Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Wednesday, March 28, 2012

Penyakit Menular / Contagious Diseases

Kalau melihat judulnya pasti yang terpikir adalah penyakit model pilek, batuk, cacar air, campak, demam berdarah, tipus, tbc dll.


Tapi ada penyakit-penyakit menular lainnya. Tidak pakai bersin, batuk, muntah atau demam. Bahkan seringkali tidak ada yang sadar kalau dirinya sudah tertular atau menulari penyakit-penyakit itu. Boro-boro langsung pergi ke dokter.

Hayooo… penyakit apa ya itu?

Takut, cemas, curiga, marah dan iri.

Pasti deh langsung ber-oooooh…. Kalau itu sih saya juga tahu, mungkin anda akan berkata demikian. Tapi mungkin juga lalu mengerutkan kening. Takut bisa menular? Bisa ikut-ikutan ketularan cemas orang lain? Curiga, marah dan iri begitu juga? Iya, betul. Tapi yang kali ini mau saya bahas adalah soal takut.

Takut paling mudah untuk ditularkan atau untuk tertular. Coba saja kalau ada orang di sebelah kita yang lagi senewen karena melihat kecoak, ular, berdiri di tempat tinggi, naik pesawat, nonton film horor, jalan malam-malam di tempat sepi, lewat kuburan pula.. kalau kita tidak bakal ikut-ikutan senewen alias ketularan jadi takut juga.


Tapi ada jenis ketakutan lain yang lebih gawat dari takut pada kecoak, gelap, setan, terbang dengan pesawat dsb. Jenis ketakutan begini sering saya temui pada diri murid-murid saya. Ketakutan macam apakah itu gerangan?

Takut salah. Takut disalahin. Takut diomelin. Takut dimarahin.

Siapa juga di dunia ini yang tidak pernah berbuat salah?

Dan siapa yang bisa menduga bahwa sesuatu dalam pemikiran, perbuatan atau perkataan kita bisa menjadi suatu kesalahan?

Adakah orang yang dengan seluruh kesadaran akal sehatnya sengaja berbuat salah? Hampir tidak ada. Kecuali pada orang-orang tertentu yang memiliki masalah psikologis sehingga sengaja membuat kekacauan untuk menarik perhatian orang lain.

Jadi kita berbuat atau mengeluarkan perkataan yang salah. Konsekuensinya sudah jelas. Teguran. Omelan. Kemarahan. Nasihat. Tindakan memaafkan atau meminta maaf. Dalam batas wajar tentunya.

Tapi bagaimana bila konsekuensinya melebihi batas? Teguran atau omelan yang berlebihan, kemarahan ekstrim melalui ucapan yang menyakiti hati atau hukuman fisik. Permintaan maaf yang dipaksakan. Lalu rajin mengingatkan tentang kesalahan itu bahkan ketika permintaan maaf sudah diberikan dan waktu sudah berlalu sekian hari, sekian minggu atau bahkan sekian tahun kemudian.

Ini yang saya maksudkan dengan jenis penyakit menular yang sama berbahayanya dengan penyakit-penyakit fisik karena seseorang yang pernah berbuat salah dan kemudian menerima reaksi seperti yang saya tuliskan di atas akan belajar untuk takut berbuat salah. Dia tidak bisa mengerti bahwa kesalahan adalah hal yang tidak terhindarkan. Dia mungkin luput untuk belajar bahwa intinya adalah bukan menjadi terobsesi dengan kesalahan yang diperbuatnya melainkan belajar dari kesalahan tersebut untuk membuat dirinya berkembang dan menjadi lebih baik.

Beberapa murid saya pernah mengalami hambatan dalam belajar karena faktor takut model begini.

Setelah mereka yakin bahwa saya tidak menekan, mereka mulai merasa nyaman, ketakutannya pelan-pelan hilang, kesalahan yang di buat tidak lagi menjadi momok yang menakutkan sehingga rasa percaya diri mulai muncul dan kemajuan belajar mereka luar biasa pesat.


Tadinya saya mengira hal seperti ini hanya terjadi pada anak-anak. Tapi di dunia orang dewasa rupanya terjadi juga.

Di tempat kerja saya sekarang ini saya menjumpai orang-orang yang dibelenggu oleh rasa takut dan sadar atau tanpa sadar mencoba menularkan ketakutan mereka kepada saya. Sebal betul saya jadinya. Ya bagaimana tidak kalau melihat mereka serba takut disalahkan dan lebih menyebalkan lagi bahwa mereka mewanti-wanti supaya jangan sampai saya disalahkan (lagi). Bah!

Kalau takut berbuat salah ya berhenti saja hidup karena selama kita masih bernapas maka kita pasti tidak akan luput dari berbuat salah.

Saya senang bekerja di tempat ini. Mayoritas orangnya baik. Kecuali ya itu tadi. Serba takutan. Takut salah. Takut disalahin. Ini yang membuat saya sering gerah. Memang tidak ada yang sempurna tapi saya pikir tidak seharusnya ketakutan itu tetap menghantui apalagi berurat berakar dan kemudian ditularkan kepada orang lain. Akibatnya sekelompok orang-orang baik ini adalah orang-orang yang juga takut salah dan takut disalahin. Dari pemimpin sampai ke anak buah.

Bagaimana cara menangkalnya? Tetap berpikir positif dan mempertahankan pendirian. Saya menanamkan dalam hati bahwa saya tidak takut berbuat salah dan saya tidak akan hancur karenanya. Kesalahan yang saya buat bisa sepele atau bisa rumit. Tapi dalam semuanya itu saya akan memakainya sebagai pembelajaran untuk mengubah diri saya menjadi manusia berkembang dan berubah ke arah positif.


Bagaimana cara menangkalnya? Tetap berpikir positif dan mempertahankan pendirian. Saya menanamkan dalam hati bahwa saya tidak takut berbuat salah dan saya tidak akan hancur karenanya. Kesalahan yang saya buat bisa sepele atau bisa rumit. Tapi dalam semuanya itu saya akan memakainya sebagai pembelajaran untuk mengubah diri saya menjadi manusia berkembang dan berubah ke arah positif.

___________________________________________________________________

Judging from the above title you might guess it would be cold, cough, measles, dengue fever, typhus or tbc.

Well, not quite as there are other contagious diseases apart from them. But people are unaware of those diseases presence because their sympthoms are not seen as diseases. It is why many people don’t realize that they may have already have them or become the carrier, spreading to other people.

So what are they anyway?

Fear, worries, suspicion, anger and jealousy.

Oh, so what’s the big deal? You would have just shrug it off or wonder if you might have one of those diseases. Yes, I call them disease. Not just emotion. And there are actually many of their kinds though I chose to pick fear as the topic.

Fear in my opinion is very contagious. Just see how easy it is to make people around you scared of what scarrying you. If you see a snake, a cockroach or having anxieties over flying by aeroplane for example and let your fear visible to others, I bet it would effect them. Or spreading it through horror movies.., let’s see if you can still walk with light heart at night, passing quiet, dark alleys or even passing the cemetery after you watch horror movies.

But there is other kind of fear that I have found in my students. It is the fear of making mistake, fear to be blamed, fear to be yelled at.


Talk about making mistakes. Who on this earth is free from making mistakes? No matter how smart or wise we are, we can not keep our minds, doings or words free of mistakes.

Well, there are kind of people who do wrong things for wrong reason. These people do that to get attention. But most of us are not like them.

So we make mistakes and the consequence is pretty clear. We have to deal with other people’s anger, warning, reprimand, advices and apologies. 

Only when the consequences went beyond normal level that it would left scars or trauma in the heart, mind or psyche of the person who is causing the mistake. This is what I called contagious disease because it is easily spreading. We can pass it to other people.

Those who already have it would miss the point that nobody is perfect, that everyone can make mistake and the whole thing is not about making ‘ the mistake ‘ but it is about learning from mistakes, learning how to fix it and to use it as a way to develop and becoming a better person.

Some of my students had this disease. Only after they saw that I didn’t exaggerating their mistakes, I don’t pressed them over their imperfectness that they become relaxed and start to make improvements in their learning abilities and also in their personalities.

At first I thought it only happens in children. How wrong I was after I experienced it few times at work how adults are having this kind of fear as well.

I have got a bunch of nice people in the place where I work but I soon discover that some of them have the mistake-making-fear and the bad thing is they try to pass it to me when they like to remind me about the mistake I made and how not to get yelled again over making mistakes.


Well, hear this, if we want to be free of making mistake, then just stop living!

I can’t figure it out how could they have this kind of fear. Few of them have important and even high position in their office. But seeing, hearing and feeling their fears could really make me feel wanting to break free, to just get as far as I could from them.

Now how if we have a leader or a boss like this?

It is actually cureable. All we need is to think positive. I keep telling myself that I will not let my errors destroy me. I am learning from them and I will get positive outcome from them.


No comments:

Post a Comment