Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Wednesday, December 23, 2015

Move on

Meneruskan perjalanan..

To continue the journey..

Kehidupan membawa kita pada perpisahan.

Life brings us to separation.

Perpisahan karena berpindah kerja, pindah tempat tinggal, pindah sekolah atau perpisahan karena pertengkaran, perceraian, berakhirnya hubungan kasih, kematian..

Separation caused by change of job, moved of domicile, move to different school or separation caused by quarrel, divorce, end of romance, death..

Apa pun penyebabnya, perpisahan dengan orang-orang tersayang selalu menyakitkan.

Whatever the cause, separation with loved ones brings heartache.

Walau rasanya hidup terhenti karenanya tapi kita harus melanjutkan kehidupan kita.

quoteshunger.com
Though it feels as if life ends but we have to move on with our lives.

*  *  *  *  *

Dari bulan Mei sampai Desember ini saya sudah mengalami tiga macam perpisahan; berpisah dengan seorang teman baik, anjing tersayang meninggal dan dua kali hubungan cinta saya berakhir.

From May to December I have had three separations; to be separated with a good friend, my beloved dog died and twice I had my love relationship end.

Dalam tujuh bulan terakhir ini rasanya saya tidak bisa berhenti menangis.

It seems I can’t stop crying in the past seven months.

Saya menjalani hari-hari panjang ketika hidup rasanya gelap, berjuang untuk bangkit kembali, mengalami masa singkat ketika matahari bersinar kembali, kemudian kehidupan kembali menjadi gelap dan saya harus berjuang lagi untuk bangkit.

I have gone through many days when life felt so dark, struggled to stand on my feet again, had short moments when the sun shone on my life only to be removed by darkness again and I had another fight to stand back on my feet.

Bahkan saat saya menuliskan postingan ini, saya masih berjuang untuk keluar dari kesedihan karena belum lama hubungan cinta saya berakhir.

Even when I write this post, I am still struggling to overcome the grief for having recent breakup.

“Move on, Keke” kata seorang teman saya.

“Move on, Keke” said one of my friend.

Ya, tapi ada prosedur dan proses panjang yang harus dilewati.

Yes, but there are procedure and long process to go through.

Apa yang saya alami dan rasakan, inilah yang saya bagikan.

What I have gone through and feel, I share them with you.

*  *  *  *  *

Berikan waktu untuk bersedih..

Give time to grief..

Ketika kantor saya untuk pertama kalinya menerima mahasiswa magang, saya tidak pernah menduga selama setahun dia dan saya akan jadi teman dekat.

When my office accepted an intern for the first time, I have never thought she and I would become close friends.

Dia datang dengan kepribadiannya yang bagaikan pelangi; ceria, bawel, lucu, lugu, nyebelin, mellow yang semuanya itu mewarnai hari-hari saya.


She came with her characters that reminds me to rainbow; cheerful, noisy, funny, innocent, annoying, mellow that colored my days.

Dengan segala perbedaan yang ada, kami bisa menyatu.

We could blend despite all the differences in us.

Lalu akhir Mei masa magangnya berakhir.

Her internship ended in May.

Perpisahan itu belum terasa dampaknya karena ketika dia kembali ke kampung halamannya, saya ikut dengannya.

The separation has its effect stalled because I came along with her when she returned to her hometown.

Tiga hari kemudian..

Three days after that..

Saya harus kembali. Saat itulah baru kami berdua sama-sama merasakan sakitnya perpisahan.

I had to return. It was the time when the pain of separation hit us both.

Perbedaannya adalah, dia sudah menangis ketika kami mengucapkan selamat tinggal di bandara sementara saya berhasil menguasai diri dan baru menangis setelah berada di atas pesawat.


The difference is she has cried when we bid our farewell at the airport while I didn’t lose my self-control and broke down after I boarded the plane.

Hari-hari selanjutnya luar biasa sulit untuk dihadapi. Ada banyak orang tapi saya merasa kosong.

It was hard to face the days after that. There were many people but I felt empty.

Diperlukan waktu sekitar dua bulan sebelum saya benar-benar bisa mengatasinya.

It needed about two months before I could really overcome it.

Waktu tidak bisa dijadikan standard karena di tiap orang berbeda.

Time can’t be standardized because it works differently on each person.

Tapi ketika ketika kita kehilangan seorang yang kita kasihi, berikanlah waktu untuk bersedih.

But when we lost loved ones, give time to grief.

Jangan mengingkari rasa sedih, kehilangan, sepi, putus asa, kosong, rasa sakit.

Don’t deny the sadness, feeling of loss, lonely, desperate, emptiness, hurt.

Di saat-saat seperti ini saya banyak menangis tapi mengetahui dan mengakui bahwa saya sedang bersedih meringankan beban di hati dan itu membuat saya lebih cepat pulih dibandingkan kalau saya berpura-pura kuat.

I cried a lot in this period of time but knowing and acknowledging that I was in pain has actually relieved the burden in the heart and it healed me faster than if I pretend to be strong.

*  *  *  *  *

Boleh bersedih tapi jangan kehilangan akal sehat..

It’s okay to grief but don’t lose your common sense..

Kesedihan membawa saya dalam beberapa fase.

Grief brought me into some phase.

Rasa sedih sudah cukup menyiksa dan bisa bikin otak jadi miring kalau dibiarkan berlarut-larut tapi ada fase-fase didalamnya yang wajib diketahui dan diwaspadai oleh kita semua.

Grief is already a torture and can drive you insane if you let it but the phases in it should be acknowledged and should make us be on our guard.

Fase merasa ditinggalkan sendiri.

Feeling being left alone Phase.

Sewaktu anjing saya meninggal, sedihnya ya ampun.. buat orang lain mungkin dia cuma hewan tapi buat saya dia sahabat di rumah. Selama sembilan tahun dia menjadi anggota keluarga kami.


When my dog died, it really broke my heart.. to others he maybe just a dog but to me he was my bestfriend at home. He was our family member for nine years.

Rasa sedih diikuti dengan rasa ditinggalkan sendiri. Sampai dua bulan berikutnya saya malas pulang ke rumah karena merasa kosong, sendiri, sepi.

Grief was followed by the feeling of being left alone. For two months I didn’t feel going home because it felt empty, alone, quiet.

Padahal kenyataannya saya masih punya orang tua, banyak teman dan pacar yang semuanya memperhatikan, peduli dan menyayangi saya.

The fact is I have my parents, many friends and a boyfriend who gave me their attention, care and love.

Fase marah.

Angry Phase.

Dalam kesedihan saya, saya juga marah karena merasa hidup ini tidak adil dan Tuhan tidak berbelas kasihan ke saya karena membiarkan saya kehilangan mereka yang saya kasihi.

In my grief, I was also felt angry because I felt life was unfair and God had no mercy for letting me lost those whom I loved.

Saya juga marah pada diri sendiri karena merasa tidak berusaha semaksimal mungkin untuk menolong anjing saya ketika dia sakit, saya marah mengingat begitu singkatnya waktu yang ada, saya marah pada takdir.

I was also angry to myself because I felt I didn’t do the best I could to save my dog when it was sick, I was angry when I remember how short time was, I was angry to destiny.

Saya ini seorang pemarah. Kalau sudah marah, saya tidak lagi peduli siapa yang saya hadapi. Tapi kemarahan karena sedih atas kehilangan mereka yang saya kasihi adalah kemarahan yang tidak bisa dikeluarkan. Seperti meninju angin.

I have bad temper. When I am angry, I don’t care who stand in my way. But the anger for losing loved ones is the suppressed kind of anger. It were like punching the wind.

Fase penyangkalan.

Denial Phase.

Dua bulan lalu saya mulai merasakan adanya hal-hal yang mengganjal dalam hubungan saya dengan pacar saya.

Two months ago I started to feel somethings were not right in my relationship with my boyfriend.

Sebulan saya lewatkan dengan berpikir, uring-uringan sendiri dan berdoa. Tapi tetap berharap hal-hal itu akan menjadi benar dengan sendirinya.

I spent a month thinking, feeling restless and praying. But still I wished those things would turn ok by themselves.

Tiga minggu lalu saya mengambil keputusan tegas. Tapi saya masih berharap dia akan datang pada saya, mengatakan bahwa saya salah, bahwa dia mencintai saya, bahwa saya benar-benar berharga baginya hingga dia akan mempertahankan saya dan memperjuangkan cinta kami.

Three weeks ago I made my decision. But I still wish he would come to me, to tell me I was wrong, that he loves me, that I am so precious to him that he would keep me and fight for our love.

Dalam kenyataan tidak satu pun terjadi seperti itu. Tapi sampai hari ini tetap saja saya menyangkali kenyataan.


The fact is none happens. But I still deny the fact even until today.

Sulit untuk menerima kenyataan bahwa semua kata-katanya mungkin hanya bualan belaka, mungkin dia tidak benar-benar mencintai saya, mungkin rasa takutnya jauh lebih besar dari pada keteguhan hati dan imannya.

It’s hard to accept the fact that maybe all his words are just empty words, that maybe he doesn’t really love me, that maybe his fear is bigger than the firmness of his heart and faith.

Sedih itu normal tapi jangan sampai membutakan akal sehat.

Grieving is normal but don’t let it blinded the common sense.

*  *  *  *  *

Waktu, doa, memaafkan, empati dan kesibukan menyembuhkan..

Time, prayer, forgiving, emphaty and keep ourselves busy do heal..

Waktu membuat kita belajar untuk bisa menyesuaikan diri dengan ketidakhadiran orang yang kita kasihi.

Time makes us learn to adjust ourselves with the absence of our loved ones.

Pada akhirnya waktu menyembuhkan luka-luka di hati.

At the end time heals the wounds in the heart.

Tapi waktu saja tidak cukup untuk menghilangkan penderitaan karena kehilangan mereka yang kita kasihi.

But time is not enough to make the suffering for losing loved ones disappear.

Dengan berdoa, saya mengadukan beban di hati pada Tuhan dan mencari ketenangan serta kekuatan.

Through prayers I tell God all my burden and to find peace and strength.

Memaafkan orang lain dan diri sendiri merupakan cara untuk menyembuhkan, memulihkan dan keluar dari lingkaran kesedihan.

Forgive other people and ourselves are ways to heal, restore and get out of grief.

Empati adalah ketika kita membuka mata dan melihat bahwa kita bukan satu-satunya orang yang paling menderita di dunia ini dan bahwa masalah kita bukanlah yang paling besar. Ada banyak orang menderita dan mengalami banyak masalah. Lebih berat, lebih sukar dan lebih serius dari yang sedang kita hadapi.

Emphaty is when we open our eyes and see that we are not the only one who suffer in this world and that our problem is not the major one. There are many people suffer and deal with many problems. Heavier, bigger and more serious than the one we are dealing.

Tetap sibuk. Carilah sesuatu untuk dikerjakan.

Keep busy. Find something to do.

Karena sibuk membuat pikiran kita teralih.

Because it distracts our minds.

Mengalihkan fokus perhatian kita dari diri sendiri.

Take our focus off ourselves.

Kesibukan juga membuat badan capek sehingga pada malam hari kita tidak akan diganggu dengan banyak pikiran karena sudah terlalu mengantuk.

Activities also make us tired so we won’t be bothered by lots of thoughts at night as we will be too sleepy.

*  *  *  *  *

Saya telah berhasil melewati banyak masa-masa sukar yang saya kira tidak akan mungkin bisa saya lewati. Tapi toh saya berhasil dan disinilah saya, tetap hidup dan berdiri tegak, bersyukur karena masih banyak hal berharga yang saya miliki dan optimis memandang masa depan.

I have gone through many difficult times which I thought I wouldn't make it. But here I am. Still alive and grateful for the things I have and optimist about the future. 

No comments:

Post a Comment