Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Saturday, February 23, 2013

Indonesian and Luxurious Things

Luxury. Kemewahan.

Bagi sebagian besar orang Indonesia, pengobatan dan pendidikan adalah dua hal yang merupakan kemewahan.

Kenapa pengobatan menjadi suatu kemewahan?

Pertama karena obat-obatan di buat dengan bahan dan takaran yang khusus, di tempat yang khusus dan ditangani oleh orang-orang yang berpendidikan khusus. Kombinasi faktor tersebut membuat harga obat melambung tinggi. Jadi, dengan perkecualian obat untuk sakit recehan, harga obat umumnya bisa berkisar antara 70 ribu sampai ratusan ribu.

Kemudian tenaga medis seperti seorang dokter juga dihargai mahal karena ilmu, pengetahuan dan pengalaman seorang dokter nilainya tentu tidak bisa disamakan dengan ilmu, pengetahuan dan pengalaman seorang (misalnya) kondektur bis. Dan semakin tinggi ilmu, pengetahuan dan pengalaman seorang dokter, bisa dipastikan semakin tinggi pula tarifnya. Pertimbangannya adalah karena dia sudah mengeluarkan tenaga, waktu, pikiran dan biaya untuk mendapatkan semua itu maka tentu dia harus menerima imbalan seimbang atau bahkan berlipat kali ganda.

Karena itu janganlah kaget kalau ongkos seorang dokter, sekalipun bagi mata orang awam seakan dia hanya melakukan pemeriksaan tekanan darah, mendengarkan detak jantung pasien dengan steteskop, memencet-mencet perut pasien, duduk diam mendengarkan keluhan pasien dan kemudian mencoret-coret selembar kertas dengan tulisan cakar ayamnya yang akan di bawa pasien ke apotik untuk mendapatkan obat, tapi untuk keseluruhan prosedur yang hanya memakan waktu antara 5-15 menit itu, pasien harus membayar antara 40 ribu sampai ratusan ribu.

Nah, kalau dia berpraktek di rumah sakit tentu tarif yang dipasangnya lebih tinggi lagi karena ada ketentuan bagi hasil. Sekian persen atau sekian ribu (entah puluh atau ratus ribu) untuk rumah sakit dan sisanya untuk si dokter.
 
Dan rumah sakit seperti perusahaan atau tempat usaha mana pun, membutuhkan biaya operasional yang tidak kecil jumlahnya karena tentunya listrik, air, telpon, karyawan, pemeliharaan bangunan dan keamanan harus di bayar. Belum lagi obat-obat, peralatan medis dan hal-hal lainnya yang harus di beli atau di bayar.
 
Bagaimana dengan pendidikan? Yah, pada dasarnya sama saja. Setiap sekolah harus membayar biaya operasional dan membayar guru. Juga ada peralatan dan hal-hal lain yang harus di beli atau di bayar oleh sekolah.

Semakin lengkap fasilitas sebuah sekolah, semakin baik kondisi gedungnya, semakin banyak gurunya (yang bertitel S1, S2, S3, S Teler, S Cendol dan segala S lainnya), semakin tinggi standard nilai yang dicapai oleh murid-muridnya, semakin banyak prestasi akademik atau non akademiknya, apalagi kalau sekolah ini sudah memasang plang sekolah plus plus atau sekolah internasional, tentu semakin tinggi pula tariff yang di pasang oleh sekolah tersebut.  

Standar gaji guru pun demikian. Semakin tinggi pendidikannya, semakin tinggi pula standar gajinya.

Dengan catatan, hal ini tidak berlaku bagi rumah sakit, sekolah, dokter atau guru yang berada di kota kecil, desa atau di pedalaman. Di tempat-tempat demikian kondisi mereka sama prihatin atau sama susahnya dengan masyarakat sekitar.

Nah, belum lama ini saya mendengar berita di televisi tentang seorang pasien yang terpaksa tidak bisa di rawat di rumah sakit karena rumah sakit itu mengharuskan setiap calon pasien rawat inap untuk membayar 10 juta sebagai uang deposit.

Di akhir dan awal tahun 2000 saya pernah mengalami masa dimana saya pernah melenggang masuk dan keluar sebagai pasien rawat inap di sebuah rumah sakit swasta yang lumayan ternama tanpa harus repot berpikir bagaimana harus membayar uang deposit, biaya dokter, obat dan rawat inap karena saat itu saya bekerja di perusahaan swasta asing yang mengasuransikan para karyawannya.

Kemudian datanglah masa kesusahan. Beberapa tahun lalu saya pernah nyaris mau gila rasanya ketika orang tua saya bergantian sakit sampai harus di operasi dan di rawat di rumah sakit. Pada waktu itu saya hanya seorang guru TK bergaji tidak sampai sejuta, tidak ada asuransi, tidak ada deposito dan negeri ini tidak memiliki sistem jaminan sosial seperti yang ada di negeri-negeri barat. Kalau tidak karena bantuan kiri kanan, saya kira apa yang bisa di jual pastilah akan di jual. Itu saja beberapa benda berharga sudah di jual.

Demikianlah pengalaman saya dengan urusan pengobatan. Bagaimana dengan pendidikan?.

Tahun 1984, seorang pegawai tata usaha sebuah SMP swasta mengatakan ‘kalau tidak punya uang, jangan sekolah di sini’ ketika ayah saya meminta waktu untuk membayar kekurangan uang pendaftaran murid baru (untuk mendaftarkan saya di sekolah itu). Dan tahun 1990 ayah saya menjual satu-satunya mobil (Toyota Corolla tahun 1970an) yang kami miliki untuk membiayai masa tiga tahun saya kuliah di perguruan tinggi swasta.

Itulah kenyataan hidup.

Masing-masing kita pastilah mempunyai pengalaman pribadi atau setidaknya menyaksikan bagaimana orang lain berjuang (untuk kemudian berhasil atau gagal) mendapatkan pengobatan atau pendidikan yang layak.

Pengalaman pribadi saya dalam hal kesehatan dan pendidikan membuat saya melakukan apa yang saya bisa untuk menolong orang lain yang menghadapi sikon yang pernah saya hadapi. Seringkali saya frustrasi karena tidak bisa memberikan lebih banyak karena kondisi keuangan saya sendiri belum memungkinkan untuk bisa melakukannya.

Entah anda memiliki atau tidak memiliki pengalaman pribadi dengan keterbatasan mendapat pengobatan atau pendidikan, bantulah orang yang anda tahu sedang mengalami kesulitan untuk mendapat pengobatan atau pendidikan yang layak.

Di jaman sekarang ini janganlah berharap banyak dari pemerintah atau para politisi. Terutama bila anda tinggal di negeri seperti yang saya tinggali ini. Di sini, seringkali rakyat harus berjuang sendiri atau harus saling membela, saling menolong, saling menopang.
_____________________________________________

For most Indonesian, medication and education are two luxurious things.

Why does medication considered as a luxury?

First, it is made by people with specific knowledge and skill and made from specific stuff. That is the reason why its price is not cheap. Except the medication for regular illness such as cold or cough. Over here the price is between 70 thousand rupiah up to hundred thousands rupiah.

And medical practitioners don’t come cheap either because they have spent lots of time, energy and money to get all the knowledge, skills and experience. Theirs are specific ones that not everybody can have. Theirs are not something that like bus driver have.

So don’t get surprise when you see a doctor’s bill comes in huge amount. We may see the doctor is just checking our blood pressure, pulse, put the stethoscope on our stomach or listen quietly as we describe our health problem and then scribble something on a sheet of paper for us to bring to the drugstore. The whole procedure may only take 5-15 minutes but the charge is unbelievable high, here it varies from 40 thousand to hundred thousands  rupiah.

The more knowledge, skills or experience a doctor has, the higher his/her fee is. Well, it would be fair return.

The bill may go higher if for doctors in hospitals because they have to share their fees with the hospital.

And hospital like other business places have to pay for operational expenses such as water, power, phone, staff, building maintenance, security, not to mention for the medics, facilities and equipment. Those aren’t cheap.

How about education? It is just the same. Schools have operational expenses, staff and teachers to pay.

The better a school is in its building, facilities and the more teachers work there, especially if the teachers have high academic degree, or if it is a bilingual school, the school charge not just hundred thousands rupiah but millions of rupiah.

The exception is for hospitals, schools, teachers, medical practitioners who work in remote areas. They don’t charge you as high as the ones in the city. Sometimes their own condition is just as lack or poor as the people in their location.

I heard from the news that a patient couldn’t get hospitalized because the hospital requires every in-patient to put 10 millions rupiah deposit.

In 2000 I had the experience when I went to hospital as out or in-patient without had to pay a single cent because at that time I worked in a company that insured its employees. So I had medical insurance that covered all of my medical bills.

But came hardship when I thought I lost my sanity when my parents got sick and had to be hospitalized. I worked as a kindergarten teacher whose monthly salary was just about 500 thousand rupiah. We didn’t have health insurance, no saving and this country does not have social system like the one in western countries. If there was no financial help from people, I wouldn’t know how to pay those medical bills because we had sell things to pay those bills.

That’s my experience regarding medication. Education? Lets see..,

In 1984 a staff in junior highschool where my father came to register me as freshman said ‘don’t enroll your child here if you don’t have the money to pay the expenses’ after my father asked he could pay the school’s registration fee in installment because the cash he brought was a little short. And in 1990 he had to sell our only car (a 1970s Toyota Corolla) for my education in college.

That’s the reality of life.

Each of us have personal experience or witness other people’s struggle to get proper medication or education that we deserve.

My personal experiences have made me tried to help when I saw anyone in need with medication or education bills. It frustrates me though that I can’t give as much as I want due to my own financial condition.

I urge you to help anyone who is struggling to get proper medical help or proper education.

These days don’t rely wholly in government or politician. Especially if you live in this country. Here, people are left to struggle on their own. So it has raised sort of people’s solidarity to stand up for each other, to help one another.

No comments:

Post a Comment