Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Saturday, January 11, 2014

See You Next Week

Sampai ketemu minggu depan..

Kadang saya mengucapkan kata-kata itu pada orang-orang yang hanya seminggu sekali saya temui ketika mereka berpamitan pada saya.

See you next week..

I sometimes say those words to the people whom I met once a week when they left home.

Pergaulan saya dengan mereka berjalan lumayan lancar dan manis. Diantara mereka ada banyak orang-orang baik yang menempatkan saya di tempat istimewa di hati mereka dan demikian pula sebaliknya.

I get along quite well with them. There are many kind hearted people among them who put me in special place in their hearts and it goes vice versa.

Tapi seberapa jauh saya mengenal mereka?

But how well do I know them?

Dan seberapa jauh mereka mengenal saya?

And how well do they know me?

Oh ya, mereka tahu nama saya dan mereka juga tahu siapa orang tua saya. Beberapa dari mereka tahu dimana rumah saya. Mungkin mereka juga tahu saya pernah menjadi guru TK.

Oh sure, they know my name and they know who my parents are. Few of them know where I live. Maybe they also know I worked as kindergarten teacher.

Tapi kalau saya tantang dengan mengajukan pertanyaan; saya lahir tanggal-bulan-tahun berapa? Saudara saya ada berapa? Pendidikan saya apa? Hobi, warna, musik dan makanan kesukaan saya? Hal-hal apa saja yang membuat saya senang dan tidak senang?

But if I challenge them with these questions; in what date-month-year did I born? How many siblings do I have? What is my educational background? What is my favorite hobby, color, music and food? What makes me happy and what makes me unhappy?

Bisakah mereka menjawab seluruh atau sebagian besar dari pertanyaan-pertanyaan itu dengan benar?

Can they answer correctly to all or most of those questions?

Dan kalau pertanyaan itu dibalikkan kepada saya, dapatkah saya menjawabnya? Mungkin bisa karena saya memegang data-data diri mereka tapi itu pun kalau saya diperbolehkan mengintip catatan tersebut.

And if the same questions about them are given to me, can I answer them? I can because I have their personal history record but I can only answer the question if I am allowed to peek on that record.

Jadi kalau baru sebegitu saja mereka atau saya tidak bisa memberikan jawaban yang benar maka bisakah kita saling mengetahui apa yang ada dalam pikiran, hati dan kehidupan masing-masing?

So if we can’t give correct answers to those questions, can we tell what is exactly in each other’s mind, heart and life?

Kalau saya hanya bertemu dengan anda seminggu sekali, apa saya mengetahui segala sesuatunya tentang diri anda?

If I meet you just once a week, do I know everything about you?

Ketika anda hanya bertemu saya 1-2 atau paling banyak cuma 3 kali seminggu dan waktu pertemuannya sangat singkat, bisakah anda sangat mengetahui hal-hal yang saya alami? Haha.. jangankan segala hal yang saya alami sepanjang hidup saya, yang terjadi selama satu hari itu saja belum tentu anda tahu kalau saya tidak menceritakannya pada anda.

If you meet me 1-2 times a week or 3 times max and for just short of time, could you tell the things I have been through? Haha.. let alone all the things I have been through all of my life, you wouldn’t know what I have had in one day if I don’t tell you.

Jadi kalau tidak tahu tentang kehidupan atau perasaan orang lain, jangan jadi sok tahu. Lebih baik tidak menebak-nebak. Ya, kalau beruntung tebakannya benar, kalau tebakannya ngawur, trus gimana?

So if we know nothing about a person’s life or feelings, don’t be a smart-ass. Better not guessing. If we got lucky by our guess, how if it wasn’t even close? What would happen?

Sekian puluh tahun lalu, ketika saya masih amat sangat muda dan tidak berpengalaman, saya dengan pede-nya mengomentari dan menasihati kehidupan seorang teman saya.

Decades ago, when I was young and inexperienced, I once with lots of confident commented and advised a friend’s life.

Kalau dipikir-pikir sekarang, saya harus mengakui betapa ceroboh dan tidak bijaksananya saya melakukan hal itu pada orang yang tinggalnya di negeri yang sangat jauh dari saya dan yang jangankan seminggu sekali, setahun sekali pun belum tentu bisa bertemu dengan saya.

Looking back at it now, I have to admit how careless and unwise I was to do such thing to someone who lived in a far away country and whom let alone met me once a week, we wouldn’t even meet once a year.

Sudah untung dia tidak marah dan saya tidak dimaki-makinya walaupun responnya lumayan judes.

I was lucky he didn’t get mad and didn’t yell at me though he gave quite sour respond.

Tahun-tahun berlalu, banyak hal telah saya alami dan seiring dengan usia yang bertambah banyak membuat saya tidak terlalu berani untuk mengomentari, menasihati atau memberi saran tentang kehidupan, kelakuan, masalah, kepribadian atau kebiasaan seseorang langsung kepada yang bersangkutan, apalagi kalau orangnya tidak saya kenal dengan baik atau akrab.

Years passed by, I have experienced lots of things and as I grow older I dare not comment, give advice or suggestion about the life, behavior, problem, personality or habit of a person right on his/her face, especially if I don’t know that person too well.

Tapi tidak semua orang punya pendapat yang sama..

Not everybody share the same opinion..

Hari natal lalu ada orang-orang yang mendatangi saya dan tanpa kata pengantar, tanpa mempertimbangkan waktu dan tempat, langsung saja menanyakan kenapa saya tidak ikut ibadah, lalu disusul dengan… oh… sejuta komentar, nasihat dan saran..

Last christmas there were people came to me and without gave me any preface words, they bombarded me with questions why I skipped the service, followed by… oh… millions of comments, advice and suggestion.

Saya sampai tidak tahu bagaimana harus merespon.

I didn’t even know how to respond.

Muka saya mungkin sudah berubah warna menjadi merah-kuning-hijau-putih karena bingung, kaget sekaligus amat sangat tersinggung, terganggu dan marah. Susah payah saya menahan emosi dan mengatupkan mulut untuk mencegah supaya jangan saya mengeluarkan kata-kata kasar.


My face was probably turned to red-yellow-green-pale out of confusion, shocked and very much offended, annoyed and angry. I hardly control my emotion and had to bit my lips to stop me from saying nasty things.

Niat boleh baik, tapi ya ampun.. pakai pertimbangan dong.. 

Well intention, but hey, use a little wisdom..

Dalam hal-hal seperti ini orang asia kalah dengan orang barat. Orang barat punya etika menghargai privasi orang lain.

In this matter, western people are better than asian because westerner have ethic of respecting other people’s privacy.

Beberapa hari lalu dua orang dari mereka mengatakan bahwa saya dapat bicara pada mereka kalau saya membutuhkan seseorang untuk bicara. Dari cara mereka bicara, saya tahu mereka telah menyadari bahwa saya tidak menyukai cara pendekatan mereka pada hari natal itu.

Few days ago two of them told me that I can talk to them should I need someone to talk to. I can tell from the way they said it they have realized their approachment on that christmas day was unpleasant.

Demi kesopan-santunan dan atas dasar rasa hormat serta sayang saya pada mereka membuat saya hanya mengiyakan tapi sesungguhnya saya sudah kehilangan selera untuk curhat.

For the sake of good manner and out of my respect and love for them made me just nodded but the truth is I have lost all the mood to unburden my feelings.

Tahun 1996 seorang mantan sahabat saya di SMA mengalami depresi berat. Psikolog dan obat penenang tidak bisa menyembuhkannya. Dalam keadaan bingung dan hampir putus asa ayahnya menemui saya, meminta (separuh memohon) supaya saya mau tinggal bersama dengan mereka karena dia tahu saya adalah orang terdekat dengan putrinya.

Back in 1996 my former bestfriend in highschool had mental breakdown. The shrink and meds couldn’t heal her. Confused and desperated, her father came to see me, asking (half begging) me to stay with them because he knew I was his daughter’s bestfriend.

Saya tidak tega menolak, apalagi setelah melihat kondisi mantan sahabat saya itu.

I didn’t have the heart to say no, especially after I saw my former bestfriend’s condition.

2 bulan saya tinggal bersama mereka.

I stayed with them for 2 months.

Setiap malam teman saya itu terbangun, ketakutan karena bermimpi buruk atau karena ketakutan yang tidak jelas. Kadang dia menangis, kadang dia berteriak, kadang gemetaran tidak karuan.


Every night she woke up, freaking out for having nightmares or just freaked out for no reason. Sometimes she cried, sometimes she screamed, other times she just shivered.

Dan karena saya tidur di tempat tidurnya maka setiap kali dia terbangun, gerakan serta suaranya membangunkan saya.

Since I slept on her bed, her movement or the sound of her sobbing would wake me up.

Saya harus menenangkan dia, memberinya minum, memeluknya, mengelus-elus punggungnya supaya dia bisa tidur lagi. Kalau dia ingin ke kamar mandi, saya harus menemaninya dan berdiri di depan pintu kamar mandi karena dia takut sendirian.

I had to calm her down, gave her some water to drink, hugged her, caressed her back until she fell to sleep. If she wanted to go to the bathroom, I had to accompany her and stood infront of the bathroom door because she freaked out to be left alone.

Selama sekitar 2 minggu pertama saya tinggal dengan mereka, saya hitung-hitung dalam semalam dia bisa terbangun lebih dari 10 kali. Kemudian pelan-pelan berkurang hingga akhirnya hanya 1-2 kali saja dan kemudian tidak pernah lagi.

In the first 2 weeks of my staying, I counted she awoke more than 10 times every night. It slowly ceased before it made into 1-2 times a night and later she could sleep through all the night.

Bukan hanya hal itu saja yang harus ikut saya hadapi. Mantan sahabat saya itu mempunyai berbagai masalah emosi dalam batinnya, ketakutannya, kesedihan, kesepian, rasa tidak percaya diri yang tidak bisa diungkapkannya, tidak bisa dihadapi dan diatasinya sendiri.

That was not the only thing I had to deal with. My former bestfriend had many emotion problems, her fear, grief, loneliness, self-doubt that she couldn’t tell anyone, she couldn’t handle them or solved them on her own.

Ketika saya tinggal bersama mereka selama 2 bulan itu, saya betul-betul menyatu dengan kehidupannya, saya melihat dan ikut merasakan segala kesusahannya, kami berdua sama-sama berjuang agar dia dapat sembuh dan bangkit kembali. Air matanya adalah air mata saya dan senyumnya adalah senyum saya.

When I stayed with them for 2 months, I absorbed into her life, I saw and felt her pain, she and I fought for the healing and to put her back on her own feet. Her tears were my tears and her smile was my smile.

Kalau anda dan saya berada dalam posisi seseorang, kalau anda dan saya ikut menjalani kehidupan seseorang, kalau anda dan saya merasakan apa yang orang lain rasakan.. tidak seorang pun dari kita yang akan bisa dengan mudahnya mengeluarkan komentar, nasihat, kecaman atau kritikan kepada orang itu.

If you and I were in somebody’s position, if you and I were in her/his life, if you and I feel what other person feels.. none of us would be so easily say comment, give advice, condemning or criticize that person.

No comments:

Post a Comment