Greetings dear readers / salam buat para pembaca

Knowing that I say it better in writing, and I do love writing, I decided to write my experiences and thoughts in this blog so this is my e-diary.

Don't speak Indonesian? No need to worry, it is written both in Indonesian and in English.

Happy Reading, everybody !
__________________________________________

Buat saya mengungkapkan isi hati dan pemikiran lebih gampang dilakukan dalam bentuk tulisan dan karena saya juga senang menulis, saya memutuskan menulis hal-hal yang saya alami dan yang ada dalam pikiran saya dalam blog ini.

Untuk yang tidak bisa berbahasa Indonesia, jangan khawatir, blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Selamat membaca !

Wednesday, January 22, 2014

Give Thanks

Bersyukur adalah hal yang sulit untuk dilakukan.

Give thanks is a hard thing to do.

Menggerutu lebih mudah. Mengeluh sudah menjadi kegiatan rutin.

Grumbling is easy. Whining is daily activity.

Ada seorang teman ibu saya yang setiap kali menelpon ke rumah kami pasti 90% isi pembicaraannya adalah keluhan.

A friend of my mother would fill her conversation with 90% whining when she called my mom or dad.

Awalnya saya terheran-heran karena dalam pemikiran saya, luar biasa juga ini orang yang menelpon selama kira-kira satu jam dan hampir seluruh isi pembicaraannya adalah keluhan.

At first it amazed me to think this is one remarkable person who could make about an hour of phone call and filled nearly all her conversation with whining.

Saya sampai pernah bergurau dengan mengatakan kalau ada lomba adu mengeluh, dia pasti menang.. hehe..

I once joked by saying if there were whining competition, she would win first place.. lol..

Ya, bukan berarti saya tidak pernah menggerutu atau mengeluh tapi tidak sampai segitu..

Well, doesn’t mean I never grumble or whine but not making the one like she does..

Saya berkesimpulan, kadar gerutuan dan keluhan bukan ditentukan oleh berat ringan masalah, tapi oleh tipe kepribadian setiap manusia.

My conclusion is, the level of grumbling and whining are not determined by the heavy or light of problem, but it is determined by a person’s type of personality.

Ketika minggu lalu saya menginap selama 3 hari 2 malam di rumah sahabat saya, kami bicara tentang banyak hal.. yah, lebih tepatnya Santi yang bicara lebih banyak sementara saya menempatkan diri sebagai pendengar. Dia memang lebih bawel, seorang ekstrovert, sementara saya kebalikannya.


When I spent 3 days and 2 nights at a bestfriend’s place last week, we talked about many things.. well, it was Santi who talked a lot while I was a listener. She is talkactive, an extrovert while I am pretty much the opposite.

Tapi dari sekian banyak hal yang kami bicarakan, ada sesuatu yang diucapkan Santi yang betul-betul membekas dalam hati saya dan yang tidak akan bisa saya lupakan.

But all of the many things we talked, there was one thing she said that really hit me hard, I will never forget it.

“Klara pernah uring-uringan di mobil. Jakarta emang lagi panas banget hari itu sampe ac mobil kalah” katanya menceritakan tentang ulah anak sulungnya “Lama-lama gue kagak tahan juga dengernya, jadi gue bilang eh, Kla, kita harus bersyukur.. kita masih punya mobil yang bagus, yang ada ac.. tuh liat mobil di depan kita. Di mobil pickup itu ada ibu-ibu dan anak-anak yang harus duduk di garang sinar matahari. Tapi mereka juga harus bersyukur karena masih bisa naik mobil dan panas-panas begini ga harus jalan kaki. Tapi orang yang jalan kaki juga harus bersyukur karena mereka masih punya kaki yang bisa dipakai untuk jalan. Nah, yang ga bisa jalan pun masih harus bersyukur karena setidaknya masih bisa bergerak walaupun mungkin dengan merangkak atau merayap. Kalau juga tidak bisa, tetap harus bersyukur karena masih hidup”


“Klara was having a tantrum once in the car. Jakarta was so hot that day, the car airconditioned couldn’t cool the heat” she told me about her eldest child’s behavior “Eventually it gave me the headache, I said this to her, Kla, you should be grateful that we have a good airconditioned car.. see at that pickup truck infront of us. There are women and children sit in the open compartment under the burning sun. Yet, they should be grateful that they don’t have to walk in this kind of heat. Those who walk have to give thanks too because they have feet that can still function. The ones who can’t walk still have reason to feel grateful because they can crawl. The total paralysed should be thankful because they are alive”

Selalu ada alasan untuk bersyukur.

There is always reason to give thanks.

Kalau kita melihat pada hal-hal positif.

If we have positive perspective.

Saya merenungkan kata-kata sahabat saya itu.

I thought about my bestfriend’s words.

Tidak, dia tidak sedang menasihati saya. Dia hanya bicara tentang hal-hal nyata yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari.

No, she wasn’t giving me any advice. She was just talking about real things that she experienced on daily basis.

Dia tidak bicara sampai berbusa-busa tentang filosofi atau dalil keagamaan. Dia mengatakan tentang hal sederhana yang siapa pun pasti pernah melihat atau mengalaminya.

She didn’t speak about philosophy or religious stuff. She spoke about simple things that everyone of us have seen or experienced.

Tapi kata-katanya merupakan pukulan bagi saya karena saat mendengar dan kemudian merenungkannya, saya menyadari bahwa saya tidak lagi bersyukur.

But her words hit me hard when I heard and thought about them, I realized I haven’t given thanks.

Sejak tahun 2001 masalah dan kesusahan mendatangi kehidupan saya dalam berbagai bentuk dan intensitas serta levelnya semakin lama semakin sering serta berat sampai akhirnya antara tahun 2012-2013 saya terlalu berkonsentrasi untuk menjaga supaya kepala saya tetap berada di atas air, berusaha untuk tidak tenggelam.


Problems and hardship came into my life since 2001 in various forms and their intensity and level increased from time to time that in between 2012-2013 I was focusing on keeping my head above the water, trying not to drown.

Saya adalah orang yang dinamis sekalipun kelihatannya saya pendiam dan kalem. Tapi sebenarnya saya punya banyak pemikiran, keinginan, cita-cita, harapan dan impian.

I am a dynamic person though I appear to be quiet and calm. But I actually have many thoughts, wishes, goals, hopes and dreams.

Melalui perjalanan waktu, saya tahu segala sesuatunya tidak bisa berjalan seturut dengan keinginan saya. Akan ada penghalang dan penundaan.

Through times, I knew things can’t go according to my wishes. There will be roadblocks and delay.

Tapi tahun 2012-2013 kesusahan demikian beratnya sampai saya berpikir apakah saya sedang menipu diri dengan memiliki demikian banyak keinginan, cita-cita, harapan dan impian? Apakah segala hal yang saya percayai itu hanya omong kosong?

But in between 2012-2013 hardship reached its peak and it was so hard that I thought did I have been fooled myself to have so many wishes, goals, hopes and dreams? Did everything I had faith in was just bullshit?

Hati saya beku. Mati rasa.

My heart froze. Numb.

Diperlukan waktu 4 bulan untuk memulihkan rasa percaya diri dan mengembalikan semangat hidup.

It needed 4 months to restore my self-confident and to bring back my spirit.

Saya berhasil menemukan kekuatan di dalam diri saya yang membuat saya bisa kembali berdiri tegak di atas kaki sendiri.

I have found the strength within myself that could and can make me stand tall on my own feet again. 

Tapi apakah saya mau mempercayai lagi semua yang dulu pernah saya percayai adalah satu hal yang saya tidak yakin mau saya lakukan. Saya tidak merasa menemukan jawaban dan kekuatan dari hal religi sehingga saya muak dengan semua itu.

But whether I want to believe the things I used to have faith in remains a question if I ever want to do that. I don’t feel I found answers and strength from religious stuff that it sickened me.

Sekarang ini saya berjalan dengan berpegang pada prinsip-prinsip saya sendiri.

I live my life on my own principles.

“Agama tidak akan bisa membuat orang menjadi baik” kata Andre “Tuhan pun tidak bisa. Diri kita sendirilah yang bisa melakukannya”

“Religion can’t turn people into good ones” said Andre “Not even God. We are the one who can do that”

Saya tahu dia benar. Saya telah melihat banyak bukti.

I knew he was right. I have seen too many evident.

“Hiduplah dengan prinsip yang kamu tahu baik dan benar” katanya lebih lanjut “Kalau kamu meyakini bahwa bersyukur adalah hal yang baik dan benar.. maka peganglah prinsip itu dan lakukan itu dalam kehidupan kamu. Prinsip yang diyakini dan dipraktekkan oleh manusia adalah hal utama yang membuat manusia tersebut menjadi seorang yang baik atau jahat. Bukan agama atau Tuhan. Agama dan Tuhan seringkali hanya dijadikan alasan untuk membenarkan diri”

“Live by the principle that you know are good and right” he went on “If you believe that give thanks is the good and right thing to do.. hold on to them and live by those principles, practice them in your life. Principles are what make somebody a good person or a bad one. Not religion or God. Religion and God are oftenly used to make self-justification”

Dan saya sedang belajar untuk bersyukur. Dengan cara seperti yang dicontohkan oleh sahabat saya itu. 

And I am learning to give thanks. Using the way which my bestfriend has set example.

Selalu ada alasan untuk bersyukur.

There is always reason to give thanks.

Saya tidak melakukan hal ini untuk siapa pun. Saya melakukannya untuk diri saya sendiri.

I don’t do this for anybody. I do this for myself.

Karena dengan bersyukur, saya mendapatkan banyak hal yang berdampak baik bagi kesehatan fisik, pikiran dan mental saya.

Because by give thanks, I get many things that bring good impact on the health of my physic, mind and mentality.

No comments:

Post a Comment