Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Wednesday, June 18, 2014

Mother, How Are You Today?

“Kenzie, ayo sarapan!”


“Kenzie, eat your breakfast!”

“Klara, sudah disiapin buku-buku pelajaran buat besok?”

“Klara, have you prepared your school books?”

Itu cuma sedikit dari entah berapa banyak kesibukan Santi.

That is just a few of Santi’s many activities.

Bagi Santi setiap hari kehidupan dimulai jam 5 pagi.

For Santi everyday life starts at 5 am.

Dia bangun untuk menyiapkan sarapan, memberi makan anjing-anjing, membangunkan anak-anak, menyuruh mereka sarapan, mandi, berganti pakaian dan mengantarkan mereka ke sekolah.

Klara
She gets up to prepare breakfast, feed the dogs, wakes the children, telling them to have breakfast, take a bath, change their clothes with school uniform and drive them to school.

Pulangnya dia masak, kadang sembari mencuci pakaian. Untungnya dia punya pembantu dan mesin cuci super canggih untuk meringankan bebannya.

Once she is back home she cooks lunch and dinner meals, sometimes she also doing her laundry. Good thing she has a maid and a super washing machine to help her.

Mendekati jam 10 dia bersiap-siap untuk menjemput anak-anaknya.

When it is nearly 10 am, she prepares to pick up the children from school.

Sampai di rumah, anak-anak harus diingatkan untuk makan dan kemudian tidur siang. Kalau tidak, mereka tidak akan berhenti bermain game, bermain dengan anjing-anjing, nonton tv, mengobrol atau bercanda.

Once they are home, the children have to reminded to eat their lunch and take a nap. If not they won’t stop play games, play with the dogs, watch tv, chat or joke with one another.

Sorenya anak-anak harus dibangunkan, disuruh makan, mandi, berganti baju dan di antar ke tempat les.

arrr...
In the afternoon the children have to be awaken, getting them to have afternoon meal, take a bath and other preparation before she drives them to their tutoring place.

Satu setengah jam kemudian dia berangkat untuk menjemput anak-anak. Sampai di rumah, menyuruh mereka makan, gosok gigi, mengerjakan PR sekolah atau PR les, mengecek buku atau peralatan lain untuk sekolah besok dan segala macam persiapan sebelum tidur.

A half and an hour later she picks them. get home, ask them to have dinner, brush their teeth, do school or tutoring homework, checking the school books or other stuff for tomorrow’s school and other preparation for bedtime.

Memperhatikan Santi membuat saya pusing. Tapi juga salut.

It gives me the headache to see her. But I admire her too.

Jangan remehkan tugas dan peran seorang ibu.

Don’t underestimate a mother’s role.

Keputusan untuk menjadi seorang ibu bukanlah suatu keputusan yang dibuat dengan tiba-tiba.

A decision to be a mother is not an out of the blue decision.

Satu keputusan. Satu komitmen. Seumur hidup.

One decision. One commitment. A life time one.

Jangan kira tanggung jawab seorang ibu berhenti ketika anaknya mencapai umur tertentu atau setelah anaknya berkeluarga.

Don’t think that a mother’s responsibility for her child stops when he/she reaches certain age or after the child has his/her own family.

Itu saya alami sendiri. Ibu saya kadang masih mengingatkan saya untuk makan, istirahat dan bahkan untuk jangan lupa gosok gigi!

It happens to me. My mother sometimes still reminds me to have lunch, to take a rest and even not to forget to brush my teeth!

Umur saya sudah empat puluh tiga!

I am forty three!

Ada saat-saat dimana saya kesal karena merasa diperlakukan seperti anak usia lima tahun.


There are times when it upsets me to be treated like a five year old.

Tapi ada saat-saat dimana saya merindukan masa-masa ketika saya bisa bermanja-manja padanya karena kondisi kesehatannya membuat dia pernah menjadi setengah hidup. Di tidak bisa bicara lama, harus sering istirahat, saya pergi dia masih tidur dan saya pulang dari kantor, dia belum bangun. Saya tidak bisa memeluknya karena pelukan akan membuatnya sesak napas. Saya bahkan tidak bisa menyentuhnya karena sentuhan membuatnya terlompat kaget.


But there were times when I missed the moments when I could cuddle her because her health turned her half alive. She couldn’t have long talk, she had to rest often, she was still asleep when I left for work and she hasn’t awaken when I got back home. I couldn’t hug her because it made her had labor breath. I couldn’t even touch her because it made her aghast.

Ketika itu ibu saya menjadi seperti hanya seonggok daging bernyawa.

At that time my mother was like nothing but a living piece of flesh.

Dan ini terjadi selama kira-kira tiga tahun. Sekalipun pada waktu itu usia saya sudah empat puluh, hal ini menggoyahkan saya. Merana betul rasanya saya waktu itu karena biar pun ibu saya ada di depan saya tapi dia tidak bisa berperan sebagai seorang ibu.

And it happened for about three years. Despite the fact that I was forty at that time but it shook my ground. It felt so devastating to have my mother infront of me but she couldn’t be a mother for me.

Saya kehilangan pijakan. Pada akhirnya saya juga kehilangan akal sehat. Saya jatuh dalam depresi.

I lost my ground. I lost my sanity. I fell into depression.

Biar pun ada Andre dan ada orang-orang disekitar saya yang menyayangi saya, mereka yang bahkan berperan sebagai seorang ibu bagi saya tapi tidak bisa menyaingi ibu sendiri.

Though there were Andre and people around me who love me and played the role as mother for me but they couldn’t replace my own mother.

Ibu adalah batu karang dalam kehidupan anak-anak mereka.

Mother is the rock in their children’s lives.

Ibu adalah kekuatan yang menopang, melindungi dan menyatukan anak-anak itu.


They are the strength that hold, protect and unite the children.

Tidak semua ibu, bisa menjadi seperti itu. Banyak yang gagal. Sementara yang lainnya memalingkan muka, tidak mau tahu, tidak mau peduli pada anak-anaknya.

Not all mothers, can be that rock. Many failed. While others turn away, don’t give a damn to their children.

Karena itu berpikirlah baik-baik sebelum mengambil keputusan untuk menjadi seorang ibu.

So think before take a decision to become a mother.

Ingatlah bahwa sekalipun kelihatannya hanya satu keputusan tapi itu adalah suatu komitmen dan tanggung jawab pada nyawa yang dipercayakan kepada kita.

It may look as a decision but it is a commitment and responsibility to the lives entrusted to us.

No comments:

Post a Comment