Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Monday, December 16, 2013

Home Sweet Home

Arloji saya menunjukkan jam hampir setengah enam sore ketika KA Pangrango yang saya tumpangi sampai di stasiun Bogor Paledang hari Senin, 9 Desember.

My wrist watch showed it was nearly half past five pm when Pangrango train that I rode in arrived at Bogor Paledang train station that Monday, December 9th.

Aduh, leganya..

Wheww, so glad..

Aduh, capeknya..

Gosh, I was so damn tired..

Saya kedinginan sepanjang perjalanan dari Sukabumi ke Bogor. Siapa bakal ngira AC di dalam kereta bakal jadi sedingin itu. Mungkin juga tambah dingin karena di luar hujan.

I was freezing all the way from Sukabumi to Bogor. Who would know the AC be that cold. But it was probably because it rained outside.

Saya tidak membekali diri dengan membawa jaket karena tidak mau ransel jadi berat. Jadi saya hanya membawa selendang tipis.

I didn’t bring my jacket for not wanting to put more weigh on my backpack. So I just brought my thin stole.

Saya duduk dekat jendela. Menggeletar kedinginan. Bertanya-tanya kapan sampai ke Bogor.

I’ve got window seat and I sat there, shivered. Wondered when would I arrive in Bogor.

Begitu turun dari kereta… ya ampun!!... hujan!!.. saya kira hujannya sudah berhenti.

Once I got off the train… oh no!!.. it rained!!.. I thought it has stopped.

Hadeuh.. mana bawa ransel berat karena berisi oleh-oleh dan masih ada bawaan satu kantong plastik besar yang juga berat.

Gosh.. I had a heavy backpack stuffed with gifts and a big heavy plastic bag.

Dibawah siraman air hujan, saya berhenti sebentar, mengaduk-aduk ransel dan dengan susah payah mengeluarkan serta membuka payung.

Under the pouring rain, I stopped walking, struggled to get my umbrella from my backpack and to open it.

Rumah rasanya jadi jauuuuuhh banget.. hehe..

Home felt soooooooo faraway.. lol..

2 angkot dan 1 ojek kemudian.. sampailah saya di rumah.

angkot passing my housing complex in the morning

2 angkots and 1 ojek later.. I got home.

“Mandi sana cepetan” bokap langsung mengambil alih ransel dan kantong plastik berat itu.

“Go and have a bath, quickly” my father took over my backpack and that heavy plastic bag.

Air panas sudah tersedia di ember. Ah, papa sayang.. setiap kali saya sampai di rumah pasti sudah ada air panas di kamar mandi untuk saya mandi. Bokap yang masakin airnya.

There was hot water in the bucket. My dear dad.. everytime I get home, he has hot water in the bathroom for me to bath.

Selesai mandi..

After bathing..

“Ke, makan dulu” panggil ayah saya.

“Here, have dinner” my father called me out.

Ada nasi panas, sop panas dan teh panas manis… mmm… sedap.. mandi air panas dan makanan serta minuman panas ini mengusir rasa dingin karena AC dan hujan.

Hot rice, hot soup and hot sweet tea… mmm… yummy.. the hot bath and hot dishes and hot drink got rid all the freezing out of AC and rain.

Setelah makan berkumpulah kami bertiga, saya dan orang tua saya, duduk di sofa. Mengobrol dan tertawa berganti-ganti. Saya bercerita tentang perjalanan saya dari Bogor ke Sukabumi sampai kembali lagi ke Bogor. Mereka bercerita tentang hal-hal yang terjadi di rumah selama saya pergi.

After dinner the three of us, me and my parents, sat on the sofa. Talked and laughed. I told them about my trip to Sukabumi. They shared the things happened at home while I was away.

Sambil ngobrol, mulut sibuk mengunyah mochi.


We talked while snacking mochi.

Saya duduk sambil melonjorkan kaki di atas pangkuan ayah saya, yang sebelah tangannya menyemili mochi dan sebelah lagi memijiti kaki saya. Sementara ibu saya memegang ujung kaki saya.

I sat with my legs on my father’s lap, who one hand snacking on mochi and other hand massaging my feet. While my mother held my foot.

Saya tidak tahu berapa jam kami duduk mengobrol, ngemil mochi, tertawa dan bercanda.

I don’t know how long did we sit there, snacking mochi, laughing and joking.

Saya tidak peduli orang menilai kelakuan saya kurang sopan pada orang tua atau terlalu manja.

I don’t care people think I behave impolitely toward my parents or being such a spoiled child.

Saya bersyukur kami bukan orang-orang yang kaku.

I am grateful we are not stiff people.

Dan ya, saya juga tidak peduli orang menilai saya anak manja. Di dunia ini harta saya yang bernilai paling tinggi adalah orang tua saya.

And yes, I also don’t care if people say I am spoiled. In this world my most valuable wealth is my parents.

Saya anak tunggal. Di dunia ini saya tidak punya siapa-siapa yang sungguh-sungguh dan tulus menyayangi saya. Jadi ya, selama saya masih hidup, saya hidup untuk orang tua saya. Dan selama orang tua saya masih hidup, mereka hidup untuk saya.

I am an only child. I have no one in this world that really and sincerely love me. So yes, as long as I am alive, I live for my parents. And as long as my parents alive, they live for me.

Bertahun-tahun yang lalu saya pernah memiliki harta. Kemudian semua itu hilang. Bahkan selama satu tahun setengah ini fisik dan kesehatan saya rasanya hampir ikut hilang juga.

Many years ago I had the wealth. Later, it was gone. In the past year and a half it seemed my physical and health were almost gone too.

Tapi ada satu yang tidak akan pernah hilang.

One thing never gone.

Kasih sayang yang ada antara saya dan orang tua saya adalah hal yang tidak bisa hilang.

The love between me and my parents is the thing that never gone.

Kesusahan dan penyakit boleh datang dan pergi tapi kasih sayang itu tetap tinggal di dalam hati kami.

Hardship and illnesses may come and go but love stays in our heart.

Kasih sayang itu menyertai dan menyelamatkan kami saat melalui segala suka duka.

That love is with us and saves us through thick and thin.

Ya, saya telah melakukan banyak pemberontakan karena saya mencari kemandirian dan saya membangun kepercayaan diri.

Yes, I have made lots of rebellion because I seek for independency and built up myself confident.

Saya telah melakukan traveling yang sebagian besarnya saya lakukan tanpa setahu dan seijin orang tua saya karena saya mengikuti dorongan hati untuk menjadi mandiri dan berani.

I have made lots of traveling that most of them were made without my parents’s acknowledgement nor consent because I followed my heart’s impulsiveness to get independency and courage.

Tapi di akhir setiap perjalanan itu saya kembali ke rumah, kembali pada orang-orang yang saya sayangi.

But at the end of every traveling I returned home, returned to the loved ones.

Malam itu setelah kami berpuas-puas saling bertukar cerita dan kabar, menertawai hal-hal yang lucu yang terjadi sepanjang hari itu, merenungkan kejadian-kejadian tertentu, saya mencium pipi ayah saya dan ibu saya sebelum pergi tidur.

That night after we have shared the stories and news, laughed the funny stuff, gave thought about things that all have been happening on that day, I kissed my father and my mother before I went to bed.

Di kamar.. saya mematikan lampu, naik ke tempat tidur, berbaring dan menghela napas. Sejenak menikmati keheningan malam. Mendengarkan suara tetesan air hujan dan desau angin.


In the bedroom.. I turned off the light, got into the bed, lied down and sighed. For a while enjoying the quietness of the night. Listening to the raindrops and the sound of the breezing wind.

Saya teringat lagi pada perjalanan backpacking saya sendirian ke Sukabumi.

I remember my independent backpacking trip to Sukabumi.

Saya capek tapi juga amat sangat bahagia dan puas dengan diri sendiri.

I was exhausted but so very happy and content for myself.

Satu perjalanan telah saya lakukan. Satu cara untuk mengalahkan rasa takut, cemas, ragu, marah, kecewa dan depresi telah saya lakukan.

I have made one trip. I have made one way to defeat fear, worries, doubt, anger, disappointment and depression.

Satu lagi langkah kemenangan, bisik saya dalam hati.

Another one victorious step, I whispered.

Dan saya mensyukurinya.

And I was grateful.

Bersyukur untuk segala baik dan buruk yang terjadi sepanjang hari itu. Bersyukur semua tantangan berhasil saya lalui dan saya atasi sendiri. Bersyukur badan dan mental saya kembali kuat. Bersyukur saya telah kembali ke rumah. Bersyukur saya memiliki orang-orang tersayang di rumah. Bersyukur akhirnya saya bisa beristirahat.

Grateful for every good and bad things on that day. Grateful that I myself could get through and handle every challenge. Grateful for having my physical and mental strength back. Grateful for being back at home. Grateful for having loved ones at home. Grateful that I could finally have a rest.

Saya mendengar suara orang tua saya yang masih mengobrol di ruang tamu.

I heard my parents voices talking in the livingroom.

Suara-suara yang menentramkan hati.

Brought comfort to me to hear those voices.

Saya sudah kembali ke rumah.

I have returned home.

Si anak bandel, keras kepala, pemberontak yang selalu ingin mencari jalannya sendiri dan  yang ingin menjadi dirinya sendiri.. sudah kembali ke rumah.

The obstinate, headstrong, rebellious child who always wants to find her own way and wants to be herself.. has returned home.

Saya menghela napas panjang. Merasakan kedamaian dalam hati.


I took a deep breath. Felt peace filled the heart.

Dan saya tertidur…

And I fell to sleep…

No comments:

Post a Comment