Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Wednesday, March 23, 2016

Miraculous Healing

Saya amat sangat jarang sakit. Sekalinya sakit… gubrak!

I rarely get sick. Once I get sick… it’s awful!

*  *  *  *  *

Tolong aku, Tuhan..

Please help me, God..

Hari Rabu, 9 Maret lalu saya pulang dari Lembah Karmel dalam keadaan sakit.


I was sick when I got home from Karmel Valley last Wednesday, 9 March.

Saya bisa sampai ke rumah saja sudah merupakan mujizat karena dari Selasa malam saya tidak berhenti buang-buang air dan saya makan sangat sedikit karena perut sakit.

It is a miracle that I could get home because I had diarrhea since Tuesday night and I ate less as my stomach hurt.

Sebelum meninggalkan Karmel, di kamar saya berdoa “Tuhan, saya mau pulang ke Bogor. Ini perjalanan yang jauh, saya harus enam kali berganti kendaraan, saya harus memanggul ransel yang berat dan membawa satu tas. Tuhan tahu bagaimana kondisi badan saya saat ini, secara alami tidak akan sanggup untuk menempuh perjalanan seperti itu. Berjalanlah bersama saya, Tuhan, dengan kekuatanMu badan yang lemah ini akan jadi kuat”

Before I left Karmel, I prayed in my room “God, I am going back to Bogor. It is a long trip and I have to take six different vehicles to get home, I carry a heavy backpack and take one small bag. You know the condition of my body right now, it can’t go on such a trip. Walk with me, God, so Your strength makes my body strong”

Itulah yang terjadi. Roh Tuhan yang luar biasa kuat memampukan tubuh saya yang lemah menjadi kuat.

That what happened. God’s spirit is so powerful He enables my weak body to get strong.

Saya begitu lega ketika sampai di rumah sehingga untuk beberapa saat semua rasa mual, pusing dan mulas terlupakan. Setelah kondisi saya membaik, ayah saya baru mengatakan hari itu muka saya putih pucat dan kelihatan seperti orang dalam keadaan setengah sadar.. yah, bisa jadi..

I was so relieved when I got home that for a while all the nausea, dizzy and stomache were forgotten. Only after I got better did my father tell me my face was so pale and I looked like half conscious on that day.. well, that’s possible..

*  *  *  *  *

Tuhan, ke dalam tanganMu kuserahkan roh, jiwa dan dagingku.

God, into your Hands I commit my spirit, soul and flesh.

Malam itu, dokter memanggil ayah saya untuk bicara secara pribadi, ssat itu tahun 1982.

That evening the doctor asked to talk privately with my father, it was in 1982.

“Kami telah berusaha semaksimal mungkin tapi kami hanyalah manusia..”

“We have done all we could but we are only humans..”

Orang tua saya mengingat malam itu sebagai malam dimana mereka kehilangan seluruh harapan. Mereka melewatkan malam tanpa makan dan tidur, dengan duduk, menangis dan berdoa di dekat ranjang dimana saya berbaring antara hidup dan mati.

My parents remember that night as the night when they lost all hope. They spent the night without eating nor sleeping, just sat, cried and prayed near the bed where I lied, dying.

Setahun sebelumnya mereka kehilangan seorang anak karena demam berdarah dan kini anak mereka yang tersisa terkena penyakit yang sama dan dokter mengatakan kondisi saya demikian buruk..

my late youngest sister (left)
A year earlier they lost a child out of dengue fever and their only child got the same illness and the doctor told them I was in very bad shape..

Maut demikian dekat.

Death was close.

“Tapi malam itu juga Tuhan datang dan mujizat terjadi” kenang ayah saya, selalu dengan muka penuh kekaguman dan takjub “Malam itu juga kamu sembuh. Tiga hari kemudian kamu sudah bisa turun dari tempat tidur dan jalan seperti orang yang tidak pernah sakit. Empat hari kemudian kamu sudah boleh pulang dari rumah sakit”

“But it was that night when God came and a miracle happened” my father recalled, always with amazement and awe look on his face “You were healed that night. Three days later you could get off the bed and walked as if you never got sick. Four days later you were released from the hospital”

“Kamu dianggap kasus yang luar biasa” sambung ibu saya “Banyak dokter, suster dan pengunjung yang berdatangan ingin melihat sendiri. Banyak yang tidak percaya, apalagi karena saat itu terjadi endemik kasus demam berdarah. Banyak yang meninggal, terutama anak-anak. Malah ada dua anak dokter yang masuk berbarengan sama kamu yang dua-duanya tidak selamat”

“You were considered an extraordinary case” add my mother “Many doctors, nurses and visitors came to see you. Many found it unbelievable because there was dengue fever endemic. Many died, mostly children. There were two children of a doctor who committed to the hospital on the same day when you were committed and they both didn’t make it”

Kira-kira tiga puluh tahun kemudian..

Thirty years or so later..

Ginekolog saya baru saja memberikan vonis; haid saya yang selama berbulan-bulan tidak berhenti mungkin dikarenakan gangguan hormon atau karena ada tumor di indung telur atau karena ini adalah gejala awal kanker rahim.

My gynaecolog just gave the sentence; my unstoppable haid that has been going for months was probably caused by hormone abnormality or a tumor in the ovary or it was uterus cancer early sympthom.

Saya terduduk di lantai dan meninju tembok.

I fell down to the floor and punched the wall.

Saya tidak takut pada kematian tapi bagaimana saya bisa dibiarkan kembali berhadapan dengan maut pada waktu ini? Ibu saya sedang sakit. Orang tua saya tidak bekerja, tidak ada pensiun, tidak ada deposito, tidak ada penghasilan. Saya bekerja menafkahi kami bertiga.

I am not afraid of death but how could I be let to face death again at this moment? My mother was ill. My parents were not working, there’s no pension, no deposit, no income. I work to support the three of us.

Kemana Tuhan yang tiga puluh tahun lalu mengembalikan nyawa saya?

Where was God who thirty years earlier has given my life back to me?

Apakah kali ini Dia akan mengambil nyawa saya?

Would He take my life now?

Tidak sekarang! Kalau saya mati, siapa yang mau memberi makan orang tua saya? Apa mereka harus melewatkan sisa hidup mereka berharap dari belas kasihan orang? Dihina orang? Saya tidak akan bisa mati dengan tenang. Lagi pula saya punya begitu banyak harapan dan cita-cita yang setengahnya saja belum tercapai.

Not now! If I died, who would feed my parents? Should they spend the rest of their lives living on other people’s mercy? Degrading by people? I couldn’t rest in peace. Besides, I have so many hopes and dreams that haven’t even come true, not even half of them.

Saya sembuh walaupun perlu waktu berbulan-bulan sebelum akhirnya haid itu bisa berhenti.

I was healed though it took months before that haid stopped.

Tapi hati saya menjadi keras dan dingin. Saya merasa ditinggalkan dan dikhianati Tuhan. Kalau kalian belum pernah mengalami masalah yang berat sampai rasanya semua jalan tertutup dan Tuhan diam.. kalian tidak akan pernah bisa mengerti rasa yang saya rasakan saat itu..

But my heart was hardened and cold. I felt being abandoned and betrayed by God. If you haven’t been through the worst that it felt there was no way out and God stood silent.. you can’t understand how I felt at that time..

Mungkin hampir dua tahun saya menjadi setengah atheis. Lalu mendekati akhir tahun lalu Tuhan mendatangi saya tanpa saya minta dan tanpa saya cari.

For probably two years I became half atheist. As last year was drawn to its close, God came to me without me asking or seeking for Him.

Saya sedang sakit gigi malam itu. Sakitnya demikian luar biasa sampai saya berpikir apa saya akan melewatkan sepanjang malam tanpa dapat tidur. Ketika saya sedang berpikir seperti itu, tiba-tiba saya melihat Tuhan berdiri di dekat saya (Saya ini dikaruniakan kemampuan bisa melihat dunia roh. Saya seorang Indigo).

I had toothache that night. It hurt like hell that I thought I would spend the night without able to sleep. As I was thinking like that, suddenly I saw God stood next to me (I am blessed with the ability to see spirits. I am an Indigo).

Dia memeluk saya tanpa mengindahkan protes saya. DiletakkanNya tanganNya di kepala saya dan sakitnya luar biasa seperti kepala saya mau pecah tapi setelah beberapa saat, sakit gigi saya hilang!

He held me without paying attention to my protest. He put His hand on my head and it hurt so bad it felt as if it would explode but a moment later all the pain from toothache was gone!

Malam itu saya bisa tidur pulas.

I could sleep soundly that night.

Malam itu juga saya berdamai dengan Tuhan.

I made peace with God at that same night.

Kira-kira enam bulan kemudian..

Six months or so later..

Malam itu ketika saya dan orang tua saya sedang berdoa..

That night when my parents and I were praying..

Tiba-tiba saya melihat maut di depan saya.

Suddenly I saw death infront of me.

Ya, maut.. saya sudah pernah beberapa kali melihatnya, saya mengenalinya walaupun kali itu dia muncul dalam bentuk yang berbeda.

Yes, it was death.. I have several times seen it so I recognized it though it appeared in different form.

“Berbaiklah dengan saya” katanya dengan suara mengiba.

“Come back to me” it said with sad voice.

Berdamai sama elu?? Gila apa?! Siapa juga yang mau? “Enyahlah, dalam nama Yesus!” usir saya keras “Pergi!”

Make peace with you?? Wtf?! Who the hell wants it? "Go away, in the name of Jesus!" I casted it away "Go Away!"

Dia pergi tapi dikejauhan saya melihat dia menatap saya dengan marah dan saya mendengar dia berkata “Saya bunuh kamu! Kalau saya tidak bisa mendapatkan kamu, tidak seorang pun bisa mendapatkan kamu!”

It left but in a distance I saw it stared at me angrily and I heard it said “I will kill you! If I can get you, nobody else will get you!”

Saya tidak takut tapi ancaman itu tidak bisa saya acuhkan. Saya ceritakan pada orang tua saya dan sejak itu pula kami semakin kuat dalam doa serta iman. Selain itu saya juga selalu waspada.

I am not afraid but I can’t ignore that threat. I told my parents about it and eversince that we became more intense in prayer and faith. I also raise my alertness.
  
Mujizat kesembuhan..

Miraculous healing..

Orang mengira sakit saya ini enteng. Mungkin cuma mencret biasa, diare yang gampang sembuh.

People think my illness is nothing. Maybe it is just a diarrhea, the kind that easily healed.

Yang mereka tidak tahu adalah hari Rabu malam kondisi saya memburuk. Sudah dua puluh empat jam kalau saya buang air, feses saya tidak berbentuk padat, cair. Selain itu saya juga mual, saya sulit menelan makanan, obat atau bahkan air, perut saya sakit luar biasa dan puncaknya adalah saya muntah.

What they don’t know is my condition worsened that Wednesday night. It’s been going for twenty four hours that when I pooped, the feses was liquid. I had nausea, I couldn’t swallow any food, meds or even water, my stomach hurt so much and on top of them is I threw up.

Ketika saya melihat makanan dan obat yang sebelumnya dengan susah payah saya telan keluar semua, ketika saya melihat ayah saya memeluk saya sambil menangis, ketika saya merasakan kesadaran saya mulai menipis..

When I saw all the food and meds that I have taken with hard effort were all thrown out, when I saw my father held me as he cried, when I felt I lost my consciousness..

Saya memegang tangan Tuhan dan dengan sisa tenaga, dalam hati saya berbisik..

I held God’s hand and with little energy left that I had in me, I wishpered in my heart..

Tuhan, ke dalam tanganMu kuserahkan roh, jiwa dan dagingku.

God, into your Hands I commit my spirit, soul and flesh.
  
Malam itu juga terjadi mujizat. Setelah muntah, saya bisa makan lagi walaupun cuma dua sendok nasi. Saya juga bisa tidur sepanjang malam tanpa diganggu sakit perut dan tidak terbangun karena ingin buang air besar.

Miracle happened that very night. After I threw up, I could eat again though it was only two spoons of rice. I could also sleep all night without stomache and not got up to poop.

Besoknya kami ke dokter. Satu obat anti mual dan satu obat sakit perut secara ajaib dipakai Tuhan untuk membuat hari itu saya bisa makan, tenaga saya berangsur kembali.

The next day we went to the doctor. One anti nausea medicine and one medicine for the stomache were miraculously used by God to make me able to eat that day so my energy was slowly returned.

Saya tetap masuk kerja hari itu. Bukan karena saya gila kerja, bukan juga karena saya demikian mencintai pekerjaan saya.

I went to work on that day. Not because I was a workaholic, nor because I love my job so much.

“Tuhan, saya tidak mau ada orang yang akan memaki saya, mengatai saya tidak bertanggungjawab dan menggerutu karena harus mengerjakan pekerjaan saya jadi saya akan tetap masuk hari Kamis, Jumat dan Sabtu ini” doa saya “Beri saya kekuatanMu”

“God, I don’t want to have anyone yell at me, telling me of being irresponsible, grumble because they have to do my job so I must come to work these Thursday, Friday and Saturday” I prayed “Give me Your strength”

Ditengah sakit perut, keringat dingin, badan gemetar, lemas, kepala pusing, berjalan harus pakai payung yang saya jadikan tongkat dan kadang dipapah ayah saya.. saya bisa datang ke kantor selama tiga hari itu dan menyelesaikan seluruh pekerjaan saya. Itu mujizat.

Amidst the stomache, the cold sweat, the trembling, the dizzy and I had to use umbrella as walking stick, sometimes my father held me.. I could come to work for those three consecutive days and did all my work. It was miracle.

Tiga hari setelah itu saya benar-benar tidak sanggup masuk kerja.

Three days after that I really couldn't come for work.

Saya berterima kasih sekali pada teman-teman terdekat yang dengan tulus hati mengasihi dan peduli pada saya serta mengkhawatirkan saya. Mereka berusaha menolong saya bahkan tanpa saya minta, menanyai bagaimana kondisi saya, mendoakan saya sampai menelponi saya di rumah untuk mengetahui apa saya baik-baik saja setelah sampai di rumah.


I find sincerity in love & friendship in these people
(photos were taken less than ten days before I got sick)
I am so grateful to my closest friends who sincerely love and care for me and deeply concerned about me. They tried to help me even without me asking a favor, they asked how I was, prayed for me and even called me home to know how I was doing once I got home.

Mereka ikut membesarkan semangat saya untuk sembuh dan bangkit kembali.

They have their part to boost up my spirit to get well and stand up again.

*  *  *  *  *

Dua minggu sudah lewat.. 

Two weeks have passed.. 

Saya sembuh karena mujizat. Obat dari dokter tidak bisa lagi saya minum karena badan saya tidak mau menerimanya. Jadi hanya obat diare yang di jual umum saja yang saya minum dan kuasa Tuhan membuat obat sederhana itu menyembuhkan saya.

With my father, Sunday, 20 March 2016
I am healed by miracle. I can’t take the meds from the doctor anymore. My body reject them. So it is only regular diarrhea medicine and God’s power made that simple medicine healed me.

Sekarang saya masih dalam masa pemulihan. Menjaga makan dan banyak istirahat. Kadang bisa tiba-tiba diarenya kumat lagi dan itu artinya selama beberapa hari perut serta badan kembali terasa tidak enak.

I am in recovery process. I watch what I eat and get plenty of rest. Sometimes diarrhea could just reappear and it makes the stomach and body don't feel good for few days.

Sebab justru dalam kelemahanlah, kuasaKu menjadi sempurna (2 Korintus 12:9)

My strength is made perfect in weakness (2 Corinthians 12:9)

Terima kasih, Yesus.. untuk semuanya. 

Thank you, Jesus.. for everything.

No comments:

Post a Comment