Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Saturday, January 25, 2014

The Youth and I

“Kak, tanggal 31 pemuda mau ngadain acara persekutuan. Nanti nginap di Cipanas. Kakak ikut ya” kata ‘adik’ saya. Dia teman merangkap rekan kerja saya. Kami menjadi akrab sampai menjadi seperti kakak-adik.

“Sis, the youth will have a fellowship. We will spend a night at Cipanas. Join us, ok” said my ‘brother’. He is a friend and colleague. We have become close like brother-sister.

“Ke, hari Jumat elu ikut pemuda ya” kata teman saya.

“Keke, you will come with the youth on Friday, ok” said a friend of mine.

“Eh, ikut ya acara pemuda” kata teman saya yang lain “Kan Jumat libur Imlek. Kita nginap di Cipanas”

“Hey, come to youth fellowship” said another friend “It’s Chinese new year, a public holiday. We will spend a night at Cipanas”

Saya menolak. Saya ogah ikut. Saya sama sekali tidak tertarik.

I said no. I don’t want to go. I am so very not interested.

Tapi masih juga pada ngajakin. Akhirnya saya menemukan ide yang menurut saya paling topcer untuk bikin mereka berhenti mengajak saya pergi..

But they were pretty much tailing me around with that request. Eventualy I found the best idea to stop them asking me to join that fellowship..

“Pulangnya Sabtu?” tanya saya.

“Get back on Saturday?” I asked.

Mm..  Sabtu itu hari keramat buat saya. Satu hari sebelum Minggu, mana boleh saya ga masuk kerja. 

Mm.. Saturday is the sacred day for me. A day before Sunday, I should not have a day off.

“Ngomong gih sana ke si babe” kata saya sambil menahan tawa “Mau ga dia ngijinin gue ga masuk hari Sabtu”

“Go ask my senior” I  told them as I hid my laugh “See if he would allow me to take a day off on Saturday”

Dalam hati saya ngakak karena saya tahu betul si babe paling susah di tawar untuk hal yang satu itu.

I laughed quietly because I knew it too well my senior is one tough guy when it comes to that one particular issue.

Hari Kamis pagi (23/1)..

Thursday morning (January 23rd)..

“Keke, kamu mau ikut acara pemuda?” cetus senior saya tiba-tiba di antara percakapan kami.

“Keke, do you want to join the youth fellowship?” said my senior in between our conversation.

Oh, rupanya mereka sudah ngomong..

Oh, so they have come to him and spoke about it.. 

“Iya pak, nanti urusan kerjaan diberesin dari hari Kamis” kata ‘adik’ saya sebelum saya sempat menjawab.

“Yes, we will take care the work on Thursday” said my ‘brother’ before I said a word.

Saya memperhatikan dan mendengarkan saja. Sampai kemudian tiba-tiba saya tersadar.. senior saya mengijinkan saya pergi..

I just watching and listening at them. Until suddenly I realized.. my senior gave me the permission..

Nah lo!

Whatta!

Kok dia kasih ijin sih?

Why did he give me the permission?

 Wah gawat, ide cemerlang saya jadi kacau begini.. jadi saya pun bicara..

Crap, there goes my brilliant idea.. so I blurted out..

“Ga ah, pak, Sabtu hari keramat. Saya ga bisa ga masuk. Lagian saya bukan pemuda lagi. Umur saya 42”

“No, sir, Saturday is sacred day. I can’t skip work. Beside, I can’t be put in youth. I am 42”

Tapi tidak ada yang menanggapi ucapan saya dengan serius.

But nobody seemed to take my words seriously.

Kecuali saya tentu saja karena saya tahu saya tidak main-main ketika mengatakan hal-hal itu.

Everyone but me, of course, because I know I meant what I said.

Umur saya 42. Saya tidak bisa dimasukkan dalam golongan pemuda. Dan pertimbangannya bukan hanya pada umur.

I am 42. I can’t be categorized as youth. Age is not the main consideration.

Sekali pun saya berteman cukup baik dengan mereka yang terlibat dalam persekutuan pemuda tapi saya merasa mereka tidak bisa mengimbangi saya dalam hal pemikiran, kedewasaan, pengalaman dan kebijaksanaan.

Despite the fact that I have quite good friendship with those who involve in youth fellowship but they don’t make balance companion in minds, maturity, experience and wisdom.

Sori guys, bukan saya sok tua atau meremehkan kalian.. tapi kenyataannya memang begitu.

Sorry guys, I don’t mean to be a smartass or underestimate you.. but that’s the fact.

Mereka merasa cocok dengan saya karena saya memang tidak bertingkahlaku sok tua dan bisa mengikuti gaya mereka.

They feel at ease with me because I don’t act like a senior and I can make myself fitted their style.

Dan pada waktu-waktu tertentu mereka curhat pada saya seperti adik pada kakaknya, kadang mencari nasihat, kadang membutuhkan dukungan atau hiburan. Saya bisa memberikan hal itu tapi mereka tidak bisa memberikan hal yang sama pada saya.

Sometimes they came to me to unburden their weariness as if I were their older sister, they sought for advice, sometimes needing support or encouragement. I can give them all that but they can’t give any of it to me.

Sebagai contoh, setahun lalu saya pernah bercerita (setengah mengadu) pada seorang dari mereka tentang seorang laki-laki yang kelakukannya tidak sopan terhadap saya dan beberapa perempuan lainnya.

For example, a year ago I told one of them about a man whose attitude was inappropriate to me and to other women.

Tapi tanggapannya kurang memuaskan sehingga ketika saya menghadapi suatu masalah, saya memilih curhat pada senior saya yang saya nilai dengan umurnya yang jauh lebih tua membuat pengalaman, kebijaksanaan dan kesabarannya lebih banyak sehingga bisa memahami saya lebih baik, serta membuat saya merasa nyaman dan aman. Nasihat dan sarannya sederhana tapi berdasarkan pengalamannya sehingga saya bisa mengerti dan mau mengikutinya. Selain itu beliau tidak hanya bicara, saya tahu itu, ada tindakan-tindakannya yang membuat saya merasa dilindungi.


But his respond was quite disappointing me so the next time I had a problem, I preferred to go to my senior whom I consider being older makes him more experienced, wiser and patient making him able to understand me better, making me feel comfortable and safe. His advice and suggestion were made based on his experience so I could understand and willing to follow them. Beside that, he didn’t just talk, I knew this, because he did things that made me feel protected.

Dan hal-hal seperti ini yang tidak saya temui dalam diri anak-anak muda itu.

And I don’t find these kind a stuff in those young people.

Selain itu, saya nilai kegiatan-kegiatan yang mereka adakan dalam persekutuan pemuda tidak memberi masukan, kurang membangun.

Beside that, in my perspective their youth fellowship activities are less inspiring.

Anak muda yang masih sehat dan kuat, penuh dengan semangat, yang idealismenya belum terlalu terkontaminasi kok cuma diajak kumpul, masak-masak, makan-makan dan jalan-jalan.. yee, gimana sih? Mereka harusnya dilibatkan dalam kegiatan sosial.

Those young ones who are healthy and strong, full with energy, whose idealism is less contaminated were involved in gathering activity, doing cooking, eating and on sort of picnicking outing activity.. come on. They should be involved in social, humanitarian activities.

Saya yang jauh lebih tua saja mencari berbagai kegiatan sosial. Dan diam-diam saya melibatkan diri dalam beberapa diantaranya. Itu lebih memuaskan hati saya dibandingkan kalau saya ikut kumpul-kumpul, makan-makan, masak-masak atau jalan-jalan.

I, who is much older than them, seek for various social activities. And have been quietly involved in some of them. It gives my heart more satisfaction than to be in a gathering, doing cooking, eating or going into sort of picnic outing.

Saya tanya pada ‘adik’ saya apa agenda kegiatan mereka untuk tanggal 31 itu. Dia bilang nanti disana wisata kuliner, lihat-lihat kampusnya dan sharing.

I asked my ‘brother’ what is their agenda on that 31st. He said to go culinary trip, seeing his former campus and sharing.

Dua kegiatan pertama benar-benar bukan lagi hal yang saya perlukan dan cari kalau saya mengikuti suatu acara rohani. Jadi saya semakin mantap dengan keputusan saya untuk tidak ikut dengan acara pemuda ini.

The first two activities are definitely not the things I need and seek when I join a spiritual activity. So it convinced me more not to join this youth fellowship.

Kegiatan terakhir yang disebutkannya juga bukanlah hal yang sedang ingin saya lakukan. Saya tidak lagi percaya pada segala hal rohani, agama, tuhan dan yang sejenis dengan itu.

The last activity is not what I am want to do either. I no longer believe in any of religious, spiritual, god and those kind a stuff.

Sejak saya mulai memproklamirkan diri dengan hal itu, orang-orang di tempat kerja saya berusaha untuk meluruskan dan membuat saya bertobat. Masing-masing dengan caranya.

Ever since I declaring those stuff, people at work have been trying to straighten and knock some senses into my head. They have their own ways of doing these.

Ketika senior saya memberikan ijin untuk saya mengikuti acara pemuda yang membuat saya pasti tidak masuk hari Sabtu.. dan tetap memberikan ijin sekali pun saya sudah mengatakan padanya kalau saya tidak mau ikut..

When my senior allowed me to join that youth fellowship activity which will make me skip work on Saturday.. and still gave me the permission though I have told him that I don’t want to go..

“Ada yang ga beres” kata saya pada Andre ketika menceritakan peristiwa hari Kamis pagi itu.

“Something fishy” I said to Andre when I told him about that Thursday morning conversation.

“Mungkin dia benar-benar ingin kamu pergi” jawab Andre.

“Maybe he really wanted you to go” Andre replied.

“Saya tahu betul si babe” saya menggelengkan kepala “Kegiatan yang paling berguna pun tidak bisa bikin dia keluarin ijin kalau kegiatan itu bikin saya harus ga masuk kerja di akhir minggu”

“I know him” I shook my head “The most important event couldn’t make him gave me the permission to take a day off in the weekend”

“Mungkin dia ingin kamu bisa bergembira ikut kegiatan anak-anak muda itu” Andre tersenyum “Mungkin dia melihat kamu perlu bergembira sedikit”

“Maybe he wanted you to have fun with those young people” Andre smiled “Maybe he saw that you need to cheer up a bit”

Saya berpikir “Ya, dia senior saya yang paling baik, paling perhatian, paling peduli ke saya. Tapi kalau soal kerjaan, dia orang yang pegang aturan dan alasannya masuk akal jadi saya tidak pernah merasa kesal kalau dia tidak ijinin saya tidak masuk kerja di akhir minggu”

I thought about it “Yes, he is the kindest senior I have ever had, full of attention and most care to me. But when it comes to work, he sticks to the rule and he has logical reason so it didn’t upset me if he didn’t allow me to skip work on weekend”

Andre memeluk saya “Kamu menduga ada sesuatu dibalik sikapnya yang demikian melunak tentang ijin itu?”

Andre hugged me “You suspect there is a catch behind his change of opinion on that permission?”

Saya tertawa “Mungkin akhir-akhir ini saya jadi terlalu paranoid ketika orang-orang dengan penuh semangat ingin bikin saya bertobat. Saya jadi cepat curiga dan menjauhi mereka yang punya niat seperti itu”

I laughed “Maybe I have become a bit paranoid lately when people eagerly wanting to straighten me. I became suspicious and show ignorance attitude toward those who have that kind of intention”

“Dia orang baik” lanjut saya “Saya menghormati, menghargai, mengagumi dan menyayanginya dengan sepenuh hati tapi saya tahu dia berkeinginan sama seperti orang-orang lainnya.. ingin supaya saya kembali ke jalan yang benar. Padahal saya hanya ingin hidup berdasarkan prinsip-prinsip saya”

“He is a good man” I went on “I respect, appreciate, admire and love him with all my heart but I know he is just like the others who wish I would return to the right path. While all I wanted is to live my life in accordance to my own principles”

Persekutuan pemuda dan saya tidak berada dalam frekuensi yang sama.

The youth fellowship and I are just not in the same frequency.

Dan sayangnya saya juga tidak lagi berada dalam satu frekuensi dengan apa yang orang-orang yakini.

And unfortunately I am no longer in the same frequency with what people belief.

Seandainya saja mereka semua bisa menerima dan melihat saya sebagai seorang Keke dan tidak peduli dengan apa yang saya yakini dan apa yang tidak saya yakini.. hal itu akan membuat saya jauh lebih bahagia.

If only they could accept and see my as Keke and don’t give a damn about what I belief and what I don’t belief.. it would make me a much happier person.

No comments:

Post a Comment