Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Friday, June 20, 2014

When You Believe

Ketika saya berangkat ke rumah Santi di Jakarta, saya tahu benar haid saya sedang keluar dan saya tahu benar dari pengalaman sebelumnya bahwa kelelahan fisik akan meningkatkan intensitas serta kuantitas haid itu.

When I went to Santi’s place in Jakarta, I knew I was having my period and I knew from previous experience, physical tiredness increases the intensity and quantity of my period.

Tapi saya tetap berangkat.

But off I went.

Ayah saya mengatakan saya ceroboh. Andre mengatakan saya kepala batu. Santi mengatakan saya edan-edanan.

My father said I was reckless. Andre said I was stone head. Santi said I was insane.

Yah.. saya ini batu, banteng dan api.. pengalaman-pengalaman hidup selama 10 tahun terakhir ini semakin mengokohkan tiga unsur itu dalam diri saya.

Yeah.. so I am rock, bull and fire.. the things happened in the past 10 years have solidly formed those three elements in me.

Ketika saya memutuskan untuk mengunjungi Santi, saya memasukkan tanggal 9 Juni dalam form pengajuan cuti dan sejak itu pula saya seluruh keyakinan saya mengatakan saya akan pergi dan pasti pergi ke rumah Santi pada tanggal itu. Saya tidak akan mengijinkan apa pun dan siapa pun untuk menghentikan saya.

When I decided to visit Santi, I put the date on my leave application form and since then I put all my faith, believing that I would go and it was a certain thing to go to Santi’s place on that date. I wouldn’t allow anything and anyone to stop me.

Begitulah cara saya untuk menghilangkan keraguan, kecemasan, ketakutan dan ketidakpercayaan diri.

It is my way to cast away doubt, worry, fear and unconfident.

Bukan berarti seluruh penghalang lalu hilang. Akhir Mei, haid saya datang. Dan biasanya berlangsung selama dua minggu. Aduh.. itu artinya tanggal 9 haid saya masih sedang mengalir dan bisa jadi sedang mengalir deras-derasnya.

It doesn’t mean all the barrier then gone away. End of May, I had my period. And it usually goes for two weeks. Oh no.. it means on the 9th I would still be having it and it could be on its peak.

Saya berpikir-pikir. Menimbang-nimbang. Akan lebih mudah untuk membatalkan rencana. Tapi itu artinya saya menyerah pada keadaan. Maukah saya melakukannya?

I took time to think about it. Put some consideration. It would be easier to call the plan off. But then it would be giving up to circumstance. Would I do that?

Dua tahun terakhir ini saya mendidik diri saya lebih keras dari sebelumnya. Karena itu saya katakan pada diri saya bahwa saya tidak akan membiarkan haid ini menjadi semacam trauma yang akhirnya melumpuhkan saya.

I have been hard on myself in the past two years, harder than before. Therefore I told myself I won’t let this period became sort of trauma that it eventually paralyzed me.

Saya tidak akan membiarkannya menjadi suatu kecacatan.

I won’t let it become a handicap.

Jadi saya berangkat dengan hati ringan. Tentu saja saya membekali diri dengan pakaian dalam dan pembalut ekstra banyak. Ya iyalah, kita tidak akan maju ke medan perang tanpa membawa senjata dan perisai, ya kan?

So I left with no worry. I surely brought extra underwear and sanitary napkin. Well, we won’t go to the battle without bringing our weapon and shield, right?

Haid itu menyedot tenaga saya tapi tidak mengurangi kebahagiaan saya karena bisa bertemu dan melewatkan waktu tiga hari, dua malam bersama Santi serta keluarganya.

The period took my energy but not lessened my happiness to meet and spent three days, two nights with Santi and her family.

Kami berteman selama dua puluh empat tahun. Kami bukan lagi teman. Kami lebih dari sahabat. Kami saudara.

College graduation

We have been friends for twenty four years. We are no longer friends. We have become more than best friends. We are sisters.

Tapi kami tinggal berjauhan. Kesibukan serta beberapa hal lain membuat kami tidak bisa sering bertemu. Sekalipun Santi diberkahi dengan kenyamanan dalam hal keuangan tapi suaminya tidak mengijinkan dia pergi tanpa kawalannya. Itu sebabnya Santi dan anak-anaknya tidak bisa pergi jauh. Kami berdua membicarakan hal ini dan saya mengalah. Saya yang akan mengunjunginya walau tentu saja dalam setahun mungkin hanya bisa 2-3 kali.

But we live far away from each other. Our activities and other things make us can’t see each other oftenly. Despite being financially well off Santi’s husband doesn’t allow her to go without him chaperoning her. It is why she and the children can’t go far. We talk about this and I told her if she can’t visit me then it is me who visit her though it is only 2-3 times a year.

Saya sudah mengunjunginya tiga kali dan setiap kali saya akan pergi untuk mengunjunginya, selalu ada saja tantangannya. Mulai dari hujan lebat, banjir, sakit sampai haid.

First reunion

I have visited her three times and challenges always appeared in every visit. Rain, flood, illness up to period.

Second reunion

Tapi saya memiliki keyakinan bahwa saya akan bisa melalui setiap penghalang itu dan saya akan selamat.


Third reunion
But I believe I can go through each barrier and I believe I will be safe.

Saya selalu mendapatkan apa yang saya percayai.

I always get what I believe.

Sayangnya saya menemui banyak.. banyak sekali orang yang membiarkan dirinya dilumpuhkan oleh ketakutan, kecemasan, kesedihan, keraguan..

It is a pity that I have found many.. so many people let themselves to be paralysed by fear, worry, grief, doubt..

Saya tidak mengatakan saya ini super duper hebat. Dalam diri saya tetap ada ketakutan, kecemasan, keraguan, kesedihan, ketidakpercayaan diri.. tapi saya menolak untuk dikalahkan, dilumpuhkan dan dikuasai oleh hal-hal itu.

I am not saying I am such a super duper person. I have fear, worry, doubt, grief, unconfident.. but I refuse to be defeated, to be paralysed and to be controlled by those things.

Seorang kenalan saya belum lama ini diputuskan oleh pacarnya dan wajarlah kalau dia patah hati tapi isi omongannya mengusik hati saya. Lebih tepatnya, membuat saya gusar karena dia bicara tentang lebih baik dia mati.

Somebody whom I know recently had a broken relationship with his girlfriend and so it makes sense for him to have a broken heart period but his talking started to make me feel uneasy. It upset me, to be precise, because he talked about better be dead.

Buat saya hal ini keterlaluan. Dia sehat, kondisi tubuhnya tidak bercacat, dia punya kehidupan yang baik, tidak memiliki anggota keluarga yang mengalami sakit berat atau kesulitan keuangan.. dan dia bicara tentang lebih baik mati.. Coy, elu gila apa? Kayak belum pernah mengalami kesulitan dalam hidup aja. Segitu murahnyakah kamu menilai hidupmu sendiri? Tidak tahu bersyukurkah kamu untuk hal-hal yang kamu miliki?

For me it is just unacceptable. He is healthy, he has arms-legs-senses that work fine, he has a quite a good life, he doesn’t have family member who have terminal illness or have financial problem.. and he talked about better be dead.. Dude, have you lost your mind? It is not like you never had hardship in life. Do you value your life that cheap? Don’t you know how to be thankful for the things you have in your life?


Emosi bisa melumpuhkan kita kalau kita biarkan. Dan emosi bisa mengendalikan kelakuan kita.

Emotion can paralyzed us if we let it happen. Emotion can drive our behavior.

Diri kita sendiri yang bisa mencegah hal itu terjadi atau untuk menghentikannya.

It is we who can prevent it from happening or to stop it.


Asal kita meyakini bahwa kita bisa melakukannya.

Only if we believe we can do that.

No comments:

Post a Comment