua supir angkot atau supir bis tahu setiap nama jalan atau tempat yang tiap hari dilaluinya.

Please take a note, don’t believe if you’re told that all angkot or bus driver knows every road name or places that he passes everyday.

Soalnya saya sudah beberapa kali mengalami hal seperti ini.

I have several time experienced this kind of situation.

Dan ini juga bukan pertama kalinya saya diturunkan di tempat yang salah.

And this wasn’t my first experience to be dropped in the wrong place.

Perasaan saya langsung tahu kalau itu bukan tempatnya sekalipun gang dimana saya turun bertuliskan nama Jl. Mesjid Alhidayah.

I just knew that it was not the right place though the alley name shown Mesjid Alhidayah.

Jadi saya menelpon Yani, istri keponakan saya, untuk menanyakan apa saya berada di tempat yang tepat. Kalau memang tidak, berapa jauh lagi saya dengan rumahnya?

So I called Yani, my nephew’s wife, to ask if I was in the right place. If I was not, how far is my position with her place?

Dia tidak mengenali posisi dimana saya berada.

She didn’t have the clue where I was.

Jadi saya berjalan dan menemukan Indomaret Studio Alam. Saya kembali menelpon Yani untuk memberitahu posisi saya ada di depan Indomaret itu. Dia masih juga bingung. Tempat itu tidak dikenalinya.

So I walked straight until I found a convenient store, Indomaret Studio Alam. I called Yani again to inform her about my position. She still lost. She didn’t know that place.

Ok guys, kayaknya ini waktunya untuk mulai senewen.

Ok guys, it looked like was time to start feeling nervous.

Sudah dua tempat yang saya sebutkan dan dia masih tidak mengenalinya jadi berarti saya nyasar entah ada dimana.

I have told her two places and she still unable to locate it so I guess I was in the middle of nowhere.

Saya berjalan lagi dan menemukan sebuah sekolah TK-SD Karakter Bangsa. Saya menelpon Yani lagi dan menyebutkan nama sekolah itu.

I walked again and found a school TK-SD Karakter Bangsa. I called Yani again and told her about the name of that school.

Keponakan saya sudah berangkat untuk menjemput saya.

My nephew has left to pick me up.

Lima belas menit berlalu.

Fifteen minutes passed.

Saya menyenderkan diri ke tembok sekolah. Kepala saya mulai pusing tapi bukan itu yang saya khawatirkan.

I leaned to school’s wall. I started to get dizzy but that was not what made me worry.

Angin mulai bertiup, makin lama makin kencang dan dingin, meniupkan debu dan langit mulai mendung, makin lama makin gelap. Tidak salah lagi, hujan bisa turun kapan saja.

It started to get windy, it got stronger and colder from time to time, the dust was whirling and the sky got darker, it was cloudy. It would rain anytime, no doubt about that.

Saya mengambil keputusan. Kalau sampai jam 4 lewat lima menit dan belum juga keponakan saya datang, saya akan balik pulang.

I made a decision. If my nephew still haven’t come until 4.05 pm, I would go back.

Jam 4.05 saya menyeberang jalan dan menunggu angkot 09. Sudah mulai gerimis kecil. Angkotnya kok ga datang-datang ya. Gawat kalau keburu turun hujan.

4.05 pm I crossed the street and waited for 09 angkot. It started to drizzle. Where the hell is that angkot? I didn’t want to be caught by the rain.

Dan tiba-tiba saja sebuah motor berhenti di depan saya. Jebby, keponakan saya, tampak lega melihat saya.

And suddenly a motorcycle stopped infront of me. Jebby, my nephew, looked so relieved to see me.

*  *  *  *  *

Halo, Zizi.

Hello, Zizi.

Segala kekesalan, kebingungan, kelelahan dan bahkan sakit kepala saya pun langsung hilang begitu saya melihat Zizi, cucu saya yang berusia sepuluh bulan.


All of the upsetness, confusion, exhaustment and even my dizziness were gone the moment I saw Zizi, my ten months old granddaughter.

Begitu jauh jarak yang harus saya tempuh untuk bisa bertemu dengan keponakan saya, istrinya dan anak pertama mereka.

I have taken a long way to meet my nephew, his wife and their first child.

Dan saya teringat pada almarhum sepupu saya, ibu dari keponakan saya yang tidak sempat melihat Zizi karena dia meninggal sebelum Zizi lahir.

thn 1950an. Kiri ke kanan: ibu saya, almarhum sepupu saya & almarhum ibunya (kakak dari ibu saya)
in the 1950s. Left to right: my mother, my late cousin & her late mother (my mother's sister) 
thn 1990an. Kanan ke kiri: almarhum sepupu saya, ibu saya & almarhum ibu dari sepupu saya
in the 1990s. Right to left: my late cousin, my mother & my late cousin's mother
And I was remembered of my late cousin, mother of my nephew, who had not seen Zizi because she passed away before Zizi was born.

Sore itu Yani, orang tuanya dan keponakan saya meminta saya untuk menginap saja di rumah mereka. Mereka mengkhawatirkan saya kalau saya kemalaman sampai di Bogor. 

That evening Yani, her parents and my nephew asked me to stay there for the night. They worried it would be late at night when I got back in Bogor.

Jadi deh, saya dipinjami celana pendek Yani, kaos keponakan saya, tidur enak di tempat tidur mereka sementara keponakan saya tergusur tidur di lantai kamar.. hehe, sori, Jeb.. dan besok paginya kakak Yani dengan rela mengantarkan saya ke stasiun kereta api, padahal hari Senin itu biasanya dia harus buru-buru berangkat ke kantor. 


Monday, 2nd Nov 2015, 6.45 am, Pondok Cina train station.
Waiting for the train to take me back to Bogor
So Yani lent me her shorts, my nephew gave me his tshirt, I slept on their bed while my nephew slept on the floor.. lol, sorry, Jeb.. and the next morning Yani's brother drove me to train station even though usually he hurriedly goes to work on Monday morning.

Almarhum sepupu saya akan gembira kalau dia tahu cucunya berada diantara dan dibesarkan oleh orang-orang yang baik ini.

My cousin would be happy if she knew her grandchild is among and raised by these kind and wonderful people.

Yang pasti saya gembira karena memiliki satu keluarga lagi.

One thing for sure is I am happy to have one more family.

No comments:

Post a Comment