“Ke, kok ga datang hari Sabtu?” tanya seseorang pada saya
hari Minggu (20/10).
“Why didn’t you come on
Saturday?” someone asked me that Sunday (Oct 20th).
“Iya nih, yang datang cuma 5 orang” kata temannya.
“There were only 5 people
who came” added her friend.
“Ha, masa?!” saya kaget lalu spontan tertawa.
“What, really?!” it
surprised me but also made me laugh.
“Ini sih ga datang” senior saya yang super kocak itu
tersenyum sambil mengacungkan kepalan tangannya ke arah saya.
“And this one didn’t
come” my super funny senior smiled as he pointed his fist to me.
Saya cengar cengir saja.
I just grinned broadly.
Saya memang tidak berminat untuk menghadiri acara pemuda
yang diadakan hari Sabtu sore itu (19/10).
I had no intention of
joining youth fellowship held on that Saturday afternoon (Oct 19th).
Saya lebih tertarik untuk pergi ke Taman Topi dan menonton
pertunjukan live music yang diadakan hari Sabtu sore itu. Tapi hujan turun
lumayan deras. Jalanan macet. Saya bisa saja jalan kaki ke sana tapi dengan
hujan sederas itu.. wah, tidak deh.. Sayang sebetulnya karena sore itu yang
ditampilkan adalah musik reggae.
Infront Taman Topi Square |
I had more interest to go
to Taman Topi Square and see the live music show held that Saturday afternoon.
But it was pouring rain. The road was jammed. I could walk there but under that
pouring rain.. nah, I don’t think so.. Such a pity because the music played
there was reggae.
Saya tidak berminat untuk mendengarkan karena pembahasannya
lebih mengacu pada keagamaan.
I wasn’t interested to
listen because it was all biblical.
Saya hanya mau mendengarkan bila pemuda-pemudi itu bicara
tentang hal-hal nyata yang mereka alami, rasakan atau pikirkan.
I only willing to listen
when the young people talk about real thing they experienced, feel or think.
Tapi bukan hal mudah untuk membuat mereka mau bicara. Apa
suasana, tempat atau orang-orang dimana mereka berada bisa membuat mereka
merasa nyaman untuk bicara sebebas-bebasnya?
It is not an easy thing
to make them speak though. The surroundings, the atmosphere or the people where
they are or whom they are with play part in making them feel at ease to talk
freely.
Seorang dari mereka pernah curhat pada saya ketika kami
dalam angkot, yang lain memilih datang ketika saya sedang berada sendirian
diruangan saya.
One of them confided to
me when we were in public transportation, the other came when I was alone in my
room.
Atau mereka akan menyelipkannya disela-sela pembicaraan
tentang hal-hal umum. Misalnya ketika saya dan beberapa dari mereka sedang
mengobrol tentang berbagai hal mulai dari pekerjaan, harga-harga di pasar,
politik.. tiba-tiba bisa menyelip curhatan seseorang atau beberapa orang.
Or they would insert in
the conversation. Like the one time when I was with some of them and in the
midst of our conversation about common stuff from work, prices in the market,
politics.. someone or few of them would confide about personal feelings, thoughts
or experiences.
Saya yang lebih tua dari mereka saja masih pilah pilih tempat dan
waktu serta siapa yang jadi lawan bicara saya.
I am older than them and
I am picky when it comes to confiding things to others. I pick the place and
time, also with whom I am with.
Saya pikir pemuda-pemudi itu lebih baik dilibatkan dalam
kegiatan. Kunjungan rutin ke rumah jompo, panti asuhan, rumah singgah, pusat
rehabilitasi, penjara, rumah sakit untuk
melakukan kerja sosial.
I think the youth should
be involved in various activities. Regular visits to elderly housing,
orphanages, foster houses, rehabilitation centre, prison, doing social
activities.
Diluar negeri ada kegiatan sosial untuk anak-anak remaja
atau kaum muda dimana pada hari-hari tertentu mereka pergi ke panti jompo untuk
menemani atau membantu para manula disana. Malah ada program yang menunjuk satu
remaja / satu pemuda untuk mendampingi satu manula.
In other countries there
are social activities for teenagers or the youth to go to elderly house in
certain days to accompany or help those elderly people. There is even program
for a teenager or a young person to be an aide for an elderly.
Atau mereka mengunjungi orang-orang tua yang tinggal sendiri
atau orang cacat untuk membersihkan rumahnya, membantu orang-orang itu
melakukan kegiatannya atau khusus hanya menolong pergi berbelanja.
Or they visit elderly
people who live alone or people with disabilities. They clean the house,
helping those people doing their activities or just running their errands.
Biarlah lewat kegiatan-kegiatan itu mereka bisa melihat,
berpikir dan bicara secara nyata. Tidak hanya berkurung dalam ruangan, diocehi
berbagai teori agama dan dipaksa untuk bicara.
So through those
activities they can see, think and speak about reality. Not just crawling inside
a room, being preached about religion and forced to speak.
Kalau hal seperti ini bisa dijadikan sebagai kegiatan rutin
muda-mudi, saya yakin jumlah yang datang akan lebih dari 5 orang.
No comments:
Post a Comment