Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Wednesday, July 31, 2019

Forty Eight Years Later..

Pernah dengar lagu ini?


Have you heard this song?

Ya, siapa yang tahu akan masa depan?

Well, who can know what lies in the future?

Dan kalau mau ngomongin umur.. haish.. lebih ga tahu lagi berapa lama setiap orang diberi waktu untuk hidup.

And speaking of age.. gosh.. no one knows how long each of us will live.

Lantas gimana dong?

So what are we going to do about it?

*  *  *  *  *

Tua amat lo!

You are old!

Saya masih ingat banget komentar spontan teman saya itu waktu dia lihat foto ini.

I still remember my friend's remark when he saw this photo.

Saya cuma nyengir aja waktu itu karena tidak tahu harus bilang apa.

I just grinned because I didn't know what to say.


Pertama adalah alasan saya menaruh dua lilin itu bukan untuk memberitahukan seluruh dunia bahwa "Woy, penonton, gue sudah tua nih".

First of all the reason I put those candles was not to tell the whole world that "Yo, people, I'm old".

Jadi, buat apa dong?

So, what are they meant for?

*  *  *  *  *

Bukan mau saya

It wasn't my wish

Kita ada di perut emak kita bukan karena mau kita.

We were in our mother's womb not because it was our wish.

Kamu jadi anak ayah dan ibumu bukan karena mau kamu.

It wasn't your wish to became your father and mother's child.


Saya menjadi anak dari papa dan mama saya bukan karena saya mau mereka jadi orang tua saya.

I became my dad and mom's child not because I wanted them to become my parents.

*  *  *  *  *

Bukan juga keputusan saya

It wasn't my decision either

Saya memutuskan untuk dilahirkan ke dunia.

I decided to be born into the world.

Saya memutuskan untuk menjadi anak dari bapak Yohanes dan Ibu Anna.

I decided to be born as the child of Mr. Yohanes and Mrs. Anna.


Saya memutuskan untuk menjadi anak sulung mereka.

I decided to become their first born.

Benarkah begitu?

Does it work like that?

*  *  *  *  *

Semuanya telah ditentukan

Everything is destined

Ketika kita sudah ada di dunia dan kita merasa haus, kita bisa memutuskan untuk minum atau tidak. Kita juga bisa memilih mau minum air atau beli es krim.

When we are already here on eart and we feel thirsty, we can decide to take a drink or not. We can also choose what we want to drink, is it water or ice cream.

Tapi urusan kapan lahir dan siapa yang akan jadi orang tua bukanlah pilihan dan keputusan kita.


However, it is not up to us to pick our birth date or to pick the poeple who would become our parents.

Semuanya sudah diatur.

Everything has been arranged.

*  *  *  *  *

Tidak adil!

It's not fair!

Ya iyalah tidak adil.

Of course it's not fair.

Tidak ada yang pernah tanya "Hei, kamu mau ga lahir ke dunia?".

No one ever asked "Hey, would you like to be born into the world?".

Tidak ada yang pernah datang dan kasih tahu "Nanti di dunia kamu akan jadi anaknya si A dan si B ya"

No one came with this information "You will become Mr. A and Mrs B's child"

Tahu-tahu aja sudah jadi embrio di perut emak.


All of sudden there you are, an embryo in your mother's womb.

Mau bilang apa kalau sudah begitu?

What would you going to say about it?

Mau protes gimana?

Neither could you against it.

Mau dibatalin?

Would you abort it?

Bukan juga pilihan dan keputusan kita.

It would not be our choice and decision either.

*  *  *  *  *

Jangan bilang 'seandainya...'

Don't say 'if only...'

Satu hari kamu lagi main ke rumah temanmu dan setelah lihat rumahnya kamu mikir... 'duh, rumahnya gede banget. Dia punya kamar sendiri, ada AC dan ada kamar mandi di dalam kamarnya itu'.

One day you go to your friend's house and after seeing his or her house you have this thought... 'oh my, it's such a big house. He (or she) has her own room, there's AC and bathroom in that room'.

Atau waktu lagi di dalam kelas kamu lihat temanmu muncul dengan tas baru dan kamu mikir... 'bulan lalu dia baru aja beli tas baru. Sekarang sudah pake tas baru lagi'.

Or in class you see your classmate came in with a new bag and you thought... 'he (or she) just had new bag last month. Now he (or she) has another new bag'.

Atau kamu lihat tetanggamu mau berangkat kerja dan sebelum berangkat dia dadah-dadahan dulu sama istri serta anak-anaknya dan kamu tiba-tiba teringat bahwa selama tetanggan sama mereka belum pernah kamu dengar mereka ribut berkelahi. Lalu kamu mikir... 'beda amat ya sama keluarga aku'.

Or you see your neighbor is leaving to work and he gives kisses to his wife along and to their kids and then you remember you have never heard them had fights. So you thought... 'it's so different with my family'.

Sedih dan cemburu boleh aja.

It's ok to feel sad and envy.

Tapi jagalah jangan sampai pikiran-pikiran ini bikin kamu jadi makin stress atau malah jadi penuh sama emosi negatif yang merugikan diri sendiri dan juga merugikan orang lain.

But keep these thoughts from making you more stressed or full with negativity that will do bad to yourself and to others.

Karena pikiran-pikiran itu akhirnya membentuk pikiran-pikiran baru.

Because those thoughts eventually form new thoughts.

Seandainya aku terlahir dalam keluarga itu..

If only I were born in that family..

Seandainya saja orang tua aku sekaya orang tuanya..

If only my parents were as rich as his (or her) parents..

Seandainya saja keluargaku bisa serukun mereka..

If only my family could get along well as their family..

Pikiran-pikiran 'seandainya..' ini bikin kita makin kesel, makin marah, makin sedih, makin frustrasi, makin penasaran, makin sakit hati, makin iri, makin gelisah..

This 'if only..' thoughts make us more upset, more angry, more sad, more frustrated, more anxious, more hurt, more envious, more restless.

Jadi sebisa mungkin hindari dan cegahlah supaya jangan pikiran negatif berkembang menjadi pikiran 'seandainya..'.

So if it's possible avoid and stop negative thoughts from becoming 'if only..' thoughts.


*  *  *  *  *

Berhenti mencari siapa saja dan apa saja untuk dipersalahkan

Stop looking for anyone and anything to blame

Saya kan jadi begini gara-gara dia atau gara-gara mereka.

I became like this because of him (or her or them).

Mereka sih bikin sikon jadi ga enak buat saya.

They have caused me this unpleasant situation.

Ini bukan mau saya.

This is not what I wanted.

Tuhan ga sayang ke saya.

God doesn't love me.

Kamu memang sengaja mau bikin saya susah.

You did this on purpose to put me into trouble.

Ketika kondisi memburuk, saat situasi di luar kendali, waktu semuanya kelihatan kacau..

When things get worse, at time when everything goes out of control, when looks like nothing goes well..

Otak kita mulai berputar.

Our mind raced.

Mencari jawaban.

Looking for answers.

Menuntut kejelasan.

Demand for clarity.

Ketika semua makin menyesakkan..

When things became more suffocating..

Ketika itulah kita mulai menyalahkan setiap orang dan setiap hal.

That is when we started blaming everyone and everything.

Kadang-kadang termasuk menyalahkan diri sendiri.

Sometimes we also blame ourselves.


*  *  *  *  *

Mereka punya segalanya tapi tetap saja mereka..

They have everything but still they are..

Seandainya almarhum putri Diana masih hidup hari ini, saya yakin dia masih tetap merasa tidak bahagia.

Supposed the late princess Diana were still alive today, I'm sure she would still feel unhappy.

Pernah dengar tentang almarhum Christina Onassis?

Have you ever heard about the late Christina Onassis?

Ayahnya multi jutawan yang bikin dia punya segalanya.

Her father was a billionaire which made her had everything.


Segalanya?

Everything?

Ya.

Yes.

Kecuali cinta dan kedamaian.

Except love and peace.

*  *  *  *  *

Bahagia, cinta dan damai.

Happiness, love and peace

Tidak datang dari berapa jumlah gaji orang tua kita.

Do not come from the amount of our parents salary.

Tidak datang dari strata sosial keluarga kita.

Do not come from our family's social strata.

Ada satu buku yang beberapa waktu lalu saya baca.

Some time ago I read this one book.

Ditulis oleh anak seorang mantan supir angkot.

It's written by a former angkot driver's son.


Keluarga yang hidup dalam keadaan serba sulit secara ekonomi.

A family living in financial hardship.

Tapi mereka bisa bahagia.

But they could feel happy.

Bahkan si penulis yang sudah jadi pekerja sukses dan lumayan tajir di kota New York memutuskan untuk meninggalkan semuanya untuk kembali ke kota kecil di Indonesia agar bisa dekat dengan orang tua serta saudara-saudaranya.

The writer who had become quite success in work and financial in New York city decided to leave everything and returned to his small hometown in Indonesia so he can be together with his parents and siblings.

Tidak masuk akal menurut kita.

Most of us think it doesn't make sense. 

Orang-orang tertentu telah menemukan rahasia kehidupan.

Certain people have found a life secret.

*  *  *  *

Empat puluh delapan tahun kemudian..

Forty eight years later..

Orang tua saya bukanlah orang tua yang sempurna.

My parents are far from perfect ones.

Sejujurnya saya malah menganggap seharusnya mereka tidak menikah dan tidak punya anak.

To be honest I think they shouldn't get married and have children.

Tapi sebagian besar manusia tidak mau repot berpikir tentang kesempurnaan ketika mereka memutuskan untuk menikah atau memutuskan untuk punya anak.

However, most people won't bother to think about perfection when they decided to get married or to have kids. 

Que sera.. sera..

Apa pun yang akan terjadi, terjadilah.

Whatever will be, will be.

Jadi sebetulnya mayoritas manusia di dunia ini adalah produk dari 'que sera sera'.

So basically most human in this world are products of this 'que sera sera'.

Jadi apa yang akan kita lakukan?

So what are we going to do?

Menangisi nasib? Menyumpahi orang tua? Menyalahkan Tuhan?

Crying on fate? Cursing the parents? Blaming God?


Empat puluh delapan tahun kemudian saya telah dan masih menjalani kehidupan yang tidak pernah saya bayangkan harus saya jalani.

Forty eight years later I have and still lived the life I have never imagined I would have to live.

Empat puluh delapan tahun kemudian saya harus menjadi seseorang yang tidak akan pernah saya pilih seandainya saja saya bisa memilih.

Forty eight years later I still have to become somebody who I would never chose if only I could choose.

Lebih dari setengah umur itu saya jalani dengan penyesalan dan kemarahan.

I have spent more than half of my age in regrets and anger.

Ketidakbahagiaan dan kegelisahan.

In unhappiness and anxieties.

Ketidakmengertian kenapa saya harus ada di dunia ini.

With no understanding on the reason why I should be here in this earth.

Sampai akhirnya saya tiba di titik terakhir.

Until I reached the final edge.

Saya bisa menghabiskan seluruh umur saya untuk merasa gelisah atau saya akan menerima diri saya seutuhnya.

I could spend the rest of my life feeling anxious or I would accept myself wholly.

Saya memilih untuk hidup, menciptakan kebahagian sendiri dan menemukan tempat di dunia ini.

I chose to live, to create my own happiness and to find my own place in this world.


*  *  *  *  *

2020

Dalam beberapa bulan lagi umur saya akan bertambah setahun lagi.

In just few months I will add another year to my age.

Dalam segala krisis, tantangan dan masalah di awal tahun 2020 ini saya tetap bisa bahagia dan damai.

Despite all the crisis, challanges and troubles in the beginning of 2020 I can still able to feel happy and peaceful.



2 comments: