Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Wednesday, September 28, 2016

Back to School

Gimana rasanya pertama kali mengajar lagi setelah vakum selama lima tahun?

How was it feel to teach again after five years of absence?

Deg-degan.

Nervous.

Mengajar sih sering karena biar pun sudah berhenti mengajar di sekolah tapi saya kan tetap mengajar les.

Teaching goes on because after I resigned from school I keep my side job as a tutor.

Cuma ya mengajar les jelas beda sama mengajar di dalam kelas di sekolah.

But it definitely two different things between tutoring and teaching in class, in school.

Ceritanya gini, Selasa, 13 September saya main ke taman kanak-kanak tempat dulu saya pernah mengajar sebagai guru selama enam tahun.

So, I went to the kindergarten where I used to teach for six years on Tuesday, 13 September.

Niatnya cuma buat mampir sebentar, nengokin teman-teman guru di sana. Mumpung lagi cuti (rincinya ada di postingan We Need You, Teacher).

I purely just wanted to stop by to see my fellow teachers there. I was on leave (the details can be read in We Need You, Teacher post).

“Ke, ngajar lagi dong di sini”

“Keke, why don’t you resume your teaching post here?”

Setiap kali saya ke sana, setiap kali saya bertemu orang tua mantan murid saya, setiap kali saya ketemu teman-teman guru.. pasti saya ditanya begitu.

Everytime I went there, everytime I met parents of my former students, everytime I met my fellow teachers friends.. they would ask me that question.

Banyak yang masih ingin saya kembali mengajar di sana.

Many still hoping I will resume my teaching post in there.

Lima tahun lalu banyak yang menyesali keputusan saya untuk berhenti.

Five years ago many regreted my decision to resign.

Yang mereka tidak ketahui adalah itu keputusan terberat yang harus saya ambil.

What they didn’t know is it was the hardest decision I must took.

Bahwa saya benci pada diri sendiri karena harus mengambil keputusan itu.

That I hated myself because I had to take that decision.

Saya membutuhkan penghasilan lebih besar. Saya bekerja bukan untuk diri sendiri. Orang tua saya semakin tua dan saat itu membutuhkan dana besar karena sering sakit. Kami bukan orang kaya. Kami tidak punya deposito, saham atau warisan berjeti-jeti. Saya juga tidak punya saudara untuk berbagi beban jadi semua tanggung jawab untuk mencari nafkah jatuh ke atas pundak saya.

I needed more income. I work not to support myself. My parents are getting older and at that time were took turn in getting ill so we needed lots of money to pay for medical bills. We are not rich people. We have no deposits, shares or billions of inheritance. I also have no siblings with whom I can share the burden so all the responsibility as sole provider falls fully on my shoulder.

Keputusan untuk melepaskan pekerjaan yang amat sangat saya cintai demi uang rasanya seperti menjual diri, seperti pelacur yang menyerahkan tubuhnya untuk lembar-lembar uang, seperti menikahi seseorang yang tidak dicintai.

The decision to let go a job that I loved so much for money felt like selling myself for money, it feels like a whore who gives her body for money, feels like marrying somebody without love.

Tapi saya tidak punya pilihan. Selama lima tahun ini saya jalani kehidupan berdasarkan keputusan itu. Saya berhasil mengatasi depresi yang ditimbulkan oleh keputusan itu. Keadaan di tempat kerja tidaklah terlalu buruk tapi juga tidak menjadi lebih baik.

But I had no choice. For five years I lived the life based on that decision. I overcame the depression that followed after I took that decision. Things at the workplace is not that bad but it’s not better either.

Banyak hal berubah.

Many things have changed.

Satu hal tetap sama; keinginan untuk kembali mengajar di sekolah.

One thing remains the same; I wish to go back to school as a teacher.

Lima tahun ini saya tidak berhenti job hunting. Saya bukan orang yang percaya bahwa seseorang tidak bisa mendapat pekerjaan karena umur.

I have never stop job hunting in these five years. I am not the person who believes that somebody can’t get a job because of his/her age.

Semua cuma perkara waktu.

It’s just a matter of time.

Buktinya ketika waktu itu datang, Selasa, 13 September saya ke sekolahan bukan buat nyari kerjaan.., lha, saya datang buat main kok, buat nengokin teman-teman guru mumpung saya lagi cuti, kan ga tiap hari saya cuti dan belum tentu juga tiap kali cuti saya bisa dan mau ke sana.

On the destined time, Tuesday, 13 September I went to the kindergarten not to get a job.., man, I was just stopped by there to see how my fellow teachers were doing. While I was on leave because it’s not like everyday I could be on leave nor would I go there everytime I’m on leave.

Bahkan ketika saya berada di sana dan teman-teman saya bilang sekolah lagi butuh guru bahasa Inggris, saya nolak. Gimana bisa saya ngajar di situ? Saya kan punya kerja di tempat lain, kerjaan fulltime pula.

Even when I was there and heard my friends informed me the school needed an English teacher, I turned it down. How could I teach there? I have a job, a fulltime job.

Sewaktu kepsek datang dan secara pribadi langsung meminta saya mengajar lagi, respon saya tetap sama; kembali menolak dengan memberikan alasan yang sama.

When the headmaster came to me and personally asked me to teach again, my respond was the same; I turned it down and gave her the same excuse.

Kepsek tidak mau menyerah. Baiklah, hanya seminggu sekali. Cuma untuk kira-kira dua setengah jam.

She refused to give in. Fine, it will be just once a week. It will only take for about two and a half hours.

Saya berpikir. Menimbang. Hanya perlu kurang dari lima menit untuk saya mengambil keputusan. Ya. Saya menerimanya.

I thought about it. Considered it. It took less than five minutes for me to decide. Yes. I took the offer.

Jadi ketika waktu itu datang.., tidak perlu persyaratan yang ribet, umur tidak jadi penghalang dan selembar ijasah tidak akan mencegahnya untuk mewujudkan apa yang memang sudah harus terjadi.

So when the destined time came.., it didn’t need complicated terms, age was not mattered, a sheet of diploma wouldn’t stop the things meant to be fulfilled.

Walaupun saya sempat heran mengingat selama lima tahun ini saya sudah job hunting ke begitu banyak sekolah dan tidak ada satu pun yang cocok, malah kok ya saya mendarat lagi di sekolah yang lama.

www.davidsjesse.com
Though it puzzled me to think that for five years I have been job hunting to many schools but none was the right one, instead, one day I was just like landed in my former school.

Orang tua saya dan Andre memberikan jawaban yang sama; rencanamu bukan rencana Tuhan, jalanmu bukan jalan Tuhan. Jadi terimalah, jalani dan yakini Tuhan tahu apa yang sedang dilakukanNya.


My parents and Andre gave same answer; your plan is not God’s plan, your way is not God’s way. So take it, live it and believe God knows what He is doing.

Saya menerimanya. Saya menjalaninya. Dengan amat sangat gembira. Mengajar adalah saat dimana saya menjadi diri saya sepenuhnya, saya menjadi seorang yang bebas dan hati saya terisi sepenuhnya dengan kasih.

I took it. I lived it. Full of happiness. Teaching is the time when I can be completely myself, a free person and my heart fills with so much love.

*  *  *  *  *

Selasa, 20 September adalah waktu yang kami sepakati untuk menjadi awal saya mengajar bahasa Inggris di sekolah ini.


Tuesday, 20 September was the given date that we agreed to be my starting time as English teacher.

Lima tahun tidak mengajar di sekolah.. satu hal yang saya lupakan adalah saya harus bicara lebih keras dari biasanya.


Five years of absence in teaching in school.. the only thing I forgot is I had to speak louder than I used to.


Saya pulang dengan suara serak tapi selebihnya semua berjalan dengan lancar walaupun hari itu saya datang langsung go show.. nyaris tanpa persiapan, tanpa membawa media mengajar apa pun dan tanpa tahu tema pelajaran yang sedang dipakai di sekolah.. hehe..


I went home with hoarse voice but other things went well though I just came.. almost with zero preparation, without bringing any teaching media and had no clue what was the teaching theme for that week.. haha..

Saya cuma tahu poin-poin yang akan saya ajarkan ke murid-murid saya.

I just knew the points that I would teach to my students.

Mengajar bukanlah tentang berfokus pada kesempurnaan.

Teaching is not about focusing on perfection.

Mengajar bukanlah sesuatu yang bisa dipakai untuk memamerkan superioritas diri, membesarkan diri dan ego.

Teaching is not something to show off one's superiority nor it is to glorify oneself and ego.

Mengajar bukanlah untuk mendapatkan pujian, posisi atau pengakuan.

Teaching is not to get praise, position or acknowledgement.

Pengajar adalah seorang yang memiliki superioritas dalam pengetahuan, keahlian dan kemampuan dari yang diajar tapi dia tidak boleh menganggap dirinya lebih tinggi dari orang yang dia ajar karena misinya adalah untuk membuat orang tersebut bisa memiliki pengetahuan, keahlian dan kemampuannya.

A teacher is somebody who has superiority in knowledge, skill and ability than the one he/she teaches but a teacher should never see him/herself higher than the student because the mission is to pass his/her knowledge, skill and ability to the student.

Ketika murid-murid saya mengetahui, mengerti dan mengingat bahwa selamat pagi dalam bahasa Inggris adalah good morning dan tahu bagaimana harus menjawab salam good morning dengan good morning dan tidak dengan good night.. itu artinya saya telah berhasil memberikan pengetahuan dan kemampuan saya kepada mereka.

When my students knew, understood and remembered that selamat pagi is good morning in English and know how to answer good morning greetings with good morning and not with good night.. it means I have succeededly give them my knowledge and ability.

Dalam perjalanan kehidupan mereka, bisa saja mereka lupa nama dan muka saya tapi pengetahuan dan kemampuan yang mereka dapatkan dari saya itu tidak akan hilang sampai kapan pun. Itulah yang terpenting.

As time passes by, they might forget my name and my face but the knowledge and ability that they got from me won’t go away forever. That is what matters.

Tidak seperti orang-orang lain, saya merasa tidak perlu memamerkan diri saya atau mencari pengakuan dan hormat, saya tidak perlu mengibar-ngibarkan jasa, hasil karya atau kemampuan diri saya supaya orang ngeh sama saya atau supaya saya selalu eksis.

Unlike other people, I don’t feel I need to show myself off nor seeking for acknowledgement and respect, I don’t need to wave around my good deeds, my work or my ability to make people notice me or to make me exist.

Tuhan menciptakan saya sebagai manusia yang penuh kelemahan dan kekurangan supaya saya bisa merendahkan diri dihadapanNya dan supaya saya bisa menjangkau banyak orang karena saya mengerti seperti apa rasanya menjadi orang yang lemah dan karenanya saya dapat menolong mereka.

God creates me as a person fulls with weaknesses and flaws so I can humble myself infront of Him and so I can reach out to many people because I know how it feels to be inferior and so I can help them.

Itu sebabnya Tuhan menjadikan saya sebagai seorang guru.

It is why God makes me a teacher.

1 comment:

  1. Mba keke.. Seneng iihh jdi guru... Gembira dan bnyak tertawa. Dipi jg lg mikir mau balik ngajar lg... Hahaha. Ada bbrp kesamaan dri cerita mba keke, dgn khidupan diri dipi. Sukses yaaa..
    Salam
    Dipi, bandung, www.dipiwarawiri.com

    ReplyDelete