Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Sunday, May 27, 2012

Ulang Tahun Paling Berkesan / Most Memorable Birthday

“Hai say, ini Keke. Eh, besok jam 3 ada acara ga? Kalo ga ada, ke rumah ya”

Hari Kamis (17/5) saya mulai menelponi emak-emak yang saya rencanakan untuk diundang datang ke rumah.


“Eh, ada apa nih?”

“Bu Keke mo ngadain acara apa?”

“Lu mo kawin ya?” tembak Evelyn sambil cekakakan “Udah seserahan?”

Sinting! Hehe.

Kok ya saban kali ngundang mereka ngumpul, ada aja yang nebak saya mau married. Biarpun sudah dibilang ini kumpul buat syukuran, tetap aja ngotot nanya syukuran mo kawin ya? Lha, emang syukuran cuma buat kalau mau married? Hehe.

Ini syukuran buat semua yang sudah kita terima, yang sedang kita terima dan yang akan kita terima dari Tuhan.

Ini bukan perkara tentang baik, buruk atau enak, tidak enak serta bukan pula tentang berat, ringan. Tapi ini buat bersyukur .

Saya dan orang tua saya sudah lama ingin membuat acara syukuran. Bokap maunya masak-masak trus dibagikan ke pengemis dipinggir jalan. Biasanya itu yang kami lakukan. Tapi entah kenapa niat ini tidak pernah terlaksana.

Saya sendiri dari beberapa tahun lalu pengenannya bikin acara ulang tahun gaya anak-anak. Maklum, kan dari tahun 2005 sampai 2011 kerjanya ngajar di TK jadi ya sudah sering hadir di acara ultah anak-anak. Lama-lama mikir seru juga kali ya kalo ngerayain ultah gaya pestanya anak-anak.

Tapi kalau mau bikin disekolahan, wah, berapa budgetnya, bo? Ga sanggup d gw ngadain. Apalagi gaji guru cuma Rp.600.000 sebulan. Itu juga baru tahun 2011 jumlahnya jadi segitu. Buat bisa hidup sebulan aja saya mesti kerja dobel jadi guru les. Nah, jadi manalah bisa bikin pesta ultah di sekolah? Hehe.

Awal bulan Mei, tiba-tiba aja saya dan bokap terinspirasi buat ngegabungin keinginan masing-masing. Acara syukuran + ultah.

Sudah gitu kita main jalan aja. Tidak pakai banyak pertimbangan. Apalagi hitung-hitung budget. Tidak pakai uang tabungan. Tidak nyisihin duit dari beberapa bulan sebelonnya. Semua 100% diambil dari duit gaji saya. Kami juga heran kok bisa cukup.

Ga salah deh kita kasih judul acara syukuran karena luar biasa semua biaya bisa ketutup dari uang gaji. Padahal itu gaji biasanya serba pas buat hidup sebulan karena memang pemasukan cuma dari gaji saya.

Diawal bulan ini seorang ibu di gereja memberikan saya Rp.100.000. Lalu beberapa hari lalu seorang ibu yang lain juga memberikan saya Rp.100.000 tepat disaat uang gaji yang tersisa tinggal Rp.145.000.

Di pagi hari saat saya melihat uang gaji tinggal segitu jumlahnya, saya mikir kami baru saja mengadakan acara syukuran karena Tuhan selalu ada bersama dengan kami melewati berbagai macam peristiwa dan sikon. Kami tidak pernah ditinggalkan sendiri. Jadi saya meyakini uang itu akan cukup sampai akhir bulan walau kelihatannya mustahil. Eh, siangnya, seorang ibu mendatangi saya dan menyelipkan uang Rp.100.000. Nah, terbukti kan bahwa Tuhan menyertai. Uang kami sekarang menjadi Rp.245.000. Saya tidak pernah punya bayangan bagaimana caranya uang itu bisa bertambah. Hehe.

Jumat tanggal 18 Mei. Hari H. Jam 3 belon ada yang nongol. Jam 3.30 hujan deras. Ya astaga! Yang datang baru Evans, Dio, Dite, Joan, beserta Echa, Anggi dan mamanya. Yang lain pada kemana????

Rasanya hati saya sudah menciut sampai sebesar kacang ijo kali. Saya sembunyikan sedih dan putus asa dalam-dalam.

Kok banyak banget ya tantangannya. Padahal cuma acara syukuran. Tantangan pertama bokap yang harus ke Jakarta kemarin karena adik iparnya mendadak meninggal. Padahal kemarin itu rencananya bokap mau mulai masak.

Trus pada hari yang sama itu nyokap nelpon saya dikantor. Adonan kue sudah masuk loyang tapi ovennya ga mau nyala!!. Kalau ga langsung masuk oven, adonan kue bisa rusak. Haduh!! Udah gitu tetangga yang dimintain tolong, kagak ada seorang pun yang mau datang (pake alasan ga bisa, ga ngerti urusan nyalain kompor lah. Heh! Bilang aja emang kagak mau nolong). Sungguh keajaiban dari Tuhan aja yang bikin tu oven akhirnya mau nyala so kuenya jadi. Ga rusak. Ga bantet. Sukses!


Lantas ni hari, hari istimewa ini, pagi-pagi rohaniawan gereja yang saya undang untuk datang, sms. Maaf, terpaksa batal datang karena tiba-tiba sikon tidak memungkinkan untuk bisa datang.

Bu Martha, omanya Niko, tidak bisa datang juga karena mamanya Niko melahirkan.

Trus rohaniawan yang lain siangnya sms. Maaf, saya banyak urusan jadi tidak bisa datang.

Dia orang terakhir yang saya harapkan bisa hadir. Bahkan sebetulnya adalah orang yang paling saya harapkan untuk datang. Dia adalah teman saya yang paling dekat. Yang saya inginkan untuk berdoa bagi saya dihari ulang tahun saya ini.


Selama setahun ini kami bekerja dan bergaul sangat baik tanpa pernah cekcok walau tentunya pernah saling kesal terhadap satu dengan lainnya. Bisa punya hubungan yang harmonis dengan setiap orang kan termasuk anugerah dari Tuhan dan itu menjadi salah satu dari sekian banyak hal yang saya syukuri. Dan dia baru saja mengirimkan sms untuk memberitahu bahwa dia tidak bisa datang.

Yah, itu klimaksnya. Air mata saya nyaris runtuh. 3 orang dari gereja yang saya undang semuanya tidak bisa datang.

Diluar hujan deras. Saya tidak tahu apa yang harus saya pikirkan. Saya bahkan sebetulnya takut untuk berpikir. Jadi lebih baik memang saya tidak berpikir.

Dihadapan saya terlihat Dio, Echa, Evans, Dite, Joan dan Anggi. Mereka tetap ceria. Bermain dengan puzzle dan beberapa mainan lainnya yang saya keluarkan untuk menyibukkan mereka.

Melihat dan berada diantara mereka meringankan beban dihati saya. Jadilah saya menghibur diri dengan ikut bermain dan bercanda bersama mereka. Jam 4 sore kami memutuskan untuk memulai acara.

Lalu jam 4.30… jreng, jreng…, mama Justin datang. Kok cuma dengan Chelsea? Justin mana?

“Nginap dirumah neneknya, bu”

Yah, tidak apalah. Melihat mereka sudah membuat hati saya terhibur.

Bunyi motor membuat kami semua berhenti mengobrol. Evelyn dan anaknya, Vio, datang.

Belum lagi 2 menit lewat, … brum.. brum.., datang motor lagi. Kim & Stevany datang!


Heran juga saya ketika akhirnya kami berkumpul. Kelihatannya hidup saya punya pola yang sama ‘bersakit-sakit dulu, bersenang-senang kemudian’. Ya, soalnya setelah sempat bersedih hati karena mengira cuma sedikit yang datang ke ulang tahun saya, akhirnya saya mendapat kebahagiaan juga karena mereka datang.

Tahun depan saya kepingin merayakan ulang tahun lagi, ah. Hehe. Tentunya semakin banyak yang bisa disyukuri dan pastinya akan lebih banyak lagi orang yang saya undang karena saya yakin tahun depan keadaan keuangan saya lebih tajirrrrrr. Iya dong. Tuhan kan menyertai dan memberkati kami.

Hehe.

Jadi kalau saya undang, jangan ga datang! Ayo kita kumpul, berdoa, bersyukur, makan-makan, ngobrol dan bergembira!!
________________________________________________

“Hey, it’s Keke. Are you free tomorrow afternoon? If you are, I’d like you to come to my place”

I called the ladies on Thursday, May 17th. Inviting them to my birthday party though I didn’t say there would be a party.

“What is this all about?”

“What are you up to?”

“You’re getting married!” exclaimed Evelyn excitedly as she laughed merrily “So it is, isn’t it?”

Guys, come on… why is it that everytime I invite you to my place you think it me getting married? Lol.

This is a thanksgiving. It does not have to be linked to marriage to have a thanksgiving party, right? We’ve got lots to be thankful.

We wanted to make this since long time ago. My dad usually cook some meals to give to beggars but time passed and he never did it.

As I myself have long wanted to have a birthday party kid’s style. I taught in kindergarten for 6 years. I have attend many birthday party held in school that it made me thought how fun it would be if I could have my own birthday party like that.

But it has always been the budget thing that prevented me from made it. My Rp.600.000(US$60) a month salary as kindergarten teacher couldn’t afford such party. Let alone to make a party, I had to tutor to make ends meet.

But early this month my dad and I decided to combine it. A thanksgiving and a birthday party.

And we just did it. Didn’t think about budget. We just go for it. The fact is my salary can covered the whole cost.

Early this month a lady gave me Rp.100.000 and few days ago another lady gave me the same amount of money. It proves that God is faithful. In the morning I saw there are only Rp.145.000 left and I didn’t know how it would be enough till end of May. With some additional I know it can.

Friday the 18th. D day. The clock was ticking. 3 pm. Nobody except my students and a lady came. Where were the others??.

3.30 pm. Pouring rain.

My heart sank. I swallowed down my sadness and disappointment.

It’s just a birthday party. Why is it there were so many challenges?? It has started since the day before when my dad’s brother in law suddenly passed away that made him had to go to Jakarta when he already planned the day to cook the meals for today’s party.

This morning my mom called me at work. She couldn’t turn on the oven. She tried several times but the oven didn’t work. The cake dough has to be put in the oven or it would be ruined. 

We couldn’t figure it out what made the oven wouldn’t turn on. My mom has asked our neighbors only to get answers that nobody could come, they didn’t know a thing about an oven, they all have other things to do. Yeah right… if you don’t want to help, just say it. Don’t give excuses.

And on this special day, the three people from church whom I invited couldn’t come. All of them. One texted me in the morning. Sorry, something came up that made me unable to attend your party. The other had to go to the hospital because her daughter had to deliver a baby.

The last person texted me at around 3 pm. Sorry, I’ve got lots of things to do. He too couldn’t come. The person I really expected to come. The best friend I have at work with whom I get along very well in the nearly a year. The person I wanted to pray for me on my birthday just texted me to inform me that he too couldn’t come.

I was nearly broke down in tears.

It was pouring down outside. I didn’t know what to think. The truth is I was scared to even think.

I came to see Dio, Echa, Evans, Dite, Joan and Anggi who seemed didn’t bother. They noisily and happily played with my puzzles. I joined them. It lifted up my heart to be around them. And at 4 pm we decided not to wait any longer. We started the party.

4.30 pm. The sound of motorcycle brought to our attention. It was Chelsea and her mom. But where is Justin?

“He stays with his grandmother” said the mom.

Oh ok. No problem. They came. I felt a little happier.

Another sound of motorcycle… and it was Evelyn with her daughter, Vio. Only to be followed by Stevany and Kimberly 2 minutes later.

I shook my head in disbelief. And just when I thought I would have a disappointing birthday and thanksgiving party.. they were all here. It seems my life has been patterned ‘Happiness at last’.

Hmm… I want to make another birthday party next year. It will be plenty more to thank for so I will invite more people because I believe I will have more money then… yessss!!! That’s for sure. God is with us, right? His blessings are definitely pouring down upon us.

So when I invite you, don’t turn it down. Come. Eat, pray and have fun with us.

No comments:

Post a Comment