Momen kebersamaan apa yang paling anda ingat ketika bersama
dengan ibu anda?
What is the most
memorable of togetherness moment between you and your mother that you can
recall?
Yang paling saya ingat adalah saat-saat saya dan ibu saya
berbaring di tempat tidurnya dan kami berdua mengobrol panjang lebar, tertawa
serta bercanda. Kadang bisa sampai berjam-jam.
My most
memorable togetherness moment with my mother is the times when she and I lied
down on her bed and we had long talk, laughed and joked. This could go for
hours.
Saya lupa kapan terakhir kalinya kami melakukan hal ini.
Kami bisa dikatakan tidak pernah lagi melakukannya sejak kesehatannya menurun.
I forgot when
was the last time we did this. We, infact, have never done it since she has
been having health problem.
Que sera, sera.. whatever will be,
will be.. the future is not ours to see..
Apa pun yang akan terjadi,
terjadilah.. masa depan tidak bisa kita lihat..
Ibu saya pastilah tidak pernah membayangkan bahwa pada suatu
saat di masa depan, dirinya akan menjadi seperti sekarang.
My mother has
definitely never imagined that sometime in the future she would become like she
is now.
Dia seorang yang terlahir dengan kelebihan fisik, kuat,
sehat, pintar, cantik.
She was born
with strong physic, health, smart, pretty.
Sekarang dia di dera dengan berbagai masalah kesehatan.
Thyroid, jantung, tekanan darah tinggi, sulit tidur, senewenan, diare, rematik.
These days she
is tortured with many health problems. Thyroid, heart, high blood pressure,
sleeping problem, anxieties, diarrhea, rheumatic.
Semua itu berlangsung hampir tanpa henti. Silih berganti.
It goes nearly
nonstop. One after another.
Selama tiga tahun terakhir ini kami bertiga mengalami
kelelahan emosi yang luar biasa.
The three of us
are drained emotionally in the past three years.
Saya sudah mengalami yang namanya ketakutan luar biasa akan
kehilangan ibu saya dan saya sudah mengalami rasa putus asa demikian besar
melihat kondisinya sampai saya sudah merelakan kalau memang lebih baik dia di
ambil Tuhan dari pada berkepanjangan tersiksa.
I have had what
I called the unbearable fear of losing my mother and I have had unbearable
desperation seeing her condition up to the point I let her go, if it would be
better God take her and thus releases her from the torture.
Que sera, sera.. whatever will be, will be.. the future is not ours to see..
Apa pun yang akan terjadi, terjadilah.. masa depan tidak bisa kita lihat..
Bukankah suatu ironi bahwa kita ingin memiliki anak lalu pada
suatu saat di masa depan.. kita memberikan banyak kesedihan dan penderitaan
pada anak itu melalui kondisi fisik kita..
Isn’t it an
irony that we want to have a child and then in the future we give that child many
pain and sorrow through our physical condition..
Atau kita tidak pernah membayangkan diri kita akan menjadi
tua, lemah, disiksa oleh berbagai penyakit.. karena ketika kita menginginkan
anak, kita masih muda, kuat dan sehat..
Or we never
imagine ourselves being old, weak, torture by many illness.. because when we
want a child, the wishes come when we are young, strong and healthy..
Begitu naifkah kita berpikir bahwa selamanya kita akan tetap
kuat dan sehat?
Are we that
naive to think we can remain strong and healthy?
Atau kita tipe manusia yang berpikir ‘halah, ribet banget sih? serius banget.. ngapain dipikirin’.
Or we are the
type of person who thinks ‘heck, why
bother? Don’t be so serious.. why bother’.
Que sera, sera.. whatever will be, will be.. the future is not ours to see..
Apa pun yang akan terjadi, terjadilah.. masa depan tidak bisa kita lihat..
Kombinasi antara fisik yang kuat dan sehat serta umur muda
menghasilkan kenaifan dan ketidak-pedulian terhadap apa yang bisa atau akan
terjadi di masa depan.
Combination of
strong and healthy physic with young age resulted in naivety and ignorance of
what can or may happen in the future.
Atau kita memperhitungkan kemungkinan kita akan menjadi tua
dan penyakitan sehingga memiliki anak merupakan investasi masa depan karena
mereka yang akan mengurusi, merawat dan mengongkosi biaya hidup serta biaya
pengobatan kita?
Or we have
calculated the possibility of becoming old and ill so having a child is some
sort of future investment for the child will take care us and support us
financially and pay for our medical expenses?
Inilah pengalaman saya dalam posisi sebagai anak itu; saya
bekerja menghidupi orang tua saya sejak tahun 1996. Bahkan mulai awal tahun ini
saya menambah jumlah murid les saya walau pun sebetulnya fisik saya agak
kepayahan karenanya. Tapi pilihan apa yang saya miliki? Saya anak tunggal
sehingga beban itu jatuh sepenuhnya pada saya. Dan tahun ini ibu saya
membutuhkan lebih banyak dana untuk berobat.
This is me being
that child; I have supported my parents since 1996. From early this year I
accept more kids to tutor though it drains me out physically. But what choice
do I have? I am an only child so the burden falls fully on me. And this year my
mother needs more medical funds.
Seperti apa itu rasanya berada dalam posisi saya?
What is like to
be in my shoes?
Capek.
Drained.
Saya amat sangat menyayangi orang tua saya tapi kondisi
mereka tidak pelak lagi memberikan kelelahan fisik dan mental yang luar biasa
sampai lebih dari setahun lalu saya sampai sakit, sakit berat secara fisik dan
sakit mental yang membuat saya benar-benar berpikir ingin mati saja.
I love my
parents so much but their condition has undeniably given tremendous physical
and mentally drainage that more than a year ago I fell ill, a bad physical and
mental illness that made me thought I just wanted to die.
Dibalik keceriaan saya, tersembunyi dibelakang tawa riang
saya, ditutupi oleh kelucuan-kelucuan saya.. ada seorang anak yang menderita
karena harus menanggung beban tanggung jawab untuk orang tuanya..
Behind my
cheerfulness, hidden behind my joyful laughter, covers by my humor.. is a child
suffer for have to carry the responsibility to care for her parents..
Hal yang mungkin tidak terpikirkan oleh mereka yang
menginginkan anak..
Something that
may never cross the mind of those who want to have a child or children..
Masih bisakah berpikir demikian naif? Bahwa..
Still able to
think naively? That..
Que sera, sera.. whatever will be, will be.. the future is not ours to see..
Apa pun yang akan terjadi, terjadilah.. masa depan tidak bisa kita lihat..
Beberapa hari lalu saya menginap di paviliun kantor dan pagi
itu saya terbangun dengan rasa kaku serta nyeri yang luar biasa pada pinggang
saya.
Few days ago I
stayed over at the office’s pavilion and that morning I woke up with an
excruciate stiffness and pain in my waist.
Saya tidak tahu apa penyebabnya. Apa rematik? Kasur yang
terlalu keras? Udara dingin?
I don’t know
what the cause of the pain. Is it rheumatic? Hard matress? Cold temperature?
Saya masih ingat dengan apa yang muncul dalam pikiran saya
saat menahan rasa nyeri itu, ‘umur saya
baru empat puluh tiga. Gimana lima, sepuluh, lima belas atau dua puluh tahun
mendatang?’.
I can remember
clearly what came to my mind when I held that pain ‘I am only forty three. What is gonna be in the next five, ten, fifteen
or twenty years?’.
Sejak melihat kondisi kesehatan ibu saya yang mulai
bermasalah dalam waktu tiga tahun terakhir ini, sulit bagi saya untuk tidak
bertanya-tanya seperti apa kondisi fisik saya dalam waktu lima, sepuluh, lima
belas atau dua puluh mendatang..
Eversince I see
my mother’s health that has been having problems in the past three years, I
can’t help myself not to wonder what will it be like with my own physical
condition in the next five, ten, fifteen or twenty years..
Que sera, sera.. whatever will be, will be.. the future is not ours to see..
Apa pun yang akan terjadi, terjadilah.. masa depan tidak bisa kita lihat..
“Kapan lu mau punya anak?” belum lama ini pertanyaan itu
dilontarkan oleh seorang teman saya “Nunggu apa lagi?”.
“When will you
have your own child?” just recently a friend of mine shot this question to me
“What are you waiting for?”.
Ya apalagi yang saya tunggu?
Yes what am I
waiting for?
Saya tahu orang bingung kenapa saya tidak juga menikah
padahal pacar punya, pekerjaan punya, tampang tidak jelek-jelek banget (hehe),
punya sifat periang dan lucu.. kenyataannya memang banyak laki-laki yang suka
sama saya sehingga entah menikah atau tidak, dengan Andre atau bukan, saya tidak
akan kesulitan mencari donor sperma..
I know people
wonder why I still have not tied the knot when I have a boyfriend, have a job,
not bad looking myself (hehe), have bubbly and funny personality.. the truth is
there are many men like me so married or unmarried, with Andre or other man, I
won’t have any difficulties to find sperm donor..
Yang orang tidak ketahui adalah saya tidak mau mengatakan
hal ini kepada anak saya;
What people
don’t know is I don’t want to tell my child this;
Que sera, sera.. whatever will be, will be.. the future is not ours to see..
Apa pun yang akan terjadi, terjadilah.. masa depan tidak bisa kita lihat..
Ketika saya menjadi lemah dan tua.., ketika saya tidak lagi
bisa memeluknya karena terlalu sakit.., ketika saya tidak bisa mengingat
namanya.., ketika saya tidak bisa melihatnya tumbuh menjadi remaja dan dewasa
karena kematian keburu menjemput saya..
When I become
weak and old.., when I can’t hold him/her for being too ill.., when I can’t
remember his/her name.., when I can’t see him/her grow into a teenager and
adult because death has taken me away from them..
Sanggupkah saya menciptakan penderitaan bagi anak itu?
Tegakah saya menjadikan diri sebagai sumber kesusahan dan kesedihan baginya?
Can I create
misery to that child? Do I have the heart to make myself as the source of
his/her trouble and sorrow?
Saya menginginkan anak. Dari dulu saya selalu menginginkan
anak. Tapi semakin bertambah usia saya dan semakin banyak yang saya alami
memaksa saya merubah keinginan saya.
I wanted to have
children. I have always wanted to have children. But the older I get and the
more I have been through forced me to change my wishes.
No comments:
Post a Comment